KRITIK TERHADAP KONSEP UKHUWWAH ISLAMIYAH

(Tulisan ini belum sepenuhnya selesai dan masih dalam tahap penggarapan. Tanda selesai adalah hilangnya tulisan dalam kurung ini)

Dalam setiap aktivitas penyikapan terhadap isu perpecahan umat, biasanya selalu diikuti dengan mengemukanya wacana ukhuwah Islamiyah. Sekalipun wacana tersebut masih dalam tataran jargon, namun hal tersebut menunjukkan bahwa seakan konsep ukhuwah Islamiyah merupakan antithesis sekaligus solusi bagi perpecahan umat yang terjadi. Wacana tentang ukhuwah Islamiyah sendiri pada dasarnya belum merupakan sebuah konsep yang final secara konseptual. Bahkan boleh dikata masih merupakan angan-angan yang bersifat absurd dan ahistoris apabila dikaitkan dengan ajaran menyeluruh Al Islam. Disebutkan absurd sebab agak sulit dibuktikan bahwa ukhuwah Islamiyah tersebut benar-benar bersumber dari semangat murni terhadap pemahaman Al Quran dan Ash Shunnah. Sedangkan dikatakan bersifat ahistoris lebih pada penilaian bahwa konsep ukhuwwah Islamiyah tidak terbentuk pada masa generasi awal para shahabat dan bahkan muncul sebagai bentuk reaksi fenomenologis dibandingkan kajian murni atas sumber-sumber ajaran Islam. Lantas apa buktinya ?

Penulis, dalam hal ini, bukan berusaha mengingkari atau dengan kata lain menolak aktivitas yang mengarah kepada persatuan umat. Namun kajian ini lebih menekankan kepada kritik terhadap pembentukan konsep dan labelisasi atribut “ukhuwah Islamiyah” yang seolah telah menjadi bentuk baku persatuan umat dalam agama Islam.

MUNCULNYA KONSEP UKHUWWAH ISLAMIYAH

Pasca runtuhnya khilafah Islamiyah pada tahun 1924, umat Islam dihadapkan dengan berbagai persolan terkait dengan semakin tidak tertatanya sistem keumatan. Hal ini ditandai dengan menguatnya perpecahan antar madzhab yang bermuara kepada pengkotak-kaotakkan umat menjadi berkelompok-kelmpok. Akibatnya umat mengalami kemuduran baik dari segi pemikiran, moralitas, dan pada sisi-sisi lainnya akibat disibukkan dengan pertentangan antar golongan dan juga penjajahan bangsa asing. Sebagian kalangan menyadari bahwa kemunduran yang melanda wilayah mereka merupakan akibat dari perpecahan umat tersebut. Maka sejumlah tokoh secara peorangan, seperti Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh, mulai mengumandangkan seruan persatuan Islam.[1]

Seruan ukhuwwah Islamiyah yang bersifat perorangan tersebut, pada masa sesudahnya diteruskan oleh sejumlah kelompok. Antara lain Hasan al Bana dengan kelompoknya, al Ikhwan al Muslimin, memasukkan materi ukhuwwah Islamiyah ini sebagai salah satu doktrin kadernya.[2] Hal ini wajar mengingat kebutuhan dakwah pada masa Hasan al Bana sangat menghajadkan terwujudnya persatuan umat.[3] Mesir pada era itu berada dalam kekuasaan imperialis Inggris sedangkan umat Islam mengalami perpecahan sedemikian parah akibat menguatnya fanatisme golongan dan mazhab.[4] Akibatnya perlawanan terhadap penjajah kurang mendapat sambutan karena rakyat mesir lebih disibukkan dengan urusan internal masing-masing.

Sedangkan pada masa sekarang konsep ukhuwah Islamiyah telah dikembangkan dalam sejumah buku dan didukung oleh berbagai teori. DR. Abdullah Nashih Ulwan, misalnya, menyatakan bahwa ukhuwah Islamiyah merupakan karunia Allah berupa sikap persatuan umat guna mencapai puncak pengabdian kepada Allah dan mewujudkan fungsi serta tugas manusia sebagai khalifah fi al ardli.[5] Konsep ukhuwwah Islamiyah sendiri, bahkan telah masuk ke dalam alam pikiran para tokoh muslim di Indonesia.

DASAR UKHUWWAH DALAM AL ISLAM

Persatuan dikalangan manusia bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti keturunan, suku, persamaan kebangsaan, hobby, pertalian cita-cita, pengaruh ideologis, dan lain sebagainya. Namun Islam memiliki dasar ikatan pertalian persaudaraan yang berbeda dan kokoh. Dasar persatuan umat tersebut Islam adalah menggunakan kriteria iman.[6] Hal ini didasarkan kepada perkataan Allah sebagai berikut :

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.[7]

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sedangkan dalam hadits Rasulullah menggambarkan persatuan umat dengan bentuk metaforis kaum mukmin sebagai sebuah bangunan sebagai berikut :

Orang mukmin terhadap sesama mukmin adalah laksana satu bangunan, dimana satu bagian menguatkan bagian yang lain.”[8]

Juga pada hadits berikut :

Salah seorang di antara kamu tidak dapat dikatakan beriman sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.”[9]

Dengan demikian dasar persatuan umat dalam Islam bukan karena kesamaan agama saja. Sebab jika seseorang adalah bukan muslim maka tentu dia adalah kafir. Sedangkan orang yang menolak mempererat persaudaraan antara sesama muslim tidak dapat dihukumi kafir. Dengan demikian konsep ukhuwah islamiyah terbantahkan karena tidak didasarkan atas dalil yang kuat dan terlepas dari argumentasi (hujjah) yang jelas.

Maka konsep yang lebih memiliki dalil dan hujjah adalah ukhuwah al-imaniyah. Sebab jika seseorang tidak beriman maka dia telah musyrik. Sedangkan terhadap seseorang yang menolak mempererat persaudaraan umat atau bahkan memecah belah umat ke dalam golongan-golongan atau kelompok-kelompok, maka Allah telah menyebut mereka sebagai al-musyrikin (orang-orang musyrik). Hal ini sebagaimana perkataan Allah :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

30

dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah ( = al-musyrikin),

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

31

yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.[10]

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

32

Perselisihan dalam Islam juga tidak dipandang sebagai penyebab perpecahan sebab muslim yang memiliki iman akan cenderung kembali kepada Al Quran dan Shunnah guna menyelesaikan permasalahan mereka serta menghindari berbagai bentuk perpecahan, fanatisme golongan (hizbiyah), dan sebagainya.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya[11]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

PENUTUP

Persaudaraan dalam agama Islam lebih didasarkan atas kriteria iman. Maka konsep yang seharusnya dihasung oleh kaum muslimin dalam mempererat ukhuwah adalah konsep ukhuwwah imaniyah. Sebab seseorang muslim belum dapat dikatakan beriman sebelum mereka menjalin persatuan dengan yang lain. Bahkan perpecahan dan kehidupan sectarian dalam beragama adalah bagian dari kemusyrikan.

Wallahu a’lam bishshawab


[1] Syaikh Mahmud Syaltut dalam Kata Pengantar DR. Musthofa Muhammad Asy Syak’ah. Islam Tidak Bermadzhab. (terjemah oleh A.M. Basalamah dari Islamu Bi Laa madzahib). (Gema Insani Press, Jakarta, 1995)

[2] Hal ini dapat dilihat dan dibaca melalui berbagai buku materi kaderisasi dalam Gerakan Ikhwan al Muslimin yang biasanya dikenal dengan sebutan materi tarbiyah atau madah Tarbiyah. Sedangkan sistematika materinya, terutama di Indonesia, dikenal sebagai Rasm al Bayan

[3] Selengkapnya Muhammad Abdul Halim Hamid. Ibnu Taimiyah, Hasan Al Bana, dan Ikhwanul Muslimin. (Terjemah oleh Wahid Ahmadi dari buku Ma’an Ala Tariqi ad Dakwah Syaikh al Islam Ibnu Taimiyah wa Imam syahid Hasan al Bana). (Citra Insani Press, Surakarta,1996). Hal. 83

[4] DR. Raa’uf Syalabi. Jiwa yang Tenang Lahirkan Ide Cemerlang : Mengurai Benang Merah Sosok Imam Hasan Al Bana dengan Madrasah Ikhwanul Muslimin. (Terjemah oleh M. Habibburahim LC. dari buku Syaikh Hasan al Bana wa Madrasatuhu Al Ikhwan al Muslimin). (Nuansa Press, Jakarta, 2004). Hal. 137-138

[5] DR. Abdullah Nashih Ulwan. Merajut Keping-keping Ukhuwah. (Terjemah oleh Ammy An Nadlirah dari judul Al Ukhuwwah Al Islamiyah Takwin Asy Syakhsiyah Al Insaniyah). (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 17

[6] M. Yunan Nasution. Pegangan Hidup. Jilid IV. (Ramadhani, Surakarta, 1985). Hal. 188-189

[7] QS. Al Hujurat : 10

[8] HR. Bukhari

[9] HR. Bukhari dan Muslim

[10] QS. Ar Rum : 30 -32

[11] Qs. An Nisa : 59

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: