ISYBAL DALAM PERDEBATAN

PENGANTAR

Kata isybal menurut bahasa berarti menurunkan, melabuhkan. Dalam istilah agama isbal dipakai dengan pengertian “menurunkan, melabuhkan pakaian sampai menyapu atau menyentuh tanah atau lantai. Dalam an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar II :339 dan Lisanul Arab XII: 341 dikatakan :

“Musbil ialah orang yang memanjangkan pakaiannya dan melabuhkannya sampai ke tanah apabila berjalan dan yang demikian dilakukan karena sombong”.

Permasalahan isbal atau melabuhkan kain sampai menutup mata kaki sampai hari ini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama baik salafush shalih maupun khalaf. Masing-masing memiliki argumentasi yang jelas berkaitan masalah ini. Segala sesuatu memang harus diketahui kadarnya sehingga batasannya akan diketahui. Sebagaimana perintah memiliki maksud tertentu, demikian pula larangan memiliki batasan tersendiri.

Allah telah menyatakan :

 Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”. (QS. Al A’la : 3)

 “…seseorang tidak akan dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya…”.(Al Baqarah :233)

            Larangan yang berhubungan terhadap isbal, secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kategori :pertama, bersifat muthlaq. Kedua, disertai dengan qaid (batasan), yang dalam hal ini menjadi ‘illat (sebab).

 

LARANGAN ISYBAL YANG MUTHLAQ

Larangan isbal antara lain sebagai berikut :

Hai Abdullah, tinggikanlah sarungmu ? pakaianmu, karena apa yang menyentuh tanah atau bumi dari pakaian yang dibawah dua mata kaki (tempatnya) adalah di neraka”. (HR Ahmad 2/96)

Dari Abi Dzar, ia berkata telah berkata Rasulullah saw : tiga orang yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka, dan tidak memandang pada hari kiamat serta tidak akan membersihkan mereka, bahkan bagi mereka adzab yang pedih. Saya bertanya : ya Rasulullah siapa yang telah rugi dan miskin itu ? Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali, kemudian beliau berkata : mereka yang melabuhkan kain (musbil) dan mereka yang mendermakan hartanya dengan sumpah palsu danmereka yang mengungkit-ungkit pemberian”. (Muslim-Kitab Iman 171; Ahmad 5/148, 158, 162, 168, 78; Abu Dawud no 4087; Nasaa’i dalam Buyu’ 5; ad-Daarimi dalam Buyu’ 63; Tirmidzi no 1211; Ibnu Majah 2208)

Rasulullah saw berkata : pakailah kainmu hingga setinggi setengah betis, maka jika engkau enggan, maka engkau boleh (menurunkannya) hingga dua mata kaki. Hati-hatilah dengan melabuhkan kain, karena sesungguhnya isbal itu khulaya’ (sombong) dan sesungguhnya Allah tidakmenyukai orang-orang yang sombong”. (Ahmad5/64; Abu Dawud no 4084)

 Ketiga riwayat diatas isinya berupa larangan melabuhkan kain (isbal) hingga menyentuh tanah atau menutup mata kaki. Hadits-hadits ini tidak menyebutkan, apakah melabuhkan kain waktu itu karena sombong atau lainnya. Larangan demikian disebut larangan muthlaq.

 

LARANGAN ISBAL YANG MEMAKAI QAID  

            Ada pun larangan isbal yang memakai qaid (batasan) adalah sebagai berikut :

Dari Ibnu Umar, ia berkata : Rasulullah saw berkata : Allah tidak akan melihat kepada mereka yang melabuhkan kainnya karena sombong”. (Muttafaq ‘alaih)

Barangsiapa m,elabuhkan kainnya dengan niat tidak lain kecuali sombong, maka Allah tidakakan melihatnya di hari kiamat” (Ahmad 2/65)

Dua hadits Rasulullah saw di atas jelas menunjukkan bahwa isbal yang dilarang adalah yang dilakukan karena sombong, penyebutan sombong pada kedua riwayat ini disebut sebagai qaid (batasan) bahwa yang dimaksud adalah terbatas pada mereka yang melakukannya dengan sombong.

 

KAIDAH FIQH DALAM MASALAH DALIL MUTHLAQ DAN MUQAYYAD

Dalam menentukan dalil mana yang seharusnya dipakai dalm menghukumi permasalahanisbal tersebut maka hendaknya kita berpegang pada qaidah fiqh. Sesuai qaidah fiqh apabila menemukan dalil yang muthlaq dan muqayyad dalam permasalahan yang sama maka yang harus ddilakukan adalah membawa dalili-dalil yang bersifat muthlaq kepada yang muqayyad, artinya yang dipakai adalah dalil-dalil yang menyebutkan qaid / batasannya-dalam hal ini adal;ah dalil-dalil yang memakai khuyalaa’, batharan, dan yang semakna dengan itu.  

Keputusan tersebut diperkuat dengan riwayat Ibnu Umar ra, sebagai berikut :

Rasulullah saw berkata : barang siapa melabuhkan kainnya karena sombong, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Abu Bakar berkata : sesungguhnya salah satu sisi pakaianku selau kedodoran, kecuali bila aku selau menjaganya. Maka katanya : sesungguhnya engkau tidak termasuk yang melakukan itu karena sombong” (HSR Jama’ah)

 

Riwayat ini memberikan bukti bahwa isbal yang dilakukan bukan karena sombong tidak termasuk yang dilarang. Imam Syaukani dalam kitab Nailul Authar 2: 113 mengomentari hadits tersebut sebgai berikut : Ia merupakan tashrih (penjelasan ) bahwa yang dimaksud tergantung pada khuyalaa’ (niat sombong). Dan sesungguhnya isbal itu terkadang dilakukan karena sombong dan terkadang karena yang lain, oleh karena itu nabi berkata : “fainnaha minal makhiilah” pada hadits Jabir bin Sulaim mesti dibawa pada pengertian “kharaja makhrajal ghalib” –pada umumnya-sehingga ancaman yang disebut pada hadits bab ini ditujukan kepada mereka yang melakukannya dengan sebab sombong.”

Ada pun yang dimaksud dengan hadits Jabir bin Sulaim adalah riwayat (c) dari dalil-dalil muthlaq. Selanjutnya pada halaman yang sama beliau mengatakan : membawa yang muthlaq kepada yang muqayyad adalah wajib.

Ibnu Hajar al-Asqaalani dalam Fath al Baari 10:263 mengutip pernyataan Ibnu Abdil Barr : mafhumnya, bahwa isbal bukan karena khuyalaa, tidak dikenai ancaman (Allah), hanya saja secara umum isbal pada kain atau lainnya adalah tercela.

Selanjutnya dalam kitab yang sama dan halaman yang sama beliau mengutip pernyataan Imam Syafi’i, yang antara lain mengatakan : “ Dianjurkan agar memakai kain itu hendaknya sampai pertengahan betis, dan boleh tanpa karahan lebih bawah lagi hingga dua mata kaki, maka apa-apa yang lebih dari dua mata kaki adalah terlarang dengan larangan haram –jika itu dilakukan karena sombong, jika bukan karena sombong, maka larangannya adalah untuk tanzih saja”.

Meskipun bukan berarti seluruh imam-imam tersebut kita terima pendapatnya maka perlu dimaklumi bahwa setidaknya keputusan bahwa isbal pada hakekatnya boleh apabila tidak didasari kesombongan bukanlah istimbath yang sendirian namun diakui oleh generasi sebelumnya. Sekaligus hal ini menjelaskan bahwa membawa pengertian yang muthlaq kepada yang muqayyad adalah hal yang tidak boleh dilupakan.

Sedangkan sifat sombong sendiri secara terpisah merupakan sifat yang tidak disukai Allah, sehingga dalil tentang isbal merupakan kekhususan dari sifat sombong dan apabila tidak disertai sombong maka tidak mengapa.

 

Dan janganlah engkau berjalan diats muka bumi ini dengan sombong, karna sesungguhnya Allah tidak suka kepada setiap orang yang sombong lagi angkuh.” [ Luqman: 18 ]

           

Demikian juga hadits Rasulullah berikut :

 

            Ketika seseorang berjalan dengan memakai perhiasan yang membuat dirinya bangga dan bersikap angkuh dalam langkahnya, Allah akan melipatnya dengan bumi kemudian dia terbenam di dalamya hingga hari kiamat”. [Mutafaqqun ‘Alaihi)                

 

NABI PERNAH ISYBAL

            Melabuhkan kain sampai ke tanah bukan merupakan perbuatan yang dilarang apabila tidak disertai dengan kesombongan. Hal ini dibuktikan dengan perbuatan Rasulullah saw sebagaimana riwayat berikut :

 

            “ Dari Abi Bakrah,ia mengatakan : terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, maka beliau keluar sambil melabuhkan pakaiannya…(HSR. Bukhari)

            Berdasarkan riwayat ini Ibnu Hajar dalam Fathul Baari III : 179 menjelaskan bahwa melabuhkan kain bukan merupakan hal yang dibenci kecuali apabila dilakukan bagi mereka yang berniat sombong.

            Demikian pula Abu Bakar pernah melakukannya sebagaimana diriwayatkan sebagai berikut :

            “Rasulullah saw menyatakan : Barangsiapa melabuhkan kainnya karena sombong, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Abu Bakar berkata : sesungguhnya salah satu sisis pakaianku selalu kedodoran, kecuali apabila akau memeperhatikannya. Maka katanya : Sesungguhnya engkau tidak termasuk yang melakukannya karena sombong “. (HSR. Jamaa’ah)

 

KESIMPULAN

Isbal (melabuhkan kain) hukumnya mubah kalu dilakukan bukan karena khuyalaa’ ( sombong).

Kalu isbal dilakukan karena sombong, maka menjadi haram dan termasuk dosa besar yang harus dijauhi

Memakai celana panjang sampai menutup mata kaki tidak termasuk dilarang agama      

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: