MISIONARIS DAN KOLONIALIS DALAM “PEMBARATAN” JAWA

(STUDI KASUS INSTITUUT VOOR DE JAVAANSCHE TAAL DI SURAKARTA)

PENDAHULUAN

Johann Friedrich Carl Gericke

Johann Friedrich Carl Gericke (Sumber: Wikipedia)

Sejak awal Belanda menghendaki penguasaan terhadap narasi sejarah bangsa jajahannya. Di Jawa, pengumpulan tradisi-tradisi lokal dan manuskrip kuno telah menjadi salah satu agendanya. Sejumlah akademisi Belanda diturunkan untuk menggali pelbagai data terkait. Kesarjanaan yang memiliki penguasaan terhadap tradisi, adat istiadat, dan sistem nilai suatu masyarakat akan berguna dalam membangun pendekatan, termasuk dalam merancang format hegemoni dan pelanggengan kekuasaan. Baca lebih lanjut

Iklan

KRISTEN MASUK INDONESIA ABAD VII ?

PENDAHULUAN

Karya Abu Shalih al-Armini yang diterjemah ke Bahasa Inggris oleh B.T.A. Evetts (koleksi: Susiyanto)

Atribut yang tersemat sebagai “agama penjajah” terhadap agama Kristen nampaknya masih menjadi aib besar bagi karya misi penginjilan di Indonesia. Kenyataan ini membuat berbagai pihak Kristen, termasuk Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), merasakannya sebagai beban sejarah.[1] Tidak heran jika pada masa kini sejumlah akademisi Kristen di Indonesia berupaya untuk merekonstruksi sebuah versi sejarah yang ramah terhadap eksistensinya. Diantaranya dengan mencetuskan teori bahwa Kekristenan “sebenarnya” telah tiba di Indonesia lebih awal dari era imperialisme dan kolonialisme Barat. Dengan demikian kedatangan Kristiani yang bersamaan dengan masa penjajahan bangsa Eropa hanya akan diposisikan sebagai “merebut kelupaan masa silam” saja.[2] Baca lebih lanjut

KRISTENISASI DAN KOLONIALISME DI BATAK

PENDAHULUAN

Relasi antara kristenisasi dan kolonialisme Belanda telah lama bergulir menjadi perbincangan serius di kalangan peminat sejarah pekabaran Injil di Indonesia.  Kenyataan ini membuat pihak Kristen, termasuk Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), hari ini merasa bahwa hal tersebut merupakan beban sejarah.[1] Di satu sisi banyak penulis yang berusaha mengungkapkan kaitan keduanya sebagai semacam simbiosis mutualisme, sementara di pihak lain berupaya menegasikannya. Baca lebih lanjut

SENJA KALA MAJAPAHIT DAN FITNAH TERHADAP ISLAM

PENDAHULUAN

Menegok kembali ke dalam beberapa materi ajar sejarah yang diberikan kepada generasi muda Indonesia, dari pendidikan Dasar hingga bangku perkuliahan, barangkali akan membuat kita terhenyak dan terheran-heran. Sejumlah fakta atau bahkan opini terkadang hanya ditampilkan sekilas, sehingga tidak jarang membentuk persepsi yang salah terhadap substansinya. Pemaparan fakta yang bersifat demikian sudah tentu akan membuka ruang bagi kesalahan penafsiran. Sejarah, bisa jadi, memang berasal dari fakta tunggal yang kemudian ditafsirkan dengan menggunakan berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan berbagai penafsiran berbeda. Namun memaparkan fakta secara sekilas dan memberi ruang bagi kesalahan penafsiran juga merupakan hal yang musti dihindari. Baca lebih lanjut

WACANA NEPOTISME DALAM PEMERINTAHAN KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN

PENDAHULUAN

Utsman bin Affan, salah satu shahabat Nabi Muhammad dan dikenal sebagai khalifah Rasulullah yang ketiga. Pada masa Rasulullah masih hidup, Utsman terpilih sebagi salah satu sekretaris Rasulullah sekaligus masuk dalam Tim penulis wahyu yang turun dan pada masa Kekhalifahannya Al Quran dibukukan secara tertib.[1] Utsman juga merupakan salah satu shahabat yang mendapatkan jaminan Nabi Muhammad sebagai ahlul jannah. Kekerabatan Utsman dengan Muhammad Rasulullah bertemu pada urutan silsilah ‘Abdu Manaf.[2] Rasulullah berasal dari Bani Hasyim sedangkan Utsman dari kalangan Bani Ummayah. Antara Bani Hasyim dan Bani Ummayah sejak jauh sebelum masa kenabian Muhammad, dikenal sebagai dua suku yang saling bermusuhan dan terlibat dalam persaingan sengit dalam setiap aspek kehidupan.[3] Maka tidak heran jika proses masuk Islamnya Utsman bin Affan dianggap merupakan hal yang luar biasa, populis, dan sekaligus heroik. Hal ini mengingat kebanyakan kaum Bani Ummayah, pada masa masuk Islamnya Utsman, bersikap memusuhi Nabi dan agama Islam. Baca lebih lanjut

PERAN SOEKARNO DALAM PERPECAHAN PERPOLITIKAN ISLAM

Sungguh mengherankan, umat Islam pada masa lampau mampu bersatu padu dan sehati dalam memperjuangkan kemerdekaan. Namun umat Islam hari ini, justru mengisi kemerdekaan dengan perpecahan antar golongan dan konflik kepentingan…” Baca lebih lanjut

KRONIK SEPUTAR PEMBENTUKAN DASAR NEGARA

PENDAHULUAN

Pasca pengeboman Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941, maka Jepang dengan leluasa masuk ke wilayah Indonesia sebagai kekuatan yang sulit ditandingi oleh Eropa. Aksi Jepang tersebut pada dasarnya dipicu oleh embargo perdagangan yang dikumandangkan oleh FD. Rooselvelt, Presiden Amerika serikat, terhadap Jepang yang dikeluarkan terhitung mulai bulan Oktober 1941.1 Baca lebih lanjut