PENGUMUMAN

STOP PRESSS !!!!

Silakan kunjungi website baru saya:

http://susiyanto.com

Selamat menikmati

Iklan

My Blog 2011 in Review

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 31.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 11 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

JANGAN FITNAH MBAH PETRUK: MENGUNGKAP JATIDIRI “PAMOMONG” MERAPI

Sultan Hamengkubuwono: “ Itu kan kata mereka. Kalau aku bilang itu Bagong, bagaimana? Atau itu Pinokio, karena hidungnya panjang”.

Nama “Mbah Petruk” mendadak menjadi terkenal ke seantero negeri pasca letusan Merapi yang mewarnai November 2010 bak selebritis baru yang sedang menanjak karirnya . Apalagi setelah salah seorang warga bernama Suswanto, 43 tahun, berhasil memotret asap solvatara gunung Merapi yang menyerupai kepala Petruk. Selama ini mitos Mbah Petruk sering dikaitkan dengan pemuka jin ini bertugas memberi wangsit mengenai waktu meletusnya Gunung Merapi, termasuk juga memberi kiat-kiat tertentu kepada penduduk agar terhindar dari ancaman bahaya lahar panas Merapi. Dipundak jin inilah, menurut isu yang sempat beredar, keselamatan penduduk tergantung. Baca lebih lanjut

RAKYAT MISKIN DAN TRAGEDI KEPURA-PURAAN

BERISLAM DI ANTARA KEMISKINAN

Kemiskinan adalah tanggung jawab kita, bukan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan politik tertentu atau bahkan dilecehkan

Selama ini isu kemiskinan masih merupakan komoditas politis yang  memiliki nilai jual dalam setiap percaturan suksesi kepemimpinan. Kemelaratan rakyat menjadi salah satu item yang paling banyak diangkat dalam kampanye-kampanye dan perebutan kekuasaan di Indonesia. Sekaligus menjadi agenda yang paling jarang mendapat perhatian serius pasca “drama” suksesi “kepemimpinan” berakhir. Layar telah dibuka dengan hingar-bingar janji dan sumpah meyakinkan yang tidak jarang diiringi “suap” politik dan lantas ditutup dengan penyelesaian yang tidak jelas juntrungnya, dimana semua omongan bisa saja menguap bersama panasnya belahan bumi tropis. Baca lebih lanjut

KASIH SAYANG GENERASI KERBAU DALAM VALENTINE’S DAY

malam syahdu

Tanggal 14 Februari, bukan lagi hari yang asing bagi remaja di Indonesia. Sebuah ‘hari raya’ khas remaja dalam lingkup hura-hura dan histeria masa muda. Hari Valentine, demikian kaum belia menyebutnya, dirayakan sebagai hari kasih sayang dengan menyerahkan coklat sebagai ungkapan cinta kepada orang yang disayangi untuk menyimbolkan pernyataan ketulusan hati. Orang yang disayangi tersebut jelas bukan ayah, ibu, suami, adik, atau familinya. Namun orang yang dianggap sebagai pasangannya. Media massa turut serta menayangkan aneka rupa tontonan sekaligus menjadi kampanye gratis penyebarannya. Hampir semua media mengangkat tema tentang cinta dalam suasana merah jambu. Baca lebih lanjut

FITNA DAN KETAKUTAN DUNIA BARAT

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Robert Morrey menumpahkan kekesalannya terhadap Islam melalui karyanya yang berjudul “The Islamic Invasion” yang secara tegas dan penuh kekhawatiran sekaligus menunjukkan sikapnya yang anormatif menyatakan bahwa buku bernuansa sinisme dan sarkasme tersebut akan berguna untuk membendung cepatnya perkembangan Islam di Barat. Selanjutnya kita dingatkan dengan tingkah polah sebuah penerbitan surat kabar di Denmark yang mencari sensasi melalui pemuatan kartun Muhammad saw yang secara atraktif dan provokatif berusaha memancing emosi umat Islam. Belum lagi ingatan kita terhapus dari peristiwa sebelumnya, kembali Geert Wilders, seorang anggota Parlemen Belanda dari partai sayap kanan, menunjukkan kebenciannya terhadap Islam melalui film hasil besutannya yang berjudul “Fitna”. Baca lebih lanjut

ELEGI ANTARA GATHUTKACA DAN SUPERMAN

Persamaan antara Gatutkaca dan Superman adalah kedua-duanya sama-sama pahlawan yang memiliki kemampuan terbang. Selain itu keduanya terkenal memiliki tubuh yang sekeras baja serta tidak kalah pentingnya, keduanya bukan tokoh asli Indonesia.

Gathutkaca[1] adalah seorang pahlawan super yang berasal dari India. Beliau tenar melalui kitab Mahabharatta rancangan pujangga bernama (Walmiki ?). Di negeri asalnya, dia dikenal sebagai raksasa besar putra Bima yang menjadi panglima perang dalam pertempuran akbar melawan senopati kurawa yang bernama Karna[2]. Setelah tiba di Nusantara, gathutkaca mampu beradaptasi dengan budaya setempat dan menjadi sosok manusia ksatriya yang ditangan Mpu Panuluh dan Mpu Sedhah dalam Kitab Bharattayuddha. Pada saat Jawa mengalami era Islam, Gathutkaca telah tumbuh menjadi sosok jago para Dewa. Debut kemampuannya yang pertama dilukiskan oleh Sunan Kali Jaga[3] melalui perlawanannya terhadap Kala Sekipu yang mengobrak-abrik kayangan untuk memenuhi hasratnya melamar Dewi Supraba. Dalam cerita tersebut, konsep dewa pasca datangnya Islam telah mengalami de4mitologisasi dan desakralisasi sehingga kedudukannya tidak lebih dari sekedar bangsa jin yang juga mampu dikalahkan oleh raja raksasa bernama Sekipu. Dalam cerita pewayangan pasca Islam nyatanya Gathutkaca mampu menempatkan dirinya sebagai hamba Allah swt dan bukan hamba para Dewa yang kalah oleh para raksasa. Dibalik kekuatan super yang dimilikinya, Gathutkaca hanyalah gambaran sosok manusia normal yang tunduk kepada hukum Allah berupa kematian ditangan Adipati Karna, pamannya sendiri.

Sementara itu Superman merupakan tokoh yang mewakili imajinasi Barat dengan segala worldviewnya. Dia mewakili nasionalisme Amerika dan sikap adikuasanya. Dari segi penampilannya dia mewakili slogan kebebasan di negera Barat dengan pakaiannya yang terkesan “ala kadarnya”[4]. Sedangkan perilaku Superman pada kenyataannya bukan menunjukkan prilaku manusia Planet Kryptonite tempatnya berasal namun pada kenyataannya dia lebih Amerika dari orang Amerika sendiri. Salah satu gaya hidupnya ditunjukkan dengan kehidupan seksual di luar nikahnya bersama Louis Lane. Bahkan dia masih sempat “mengganggu” rumah tangga mantan pacarnya saat Louis Lane telah menikah. Sebagaimana Gathutkaca, Superman juga hanya seorang manusia biasa. Hanya bedanya Superman belum mati. Atau barangkali dapat dikatakan tidak ada matinya. Dalam salah satu cerita komik yang menceritakan tentang kematian Superman nyatanya sang pengarang tidak memiliki “kerelaan” jika pahlawan Supernya harus kalah oleh ajal. Sehingga dalam komik tersebut Superman akhirnya bias dihidupkan kembali melalui berbagai teknik perekayasaan dan mutakhirnya perangkat teknologi.

Walaupun keduanya adalah Pahlawan namun karena tumbuh dalam framework pemikiran dan peradaban yang berbeda maka sikap dan sifatnya jelas bertolak belakang. Saat gathutkaca datang ke Indonesia, dia secara supel mampu beradaptasi dan bertoleransi dengan budaya setempat. Namun berbeda dengan Superman, yang secara sadar ataupun tidak dengan sifat adisupernya telah memaksakan gaya hidupnya atas nama kebebasan berekspersi melalui celana dalam dan perilaku menyimpangnya. Wacana kebebasan berat sebelah itulah yang telah dibawa dan dipaksakan diterimakan oleh Superman kepada penduduk dunia. Hegemoni dunia Barat telah tumbuh dalam framework pemikiran Superman dan merasuk kedalam pemikiran setiap manusia yang berhasil dipengaruhinya. Wacana kebebasan yang pada hakikatnya nisbi dari kebebasan itu sendiri. Ironis memang, pada saat kebebasan dipaksakan tanpa batas maka pada hakikatnya tidak ada kebebasan.


[1] Nama Gathutkaca diyakini berasal dari kata “gathu’” dan “akaca

[2] Nama Karna artinya adalah “telinga”. Hal ini mengingatkan kejadian bahwa Karna adalah anak Dewi Kunti dan Dewa Surya yang dilahirkan melalui telinganya untuk mencegah aib dimana Kunthi melahirkan anak seblum memiliki suami yang sah.

[3] Sunan Kalijaga merupakan nama tenar dari raden Sahid, salah satu wali pengajar agama Islam yang paling dikenaL dalam masyarakat Jawa. Salah satu versi menyebutkan bahwa nama kalijogo sebenarnya berasal dari penyebutan jabatan Raden Sahid yaitu sebagai Qadli Zaka. Nama Qadli Zaka tersebut kemudian diucapkan dalam lidah Jawa menjadi Kali Jaga.

[4] Superman digambarkan hanya mengenakan celana dalam dalam menjalankan aksi kepahlawanannya.