MERELATIFKAN YANG ABSOLUT ATAU MENGABSOLUTKAN YANG RELATIF ?

Pada akhir sebuah perdebatan antara seorang ilmuwan muslim dan sarjana Barat, sang ilmuwan Barat akhirnya menyadari bahwa dia telah mendapati dirinya berada dalam titik nadhir kekalahan. Namun dia belum mau mengakui kelemahan argumentasinya yang telah dibuktikan sebagai kurang ilmiah dan syarat dengan kepentingan. Maka sang ilmuwan Barat kemudian menggunakan jurus terakhirnya berupa relativisme yang dianggapnya sebagai puncak keilmuwan Barat (?). Baca lebih lanjut

SAYA MUSLIM, MAKA MENDUKUNG SYARIAT ISLAM ITU NORMAL

Hampir sama dengan beberapa cerita sebelumnya, terjadi wawancara terhadap seorang tokoh muslim, sebut saja, ustadz AHMA, tentang pendiriannya terhadap perjuangan penegakan syariat Islam. Seorang wartawan yang kebetulan beragama Kristen yang mencoba mengorek dan berusaha memojokkan beliau sebagai tokoh Islam Fundamentalis. Baca lebih lanjut

” ORANG YANG TIDAK PERNAH MENIPU, TIDAK AKAN PERNAH TERTIPU JUGA “

Tersebutlah seorang pedagang emas yang memiliki sebuah toko yang sangat ramai di suatu pasar di Indonesia yang terkenal sangat jujur. Salah satu slogan hidup sekaligus motto dagang yang dipercayainya adalah bahwa “Seorang yang tidak pernah menipu tidak akan pernah tertipu “. Slogan yang diyakininya tersebut sebenarnya merupakan ajaran seorang Kyai bijak dari sebuah daerah di Jawa Barat. Sang pedagang sedemikian kuat memegang slogan tersebut sebagai filosofi hidup sekaligus bisnisnya. Hingga suatu ketika, dia merasa bahwa slogannya tersebut harus ditinjau ulang. Pasalnya, dia tertipu mentah-mentah oleh seseorang yang mengaku sebagi musafir. Baca lebih lanjut

ORANG BAIK, GIMANA CARANYA ?

Jadi orang baik memang susah susah gampang. Kadang harus dihadapkan dengan anggapan orang yang mengatakan “sok baik”, “pura-pura baik”, “biar dipuji”, dan atribut-atribut kurang mengenakkan lainnya. Tapi sebenarnya jadi orang yang tercela itu juga tidak kalah sulitnya. Bayangkan harus punya mental kuat dan hati sekeras baja. Sulit lho membentuk perilaku ini. Belum lagi harus bermuka tebal dan memiliki modal yang banyak. Bayangkan, seorang pembohong misalnya, setidaknya dia harus memiliki ingatan yang kuat plus kemampuan memahami pribadi orang yang mau dibohongi agar dia suskses melakukan kebohongannya.
Ini adalah sebuah kisah tentang seorang Ustadz, sebut saja namanya Ustadz Pur. Beliau memiliki seorang santri yang agak bandel sekaligus “nakal” dan secara kebetulan sang santri adalah putra pimpinan Pondok Pesantren dimana Ustadz Pur mengajar. Sebut saja santri itu bernama Sam. Sam ini seringkali melakukan tindakan secara diam-diam yang bertentangan dengan syariat Islam. Sudah banyak dari kalangan santri yang mengetahuinya, namun merasa segan untuk melaporkannya kepada Pimpinan pondok, sekaligus ayahnya. Semuanya tetap menjadi rahasia umum.
Suatu ketika Ustadz Pur menemui anak didiknya itu

Ustadz Pur : Sam,kamu tahu tidak orang baik itu orang yang bagaimana ?
Sam : Yach Ustadz, gitu aja nanya. Orang baik itu yach orang yang mengamalkan agama dan beribadah dengan baik juga.
Ustadz Pur : tapi banyak lho orang yang mengamalkan agama dan ibadahnya juga rajin tetapi perilakunya justru tidak baik
Sam :Kalau menurut Ustadz bagaimana ?
Ustadz Pur :Yach, orang baik itu ya orang yang pada saat merasa sendirian tanpa pengawasan manusia dia tetap dalam keadaan baik pula.Karena orang baik selalu merasa bahwa sekalipun dia bisa menipu pandangan manusia namun sulit untuk menipu Allah. Dia selalu mengawasi maka orang baik itu akan selalu menjadi orang baik, pada saat ada manusia yang mengawasi maupun pada saat sendirian terpisah dari makhluknya.
Sam merasa tersindir oleh perkataan sang Ustadz. dia hanya terdiam ….

KAMU PASTI GAGAL

Fenomena krisis iman telah banyak menjangkiti muslim di Indonesia. Maraknya konversi agama (murtad) merupakan salah satu bukti yang cukup jelas.

Salah satu fenomena tersebut terekam jelas dalam sebuah dialog antar hati antara seorang dosen dan mahasiswanya di sebuah Perguruan Tinggi swasta yang menyandang atribut keislaman di Surakarta. Kebetulan saja mahasiswa tersebut mengambil jurusan ushuluddin. kata ushuluddin seringkali diplesetkan menjadi uculuddin (kata “ucul” dalam Bahasa Jawa berarti “lepas”, jadi kata uculudin dimaknai denagn “lepas dari agama”) yang cukup mewakili fenomena konversi agama para mahasiswa tersebut.

Dosen    : “Saya dengar dari teman-temanmu kamu sudah pindah agama. Apa kabar itu benar ?”

Mahasiswa    : “Benar Pak. saya hari ini adalah penganut agama Kristiani.”

Dosen    : “Lho. kenapa kamu harus pindah agama ?”

Mahasiswa    : “Saat ini saya sedang memperdalam Perbandingan Agama, Pak. Saya mempelajari secara mendalam agama lain secara langsung dengan menganutnya. Dengan demikian penilaian saya terhadap spiritualitas dan ajaran agama lain akan lebih obyektif dan mendalam. Hal ini juga untuk mengetahui tentang berbagai fenomena pengalaman bathin yang dialami oleh sejumlah penganut agama.”

Dosen    : “Apakah berarti pada hari lain kamu juga kan pindah ke agama lain lagi ?”

Mahasiswa    :  “Tentu saja, Pak. Saya pasti akan melakukannya.”

Dosen    : “Oh. Kalau begitu sebaiknya kamu kembali masuk Islam saja. karna saya anggap kamu sudah gagal ketika kemarin kamu memeluk agama Islam. saya juga yakin kamu juga akan gagal untuk mempelajari agama lain dengan caramu itu.

Mahasiswa    : “Lho. kenapa bisa begitu Pak ? Apa alasannya ?

Dosen    : “Dalam ajaran Islam ada larangan untuk murtad bagi pemeluknya. Sekarang kamu sudah keluar dari Islam. Itu berati satu ajaran dalam islam belum bisa kamu jalani dengan baik. Itu kan sama artinya kamu sudah gagal menjadi seorang muslim ?. Maka saya juga yakin kamu akan gagal ketika melaksanakan agama lain. Lebih baik kamu berhasil menjalankan agama Islam dengan baik namun gagal menjalankan agama lain daripada kamu  gagal dalam semua agama.”

Mahasiswa    : “!!!!!????”

PASTI ANDA BODOH

Dalam sebuah session dilaog di Ciputat, seorang mahasiswa UIN Jakarta jurusan (fakultas ?) syariah menyatakan bahwa Indonesia tidak memerlukan syariah Islam karena wacana penegakan syariah hanya akan menyebabkan disintegrasi bangsa sehingga karenanya harus segera dihentikan.

Mahasiswa    : “Indonesia telah memiliki sistem trsendiri yang lahir dari jati diri bangsa kita. Wacana penegakan syariah hanya akan menjadi pemantik disintegrasi bangsa yang pluralis seperti negara kita. Maka menurut hemat saya wacana-wacana syariah Islam harus segera dihentikan guna menjaga keutuhan bangsa.”

Ustadz AHMA (nama inisial) , pembicara dalam forum tersebut, menjawab lontaran mahasiswa itu.

Ustadz AHMA    : “Saya yakin anda ini mahasiswa syariah yang bodoh. Di Indonesia ini banyak lulusan sayriah yang nganggur. Anda tahu kenapa ? Coba bayangkan kalu Indonesia menerapkan Syariah Islam, saya yakin mahasiswa syariah seperti anda ini akan mudah mendapatkan pekerjaan.”

MAU MURTAD ? SILAKAN SAJA

Dalam sebuah kajian bertema tentang jilbab di Yogyakarta, seorang pemuda yang mengaku sebagai mahasiswa UIN Yogyakarta menyatakan bahwa jilbab adalah simbol kekerasan dan pemaksaan terhadap wanita dan karena itu dia akan segera keluar dari Islam. Ustadz EAN (nama inisial) yang menjadi narasumber dalam forum tersebut dengan cukup tegas menjawab pernyataan sang mahasiswa.

Mahasiswa    : “Saya tahu bahwa jilbab adalah simbol pengekangan dan bentuk kekerasan tehadap kebebasan kaum wanita. Jilbab adalah budaya Arab dan bukan ajaran Islam. Jika islam mengajarkan tentang Jilbab maka Islam adalah ajaran yang mengekang kaum peremupan. Maka hari ini juga saya menyatakan diri bahwa saya keluar dari ajaran Islam.”

Ustadz EAN    : “Kalau anda mau murtad, ya silakan saja murtad. Jilbab adalah perintah Allah. Kemuliaan Allah tidak akan berkurang hanya gara-gara anda murtad. Dan Allah juga tidak akan bertambah kemuliaannya hanya karena keislaman orang seperti anda.”

Jawaban Ustadz yang tegas tersebut disambut riuh oleh para hadirin yang lantas memperhatikan sang mahasiswa yang wajahnya telah merona merah pucat.