KRISTENISASI DAN KOLONIALISME DI BATAK

PENDAHULUAN

Relasi antara kristenisasi dan kolonialisme Belanda telah lama bergulir menjadi perbincangan serius di kalangan peminat sejarah pekabaran Injil di Indonesia.  Kenyataan ini membuat pihak Kristen, termasuk Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), hari ini merasa bahwa hal tersebut merupakan beban sejarah.[1] Di satu sisi banyak penulis yang berusaha mengungkapkan kaitan keduanya sebagai semacam simbiosis mutualisme, sementara di pihak lain berupaya menegasikannya. Baca lebih lanjut

Iklan

KH. BAHAUDIN MUDHARY: KRISTOLOG MULTIBAHASA

Sosok almarhum K.H. Bahaudin Mudhary (1920-1979) tentu tidak asing bagi peminat studi Perbandingan Agama di Indonesia. Namanya mencuat seiring terbitnya buku berjudul Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, hasil dialognya dengan Antonius Widuri, penganut Kristen Katolik Roma. Dialog seputar masalah ketuhanan Yesus itu direkam dan disaksikan oleh sejumlah pengurus Yayasan Pesantren Sumenep. Dialog itu pun mengantarkan Antonius pada cahaya Islam. Baca lebih lanjut

JANGAN FITNAH MBAH PETRUK: MENGUNGKAP JATIDIRI “PAMOMONG” MERAPI

Sultan Hamengkubuwono: “ Itu kan kata mereka. Kalau aku bilang itu Bagong, bagaimana? Atau itu Pinokio, karena hidungnya panjang”.

Nama “Mbah Petruk” mendadak menjadi terkenal ke seantero negeri pasca letusan Merapi yang mewarnai November 2010 bak selebritis baru yang sedang menanjak karirnya . Apalagi setelah salah seorang warga bernama Suswanto, 43 tahun, berhasil memotret asap solvatara gunung Merapi yang menyerupai kepala Petruk. Selama ini mitos Mbah Petruk sering dikaitkan dengan pemuka jin ini bertugas memberi wangsit mengenai waktu meletusnya Gunung Merapi, termasuk juga memberi kiat-kiat tertentu kepada penduduk agar terhindar dari ancaman bahaya lahar panas Merapi. Dipundak jin inilah, menurut isu yang sempat beredar, keselamatan penduduk tergantung. Baca lebih lanjut

RAKYAT MISKIN DAN TRAGEDI KEPURA-PURAAN

BERISLAM DI ANTARA KEMISKINAN

Kemiskinan adalah tanggung jawab kita, bukan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan politik tertentu atau bahkan dilecehkan

Selama ini isu kemiskinan masih merupakan komoditas politis yang  memiliki nilai jual dalam setiap percaturan suksesi kepemimpinan. Kemelaratan rakyat menjadi salah satu item yang paling banyak diangkat dalam kampanye-kampanye dan perebutan kekuasaan di Indonesia. Sekaligus menjadi agenda yang paling jarang mendapat perhatian serius pasca “drama” suksesi “kepemimpinan” berakhir. Layar telah dibuka dengan hingar-bingar janji dan sumpah meyakinkan yang tidak jarang diiringi “suap” politik dan lantas ditutup dengan penyelesaian yang tidak jelas juntrungnya, dimana semua omongan bisa saja menguap bersama panasnya belahan bumi tropis. Baca lebih lanjut

DARI THEOSOFI MENUJU PLURALISME AGAMA

[Makalah ini ditulis bersama oleh Susiyanto dan Fathurrahman Kamal. Susiyanto adalah penggiat Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI). Fathurrahman Kamal adalah dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan anggota Divisi Dakwah Pelajar-Mahasiswa Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP Muhammadiyah. Makalah ini dimuat dalam buku M. Amin Rais, M. Syukriyanto, dkk. “1 Abad Muhammadiyah: Istiqomah Membendung Kristenisasi dan Liberalisasi” yang diterbitkan secara resmi oleh Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam rangka Muktamar 1 Abad Muhammadiyah 3-8 Juli 2010 di Yogyakarta] Baca lebih lanjut

SPEKULASI MENUJU KITAB YANG “TERPELIHARA”

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan”. (Qs. Al Baqarah, 2: 79)

PENDAHULUAN

Buku berisi penyesatan ini disebarkan di kalangan masyarakat Muslim

Tidak hanya satu atau dua karya Kristen yang digunakan sebagai alat untuk mendiskreditkan kitab suci Al Quran. Karya tersebut tidak jarang pula merupakan perpanjangan tangan dari kepentingan Kristenisasi. Penyebarannya meliputi kalangan umat Islam yang masih memiliki kondisi pemahaman terhadap Islam secara terbatas. Misalnya, Gilchrist menyebutkan bahwa pada era khalifah Utsman bin Affan, Ibnu Mas’ud menolak naskah Hafsah, sedangkan Ibnu Mas’ud sendiri dikatakan memiliki naskah lain yang berbeda.[1] Kisah besutan ini seolah mencoba mengesankan hadirnya ”fakta” bahwa Al Quran memiliki ragam variasi. Baca lebih lanjut

CERITA MENAK : WARISAN BUDAYA ISLAM DI INDONESIA

EPIK MENARIK

Serat Menak Kustup karya R. Ng. Yasadipura I, sebuah episode cerita Menak di Jawa. (Koleksi : Susiyanto).

Setelah epos Mahabarata dan Ramayana, cerita Menak merupakan karya fiksi yang banyak menginspirasi orang Jawa dan Lombok, baik dari kalangan rakyat kecil hingga kaum pembesar pada jamannya. Dari cerita ini nyatanya telah lahir sejumlah karya sastra dan budaya yang bermutu tinggi dengan tanpa mengabaikan aspek moralitas. Cerita Menak merupakan inspirasi bagi lahirnya Wayang Menak yang sering dahulu dipentaskan sebagai tontonan rakyat kecil hingga bangsawan di Kraton. Menyusul kemudian Wayang Golek Menak dan Wayang Orang Menak. Sejumlah sendratari juga lahir dari cerita Menak ini. Demikian juga seni ukir dan tatah sungging tidak mau ketinggalan mendapatkan inspirasi dari cerita yang sama. Termasuk juga membidani lahirnya sejumlah karya sastra lain yang mewarisi semangat cerita Menak. Baca lebih lanjut