DARI THEOSOFI MENUJU PLURALISME AGAMA

[Makalah ini ditulis bersama oleh Susiyanto dan Fathurrahman Kamal. Susiyanto adalah penggiat Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI). Fathurrahman Kamal adalah dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan anggota Divisi Dakwah Pelajar-Mahasiswa Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP Muhammadiyah. Makalah ini dimuat dalam buku M. Amin Rais, M. Syukriyanto, dkk. “1 Abad Muhammadiyah: Istiqomah Membendung Kristenisasi dan Liberalisasi” yang diterbitkan secara resmi oleh Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam rangka Muktamar 1 Abad Muhammadiyah 3-8 Juli 2010 di Yogyakarta] Baca lebih lanjut

Iklan

SPEKULASI MENUJU KITAB YANG “TERPELIHARA”

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan”. (Qs. Al Baqarah, 2: 79)

PENDAHULUAN

Buku berisi penyesatan ini disebarkan di kalangan masyarakat Muslim

Tidak hanya satu atau dua karya Kristen yang digunakan sebagai alat untuk mendiskreditkan kitab suci Al Quran. Karya tersebut tidak jarang pula merupakan perpanjangan tangan dari kepentingan Kristenisasi. Penyebarannya meliputi kalangan umat Islam yang masih memiliki kondisi pemahaman terhadap Islam secara terbatas. Misalnya, Gilchrist menyebutkan bahwa pada era khalifah Utsman bin Affan, Ibnu Mas’ud menolak naskah Hafsah, sedangkan Ibnu Mas’ud sendiri dikatakan memiliki naskah lain yang berbeda.[1] Kisah besutan ini seolah mencoba mengesankan hadirnya ”fakta” bahwa Al Quran memiliki ragam variasi. Baca lebih lanjut

ANTARA ISLAM DAN KEBUDAYAAN CANDI

PENDAHULUAN

Salah satu upaya yang dilakukan oleh orientalis dalam menyingkirkan pengaruh dan peranan Islam dalam suatu masyarakat adalah melalui nativisasi. Nativisasi ini secara sederhana dapat didefinisikan sebagai usaha yang sistematis maupun tidak yang dijalankan untuk menghilangkan peran kesejarahan Islam dan umatnya dari suatu negeri dengan cara mengangkat budaya lokal setempat. Keberadaan “budaya lokal” setempat yang diangkat itu sendiri, dalam arus nativisasi, bukan merupakan  hal yang telah final, melainkan melalui proses rancang ulang yang tidak jarang merupakan hasil rekayasa belaka. Tujuan utama dari program ini adalah memarginalkan peran Islam, lantas menempatkannya sebagai “pengaruh asing” yang diposisikan berseberangan dengan “agama asli” pribumi. Bukan dalam rangka mengangkat budaya pribumi itu sendiri, melainkan lebih banyak dilakukan untuk kepentingan lain yang bersifat hegemonik, termasuk kristenisasi. Baca lebih lanjut

MANIPULASI MITOLOGI AJI SAKA VERSI TOKOH KRISTEN ORTHODOKS SYIRIA (KOS)

PENDAHULUAN

Berbagai usaha telah dilakukan oleh sejumlah tokoh Kristen dalam usahanya untuk mendekati kebudayaan Jawa. Upaya ini merupakan salah satu usaha untuk mencari titik temu antara Jawa dan Kristen. Simpul-simpul yang dianggap sebagai “benang merah” pertemuan kedua entitas tersebut akan dianggap sebagai entry point bagi para misionaris untuk merumuskan penginjilan bagi orang Jawa. Jadi upaya-upaya tersebut bukannya murni pendekatan yang bersifat akademis, melainkan berbalut misi dan kepentingan penyebaran agama kepada umat yang telah beragama. Baca lebih lanjut

KRITIK ATAS APLIKASI METODE “THE OLD TESTS THE NEW”

(Studi Kasus “Amoralitas” Dawud)

PENDAHULUAN

Al Quran memiliki fungsi sebagai mushadiq terhadap kitab-kitab yang ada sebelumnya. Kedudukannya adalah sebagai korektor sekaligus pelanjut bagi kitab-kitab sebelumnya yang telah habis masa berlakunya dan diubah-ubah oleh tangan –tangan manusia. Al Quran datang guna membersihkan nama para Nabi yang tercemari oleh semangat “penipuan” dan rasa fanatisme suatu bangsa. Boleh dikatakan sebagian besar isi dari Al Quran adalah bersifat kritik dan peringatan terhadap sifat-sifat suatu bangsa yang jahat di mata Allah. Baca lebih lanjut

“KETUHANAN” MARYAM : MISKONSEPSI TRINITAS DALAM AL QURAN ?

PENDAHULUAN

Di antara keunggulan Islam adalah apabila berada pada posisi dicerca, dihina, dan dimarginalkan maka yang terjadi justru sebaliknya. Semakin Islam disudutkan maka semakin terlihat kebenaran ajaran dan kesesuaiannya dengan fithrah manusia. Agama ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan menurut kadar akalnya masing-masing. Mungkin inilah rahasia mengapa Islam selalu berhasil menundukkan peradaban yang memusuhinya. Terbukti di sejumlah negara seperti Amerika, Inggris, Belanda, dan negara Barat lainnya yang mengalami kondisi kekosongan spiritual, mulai menunjukkan geliat sebagian penduduknya menuju Islam. Munculnya kartun berisi penghinaan terhadap nabi di surat kabar Jylland Posten atau beredarnya film Fitna yang menghujat Islam hanya merupakan percikan kecil di antara kekhawatiran akan menguatnya syariat Islam di belahan dunia Barat. Baca lebih lanjut

SALAM SEJAHTERA ATAS KELAHIRAN ISA AL MASIH DALAM AL QURAN

PENDAHULUAN

Pada era 1980-an umat Islam dianjurkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengikuti perayaan Natal bersama dengan dalih mengidupkan toleransi dan kerukunan umat beragama. Anjuran tersebut tentu saja meresahkan kalangan umat Islam.1 Kenyataannya anjuran itu bukannya melahirkan sebuah toleransi terhadap umat agama lain namun justru memicu ketegangan dan disharmoni di kalangan internal umat Islam kala itu. Tata cara dan aturan peribadatan dalam Islam merupakan konsep yang otentik dan telah final sejak masa Rasulullah saw, termasuk menyangkut pola hubungan umat Islam dengan umat agama lain. Dalam dimensi peribadatan Islam, sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah, juga mencakup konsep al-wala’ dan al-bara’, dimana kaum muslimin dituntut untuk dapat menempatkan diri secara tepat dalam kerangka sebuah loyalitas dan anti-loyalitas. Dari segi loyalitas, seorang muslim yang taat tidak dimungkinkan untuk menghadiri ibadah umat beragama lain. Baca lebih lanjut