MELACAK PEMAHAMAN ASY’ARIYAH DALAM PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH

(Studi Tentang Akal dan Wahyu dalam Risalah Tauhid)

PENGANTAR, MUNCULNYA PAHAM ASY’ARIYAH

Al Asy’ari adalah nama sebuah kabilah Arab terkemuka di Bashrah, Irak. Dari kabilah ini muncul beberapa orang tokoh terkemuka yang turut mempengaruhi dan mewarnai sejarah peradaban umat Islam. Di antaranya adalah Abu Musa Asy’ari, salah seorang shahabat yang terkenal shaleh dan mendalam keilmuannya. Sedangkan tokoh lainnya adalah Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishak bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Bardah al Asy’ari, tokoh yang kemudian dinisbahkan sebagai ulama ‘pendiri’ paham Asy’ariyah.[1]

Sebelum timbulnya madzhab Khawarij, Murji’ah, Qadariyah, Jabariyah, dan Mu’tazilah, dalam dunia Islam belum mengkhususkan sebuah madzhab dengan istilah ahl al Shunnah wa al Jama’ah. Sebab semua umat Islam secara pasif dapat disebut sebagai ahl al Shunnah wa al Jama’ah.[2] Kemunculan madzhab Asy’ariyah yang mencoba mengatasi berbagai faham yang berkembang di kalangan umat Islam dan menjadi penengah berbagai persoalan pemikiran umat menyebabkan Asy’ariyah disebut sebagai madzhab Ahli shunnah yang mula-mula.[3]

Abu al Hasan al Asy’ari pernah menganut paham Mu’tazilah dan bahkan menjadi murid kesayangan Abu Ali al Jaba’i, seorang tokoh Mu’tazilah.[4] Oleh karena itulah beliau memiliki kemampuan berbicara dan berdebat yang tidak kalah dengan gurunya. Namun kemudian beliau berbalik menjauhkan diri dari Mu’tazilah. Seruan yang bernada penentangan terhadap pemikiran mu’tazilah pertama kali dilakukan di masjid Bashrah pada suatu hari Jumat. Diantara seruannya antara lain beliau menyatakan diri telah bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah yang menyakini bahwa Al Quran adalah makhluk.

Dalam salah satu risalahnya Abu al Hasan al Asy’ari menyatakan bahwa banyak diantara pengikut Mu’tazilah dan ahli Qadar (madzhab Qadariyah) telah salah menempatkan sikap dengan mengikuti pemimpin yang masih hidup maupun yang telah mati secara taklid buta. Abu al Hasan mengkoreksi kesalahan metodologis yang digunakan oleh kedua kalangan tersebut dalam menafsirkan maksud petunjuk Allah dalam Al Quran dan menjelaskan penyimpangan pemikiran yang disebabkan oleh kesalahan metodologis tersebut.[5]

Pandangan Asy’ariyah tentang wahyu dan kedudukannya tercermin dalam pendapat Abu Hasan al Asy’ari mengenai Al Quran sebagai berikut : “Hendaknya kita membedakan antara kalamullah yang berdiri dengan dzat-Nya yang berarti qadim, dengan wujud Al Quran yang ada di antara kita dewasa ini, yang diturunkan kepada Muhammad dalam waktu tertentu. Perkataan-Nya adalah satu yaitu larangan, perintah, berita, dan istikhbar, serta janji dan ancaman. Kesemuanya termasuk dalam kategori perkataan-Nya, bukannya kembali pada jumlah atau susunan kalimatnya. Adapun lafadz yang diturunkan-Nya kepada nabi dan rasul-Nya melalui lafadz menunjukkan kalam yang azali. Sedangkan dalil yang dibuat adalah muhdits dan yang dilandasi adalah qadim dan azali. Jadi perbedaan antara bacaan dan yang dibaca sama saja dengan sebutan yang disebut, sebutan adalah muhdits sementara yang disebut adalah qadim”.[6]

Sebagian kalangan berpendapat bahwa sumber pengambilan ilmu dalam Asy’ariyah adalah al-Qur`an dan sunnah dengan berdasarkan kepada kaidah-kaidah ilmu kalam. Oleh karena dasar yang dipakai Asy’ariyah dalam memahami al-Qur`an dan sunnah adalah kaidah-kaidah ahli kalam maka muncul beberapa penilaian terhadap konsekuensi penggunaan ilmu kalam tersebut. Ada pun penilaian konsekuensi tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Asy’ariyah mendahulukan akal daripada naql dalam kondisi keduanya bertentangan.

2. Menolak hadits ahad dalam menetapkan perkara akidah karena, menurut Asy’ariyah, hadits ahad tidak menetapkan ilmu yang yakin. Bahkan sebagian dari kalangan Asy’ariyah dalam sumber bertalaqqi ada yang mengambil dari kasyaf dan perasaan, jika nash bertentangan dengan kasyaf maka kasyaf didahulukan atau nash dibelokkan agar sesuai dengan kasyaf. Ini adalah pendapat Asy’ariyah yang tercemar oleh metode sufi di mana mereka memiliki istilah ‘ilmu laduni’ dan slogan ‘hatiku menyampaikan kepadaku dari tuhanku’.[7]

Namun demikian kedua konsekuensi akibat penggunaan ilmu kalam dalam penafsiran wahyu dan hadits tersebut agaknya masih memerlukan pengkajian lebih mendalam. Dalam masalah penggunaan akal dalam penafsiran wahyu misalnya, Abu al Hasan sendiri menyarankan agar dalam penafsiran Al Quran lebih merujuk kepada penjelasan Rasulullah dan penafsiran yang mutawatir dikalangan shahabat.[8] Dengan demikian klaim bahwa Asy’ariyah lebih mendahulukan akal dibandingkan naql pada saat keduanya bertentangan tidak sepenuhnya benar jika ditinjau dari pernyataan Abu al Hasan al Asy’ari. Demikian juga penolakan penggunaan hadits ahad dalam pembahasan aqidah, mungkin saja hal tersebut benar. Namun demikian dapat dibuktikan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar jika pemikiran Asy’ariyah disandarkan kepada Abu al Hasan al Asy’ari. Dalam penetangannya terhadap paham Mu’tazilah dan ahli Qadar (Qadariyah), Abu al Hasan al Asy’ari menyatakan bahwa penyimpangan Mu’tazilah dan Qadariyah diantaranya adalah tidak mengakui adanya syafa’at Rasulullah dan azab kubur.[9] Dari fakta ini dapat dikatakan, Abu al Hasan al Asy’ari berpendirian bahwa mengingkari adanya syafa’at Rasulullah dan eksistensi siksa kubur merupakan sebuah bentuk penyimpangan pemikiran. Sementara kedua pembahasan tersebut, yaitu tentang syafaat rasulullah dan siksa kubur, merupakan permasalahan aqidah yang disandarkan kepada hadits ahad.[10]

BIOGRAFI PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH

Muhammad Abduh lahir di Propinsi Gharbiyyah, Mesir pada tahun 1849.[11] Ayahnya bernama ‘Abduh bin Hasan Khairallah memiliki silsilah keturunan dengan bangsa Turki. Sedangkan ibunya memiliki silsilah yang menyambung kepada Umar bin Khaththab, khalifah kedua. Berasal dari keluarga petani sederhana yang taat beragama dan cinta ilmu. Dia belajar membaca dan menulis dari kedua orang tuanya. Berkat otaknya yang cemerlang, Muhammad Abduh bisa menghafal Al Quran dalam waktu 2 (dua) tahun pada usia 12 (dua belas) tahun.

Muhammad Abduh dianggap memiliki jalan berpikir yang maju. Dia banyak membaca buku-buku filsafat dan mempelajari perkembangan berbagai paham dan pemikiran. Salah satu pemikiran yang sempat dia pelajari adalah pemahaman kaum mu’tazilah. Barangkali hal inilah yang menyebabkan ulama Al Azhar sempat menuduhnya telah meninggalkan mahzab Asy’ariyah dan berpindah haluan menjadi penganut paham Mu’tazilah. Namun Muhammad Abduh menampik tuduhan tersebut secara diplomatis dengan mengatakan : “Yang terang saya telah meninggalkan taklid kepada Asy’ari, maka mengapa saya harus bertaklid pula kepada Mu’tazilah ? Saya akan meninggalkan taklid kepada siapa pun juga dan hanya berpegang kepada dalil yang dikemukakan.” [12]

Selama masa belajarnya di Universitas Al Azhar, Muhammad Abduh pernah bertemu dengan Jamaluddin al Afghani dan memperoleh pengetahuan ilmu filsafat, ilmu kalam, dan ilmu pasti darinya.[13] Pertemuannya dengan Jamaluddin al Afghani inilah yang membuatnya kecewa dengan metode pengajaran Al Azhar yang dinggapnya verbalis. Metode pengajaran verbalis dianggapnya merusak akal dan daya nalar sehingga tidak berjalan sesuai fithrah akal itu sendiri. Rasa kecewa itulah yang kemudian membangkitkan semangatnya untuk mempelajari berbagai bidang kajian antara lain agama, sosial, politik, dan kebudayaan.[14] Salah satu implikasinya, Muhammad Abduh terlibat dalam politik praktis[15] yang berujung pada diasingkannya dirinya akibat tuduhan terlibat dalam pemberontakan yang dimotori oleh ‘Urabi Pasya.[16] Di kota Paris, tempat pengasingannya, Muhammad Abduh tetap aktif mengemukakan pemikirannya tentang dakwah dan politik Islam. Kemudian beliau menerbitkan majalah dan membuat gerakan yang disebut al-‘Urwah al Wutsqa. Ide gerakan ini membangkitkan semangat umat Islam untuk bangkit melawan hegemoni Barat. Umur majalah tersebut tidak berlangsung lama akibat dibredel oleh pemerintahan colonial. Setelah itu Muhammad Abduh mengunjungi berbagai negeri Islam seperti Tunisia dan Beirut. Muhammad Abduh banyak menulis dan menterjemahkan kitab-kitab ke dalam Bahasa Arab di Beirut. Di kota ini pula beliau menyelesaikan kitab Risalah al Tauhid.[17]

POSISI AKAL DAN WAHYU DALAM KITAB RISALAH TAUHID

1. Hukum Akal

Para ahli tauhid (ilmu kalam) membagi hukum akal yang disebut sebagai “maklum” (al-maklum artinya yang dapat dicapai oleh akal) ke dalam 3 (tiga) kategori yaitu wajib, mungkin, dan mustahil.[18] Adapun wajib ialah sesuatu yang zatnya sudah semestinya ada. Mungkin ialah sesuatu yang tidak ada wujudnya namun juga tidak dapat dikatakan tidak ada zatnya, karena zat tersebut bisa terwujud oleh sesuatu sebab yang menyebabkan adanya. Sedangkan mustahil menurut istilah ahli kalam adalah zat yang memang tidak mungkin ada. Pemakaian kata “al-maklum” kepada yang “mustahil” adalah sesuatu yang majazi (bukan hakikat sebenarnya). Sebab yang maklum itu adalah suatu hakikat yang mesti ada dalam kenyataannya, sesuai dengan ilmu. Tetapi yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu yang dapat melekatkan hukum kepadanya, sekalipun dalam bentuk yang dapat dilukiskan oleh akal, agar ia bisa menceritakan tentang hal yang mustahil itu.[19]

Sesuatu yang wajib sifatnya sudah tentu merupakan sesuatu yang ada dan sesuatu yang mustahil tidak tidak memiliki wujud sebab pada dasarnya dia tidak ada. Akal manusia tidak dapat menggambarkan hakikat (mahiyah) sesuatu yang mustahil. Sebab sesuatu yang mustahil merupakan wujud lain dari ketiadaan, baik diluar maupun didalam fikiran sendiri.[20] Maka pembicaraan dalam Risalah Tauhid lebih banyak membicarakan tentang pembahasan mungkin dan menggunakan pembahasan wajib dan mustahil sebagai penguat argumentasi. Hal yang wajib memberikan argumentasi yang sukar dibantah sementara hal yang mustahil bernilai mengankat dan menguatkan sesuatu yang wajib dan mustahil walaupun pada hakikatnya hal yang mustahil sukar digunakan untuk menguatkan keduanya.

Diantara hukum wajib menurut akal dalam pembahasan ketuhanan antara lain bahwa Dia adalah qadim (tidak berpermulaan) dan azali, al-hayat (hidup), al-ilmu (Maha Mengetahui), al-iradat (berkehendak), al-qudrat (kuasa), ikhtiar (memiliki kebebasan berbuat), al-wahdah (Maha Esa), dan sifat-sifat syam’iyah lainnya.[21]

Dalam menggunakan hukum akal wajib di atas, Muhammad Abduh membatasi penggunaan akal dengan tidak melampaui kapasitas kemampuan akal itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya bahwa manusia akan mengalami kesulitan memahami hakikat sejati suatu zat yang terdiri dari berbagai bagian, sebab untuk memahami hal tersebut manusia harus memahami unsur bagian-bagian penyusunnya sampai unsur yang terkecil. Dalam pandangan Muhammad Abduh, akal manusia akan mengalami keterbatasan dikarenakan puncak maksimum yang mungkin diketahui adalah mengenal sifat dan bekas-bekas dari sesuatu.[22] Dalam upaya penggambaran tentang pengenalan terhadap Allah, Muhammad Abduh menyitir sebuah hadits sebagai berikut:

Berfikirlah kamu tentang makhluk Allah dan janganlah kamu berfikir tentang zat-Nya, niscaya kamu celaka.” [23]

Dalam pandangan Muhammad Abduh, berfikir tentang zat Allah sama artinya dengan mencari hakikat zat yang menjadikan dari satu sudut pandang. Hal ini terlarang bagi manusia sebab terjadi sebuah ketidak seimbangan dua wujud yang berbeda antara wujud khalik dan wujud akal manusia. Sedang dari sudut pandang lain hal ini merupakan sebuah kesia-siaan sebab manusia akan gagal mengenali zat Allah sekalipun dengan mengerahkan kemampuan akalnya.[24] Dengan demikian pandangan Muhammad Abduh tentang penggunaan hukum akal wajib dalam pengenalan terhadap Allah bukan merupakan upaya untuk menelusur hakikat zat Allah namun terbatas dengan mengamati ciptaan dan melihatr tanda-tanda kebesaran Allah di dalam ciptaan tersebut. Dalam hal ini beliau juga menolak penggunaan akal secara berlebihan sehingga keluar dari kaidah berfikir yang benar.

Adapun hukum akal mungkin bagi sesuatu zat adalah sesuatu zat tidak mungkin ada kecuali ada sesuatu sebab. Hal tersebut juga berlaku sebaliknya yaitu segala sesuatu tidak mungkin tidak ada kcuali tanpa suatu sebab pula. Demikian pula tidak satu pun diantara dua perkara (ada dan tidak ada) yang dimiliki oleh sesuatu zat secara bersamaan. Sebagian diantara hukum mungkin adalah pernyataan bahwa sesuatu yang maujud adalah “baru”. Karena sudah pasti dia tidak bisa ada (wujud) tanpa suatu sebab.[25]

Sedangkan hukum mustahil bagi sesuatu zat bahwa sesuatu tidak mungkin terjadi wujudnya karena tidak ada (‘adam). Sekiranya hal tersebut diperbolehkan wujud, maka telah tercabut sesuatu tersebut dari kelaziman mahiyahnya. Maka sesuatu yang mustahil tentu tidak bisa diwujudkan dan memang tidak ada dengan pasti bahkan akal tidak mungkin menggambarkan mahiyah sesuatu yang mustahil sebab bukan merupakan sesatu yang maujud, baik diluar maupun didalam fikiran sendiri.[26]

2. Posisi Wahyu

Muhammad Abduh membahas posisi wahyu dengan mendasarkan metode pembahasannya pada penggunaan hukum akal mungkin. Penggunaan hukum mungkin tersebut dalam pandangannya hanya terbatas pada ketidakmungkinan bahwa wahyu tidak ada (hukum mustahil). Dalam pandangan tentang wahyu, Muhammad Abduh juga membahas tentang keberadaan (wujud) nabi dan para malaikat. Hal tersebut disadari karena nabi dan malaikat tidak dapat dilepaskan perannya dalam proses transmisi wahyu itu sendiri.

Dalam pembahasan tentang wahyu tersebut Muhammad Abduh memulai dengan sebuah pertanyaan mendasar : “ dimanakah letak kemustahilan wahyu itu ? ”. Bahwa apa yang mungkin tersingkap bagi seseorang belum tentu tersingkap bagi yang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa derajat akal manusia memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain dan akal yang lebih rendah akan mengalami kesulitan guna mencapai pemikiran yang dilampaui oleh pemilik akal yang memiliki kecerdasan lebih tinggi kecuali dengan cara sederhana dan ringkas saja. Bahkan hal tersebut sangat dimungkinkan bukan merupakan wilayah ikhtiar manusia.[27] Hal tersebut juga disadari masuk ke dalam pembahasan persoalan wahyu. Bahwa dengan rahmat-Nya Allah telah menonjolkan orang yang dipilihnya diantara yang lain merupakan hal yang mungkin dalam artian seseorang terpilih karena sesuatu sebab. Para nabi telah terpilih menjadi nabi berdasarkan sesuatu sebab pula dan pokok sebab dalam pandangan ini berpusat pada Allah. Salah satu sebab yang memungkinkan diutusnya nabi adalah berkaitan dengan tabiat manusia itu sendiri yang menghajadkan keberadaan rasul guna membimbing kemashlahatannya.[28] Manusia memerlukan bimbingan sangat menuju tingkat kedewasaan dan sempurnanya bimbingan tersebut guna menuntunnya kepada kebahagiaan hidup. Setelah manusia mengalami kematangan tersebut maka keberadaan kerasulan dan terkuncinya pintu kenabian setelahnya menjadi sangat beralasan dan wajar.[29]

Sedangkan keberadaan para malaikat bukanlah hal yang mustahil, yakni setelah kita mengenal diri kita dan memahami berbagai pengetahuan maka kesadaran bahwa terdapat wujud yang lebih halus di alam yang ghaib dari kita. Maka sudah tentu sangat beralasan dan bukan mustahil jika wujud halus tersebut (malaikat) memancarkan sebagian ilmu Illahi atas kehendak Allah dan para Nabi sebagi orang terpilihlah yang mendapatrkan kehormatan untuk menerimanya. Maka apabila terdapat dikalangan manusia, seorang Nabi yang membawa berita yang benar maka wajib bagi manusia mengikutinya. Hal ini mencakup bahwa diantara ajaran nabi tersebut juga telah mengesahkan tentang penutupan pintu kenabian.

Semua dalil yang dikemukan oleh para Nabi, dalam pandangan Muhammad Abduh, tidaklah pantas menurut hukum akal bahwa mereka (para nabi) telah berdusta dalam menyampaikan berita yang dating dari Allah, demikian juga tentang pengakuan mereka bahwa apa yang mereka sampaikan merupakan wahyu dari Allah.[30]

Sedangkan pendapat mengenai Al Quran sebagai makhluk atau qadim, Muhammad Abduh tidak memberikan komentar dalam bentuk apa pun. Mengingat bahwa persoalan tersebut merupakan pembeda yang urgen dalam pemahaman Asy’ariyah terhadap paham lain dan merupakan masalah krusial yang pernah dikemukakan oleh kalangan Mu’tazilah dan pernah muncul dikalangan umat Islam serta besar kemungkinannya pemikiran tersebut bangkit kembali pada masa selanjutnya, sangat mungkin beliau menganggap hal tersebut merupakan persoalan yang telah selesai dan mencukupkan kepada pendapat Abu al Hasan al Asy’ari yang menyatakan : “Hendaknya kita membedakan antara kalamullah yang berdiri dengan dzat-Nya yang berarti qadim, dengan wujud Al Quran yang ada di antara kita dewasa ini, yang diturunkan kepada Muhammad dalam waktu tertentu. Perkataan-Nya adalah satu yaitu larangan, perintah, berita, dan istikhbar, serta janji dan ancaman. Kesemuanya termasuk dalam kategori perkataan-Nya, bukannya kembali pada jumlah atau susunan kalimatnya. Adapun lafadz yang diturunkan-Nya kepada nabi dan rasul-Nya melalui lafadz menunjukkan kalam yang azali. Sedangkan dalil yang dibuat adalah muhdits dan yang dilandasi adalah qadim dan azali. Jadi perbedaan antara bacaan dan yang dibaca sama saja dengan sebutan yang disebut, sebutan adalah muhdits sementara yang disebut adalah qadim”.[31]

PENUTUP

Demikianlah kajian mengenai pemikiran Muhammad abduh terkait dengan paham Asyariyah dalam Risalah Tauhid menyangkut posisi akal dan wahyu. Dari berbagai pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Kemunculan paham Asy’ariyah merupakan sebuah bentuk respon terhadap berbagai pemikiran yang berkembang dikalangan umat islam. Dengan demikian penggunaan akal secara berlebihan dengan menggunakan akal dalam paham Asy’ariyah terbukti tidak sepenuhnya benar. Sebab penggunaan akal dengan menggunakan ilmu kalam tersebut juga merupakan bentuk respon terhadap pemikiran lain yang mengangungkan akal secara berlebihan. Dapat dipahami bahwa untuk mematahkan kaum yang mengagungkan akal adalah dengan mematahkan argumentasi mereka dan hal tersebut dapat dilakukan dengan mengadopsi metodologi yang mereka gunakan sehingga kesalahan berfikir dapat dengan jelas dibuktikan.

2. Tuduhan sementara kalangan bahwa Muhammad Abduh termasuk kalangan Mu’tazilah terbukti tidak benar, setidaknya setelah mengkaji Risalah Tauhid yang melandaskan pembahasannya bukunya berdasarkan hukum akal sebagaimana yang digunakan dalam paham Asy’ariyah.

3. Muhammad Abduh telah membuktikan bahwa penggunaan akal memiliki berbagai kelemahahan termasuk ketika ditinjau dengan menggunakan pisau analisa hukum akal paham Asy’ariyah berupa hukum wajib, mungkin, dan mustahil. Dengan demikian pengagungan akal dan mendahulukan akal daripada naql jelas tidak dibenarkan dalam pandangan hukum akal itu sendiri.

4. Ditinjau dari hukum akal, wahyu merupakan hal yang mungkin. Salah satu alasannya ditinjau dari sudut pandang manusia, dalam kehidupannya manusia menghajadkan keberadaan wahyu guna mencapai kebahagiaan hidup dan kemaslahatannya.

Wallahu a’lam bishawab.

DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Syech Muhammad. 1965. Risalah Tauhid. Terjemahan. (Penerbit Bulan Bintang, Jakarta

Aceh, Prof. Dr. H. Aboebakar. 1989. Sejarah Filsafat Islam. Cetakan III. Ramadhani, Surakarta

Adams, Charles C. 1993. Islam and Modernisme in Egypt. Rusell and Russel, Newyork

Ahmadi, Drs. Abu. 1977. Perbandingan Agama 2. AB. Sitti Syamsiyah, Surakarta

Asy Syak’ah, DR. Musthafa Muhammad. 1995. Islam Tidak Bermazhab. Terjemahan. Cetakan II. Gema Insani Press, Jakarta

Baidhawy, Zakiyuddin, M. Ag. et all. 2001. Studi Kemuhammadiyahan : Kajian Historis, Ideologi, dan Organisasi. Cetakan VI. Lembaga Studi Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta

Hourani, Albert. 1962. Arabic Thought in The Liberal Age. Oxford University Press, London

Karya, H. Soekama. 1996. Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. Logos, Jakarta

Nasution, Harun. 1975. Pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan Islam. Bulan Bintang, Jakarta

Nida’, Abu. Dalam artikel Al Masih Ad-Dajjal dan Keimanan Terhadap Keluarnya di Akhir Zaman. Majalah As-sunnah No. 09/I/1415-1994

Situs http://www.alsofwah.or.id


[1] H. Soekama Karya. Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. (Logos, Jakarta, 1996). Hal. 25

[2] Abu Ahmadi. Perbandingan Agama 2. (AB. Sitti Syamsiyah, Surakarta, 1977). Hal. 63

[3] DR. Musthafa Muhammad Asy Syak’ah. Islam Tidak Bermazhab. Terjemahan. Cetakan II. (Gema Insani Press, Jakarta, 1995). Hal. 385

[4] Lihat H. Soekama Karya. Opcit. Hal. 25. Lihat pula Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh. Sejarah Filsafat Islam. Cetakan III. (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 90

[5] Diantara kesalahan metodologis yang diungkap oleh Abu al Hasan antara lain adalah peniadaan ilmu asbabun nuzul, penafian hadits nabi dan keterangan para shahabat dalam penafsiran Al Quran. Sementara penyimpangan pemikiran yang terjadi akibat kesalahan metodologis tersebut antara lain kedudukan Al quran hanya dianggap sebagai perkataan manusia, Allah tidak mengatur qadha dan qadar manusia, pengingkaran terhadap syafa’at Rasulullah SAW, dan lain sebagainya. Untuk lebih lengkapnya lihat Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh. Sejarah Filsafat Islam. Cetakan III. (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 91

[6] DR. Musthafa Muhammad Asy Syak’ah. Opcit. Hal. 385

[7] Situs alsofwah yang di akses pada tanggal 13 Maret 2008 jam 21.00 WIB dalam http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatfirqah&parent_id=19&parent_section=fr006&idjudul=18

[8] Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh. Opcit. Hal. 91

[9] Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh. Ibid. Hal. 91

[10] Beberapa permasalahan urgen, setidaknya 20 masalah, akan terhapus bila hadits ahad tidak digunakan dalam pembahasan masalah aqidah. Diantara permasalahan yang terhapus tersebut adalah Nubuwah Nabi Adam dan beberapa nabi yang tidak disebutkan dalam Al Quran, keutamaan Nabi Muhammad dibandingkan nabi yang lain, syafa’at udhma di Mahsyar, Syafaat Rasulullah atas dosa besar, mu’jizat Rasulullah misalnya terbelahnya bulan, hadits tentang sifat malaikat, jin, surga, neraka, dan hajar aswad dari surga, kekhususan Rasulullah pernah masuk surga dan menegtahui keadaan penghuninya, sepuluh orang yang diberitakan masuk surga, pertanyaan malaikat di kubur, iman kepada siksa kubur, iman tentang keberadaan shirath yang membentang di atas neraka, dan lain sebagainya. Untuk lebih lengkapnya baca Abu Nida’. Al Masih Ad-Dajjal dan Keimanan Terhadap Keluarnya di Akhir Zaman. (Majalah As-sunnah No. 09/I/1415-1994). Hal. 9-10

[11] Pengantar penterjemah oleh H. Firdaus A.N., B.A. Sjech Muhammad ‘Abduh dan Perjuangannja dalam Syech Muhammad Abduh. Risalah Tauhid. Terjemahan. (Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1965). Hal. 7. Namun sumber lain menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 1848. Lihat Zakiyuddin Baidhawy, M. Ag. et all. Studi Kemuhammadiyahan : Kajian Historis, Ideologi, dan Organisasi. Cetakan VI. (Lembaga Studi Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, 2001). Hal. 12-13

[12] Pengantar penterjemah oleh H. Firdaus A.N., B.A. Opcit. Hal. 8

[13] Zakiyuddin Baidhawy, M. Ag. et all. Opcit. Hal. 12

[14] Albert Hourani. Arabic Thought in The Liberal Age. (Oxford University Press, London, 1962). Hal. 108

[15] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan Islam. (Bulan Bintang, Jakarta, 1975). Hal. 54-55

[16] Charles C. Adams. Islam and Modernisme in Egypt. (Rusell and Rusell, Newyork, 1993). Hal. 52

[17] Zakiyuddin Baidhawy, M. Ag. et all. Ibid. Hal. 12-13

[18] Syech Muhammad Abduh. Opcit. Hal. 44

[19] Syech Muhammad Abduh. Ibid. Hal. 45

[20] Syech Muhammad Abduh. Ibid. Hal. 45-46

[21] Syech Muhammad Abduh. Ibid. Hal. 51-69

[22] Syech Muhammad Abduh. Ibid. Hal. 65-66

[23] Hadits ini telah disepakati lafadz dan maknanya. Al Hafidz ‘Iraqy dalam Takhrij menyatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dengan marfu’ memakai sanad yang dhaif. Asfahani dalam kitab Targib wa Tarhib meriwayatkan hadits ini melalui jalan yang lebih shahih. Sementara Thabrani meriwayatkannya melalui kitab Al-Ausath dan Baihaqi dalam Sya’bi dengan menggunakan sanad hadits Ibnu Umar. Beliau mengatakan bahwa sanadnya harus ditinjau kembali, sebab dalam sanadnya terdapat Wadzigh bin Nafi’ yang harus ditinggalkan. Zabidi menambahkan dalam syarahnya : Saya berkata bahwa hadits Ibnu Umar itu lafadznya berbunyi : “Tafakkaru fi alaaillah wa la tafakkaru fillah.” (Berfikirlah tentang pemberian-pemberian Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Zat Allah). Beliau memandang hadits tersebut lemah. Abu Syekh dalam kitab ‘Uzhmah meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu Abbas dengan bunyi : “ Berfikirlah kamu tentang makhluk dan jangan berfikir tentang khaliq, karena kamu tidak sanggup mengira-kirakan kadar-Nya. Ibnu Najar dan Rafi’i meriwayatkannya dari Abu Hurairah dengan bunyi : “Berfikirlah kamu tentang makhluk dan jangan berfikir tentang Allah.” Banyaknya riwayat tersebut dianggap menambah kekuatan dan makna kebenaran hadits tersebut sebagaimana dikatakan oleh hafidz As Shawi dalam kitab Al Maqashid.

[24] Syech Muhammad Abduh. Opcit. Hal. 67-68

[25] Syech Muhammad Abduh. Ibid. Hal. 49-50

[26] Syech Muhammad Abduh. Ibid. Hal. 45-46

[27] Syech Muhammad Abduh. Ibid. Hal. 126

[28]Syech Muhammad Abduh. Ibid.. Hal 112-133

[29] Syech Muhammad Abduh. Ibid.. Hal. 127

[30] Syech Muhammad Abduh. Ibid.. Hal. 132

[31] DR. Musthafa Muhammad Asy Syak’ah. Opcit. Hal. 385

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: