Nasyid Dalam Perdebatan

 

NASYID, BAGAIMANA SEBENARNYA ?

 

 PENGANTAR

Pada dasarnya hukum melakukan segala segala sesuatu adalah boleh (mubah). Segala sesuatu akan menjadi terlarang apabila ada nash atau dalil yang secara jelas atau tersirat melarangnya. Demikian juga hukum bernasyid / menyanyi  pada asalnya halal, boleh. Namun dengan melihat perkembangan yang ada dalam kehidupan maka segala sesuatu harus memiliki batasan atau kadar yang jelas. Hal tersebut dimaksudkan agar manusia tidak melampaui batas, sehingga apa yang seharusnya merupakan sesuatu yang halal justru menjadi sebab sesuatu yang terlarang menurut syariah. Maka di sanalah peran Islam untuk mengatur agar segala sesuatu berjalan sesuai dengan koridor yang semestinya. Termasuk dalam nasyid, mestinya harus memiliki batasan yang jelas agar manusia tidak terperosok dalam kesesatan.

Allah telah menyatakan :
Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”. (QS. Al A’la : 3)

“…seseorang tidak akan dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya…”.(Al Baqarah :233)
Pembahasan dalam makalah ini  akan coba mengakomodasi dua golongan antara yang menerima dan yang menolak nasyid sekaligus meluruskan antara keduanya.

 NASYID DIKALANGAN PENOLAKNYA

            Masalah nyanyian, baik dengan musik maupun tanpa alat musik, merupakan masalah yang diperdebatkan oleh para  fuqaha  kaum muslimin sejak zaman dulu. Mereka sepakat dalam beberapa hal, namun tidak sepakat dalam beberapa hal yang lain. Para ulama telah sepakat mengenai haramnya  nyanyian  yang  mengandung kekejian,   kefasikan,   dan   menyeret   seseorang   kepada kemaksiatan, karena pada hakikatnya nyanyian itu  baik  jika memang mengandung ucapan-ucapan yang baik, dan jelek apabila berisi ucapan yang jelek. Sedangkan  setiap  perkataan  yang menyimpang  dari  adab  Islam  adalah  haram. Mereka juga sepakat tentang  diperbolehkannya  nyanyian  yang  baik pada  acara-acara  gembira, seperti pada resepsi pernikahan, saat menyambut  kedatangan  seseorang,  dan  pada  hari-hari raya. Mengenai kesepakatan yang tersebut di atas terdapat banyak hadits yang sahih dan jelas yang menerangkannya.

Ulama yang mengharamkan nasyid pada dasarnya berpegang pada dalil Al Quran yaitu Surat Luqman ayat 6, sebagai berikut :
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (= lahwal hadits ) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan”. (QS Luqman : 6)

Al Wahidi dalam tafsirnya menyatakan bahwa sebagian mufassir mengartikan “lahwal hadits” adalah nyanyian. Hal ini didasarkan pada penafsiran Ibnu Abbas ra. Imam Al Qurthubi dalam tafsir Jami’ Ahkam Al Qur’an berkomentar bahwa tafsir yang demikian dianggap tinggi dan utama kedudukannya. Untuk memperkuat penafsiran bahwa lahwal hadits adalah nyanyian, Imam Ahmad Al Qurthubi dalam kitab Kasyf al Qina’ mencantumkan keutamaan dan reputasi Ibnu Abbas ra sebagai penguat, yaitu hadits tenntang doa Rasulullah terhadap Ibnu Abbas sebagai berikut :
Ya, Allah jadikanlah dia (Ibnu Abbas, pen) faham terhadap agama ini dan ajarkanlah dia ta’wil (penafsiran Al Quran, pen)”. (HR. Bukhari 4/10 dan Muslim 2477 serta Ahmad 1/266,314, 328,335)

Kemudian penolakan sebagian ulama atas nyanyian juga didasarkan atas beberapa hadits antara lain :

Sungguh akan ada dikalangan umatku suatu kaum yang menganggap halalnya zina, sutra, khamr, dan alat-alat musik..”. (HR Bukhari 10/51/5590)

Demikian juga dalam hadits yang lain disebutkan sebagai berikut :

 “Sesungguhnya akan ada sebagian manusia dari umatku meminum khamr yang mereka namakan dengan nama yang lain, kepala mereka bergoyang-goyang karena alat-alat musik dan penyanyi-penyanyi wanita, maka Allah membenamkan mereka ke dalam perut bumi dan menjadikan mereka kera dan babi “. (HR Bukhari dalam At-Tarikh 1/1/305, Baihaqy, Ibnu Abi Syaibah, dan lainnya)


Demikian juga alasan penolakan tersebut, terutama oleh kalangan ulama belakangan, didasarkan pula atas pendapat beberapa tokoh ulama. Namun pada prinsipnya dikalangan ulama salaf mau pun khalaf, pelarangan secara muthlaq terhadap nasyid masih menjadi perdebatan dan masing-masing memiliki dasar yang sama kuat.

 NASYID DI KALANGAN YANG MEMBOLEHKAN

Para ulama telah bahwa dalam menafsirkan Al Qur’an bukan serta merta dengan ta’wil. Namun penafsiran yang lebih terbimbing (ma’tsur) yaitu dengan menggunakan Al Quran itu sendiri. Shunah dan perkataan shahabat baru digunakan apabila proses tafsir Al Quran dengan menggunakan Al Quran telah berjalan, karena shunnah salah satu fungsinya adalah sebagai bayan terhadap Al Quran. Dan penafsiran yang demikian dianggap memiliki hujjah paling kuat. Maka kalangan yang menerima nasyid berargumentasi bahwa kata “lahwal hadits” harus dicarikan padanan lain dalam Al Qur’an.

Kata “laghwun” dalam Surat Al Qashshash ayat 55 menurut makna zhahirnya  adalah perkataan tolol yang berupa  caci  maki dan  cercaan,  dan sebagainya, seperti yang kita lihat dalam lanjutan ayat tersebut.

  Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat (=al laghwun), mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. (QS Al Qashahash : 55)

 Sehingga yang dimaksud dengan kata lahwal hadits tersebut adalah perkataan yang menyesatkan manusia. Dalam beberapa kasus nyanyian bisa saja termasuk lahwal hadits namun hal tersebut tidak bersifat muthlak sehingga tidak bisa dengan serta merta digunakan sebagai dasar untuk mengharamkannya.

Jawaban terbaik terhadap penafsiran Al Quran Surat Luqman ayat 6 tentang lahwal hadits adalah sebagaimana yang  dikemukakan  Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla. Ia berkata: “Ayat tersebut tidak dapat dijadikan alasan dilihat dari beberapa segi: 

  • Pertama:  tidak  ada  hujah bagi seseorang selain Rasulullah saw.
  • Kedua:  pendapat  ini  telah  ditentang  oleh  sebagian sahabat  dan tabi’in yang lain.
  • Ketiga: nash ayat ini justru membatalkan   argumentasi    mereka,   karena    didalamnya menerangkan kualifikasi tertentu:


           Dan   diantara  manusia  (ada)  orang  yang  mempergunakan perkataan yang tidak berguna  untuk  menyesatkan  (manusia) dari  jalan  Allah  tanpa  pengetahuan  dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan…

 

            Apabila perilaku seseorang seperti tersebut dalam ayat ini, maka sudah tentu ia akan  dikualifikasikan  kafir  tanpa diperdebatkan lagi. Jika  ada  orang  yang  membeli  Al  Qur’an  (mushaf)  untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah dan menjadikannya bahan olok-olokan, maka jelas-jelas dia  kafir.  Perilaku seperti inilah yang dicela oleh  Allah.  Tetapi Allah sama sekali tidak pernah mencela orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk hiburan dan menyenangkan hatinya – bukan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Demikian  juga orang  yang  sengaja mengabaikan shalat karena sibuk membaca Al Qur’an atau membaca  hadits,  atau  bercakap-cakap,  atau menyanyi  (mendengarkan  nyanyian), atau lainnya, maka orang tersebut termasuk durhaka dan melanggar perintah Allah. Lain halnya   jika  semua  itu  tidak  menjadikannya  mengabaikan kewajiban kepada  Allah,  yang demikian  tidak  apa-apa  ia lakukan.

Adapun ayat Al Quran Surat Al Qashshash ayat 55 tersebut apabila dianggap sebagai dalil untuk mengharamkan nyanyian  sudah tentu tidaklah  tepat,  karena  makna zhahir “al laghwu” dalam ayat ini ialah perkataan tolol yang berupa  caci  maki dan  cercaan,  dan sebagainya, seperti yang kita lihat dalam lanjutan ayat tersebut. Allah swt telah menerangkan sebagai berikut :

Dan  apabila  mereka   mendengar   perkataan   yang   tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi  kami   amal-amal   kami   dan   bagimu   amal-amalmu, kesejahteraan  atas  dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al Qashsahash :55)

 Ayat ini mirip dengan firman-Nya mengenai sikap ‘ibadurrahman (hamba-hamba yang  dicintai Allah Yang Maha Pengasih):

 
“… dan apabila orang-orang jahil  menyapa  mereka,  mereka mengucapkan kata-kata yang baik “.(Al Furqan : 63)

            Sebagian ulama ada pula yang menganggapnya sebagian nasyid adalah mustahab (dianjurkan) apabila nyanyian itu mendorong semangat untuk giat beramal, menumbuhkan hasrat untuk memeproleh kebaikan seperti syair-syair ahli zuhud atau yang dilakkan sebagian shahabat seperti terjadi dalam peristiwa khandaq :

Ya Allah, jika bukan karena Engkau tidaklah kami terbimbing

Dan tidak pula bersedekah dan menegakkan shalat

Maka turunkanlah ketenangan kepada kami

Dan kokohkan kaki kami ketika menghadapi musuh

 
Dan yang lain, misalnya :

 Jika Rabbku berkata padaku

Mengapa kau tidak merasa malu bermaksiat kepada-Ku

Kau sembunyikan dosa dari makhluk-Ku

Tapi dengan kemaksiatan kau menemui Aku

 Imam Ahmad Al Qurthubi yang cenderung sepakat menafsirkan lahwal hadits sebagai nyanyian dan mengharamkannya, dalam kitab Kasyf al Qina’ (hal. 48) menyebutkan bahwa nyanyian dan syair seperti tersebut di atas termasuk nasihat yang berguna. Padahal sifat pengharaman harusnya berlaku bagi segala hal, kecuali kondisi dharurat, sedang nasyid pada acara hari raya, walimah al ‘ursy, atau sebagai penyemangat ibadah tidak termasuk dalam kondisi dharurat. Sedangkan ta’wil yang dilakukan oleh Ibnu Abbas ra bahwa lahwal hadits adalah nyanyian bisa saja diterima. Namun harus diperhatikan nyanyian yang bagaimana, karena ayat tersebut bermakna umum, tidak terbatas pada nyanyian saja dan ayat tersebut merupakan ayat muhkamat sehingga tidak memerlukan ta’wil. Sedangkan ayat yang dibahas tersebut masih memungkinkan untuk ditafsiri dengan ayat yang lain, sehingga tafsir bi Al Qur’an harus lebih diutamakan daripada tafsir bi atsar ash shahabi.

Andaikata  kita  terima  kata  “lahwu”  dalam ayat tersebut meliputi  nyanyian,  maka  ayat itu hanya menyukai kita berpaling dari mendengarkan dan memuji nyanyian, tidak mewajibkan berpaling darinya. Kata “al lahwu” itu seperti kata al bathil, digunakan untuk sesuatu  yang  tidak  ada  faedahnya, sedangkan mendengarkan sesuatu yang tidak berfaedah  tidaklah  haram  selama  tidak menyia-nyiakan hak atau melalaikan kewajiban.

Kalangan yang menerima nasyid pada prinsipnya sepakat bahwa nasyid akan menjadi haram apabila mendekatkan diri pada kerusakan dalam kadar tertentu. Mereka juga menyepakati mengenai haramnya nyanyian yang mengandung kekejian, kefasikan, dan menyeret seseorang  kepada kemaksiatan, karena pada hakikatnya nyanyian itu  baik  jika memang mengandung ucapan-ucapan yang baik, dan jelek apabila berisi ucapan yang jelek. Sedangkan  setiap  perkataan  yang menyimpang  dari  adab  Islam  adalah  haram. Mereka juga sepakat tentang  diperbolehkannya  nyanyian  yang  baik pada  acara-acara  gembira, seperti pada resepsi pernikahan, saat menyambut  kedatangan  seseorang,  dan  pada  hari-hari raya. Mengenai hal ini terdapat banyak hadits yang shahih dan jelas.


            Diriwayatkan dari Ibnu Juraid bahwa rasulullah s.a.w. memperbolehkan mendengar sesuatu. Maka ditanyakan kepada beliau “Apakah yang demikian itu pada                                                                         hari kiamat akan didatangkan dalam katagori kebaikan atau keburukan ?” beliau menjawab “Tidak termasuk kebaikan dan juga tidak termasuk kejelekan, karena ia seperti al laghwu  “.

 Dalam hadits lain disebutkan pula sunnah nasyid dalam acara-acara gembira, seperti walimah al ‘ursy, hari raya, menyambut nabi ketika hijrah di Madinah, dan sebagainya.

 “Dari Aisyah r.a, bahwa ketika dia menghantar pengantin perempuan ke tempat laki-laki Anshar, maka Nabi bertanya: Hai Aisyah! Apakah mereka ini disertai dengan suatu hiburan? Sebab orang-orang Anshar gemar sekali terhadap hiburan.” (Riwayat Bukhari)

 Dan diriwayatkan pula:

 ” Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: Aisyah pernah mengawinkan salah seorang kerabatnya dengan Anshar, kemudian Rasulullah s.a.w. datang dan bertanya: Apakah akan kamu hadiahkan seorang gadis itu? Mereka menjawab: Betul! Rasulullah s.a.w. bertanya lagi. Apakah kamu kirim bersamanya orang yang akan menyanyi? Aisyah menjawab: Tidak! Kemudian Rasulllah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya orang-orang Ansar adalah suatu kaum yang merayu. Oleh karena itu alangkah baiknya kalau kamu kirim bersama dia itu seorang yang mengatakan: kami datang, kami datang, selamat datang kami, selamat datang kamu ” (Riwayat Ibnu Majah)

 Ada pun salah satu dalil / nash yang menghalalkan nyanyian dikemukakan dalam hadist shahih Bukhari dan Muslim, bahwa Abu Bakar r.a pernah masuk ke rumah Aisyah untuk menemui Rasulullah, ketika itu ada dua gadis di sisi Aisyah sedang menyanyi, lalu Abu Bakar, kemudian rasulullah menengahi.

 ” Dan dari Aisyah r.a. sesungguhnya Abubakar pernah masuk kepadanya, sedang di sampingnya ada dua gadis yang sedang menyanyi dan memukul gendang pada hari Mina (Idul Adha), sedang Nabi s.a.w. menutup wajahnya dengan pakaiannya, maka diusirlah dua gadis itu oleh Abubakar. Lantas Nabi membuka wajahnya dan berkata kepada Abubakar Biarkanlah mereka itu hai Abubakar, sebab hari ini adalah hari raya (hari bersenang-senang).” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Adapun hadits-hadits yang dijadikan landasan oleh pihak yang mengharamkan nyanyian semuanya memiliki cacat, tidak ada satu pun yang terlepas dari celaan, baik mengenai tsubut (periwayatannya) maupun petunjuknya atau kedua-duanya. Al Qadhi Abu Bakar Ibnu Arabi mengatakan di dalam kitabnya Al Hakam : “Tidak satu pun hadits shahih  yang  mengharamkannya”. Bahkan Ibnu  Hazm  berkata:  “Semua  riwayat mengenai   masalah  (pengharaman  nyanyian)  itu  batil  dan palsu.” Demikian juga menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya’ dan Ibnu Nahwi dalam al Umdah bahwa tidak terdapat satu pun hadist sahih yang mengharamkan nasyid. Selanjutnya Ibnu Hazm menolak anggapan orang yang mengatakan bahwa “nyanyian itu sama sekali tidak dapat dibenarkan dan termasuk suatu kesesatan”.

Dan selain dari itu beberapa sahabat dan tabi’in diriwayatkan, bahwa mereka itu pernah mendengarkan dan memperdengarkan nyanyian, sedang mereka tidak menganggapnya suatu perbuatan dosa. 

MAKA HATI-HATILAH

Dewasa ini banyak sekali nyanyian-nyanyian dan muzik yang disertai dengan perbuatan berlebih-lebihan, minum-minum arak dan perbuatan-perbuatan haram. Itulah yang kemudian oleh ulama-ulama dianggapnya haram atau makruh. Setelah melalui pembahasan di atas, apabila dalil-dalil yang mengharamkannya telah  gugur,  maka tetaplah  nyanyian itu atas kebolehannya sebagai hukum asal. Bagaimana tidak, sedangkan kita banyak mendapati nash  sahih yang  menghalalkannya?

 ” Sesungguhnya semua perbuatan itu harus disertai dengan niat dan tiap-tiap orang akan dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Jadi barangsiapa mendengarkan nyanyian dengan niat untuk membantu bermaksiat kepada Allah, maka jelas dia adalah fasik –termasuk semua hal selain nyanyian. Dan barangsiapa berniat untuk menghibur hati supaya dengan demikian dia mampu berbakti kepada Allah dan tangkas dalam berbuat kebajikan, maka dia adalah orang yang taat dan berbuat baik dan perbuatannya pun termasuk perbuatan yang benar. Dan barangsiapa tidak berniat untuk taat kepada Allah dan tidak juga untuk bermaksiat, maka perbuatannya itu dianggap main-main saja yang dibolehkan, seperti halnya seorang pergi ke kebun untuk berlibur, dan seperti orang yang duduk-duduk di depan sofa sekedar melihat-lihat, dan seperti orang yang mengkelir bajunya dengan warna ungu, hijau dan sebagainya.

Dari  berbagai  pendapat  tersebut,  kecenderungan yang ada untuk berpendapat  bahwa nyanyian adalah halal, karena asal segala sesuatu adalah  halal  selama  tidak  ada  nash  sahih  yang mengharamkannya.  Kalaupun ada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian, adakalanya dalil itu sharih (jelas)  tetapi  tidak sahih,  atau  sahih  tetapi  tidak sharih.  Ibnu Hazm menyanggah pendapat orang-orang yang  melarang  nyanyian. 

 Ibnu   Hazm   berkata:   “Mereka berargumentasi   dengan   mengatakan:  apakah  nyanyian  itu termasuk kebenaran, padahal tidak ada  yang  ketiga?  Allah SWT berkata :

  “ Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang Sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus : 32)

            Maka dengan jawaban tersebut, mudah-mudahan Allah memberi taufiq. Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya   amal   itu   tergantung   pada   niat,   dan sesungguhnya  tiap-tiap  orang  (mendapatkan)  apa  yang  ia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim

Oleh karenanya barangsiapa mendengarkan nyanyian dengan niat mendorongnya  untuk  berbuat  maksiat  kepada  Allah  Ta’ala berarti  ia  fasik,  demikian pula terhadap selain nyanyian. Dan barangsiapa mendengarkannya dengan niat untuk  menghibur hatinya agar bergairah dalam menaati Allah Azza wa Jalla dan menjadikan dirinya rajin melakukan kebaikan, maka dia adalah orang  yang  taat  dan  baik,  dan perbuatannya itu termasuk dalam kategori kebenaran. Dan barangsiapa yang tidak berniat untuk  taat  juga  tidak  untuk  maksiat, maka mendengarkan nyanyian  itu  termasuk laghwu (perbuatan   yang   tidak berfaedah)  yang  dimaafkan.  Misalnya,  orang yang pergi ke taman sekadar rekreasi, atau duduk di pintu rumahnya  dengan membuka  kancing  baju,  mencelupkan pakaian untuk mengubah warna, meluruskan kakinya atau melipatnya, dan perbuatan-perbuatan sejenis lainnya.”

KESIMPULAN

            Nasyid itu boleh sepanjang mengikuti batasan sebagai berikut :

  1. Tema atau isi nyanyian harus sesuai dengan ajaran dan adab Islam. Tidak terdapat unsur khamr, rokok, pornografi dan segala kamaksiatan yang memadharatkan lainnya.

“. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”..  Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.(QS. An Nur :30-31)                                         

             Dan Rasulullah saw. bersabda:

            “Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah risiko bagimu.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

 2.  Penampilan penyanyi juga harus dipertimbangkan sesuai syar’i.

3. Diharamkan sikap berlebih-lebihan dan israf dalam segala sesuatu termasuk dalam ibadah, termasuk sikap berlebih-lebihan dalam nyanyian (sesuatu yang tidak berfaedah) dan menyita waktu, meskipun pada asalnya perkara itu mubah. Hati manusia hendaknya tidak lalai dan tetap melakukan kewajiban besar guna mencapai tujuan yang luhurdalam waktu manusia yang sangat terbatas. Alangkah tepat dan mendalamnya apa yang dikatakan oleh Ibnul Muqaffa‘: “Saya tidak melihat israf (sikap berlebih-lebihan) melainkan disampingnya pasti ada hak yang terabaikan.”

Bagi pendengar hendaklah mampu mengendalikan dirinya. Apabila nyanyian  atau sejenisnya dapat menimbulkan rangsangan dan membangkitkan syahwat, menimbulkan fitnah, menjadikannya tenggelam dalam khayalan, maka hendaklah ia menjauhinya. Hendaklah ia menutup rapat-rapat pintu yang dapat menjadi jalan berhembusnya angina fitnah ke dalam hatinya, agamanya, dan akhlaknya.

            Tidak diragukan lagi bahwa syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan ini  pada masa sekarang sedikit  sekali dipenuhi dalam nyanyian, baik mengenai jumlahnya, aturannya, temanya, maupun penampilannya dan kaitannya dengan kehidupan orang-orang yang sudah begitu jauh dengan agama, akhlak, dan nilai-nilai  yang  ideal.  Karena itu tidaklah layak seorang muslim memuji-muji mereka dan ikut  mempopulerkan  mereka, atau  ikut  memperluas  pengaruh mereka. Sebab dengan begitu berarti memperluas wilayah perusakan yang mereka lakukan

            Karena itu lebih utama bagi seorang muslim  untuk  mengekang dirinya,  menghindari  hal-hal yang syubhat, menjauhkan diri dari sesuatu  yang  akan  dapat  menjerumuskannya ke dalam lembah yang haram. Barangsiapa yang mengambil  rukhshah  (keringanan),   maka hendaklah  sedapat  mungkin  memilih  yang  baik,  yang jauh kemungkinannya dari dosa. Sebab, bila mendengarkan nyanyian saja   begitu  banyak  pengaruh  yang  ditimbulkannya,  maka menyanyi tentu lebih ketat dan lebih khawatir, karena  masuk ke  dalam lingkungan kesenian yang sangat membahayakan agama seorang muslim, yang jarang sekali orang dapat lolos  dengan selamat (terlepas dari dosa).

 “ Termasuk kesempurnaan Islam seseorang ialah meninggalkan barang yang tak berarti “.(HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah).

 Khusus  bagi  seorang wanita maka bahayanya jelas jauh lebih besar. Karena itu Allah mewajibkan  wanita  agar  memelihara dan  menjaga  diri  serta  bersikap  sopan dalam berpakaian, berjalan, dan berbicara,  yang  sekiranya  dapat  menjauhkan kaum  lelaki  dari  fitnahnya  dan menjauhkan mereka sendiri dari fitnah kaum lelaki, dan melindunginya dari  mulut-mulut kotor,  mata  keranjang,  dan keinginan-keinginan buruk dari hati yang bejat, sebagaimana kata Allah:

        Hai  Nabi  katakanIah   kepada   istri-istrimu,   anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan  jilbabnya  ke  seluruh  tubuh   mereka.’   Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu …” (Al Ahzab : 59)

 “… Maka janganlah kamu  tunduk  dalam  berbicara  sehingga berkeinginanlah  orang  yang  ada  penyakit di dalam hatinya

 Tampilnya wanita muslimah untuk menyanyi berarti menampilkan dirinya   untuk   memfitnah   atau  difitnah,  juga  berarti menempatkan dirinya dalam perkara-perkara yang haram. Karena banyak   kemungkinan  baginya  untuk  berkhalwat  (berduaan) dengan lelaki yang bukan mahramnya, misalnya  dengan  alasan untuk  mengaransir lagu, latihan rekaman, melakukan kontrak, dan sebagainya. Selain itu, pergaulan antara pria dan wanita yang  ber-tabarruj  serta  berpakaian dan bersikap semaunya, tanpa menghiraukan aturan agama, benar-benar  haram  menurut syariat Islam.
            Jadi bernasyid pada hakekatnya boleh namun sewajarnya saja. Dan tentunya kita tidak akan terjebak dalam keharaman apa yang tidak diharamkan Allah dan rasulnya.

  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.(Al Maidah : 87)

                 Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu ? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (At Tahrim :1)

 
Wallahu a’lam. (San)

(Penulis menyarankan untuk lebih berhati-hati dalam perkara nasyid ini. Penulis sendiri memilih untuk tidak terlalu menyibukkan diri dengan urusn ini. Lebih baik menghibur diri dengan mencari ilmu daripada sekedar meluangkan waktu untuk hal yang manfaatnya kurang. Nasyid boleh, namun ada batasannya. Apalagi melihat fenomena lagu sekarang yang menjual rayuan gombal, kata-kata munafiq, dan tarian yang mengumbar aurat. Ini pendapat pribadi saya. Anda ?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: