<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Susiyanto's Weblog</title>
	<atom:link href="http://susiyanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://susiyanto.wordpress.com</link>
	<description>Membangun Pemikiran dan Peradaban Islam</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 05:01:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='susiyanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/32e30404dd93c13bead03a4f0395e26c?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Susiyanto's Weblog</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>DARMAGANDUL DAN ORIENTALISME</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2009/11/23/darmagandul-dan-orientalisme/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2009/11/23/darmagandul-dan-orientalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 04:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Telaah Perkamen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/2009/11/23/darmagandul-dan-orientalisme/</guid>
		<description><![CDATA[ 
PENDAHULUAN
Serat Darmagandul merupakan kitab yang cukup dikenal dalam kesusasteraan Jawa. Tidak sedikit yang menggunakannya sebagai bahan studi sejarah, terutama terkait keruntuhan Majapahit. Darmagandul menggambarkan, Majapahit runtuh akibat serangan Demak. Raden Patah, Sultan Demak, dikisahkan sebagai anak durhaka yang tega memberontak kepada ayahnya, Prabu Brawijaya. Dan Wali Songo digambarkan sebagai manusia-manusia jahat yang tidak tahu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=136&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<div id="attachment_137" class="wp-caption alignleft" style="width: 141px"><img class="size-medium wp-image-137" title="darmagandul" src="http://susiyanto.files.wordpress.com/2009/11/darmagandulku.gif?w=131&#038;h=180" alt="" width="131" height="180" /><p class="wp-caption-text">Serat Darmagandul Versi &quot;Penerbit Keluarga Soebarno&quot;</p></div>
<p>Serat Darmagandul merupakan kitab yang cukup dikenal dalam kesusasteraan Jawa. Tidak sedikit yang menggunakannya sebagai bahan studi sejarah, terutama terkait keruntuhan Majapahit. Darmagandul menggambarkan, Majapahit runtuh akibat serangan Demak. Raden Patah, Sultan Demak, dikisahkan sebagai anak durhaka yang tega memberontak kepada ayahnya, Prabu Brawijaya. Dan Wali Songo digambarkan sebagai manusia-manusia jahat yang tidak tahu balas budi, sehingga diplesetkan sebagai “walikan” (kebalikan).<span id="more-136"></span></p>
<p>Kitab yang tidak jelas penulisnya dan dipenuhi dengan berbagai ejekan terhadap Islam ini ternyata banyak dijadikan rujukan dalam penulisan sejarah di Indonesia. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II, misalnya, Darmagandul dimasukkan sebagai kronik atau sumber tradisi (Poesponegoro dan Notosusanto, 1992:450). Penggunaan Serat ini sebagai sebuah referensi sejarah juga dilakukan oleh Hasan Djafar dalam buku Masa Akhir Majapahit : Girindrawarddhana dan Masalahnya (2009:21).</p>
<p>Umumnya sumber tradisi  berupa babad jarang digunakan sebagai sumber sejarah yang terpercaya. Para penggunanya sebagai referensi, biasanya berpandangan bahwa tidak menutup kemungkinan sumber babad masih menyimpan kesan peristiwa sejarah dari masa lalu, meskipun bersifat kabur (Hasan Djafar, 1992: 121). Dengan argumentasi hampir serupa, para penulis lainnya juga mengambil rujukan dari Darmagandul. Misalnya, Sisworahardjo (1953:13), Danuwiyoto (1970:59), dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>PROYEK ORIENTALIS</strong></p>
<p>Jika ditelusuri dengan cermat, penerbitan Serat Darmagandul sebagai referensi sejarah ternyata tidak lepas dari proyek orientalisme Belanda. Darmagandul ditulis pada Sabtu Legi 23 Ruwah 1830 Jawa (Darmagandul (a), 1959:4) atau tepat 16 Desember 1900 M. Identitas pengarangnya masih misterius, meski sejumlah penulis telah berusaha merumuskan sejumlah teori. Misalnya, M.H. Soewarno menulis bahwa pengarang Darmagandul adalah Ranggawarsita, pujangga Keraton Surakarta (1985:10, 92). Teori ini mudah terbantah, sebab Ranggawarsita telah wafat pada 24 Desember 1873 M (Samidi Khalim,2008: 95; Anjar Any,1980:78). Philip Van Akheren, akademisi Belanda, menyatakan pengarangnya adalah seorang Kristen bernama Ngabdullah Tunggul Wulung (Hasanu Simon,2008:464) atau dikenal dengan nama baptis Ibrahim. Teori ini menjelaskan adanya pengaruh Kristen dalam Serat Darmagandul namun belum sepenuhnya bisa dianggap akurat. Tunggul Wulung dikenal cukup menghormati Islam. Dia memiliki keyakinan bahwa “Muhammad dihormati dalam Injil” (Guillot,1985:45; Yoder,1977:34-41). Sedangkan Darmagandul justru menampilkan kesan melecehkan Islam, termasuk Nabi Muhammad.<br />
Sebagai referensi karya ilmiah, kitab ini memiliki problem. Identitas penulisnya yang tidak jelas akan berpengaruh terhadap kesahihan sumber dan otoritas pengarangnya. Dapat diketahui bahwa hampir seluruh isi Serat Darmagandul merupakan bentuk turunan dari cerita babad yang telah ada sebelumnya. Kitab yang dimaksud adalah Serat Babad Kadhiri yang ditulis pada tahun 1832 M oleh M.Ng. Poerbawidjaja dan M.Ng. Mangoenwidjaja. G.W.J. Drewes, seorang orientalis Belanda, mengungkapkan bahwa Babad Kadhiri menyediakan tema utama dan ide bagi penulisan Serat Darmagandul (Drewes, 1966: 327).  Hampir seluruh cerita yang ada dalam Babad Kadhiri dapat dijumpai dalam Serat Darmagandul. Demikian juga tokoh cerita seperti Buto Locaya, Kyai Combre, Sabdo Palon, Raden Patah, Sunan Benang, dan lain sebagainya. Tokoh Ki Darmagandul dalam Serat Darmagandul kuat dugaan diinspirasi oleh tokoh Ki Darmakanda dari Serat Babad  Kadhiri.<br />
Meski demikian cerita-cerita Kristen yang terdapat dalam Darmagandul, tidak terdapat dalam Babad Kadhiri. Drewes mengungkapkan bahwa pengarang Darmagandul telah memoles karyanya agar tidak spesifik sama dengan kitab induk yang menginspirasinya (Drewes, 1966:327). Jadi, pemikiran Kristen dan misi penginjilan dalam Darmagandul adalah murni pemikiran dari pengarangnya yang telah terpengaruh ajaran Kristen.<br />
Dari sisi metodologi penulisan, Serat Darmagandul sebagai karya derivatif dari Babad Kadhiri yang tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah. Penyebabnya, Babad Kadhiri tidak dapat dikatakan murni sebagai sumber tradisi yang didasarkan kepada tradisi lesan. Mangoenwidjaja, salah satu pengarang babad ini, mengakui bahwa karyanya merupakan cerita pedalangan yang bersifat fiktif dan berbeda dengan sumber lainnya (Poerbawidjaja dan Mangoenwidjaja, 1932:88). Pengarang Babad Kadhiri juga menyatakan bahwa karyanya dibuat berdasarkan perintah dari pejabat Belanda. Ide penulisannya diambil dari hasil ritual pemanggilan makhluk halus. Pengarang menyebutkan bahwa melalui sebuah ritual tertentu maka jin bernama Kyai Buto Locaya dipanggil untuk masuk ke tubuh seorang medium, setelah medium “kerasukan” lantas di-”wawancarai”, dan hasilnya dicatat dalam narasi yang kemudian dikenal sebagai “Serat Babad Kadhiri” (Poerbawidjaja dan Mangoenwidjaja, 1932:5-7). Produk dari cara penulisan demikian, jelas sulit diterima sebagai bentuk referensi sejarah. Sedangkan Serat Darmagandul banyak mengadopsi substansi dari bacaan sumbernya, Babad Kadhiri. Maka Serat Darmagandul tidak seharusnya digunakan sebagai rujukan, sebab akurasi dan otoritasnya sulit diverifikasi.</p>
<p>Serat Darmagandul memang memiliki ciri yang kental dengan semangat anti-Islam, pro-Kristen, dan pro-penjajah Belanda. Sikap anti-Islam ditujukkan misalnya, kitab Arab (Al Quran) harus ditinggalkan dan diganti Kitab Nabi Isa (Injil) (Darmagandul (b),1955:6).  Sedang sikap pro-Kristen terungkap dengan diangkatnya cerita Dawud-Absalom, Dawud-Uria, pohon pengetahuan, dan sejenisnya yang bersumber dari Perjanjian Lama serta mendukung misi Injil di Jawa (Darmagandul (a),1959:49). Dukungannya terhadap penjajah ditunjukkan dengan pujian bahwa Belanda yang beragama Kristen adalah penyembah Tuhan yang benar dan lurus pengetahuannya (Darmagandul (b), 1955:102).</p>
<p>Mencermati bahwa Babad Kadhiri merupakan produk dari proyek penjajah, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Serat Darmagandul adalah kelanjutan langkah Belanda dalam menjinakkan perlawanan Islam. Pada sekitar 1900-an politik Belanda banyak diarahkan untuk mengantisipasi kekuatan Islam yang dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial (Steenbrink, 1984:241-242). Kebijakannya dilakukan dengan kristenisasi dan pemunculan apa yang disebut sebagai “kaum adat” (Benda, 1980:40-46). Kebijakan politik Belanda pasca 1850-an bukan sekedar bermotif ekonomi, beberapa kasus menunjukkan bahwa imperialisme Belanda adalah manifestasi idealisme yang bersifat politik dan agama (Kartodirdjo,1999:4-5).<br />
Jadi, substansi Serat Darmagandul lahir dan sejalan dengan kepentingan kolonialis. Penyusunan isinya yang problematik membuktikan bahwa kitab ini tidak dapat dijadikan sebagai sumber rujukan, termasuk dalam menjelaskan keruntuhan Majapahit. Darmagandul membuktikan, bahwa bahwa kolonialisme dan orientalisme adalah dua sisi berbeda dari mata uang yang sama. (***). <strong>Susiyanto (Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI))</strong></p>
<p>Sumber: Pernah dimuat di http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=161&amp;Itemid=54</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=136&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2009/11/23/darmagandul-dan-orientalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://susiyanto.files.wordpress.com/2009/11/darmagandulku.gif?w=219" medium="image">
			<media:title type="html">darmagandul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KRITIK ATAS APLIKASI METODE “THE OLD TESTS THE NEW”</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2009/05/17/kritik-atas-aplikasi-metode-%e2%80%9cthe-old-tests-the-new%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2009/05/17/kritik-atas-aplikasi-metode-%e2%80%9cthe-old-tests-the-new%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 14:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[(Studi Kasus “Amoralitas” Dawud) 
PENDAHULUAN
Al Quran memiliki fungsi sebagai mushadiq terhadap kitab-kitab yang ada sebelumnya. Kedudukannya adalah sebagai korektor sekaligus pelanjut bagi kitab-kitab sebelumnya yang telah habis masa berlakunya dan diubah-ubah oleh tangan –tangan manusia. Al Quran datang guna membersihkan nama para Nabi yang tercemari oleh semangat “penipuan” dan rasa fanatisme suatu bangsa. Boleh dikatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=127&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>(Studi Kasus “Amoralitas” Dawud) </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Al Quran memiliki fungsi sebagai mushadiq terhadap kitab-kitab yang ada sebelumnya. Kedudukannya adalah sebagai korektor sekaligus pelanjut bagi kitab-kitab sebelumnya yang telah habis masa berlakunya dan diubah-ubah oleh tangan –tangan manusia. Al Quran datang guna membersihkan nama para Nabi yang tercemari oleh semangat “penipuan” dan rasa fanatisme suatu bangsa. Boleh dikatakan sebagian besar isi dari Al Quran adalah bersifat kritik dan peringatan terhadap sifat-sifat suatu bangsa yang jahat di mata Allah.<span id="more-127"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Berbagai upaya menyudutkan Islam dengan menggunakan sejumlah logika menyesatkan seringkali terjadi. Para ulama dan tokoh muslim telah banyak yang memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut. Namun selalu saja tuduhan tersebut diulang-ulang seolah-olah hal itu adalah sebuah kebenaran yang nyata. Bahkan mengesankan bahwa kajian mereka terhadap Islam tidak pernah berkembang dan ‘perbendaharaan’ tuduhan mereka memang hanya ‘itu-itu saja’. Penyakit yang timbul akibat melemahnya kreatifitas dan inisiatif atau bahkan pembelaan diri yang lahir dari “keputus asaan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sebut saja misalnya tokoh misterius yang menggunakan nama pena<span> </span>John Gilchrist. Tokoh ini </span>berusaha<span lang="IN"> mengulang-ulang tuduhan orentalis pada era awal dalam memandang Islam. Pemikiran dari “John Gilchrist” sendiri agaknya tidak mewakili pendapat satu orang, namun representasi dari sebuah kelompok yang berusaha merumuskan “serangan yang mengancam” terhadap ajaran Islam. Gilchrist selalu diposisikan sebagai aktor pembela Kristen yang berusaha menjawab semua pertanyaan yang ditujukan terhadap kekristenan. Akan tetapi boleh dikatakan bahwa hampir semua jawaban tersebut hanya sekedar bersifat apologetik dan bahkan sophist. Sebut saja misalnya ketika menghadapi pertanyaan Ahmed Deedat tentang “dilema perzinaan Daud”, Gilchrist justru melarikan diri dari permasalahan dan balik menuduh Al Quran sebagai memiliki dilema yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Tanggapan penulis ini bukan dimaksudkan bahwa tulisan-tulisan John Gilchrist tersebut memiliki kualitas yang bagus. Karyanya telah diwarnai dengan sejumlah kekacauan ilmiah seperti pemotongan ayat, pemalsuan matan hadits, dan sejumlah kecurangan lainnya. Boleh dikatakan tulisan ini hanya mengkungkapkan salah satu modus ‘penyelewengan’ penafsiran Al Quran bagi kepentingan missi penginjilan. Modus ini merupakan salah satu metode yang selalu diulang-ulang dari waktu-ke waktu sehingga penting bagi setiap muslim untuk memahaminya. Jadi tulisan ini lebih merupakan jawaban atas syubhuhat yang dikeluarkannya, mengingat karya tersebut telah disebarkan secara masif di kalangan kaum muslimin yang masih awam. Penulis sendiri mendapatkan buku ini dari seorang petani yang pergi ke kota untuk menjual hasil buminya. Secara kebetulan dia berpapasan dengan serombongan anak-anak muda yang membagikan buku tersebut kepada semua orang yang ditemui.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Perlu dipahami sebelumnya bahwa pengertian, kedudukan, dan penghargaan terhadap pribadi “Nabi” dalam Islam dan Kristen adalah berbeda. Islam menempatkan nabi sebagai sosok teladan yang terbimbing dan harus mendapatkan penghormatan yang selayaknya sebagai utusan Allah. Sedangkan dalam kekristenan kata “Nabi” digunakan untuk menyebut abdi (penyembah) Dewa Baal, nabi orang Israel, lembaga yang dibuat oleh para dukun dan tukang sihir, pegawai Dawud, dan lain sebagainya.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">DAWUD DIPERTANYAKAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Nabi Dawud adalah seorang rasul yang dimuliakan dalam Islam. Termasuk diantara 25 Nabi dan Rasul yang diberitakan dalam Al Quran. Kedudukannya sebagai nabi dan rasul mendapatkan penghormatan yang selayaknya dari umat Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Ada pun Surat Shad, 38 : 21-25 yng dipermasalahkan oleh John Gilcrist adalah sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN">21.<span> </span>Dan Adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN">22.<span> </span>Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut Karena kedatangan) mereka. mereka berkata: &#8220;Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah Keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN">23.<span> </span>Sesungguhnya saudaraku Ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan Aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: &#8220;Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan Aku dalam perdebatan&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN">24.<span> </span>Daud berkata: &#8220;Sesungguhnya dia Telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini&#8221;. dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN">25.<span> </span>Maka kami ampuni baginya kesalahannya itu. dan Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi kami dan tempat kembali yang baik.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">KISAH “PERZINAAN” DAWUD</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Berawal dari Ahmed Deedat yang berupaya mempersoalkan sejumlah perilaku seksual yang tidak mendidik dan diungkapkan secara vulgar dalam Bible beserta konsekuensi moralitasnya.</span><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Upaya yang dilakukan oleh Ahmed Deedat tersebut nyatanya telah menimbulkan sejumlah reaksi di kalangan Kristen. Umumnya sikap dunia Kristen terhadap Ahmed Deedat adalah beragam mulai dari geram hingga segan. Sejumlah pembelaan pun mulai dari apalogetik hingga sophist bermunculan, tidak terkecuali di dalamnya berwujud dukungan. Dalam kondisi demikian, muncul sosok misterius bernama John Gilchrist, yang tidak pernah diketahui identitas aslinya, ikut tampil dalam memberikan pembelaan. Namun cara pembelaannya bukannya dilakukan secara wajar, ksatria, dan apa adanya. Justru Gilchrist bersikap membela diri dengan menyalahkan pihak lain. Hal ini dapat digali dalam buku Gilchrist berjudul ”<em>The Textual History of the Quran and The Bible</em>” yang berusaha menjawab berbagai pertanyaan Ahmed Deedat dalam tulisannya yang berjudul “<em>Is the Bible God’s Word</em> <em>?</em>”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">John Gilchrist justru menuduh Ahmed Deedat terlalu membesar-besarkan masalah. </span>Bible, menurut Gilchrist, hanya melukiskan keadaan manusia secara “apa adanya”. Penggambaran manusia dari terbaik sampai yang terburuk secara detail, dalam pandangan Gilchrist justru menunjukkan kesempurnaan Tuhan dalam kemampuan-Nya mengungkapkan dosa-dosa manusia.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="SV"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Buku Gilcrist tersebut memang diusahakan untuk merumuskan jawaban dari sejumlah pernyataan yang dilontarkan oleh Ahmed Deedat. Akan tetapi jawaban-jawaban tersebut boleh dikatakan tidak ‘mampu’ mengcover semua permasalahan. Bahkan semua jawaban yang ada pun tidak lebih sekedar jawaban dengan “logika buatan”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Nampak bahwa Gilchrist hanya berfikir sebatas ”pembelaan diri” yang mampu dilakukannya. Upaya defensif yang tidak mempertimbangkan kekhawatiran akan dampak negatif penggambaran seksualitas Bible bagi pembacanya. Padahal fakta-fakta seksual dalam kitab tersebut teramat jelas dan vulgar, meski sebagian bersifat metafor. Sehingga sangat dikhawatirkan pengaruhnya bagi nilai peradaban dan moralitas, terutama jika dibaca oleh anak-anak.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="SV"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Hal inilah mungkin yang mendasari George Bernard Shaw untuk berpendapat bahwa Bible adalah ”<em>Buku paling berbahaya di dunia. </em><em><span lang="SV">Jagalah agar tetap tertutup rapat dan terkunci. Jauhkan Bible dari jangkauan anak-anak</span></em><span lang="SV">”. Senada dengan Shaw, jurnal <em>The Plain Truth</em><span>, sebuah Majalah Kristen,</span> edisi Oktober 1977 menyatakan ”<em>Membacakan cerita dari Bible kepada anak-anak bisa membuka kesempatan untuk mendiskusikan moral seks. Suatu kitab Bible yang belum dibersihkan pasti mendapat rating X dari badan sensor</em>’.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Pernyataan satir yang secara jelas, tegas, dan tepat menggambarkan kondisi sebuah kitab suci dari penganutnya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Pada bagian lain, Gilchrist juga menanggapi ayat II Samuel 11 yang menggambarkan bahwa Daud telah berzina dengan perempuan bersuami bernama Batsyeba dan mengatur pembunuhan suaminya yaitu Uria. </span>Gilchrist lantas membuat pararelisasi bahwa substansi II Samuel tersebut sejalan dengan Al Quran Surat Shaad ayat 21 sampai 25. Ayat yang dimaksud berkisah tentang dua orang yang meminta keadilan kepada Dawud; salah seorang yang memiliki 99 kambing betina menginginkan satu-satunya kambing betina milik pihak lain menjadi miliknya. Dawud memutuskan bahwa pemilik 99 kambing sebagai pihak yang salah karena menginginkan sesuatu yang bukan haknya. Daud kemudian tahu bahwa Allah mengujinya melalui peristiwa tersebut, Daud pun bersujud dan bertaubat sehingga Allah kemudian mengampuninya.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="SV"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Gilchrist mempersoalkan mengapa Allah harus menguji Daud untuk membuatnya bertaubat dan diampuni. Menurutnya, taubat dan ampunan bagi daud menandakan bahwa Daud telah berdosa. <span lang="SV">Dosa Daud tersebut timbul karena Daud telah berzina dengan Batsyeba. Hanya saja, menurut Gilchrist, Al-Quran tidak menceritakan kisah tersebut meski mengakuinya secara tidak langsung.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Ungkapan Gilchrist tersebut jelas mengada-ada. Prof. DR. Hamka menjelaskan bahwa penyebab taubat yang dilakukan oleh Daud dan ampunan Allah terhadap beliau telah secara jelas terdapat dalam Al Quran itu sendiri. Dalam ayat 21 Surah Shaad tersebut digambarkan bahwa ada dua orang yang berperkara memanjat pagar mihrab untuk menemui Dawud. Menurut Prof. DR. Hamka, kedatangan kedua orang yang berperkara secara tidak sewajarnya yaitu tanpa memberikan berita sebelumnya dan tidak melalui pintu biasanya tersebut, telah membuat Nabi Dawud berprasangka bahwa keduanya memiliki niatan jahat. Lantas setelah Nabi Dawud memahami bahwa peristiwa tersebut merupakan ujian maka bersujudlah ia atas lepasnya ujian dalam mengadili kedua pihak berperkara dan bertaubat atas purbasangka yang dimilikinya sebelumnya.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Bahkan Tengku Muh. Hasbi Ash Shiddieqy secara tegas menolak riwayat-riwayat israiliyat yang secara substansial merendahkan kedudukan Nabi termasuk kisah perzinaan Dawud sebagaimana termaktub dalam Perjanjian Lama tersebut.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Umumnya sejumlah penafsiran terkait ayat tersebut, juga memberikan jawaban bahwa penyebab Dawud bersujud dan bertaubat telah ada jawabannya dalam Al Quran itu sendiri, bukannya berada dalam Perjanjian Lama sebagaimana anggapan John Gilchrist.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sikap para penulis Kristen terhadap pornografi dalam Perjanjian lama cukup beragam. Denis Green, pendeta dan dosen sebuah seminari di Malang, misalnya mengungkapkan bahwa ayat-ayat ”panas” dalam Kidung Agung merupakan gambaran tentang cinta kasih manusia antara lelaki dan perempuan. Tubuh manusia yang digambarkan secara erotis dianggapnya sebagai karya terbaik Tuhan agar manusia dapat menikmatinya dalam pernikahan.</span><a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="SV"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> Dr. C. Groenen menyikapi permasalahan ‘ayat-ayat vulgar’ tersebut secara dingin pula. Dikatakan bahwa Daud adalah seorang yang saleh namun lemah, kurang tegas, dan dapat dipermainkan. Daud adalah raja yang berbudi luhur dan berkuasa akan tetapi bukannya tanpa noda. Pengungkapan perzinaan secara vulgar tersebut tidak lebih dari sekedar upaya “Tuhan” untuk memberikan pelajaran kepada manusia. Hikmahnya, kesalahan Daud tersebut harus ditebus dengan konflik berdarah-darah dari keturunan Daud itu sendiri. “<em>Oleh karena itu pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya oleh karena engkau telah menghina Aku</em>” (2 Samuel 12: 9-10).<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Salah satu wujud ajaran bahwa bukan hanya dosa yang dapat diwariskan namun juga meliputi hukuman dan kutukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Akademisi seperti Dr. J. Blommendaal bahkan menerima kisah dalam II Samuel 11 tentang perzinahan antara Dawud dan Batsyeba serta konspirasi Daud untuk membunuh Uria di atas dengan mengesankan sebuah “keterpaksaan”. Dikatakan bahwa “<em>Ada hubungan erat antara cerita-cerita ini dengan fasal-fasal sebelumnya sebab Mefibosyeth, Yoab, Abyatar, dan Yonatan juga disebut-sebut di dalam fasal-fasal sebelum II Sam 11, sehingga <strong>terpaksa </strong>kita mengakui kesatuan sejarah ini dengan cerita-cerita sebelumnya</em>”.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lain halnya dengan buku <em>A Dictionary of the Bible</em> yang menyoroti bahwa Daud memiliki kejanggalan perilakunya yang secara diametral bersifat kontradiktif, di satu sisi merupakan icon standar moral yang tinggi dan pada sisi yang lain merupakan sosok “pendosa besar”. Kehidupan Daud ini diungkapkan dengan cara sebagai berikut : “<em>The great sins of his life, his adultery with Batsheba and murder of Uriah, are perhaps but the common crimes of an oriental despot; but so far as we can judge, they were not common to Israel, and David as well as his subjects knew of a higher moral standard</em>.”<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Dengan demikian telah jelas<span> </span>bahwa upaya paralelisasi cerita Bible dan kisah Al-Qur’an tidak lebih sebagai usaha defensif yang menyedihkan. Bahkan lebih menampakkan sikap putus asa atas substansi kitab suci miliknya dengan menuduhkan kitab suci agama lain memiliki ”derajad pornografi</span>”<span lang="IN"> juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">LOGIKA BAGI DERAJAD ALQURAN DAN BIBLE</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Penalaran yang digunakan oleh John Gilchrist dalam “membedah” Al Quran, didasarkan pada pemikiran bahwa Bible adalah sudah benar dari awal. Sehingga layak menjadi ukuran bagi sebuah persoalan yang datang kemudian. Logika yang digunakan adalah kitab yang datang terlebih dahulu menjadi penguji bagi yang datang kemudian. Hal ini sama dengan logika yang digunakan oleh Robert Morey bahwa <em>The Old Tests The New</em> yaitu otoritas yang terdahulu digunakan untuk mengukur otoritas yang lebih baru.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Melalui Penalaran ini, baik Gilchrist maupun Morey seolah menempatkan dirinya dalam posisi yang mirip dengan keberadaan Mahkamah Konstitusi di Indonesia yang menggunakan UUD 1945 sebagai sumber dan penguji bagi peraturan perundang-undangan yang berada di bawahnya. Dari kenampakannya logika ini seolah-olah memang kuat. Namun jika ditinjau secara mendalam, pada hakikatnya, logika tersebut sebenarnya tidak berdasar, terutama dalam kasus antara Al Quran dan Bible. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, jika Undang-undang yang telah diuji ternyata tidak bertentangan dengan UUD 1945, maka UU tersebut akan digunakan sebagai bahan acuan dan memiliki konsekuensi hukum bagi setiap warga negara. Sedangkan dalam kasus pengujian dengan Bible, hal ini tidak diberlakukan. Sejak awal, pengujinya tidak berinisiatif menggunakan Al Quran sebagai sumber kebenaran sekalipun telah terbukti. Bahkan seandainya pun terdapat kebenaran dalam Al Quran maka akan dimunculkan sejumlah dalih untuk menolak kebenaran itu dengan argumen &#8211; argumen semacam kebetulan belaka, hasil pinjaman dari konsep lain, berakar dari budaya Yunani, mengadopsi dari Bible, dan sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Alasan kedua yang tidak kalah urgennya adalah terkait dengan derajad sumber yang dikaji. Keberatan utama muslim adalah terkait dengan keabshan sumber yang berasal dari Bible ketika disejajarkan dengan nash Al Quran. Standar kebenaran sumber dalam Islam yang paling utama adalah mengandalkan sumber dari <em>khabar shadiq</em>. Khabar shadiq ini pun memiliki tingkatan-tingkatan, dimana yang tertinggi adalah <em>mutawatir</em>. Sedangkan derajad Al Quran adalah dari <em>khabar shadiq</em> yang <em>mutawatir</em>. Sedangkan hadits memiliki derajad yang berbeda-beda. Sebagiannya juga mencapai derajad khabar shadiq yang mutawatir tersebut. Lawan dari khabar shadiq adalah <em>khabar kadzib</em> (berita dusta). Beberapa hadits sengaja diciptakan oleh orang-orang belakangan sehingga menempati kedudukan sebagai <em>khabar kadzib</em> sebab tidak berasal dari perkataan Rasulullah dan memiliki konsekuensi hukum tersendiri yang tidak sesuai dengan Al Quran dan As shunnah. Seringkali kalangan muslim menyebut khabar ini sebagai “hadits palsu” yang maknanya, bukan hadits dalam arti sebenarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Beberapa tokoh seringkali membandingkan bahwa cerita-cerita Bible dari segi periwayatannya memiliki karakteristik yang sama dan sederajad dengan Hadits. Dr. Maurice Bucaille, misalnya, menyatakan bahwa Bible memiliki persamaan dengan Hadits, sebab keduanya berisi kisah-kisah tentang Nabi dan orang shalih berserta ajarannya. Perjanjian Baru juga mirip dengan hadits sebab ditulis oleh orang-orang beberapa puluh tahun setelah wafatnya Isa.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Pendapat Dr. Bucaille ini sudah tentu terlalu berlebihan, sebab hadits jelas tidak bisa dibandingkan dengan Bible. Beberapa penulis muslim juga sering memberikan perbandingan antara ayat-ayat Bible dan hadits. Dikatakan bahwa Bible setara dengan <em>hadits maudlu’ </em>(hadits palsu), kalaupun mungkin hanya akan mencapai derajad <em>hadits dha’if</em> (hadits lemah).<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sebagian ulama berpendapat, dalam kasus hadits yang lemah karena perawinya sudah tua sehingga terkendala dengan hafalan yang menurun karena usia, derajadnya bisa menjadi <em>hadits hasan</em> (baik) jika terdapat kondisi bahwa terdapat perawi lain yang memiliki kondisi sama yang juga meriwayatkan hadits yang sama. Sehingga hadits tersebut dikenal sebagai <em>hadits hasan li ghairihi</em> artinya hadits tersebut bernilai baik karena ditopang dan dikuatkan oleh keberadaan hadits yang lain.<span> </span>Akan tetapi ayat-ayat Bible tidak akan pernah dapat mencapai tingkatan derajad yang demikian. Sebab sejak awal memang tidak memiliki tradisi pengujian keshahihan yang terpercaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Hadits memiliki sistem verifikasi validitas yang sangat ketat. Sebenarnya, hadits palsu bahkan derajadnya adalah lebih tinggi dari Bible, sebab hadits palsu (<em>hadits maudlu</em>’) terkadang masih memiliki sejumlah informasi yang menyebutkan jalur periwayatan tertentu yang bisa dirunut beserta pengenalan terhadap jalur-jalur tersebut. Sedangkan Bible termasuk bagian Perjanjian Barunya sama sekali tidak memiliki metode telaah yang bersifat demikian. Sebut saja misalnya Pentateuckh, kebanyakan umat Kristiani menganggap kelima kitab tersebut merupakan karya dari Musa. Akan tetapi tidak ada satu pun jalur periwayatan yang dapat digunakan untuk membuktikan bahwa Pentateuch memang benar-benar merupakan karya Musa. Justru jika dianggap sebagai karya Musa, maka Pentateuch menyisakan sejumlah kejanggalan. Diantaranya adalah cerita tentang kematian Musa sendiri yang tidak mungkin dikisahkan oleh Musa secara pribadi.<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Contoh lainnya, sebut saja ayat yang seringkali digunakan sebagai dasar paham trinitas yaitu Surat Kiriman Yohanes Pertama (I Yohannes) Pasal 5 ayat 6-8 yang berbunyi :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN">5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian <strong>[di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 36pt .0001pt;"><strong><em><span lang="IN">5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]</span></em></strong><em><span lang="IN">: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[18]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 36pt .0001pt;"><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Penggunaan tanda kurung dalam kedua ayat tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa ayat tersebut palsu. Artinya ayat tersebut baru ditambahkan kemudian pada era-era terakhir. Hal ini bisa dibuktikan dengan melakukan perbandingan versi Bible yang lain, misalnya <em>The Holy Bible Contemporary English Version</em> yang berbunyi :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN">5:6 Water and blood came out from the side of Jesus Christ. It wasn&#8217;t just water, but water and blood. The Spirit tells about this, because the Spirit is truthful.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN">5:7 In fact, there are three who tell about it.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><em><span lang="IN">5:8 They are the Spirit, the water, and the blood, and they all agree.<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[19]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span lang="IN">The Holy Bible Contemporary English Version</span></em><span lang="IN"> ini bukannya satu-satunya versi yang memiliki perbedaan dengan Bible yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Versi tanpa penambahan, juga bisa dibaca dalam <em>The Holy Bible New International Version<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[20]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em> dan <em>The Holy Bible Today’s English Version<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[21]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em>. Lantas, mengapa terdapat versi yang berbeda dalam ayat-ayat yang dianggap sebagai dalil tentang trinitas tersebut ? Tokoh Gereja yaitu Dr. G. C. Van Niftrik dan D. S. B. J. Boland menyatakan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><span lang="IN">“Di dalam Alkitab tidak diketemukan suatu istilah yang dapat diterjemahkan dengan kata “tritunggal” ataupun ayat-ayat tertentu yang mengandung dogma tersebut, mungkin terdapat dalam I Yahya (I Yohanes) 5 : 6-8. Tetapi sebagian besar ayat ini agaknya belum tertera dalam naskah aslinya. Bagian itu setidak-tidaknya harus diberi kurung.“<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Dari tulisan kedua tokoh gereja di atas dapat diketahui bahwa tambahan kalimat “<em>Bapa, Firman, dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu”</em> yang menunjuk kepada 3 (tiga) oknum trinitas, sebenarnya adalah suatu bentuk pengubahan dan penambahan terhadap kitab yang dianggap suci atau dengan kata lain adalah pemalsuan teks kitab. Hal ini sudah tentu dilakukan oleh para penginjil dari era belakangan yang memerlukan “dalil” tegas bagi apa yang mereka percayai, sebuah dalil buatan. Terkait ayat di atas tokoh Kristen terkemuka Amerika, Jerry Falwell, bahkan secara terbuka dan terang-terangan mengungkapkan bahwa ayat 7 dan 8 dari I Yohanes adalah tidak original dan bukan wahyu (firman Tuhan). Hal ini diungkapkan sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><span lang="IN">“The rest of verse 7 and the first nine words of verse 8 are not original, and are not to be considered as a part of the words of God.”<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">A<span lang="IN">kademisi Kristen seperti Dr. C. Groenen bahkan mengungkapkan secara tegas bahwa nash-nash yang dianggap sebagai dasar teologis dogma trinitas justru merupakan tambahan dari era belakangan. Nash tambahan tersebut sengaja dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru karena perdebatan seputar ketuhanan tritunggal mengalami masa-masa yang kritis dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Maka kemudian dibuatlah nash “Trinitas” yang dimasukkan ke dalam naskah-naskah Perjanjian Baru. Nash ini baru muncul pada abad IV di Spanyol. Nash tentang trinitas itu lazim disebut dengan nama “<em>Comma Johanneum</em>”. Salah satu nashnya adalah I Yohanes 5 : 7. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. C. Groenen sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><span lang="IN">“ Di zaman umat Kristen berdebat-debat mengenai Allah Tritunggal, sangat terasa bahwa dalam Perjanjian baru tidak ditemukan suatu nas yang jelas mengungkapkan dogma itu, sehingga mudah dapat dipindahkan ke dalam alam pikiran filsafat dan teologi Yunani. Maka suatu nas “trinitas” yang jelas dibuat dan dimasukkan ke dalam naskah-naskah Perjanjian Baru. Nas itu lazimnya disebut “Comma Johanneum” (1 Yoh 5 : 7 menurut Vlg.). Sejak abad IV nas itu mulai muncul, mula-mula di daerah Spanyol. Nas itu menyusup ke dalam naskah-naskah terjemahan Latin (Vlg. Naskah-naskah terjemahan Latin yang paling tua belum memuat 1 Yoh 5:7). Akhirnya diterjemahkan ke dalam naskah-naskah Yunani. Tetapi naskah-naskah yang memuat 1 Yoh 5:7 semua dari masa belakangan.”<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 36pt .0001pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Dalam catatan kakinya, Dr. C. Groenen menambahkan bahwa hanya ada 3 (tiga) naskah Yunani yang memuat teks I Yohanes 5:7. Teks itu pun baru dibuat selama abad XIV dan XVI M. Congregatio S. Officili pada tanggal 13 Januari 1897 pernah mempertahankan ayat I Yohanes 5:7 sebagai asli. Tetapi keputusan tersebut dicabut kembali pada tanggal 2 Juni 1927.<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Namun belakangan ini Perjanjian Baru, termasuk yang beredar di Indonesia, memuat kembali penambahan teks I Yohannes 5: 7 yang sebelumnya pernah dihapuskan dari gereja. Hal ini sudah tentu karena gereja membutuhkan dalil tersebut sebagai legitimasi atau sebenarnya justifikasi keyakinan yang dimilikinya, walaupun hakikatnya bisa dibuktikan hanya merupakan dalil buatan dan hasil perumusan semata. Perlu ditegaskan bahwa doktrin trinitas merupakan jantung utama paham Kristianitas. Namun ternyata ajaran tersebut hanya merupakan paham yang didukung oleh ayat-ayat “buatan” pada masa-masa kemudian. Selain itu banyak ayat-ayat lain dalam Bible yang telah dibuktikan oleh teolog sebagai ayat-ayat tambahan yang sepenuhnya “baru”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Oleh karena itu salah apabila Bible hendak didudukkan sama atau bahkan sederajad dengan hadits apalagi dengan Al Quran. Maka keberatan kaum muslimin terkait penggunaaan metode pengujian sebagaimana yang diungkapkan Gilchrist dan Morey adalah <strong>Al Quran tidak seharusnya diuji dengan kitab yang derajadnya jauh berada di bawah hadits palsu</strong>. Sedangkan hadits palsu, dalam Islam, sudah jelas ditolak penggunaannya. Apalagi yang kualitasnya berada di bawahnya. Karena itulah maka logika pengujian Al Quran dengan Bible ini gagal memberikan solusi dan dinilai lemah sebagai metodologi pengujian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">BERAWAL DARI PROBLEMA HISTORIS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Sebenarnya, usaha destruktif sebagaimana dilakukan baik oleh Morey maupun tokoh misterius semacam Gilchrist, tidak dapat dilepaskan dari pengalaman kekristenan sendiri. Teori yang diimajinasikan Barat bahwa Islam banyak berhutang dari kekristenan bukan merupakan barang baru. Dalam perjalanan sejarah, Kristen bukan merupakan ajaran agama yang telah final sejak awal. Dr. Harun Hadiwiyono, seorang akademisi Kristen misalnya, sejak awal membedakan gambaran antara istilah “iman Kristen” dan “agama Kristen”. Iman Kristen, menurutnya adalah sesuatu yang tidak berubah dan tidak dapat dipengaruhi oleh hal apa pun. Sedangkan agama Kristen dapat dipengaruhi oleh adat-istiadat, kebiasaan, dan kebudayaan manusia yang memeluknya. Sehingga sangat memungkinkan bahwa agama Kristen mengandung peraturan-peraturan buatan manusia, yang tidak sesuai dengan maksud Tuhan yang dinyatakan dalam iman Kristen.<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dalam hal ini Kristen tidak memiliki konsep <em>tsawabit</em> dan <em>mutaghayirat</em>, <em>ushul</em> dan <em>furu’</em>, atau <em>mahdhah</em> dan <em>ghairu mahdhah</em> sebagaimana yang dimiliki oleh Islam. Oleh karena itu hal-hal yang terkait dengan apa yang diistilahkan oleh Dr. Harun Hadiwiyono sebagai “iman Kristen”, sebenarnya bisa saja berubah sebab tidak memiliki patokan dan pedoman secara pasti. Para teolog dan sejumlah ilmuwan di Barat telah meletakkan sejumlah teori dan bukti bahwa Kristen dalam perkembangan awalnya banyak mengambil konsep dari ajaran agama paganisme yang berkembang sebelumnya dan pada perkembangan selanjutnya banyak meminjam konsep dari budaya-budaya dimana kekristenan berkembang. Boleh dikatakan bahwa kekristenan merupakan residu akhir dari sebuah perjalanan tambal sulam dalam pembentukan konsep mendasarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sebut saja Lynn Picknett dan Clive Prince, peneliti tentang okultisme dan sejarah agama, menyebutkan bahwa salah satu sakramen yang dikembangkan gereja hingga hari ini yaitu pembaptisan merupakan unsur pinjaman yang diambil oleh Kristen dari ajaran okultisme di Mesir. Pembaptisan sebagai simbol pembaruan spiritual dan transformasi batin, memiliki ciri has yang hidup dan berkembang dalam dunia Helenistik dimana Yesus hidup. Tradisi ini memiliki tradisi panjang yang berakar kuat dalam ajaran pagan berupa penyembahan dan kultus terhadap Isis di Mesir Kuno. Penting dicatat bahwa ritual pembaptisan ini awalnya dilakukan di Sungai Nil didahului dengan penyesalan dan pengakuan dosa di hadapan imam.<a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Menariknya para pemuja Isis ini memiliki simbol berupa salib yang belakangan ini biasa dikenal sebagai “salib okultis” yaitu bentuk salib dengan bagian atas atau kepala berupa lingkaran. Padahal sakramen pembaptisan merupakan upacara pokok kekristenan yang dipercaya sebagai syarat diberikannya berkat-berkat Tuhan.<a name="_ftnref28" href="#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[28]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ritual pembaptisan jelas tidak akan dapat ditemukan dalam kehidupan keagamaan bangsa Israel. Perjanjian Baru menggambarkan bahwa seolah-olah Yohannes adalah salah satu penganut ritus kuno Mesir yang melakukan pembaptisan dan Yesus adalah salah satu muridnya (pengikut) yang sedang mendapatkan prosesi pemberkatan.<a name="_ftnref29" href="#_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[29]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dr. C. Groenen OFM ketika membahas tentang salah satu dalil bagi pembaptisan yaitu Matius 28 ayat 19 yang berbunyi “<em>Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”<a name="_ftnref30" href="#_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[30]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em> mengungkapkan bahwa ayat ini bukan ucapan atau perintah Yesus dalam makna sebenarnya (secara historis), tetapi merupakan ayat yang ditambahkan kemudian dan diambil dari tradisi upacara pembaptisan yang dilakukan oleh jemaat Kristen Palestina dan Siria. Upacara tersebut lantas dimasukkan ke dalam redaksi terakhir Matius.<a name="_ftnref31" href="#_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[31]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Artinya ayat tentang baptisan sendiri sebenarnya tidak dikenal sebagai sakramen kekristenan awal dan baru ditambahkan kemudian berdasarkan tradisi pemeluk agama yang telah sedikit banyak bersentuhan dengan paganisme, yaitu ketika bangsa Israel di Palestina pernah bersentuhan dengan peadaban Mesir Kuno maupun peradapan Helennis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sejarah panjang kekristenan ini pulalah yang telah secara intensif mempengaruhi pola pikir Barat dalam memandang Islam. Sejak awal Barat telah mewarisi sebuah dugaan yang dalam jangka panjang telah berakumulasi dan berkulminasi menciptakan imajinasi yang seolah menjadi gambaran sebuah kebenaran. Islam, dalam gambaran imajinasi ini, dianggap telah banyak meminjam konsep dari kekristenan maupun tradisi Yahudi. Seandainya pun tidak, maka Islam tetap harus ditempatkan sebagai “pesakitan” yang memiliki problema yang sama. Seandainya Islam telah meminjam dari Kristen, maka sebenarnya harus ada banyak bukti yang dikeluarkan oleh mereka. Terlalu banyak pertanyaan yang harus mereka jawab dan buktikan. Padahal kesamaan sebuah ide atau cerita tidak selalu merupakan hasil dari proses pinjam meminjam. Bible juga tidak pernah berbicara tentang kosmos, tiga kegelapan kandungan, penyaliban Yesus adalah semu, kesalahan Trinitas, dan sebagainya.<a name="_ftnref32" href="#_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[32]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Tentu Islam tidak mengambil hal-hal tersebut dari ajaran sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Bahkan terdapat indikasi kuat bahwa Bible justru pernah mengalami pengeditan dengan melibatkan dan meminjam konsep-konsep yang berasal dari Al Quran. Sejarah telah mencatat bahwa pada tahun 382 M, Paus Gregorius XII memerintahkan Anibra untuk mengedit ulang kitab Hexapla dan Vulgata karya Santo Jerome yang dalam Bahasa Latin disebut Eusebius Hieronymus (328 – 420 M), dengan memasukkan ayat-ayat Al Quran, terutama ayat-ayat yang berhubungan dengan gambaran eskatologis dalam ilmu teologi Antiokia dan tertera dalam Perjanjian Lama. Hal ini kemudian baru diterima secara resmi oleh gereja pada tanggal 13 Desember 1545.<a name="_ftnref33" href="#_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[33]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Adapun ayat-ayat yang dijiplak tersebut antara lain Al Fatihah ayat 6 ditiru dalam Mazmur 27 : 11, Al Anbiya’ ayat 105 dijiplak dalam Mazmur 37 : 29,<span> </span>Surah An Nahl ayat 10 dicontek guna ditempatkan pada Mazmur 104 ayat 10 dan Mazmur 104 ayat 14, Surah Al A’raf ayat 179 ditiru dalam Yeremia 5 ayat 21, dan lain sebagainya sampai berjumlah sedikitnya 13 (tiga belas) point.<a name="_ftnref34" href="#_ftn34"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[34]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lantas, mengapa orang-orang seperti Morey maupun Gilchrist serta tokoh-tokoh lainnya justru menuduh bahwa Islam banyak meminjam konsep dari agama yang menjadi keyakinan mereka ?. </span>I<span lang="IN">tu merupakan hal biasa, sebuah pelarian dan semacam <em>pre-emptive attack</em> yang lahir dari sejenis perasaan bersalah. <strong>(***)</strong></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--><strong>FOOTNOTE</strong><br />
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span><span lang="IN">Selengkapnya baca </span><span lang="NL">Dr. C. Groenen OFM. </span><em><span lang="SV">Pengantar ke dalam Perjanjian Lama</span></em><span lang="SV">. </span>Cetakan  I. Edisi 2. (Penerbit Kanisius, Y<span lang="SV">ogyakarta, 1992). </span><span lang="IN">Hal. 232-233</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:6pt;text-align:justify;text-indent:-6pt;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Ahmed Deedat. <em>The Choice: Dialog Islam – Kristen</em>. (Terj.). (Al-Kautsar, Jakarta, 2001). Hal 386.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:6pt;text-align:justify;text-indent:-6pt;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> John Gilchrist</span><span lang="NL">. <em>The T</em></span><em>extual History of the Quran and the Bible</em>. (Ind. : <em>Sejarah Naskah Al-Qur;an dan Al-Kitab</em>). (Jalan Al Rahmat, Jakarta, 1996). Hal. 68-69.</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Wahyudi, SA. <em>Sex in the Bible</em>. (Bina Ilmu, Surabaya, 2004). Hal. 77.</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="NL"> Ahmed Deedat, <em>Opcit</em>. Hal 281 dan 287.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> John Gilchrist. <em>Opcit</em>. Hal 70</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> John Gilchrist. <em>Opcit</em>. Hal 71 &#8211; 73</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Prof. DR. Hamka. <em>Tafsir Al Azhar </em>Juz<span> </span>XXIII. (Pustaka Islam, Surabaya, 1976). Hal. 234-235</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. <em>Tafsir Al Quranul Majid An Nuur</em> juz 23. Cet. II. (Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2000). Hal. 3506</p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:6pt;text-align:justify;text-indent:-6pt;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Denis Green. <em>Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama</em>. (Gandum Mas, Malang, 1984). Hal. 144</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Dr. C. Groenen OFM. <em>Pengantar &#8230;&#8230;. <span> </span>Opcit</em>. </span><span lang="IN">Hal. 152</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span><span lang="IN">Dr. J. Blommendaal. <em>Pengantar Kepada Perjanjian Lama</em>. Cetakan IV. (PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1988). Hal. 81 </span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> James Hastings (ed.). <em>A Dictionary of the Bible</em>. Vol. 1. (T&amp;T Clark, Edinburg, 1910). H<span style="color:black;">al. 572<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span lang="IN">Robert Morey. <em>Islamic Invasion : Confronting the World’s Fastest Growing Religion</em>. (Christian Scholar Press, Las Vegas, 1992). Hal. 5</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dr. Maurice Bucaille. <em>La Bible le Coran et la Science</em>. (Editions Seghers, Paris, 1976). Edisi Indonesia : <em>Bible, Qur-an, dan Sains Modern</em>. Terjemah oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi. Cetakan II. (Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1979). Hal. 17</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Lihat misalnya Masyhud SM. <em>Al Qur’an Mengajak Kristen Jujur Beragama</em>. Dalam Majalah Modus Vol. 1 No. 8 Th. II/ 2004. hal. 28</span></span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Lihat pembahasannya secara lengkap dalam Dr. Maurice Bucaille. <em>Opcit</em>. Hal. 35-41 </span></span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> I Yohanes 5 : 7-8. <em>Alkitab Terjemahan Baru</em>. (Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1974)</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> I John : 6-8.<em> The Holy Bible Contemporary English Version</em>. (ABS, 1995)</p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat New York International Bible Society. <em>The Holy Bible New International Version</em>. (Zondervan Bible Publishers – Grand Rapids, Michigan, 1981). Hal. 926</p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat. <em>The Holy Bible Today’s English Version : New Testament</em>. <span lang="NL">(ABS, 1992)</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="NL"> DR. G. C. Van Niftrik dan D. S. B. J. Boland. </span><em><span lang="FI">Dogmatika Masa Kini</span></em><span lang="FI">. (BPK, Jakarta, 1967). </span>Hal. 418</p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Jerry<span> </span>Falwell. <em>Liberty</em><em> Bible Commentary</em>. (Thomas Nelson Publisher-Nashvhille Camden, New York, 1983). Hal. 2638 dalam Masyhud SM. <em>Al Quran Mengajak &#8230; Opcit</em>. Hal. 25. Artinya : “<em> Kalimat terakhir ayat 7 dan sembilan kata pertama pada ayat 8 adalah tidak asli (orisinal) dan tidak bisa dianggap sebagai wahyu (firman Tuhan)</em>”.</p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Dr. C. Groenen OFM. <em>“He Dynamis Tou Pneumatos” Kitab Suci Tentang Roh Kudus dan Hubungannya dengan Allah Bapa dan Allah Anak</em>. (Lembaga Biblika Indonesia – Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1982). Hal. 64</span></span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">U. Lebreton. <em>Histoire du dogme de la Trinite I: Les Origines du dogme de la Trinite</em>. Hal. 645-647; W. Thiele. <em>Beobachtungen zum Comma Joanneum.</em> ZNT 50 (1959). Hal. 61-63 dalam Dr. C. Groenen OFM. <em>“He Dynamis Tou &#8230; Ibid</em>. Hal. 64</span></span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Dr. Harun Hadiwiyono. <em>Kebatinan dan Injil</em>. Cetakan IV. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1982). Hal. 163</span></span></p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="color:black;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="color:black;"> <span lang="IN">Lynn Picknett dan Clive Prince.</span></span><span style="color:black;" lang="IN"> </span><em><span style="color:black;">The Templar Revelation : Secret Guardians of The True Identity of Christ</span></em><span style="color:black;">. </span><span style="color:black;" lang="IT">Edisi Indonesia : <em>The Templar Revelation : Para Pelindung Sejati Identitas Kristus</em>. (Bantam Press, 1997). Terjemah oleh FX Dono Suhadi. Cetakan II. (PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006). Hal. 491-492</span></p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[28]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Howard M. Gering. <em><span lang="IN">Ensiklopedia Alkitab</span></em><span lang="IN">. Cetakan II. (Toko Buku Immanuel, Jakarta, 1970). Hal. 402</span></p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn29" href="#_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[29]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Beberapa pakar telah membuat analisa bahwa Yesus merupakan salah satu murid atau pengikut Yohanes yang kemudian mendirikan mahzabnya sendiri. Pendirian mahzab ini sebenarnya merupakan wujud “pemberontakan” yang dilakukan oleh Yesus kepada gurunya. Sebagian pakar lagi melihat bahwa juru selamat yang lebih memenuhi nubuat adalah Yohannes, bukan Yesus. Selengkapnya baca Lynn Picknett dan Clive Prince. <em>The Templar </em>&#8230;<em> Opcit</em>. Hal. 544-581</span></span></p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn30" href="#_ftnref30"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[30]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="FI"> Matius 28 : 19. <em>Alkitab Terjemahan Baru</em>. (Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1974)</span></p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn31" href="#_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[31]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Dr. C. Groenen OFM. <em>“He Dynamis &#8230; Opcit</em>. Hal. 64 </span></span></p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn32" href="#_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[32]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Terkait dengan tuduhan bahwa Al Quran telah meminjam banyak konsep dari Yahudi, Nashrani, dan dari kebudayaan lainnya telah dijawab oleh sejumlah pakar. Di antaranya Dr. Syauqi Abu Khalil. <em>Al Islam fi Qafshi Al Ittiham</em>. Cetakan V. (Dar al Fikr, Damaskus, 2002). Lihat juga misalnya Dr. Jabal Muhammad Buaben. <em>Image of the Prophet Muhammad in the West : A Study of Muir, Margoliouth, and Watt</em>. (The Islamic Foundation, Leicester, 1997).<span> </span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn33">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn33" href="#_ftnref33"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[33]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">KH. Bahaudin Mudhary. <em>Dialog Masalah Kebenaran Bibel</em>. (Pustaka Da’i, Jakarta, 2005). Hal. 72. Juga Artikel berjudul <em>Ayat-ayat Al Quran Dijiplak Alkitab</em>. Dalam Majalah Modus Vol. II No. 3 Th. II / 2005. Hal. 4</span></span></p>
</div>
<div id="ftn34">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn34" href="#_ftnref34"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[34]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span lang="IN">KH. Bahaudin Mudhary. <em>Opcit</em> Hal. 73-78. Juga Artikel <em>Ayat-ayat Al Qur’an Dijiplak &#8230; Opcit</em>. Hal. 5-7</span></p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=127&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2009/05/17/kritik-atas-aplikasi-metode-%e2%80%9cthe-old-tests-the-new%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SENJA KALA MAJAPAHIT DAN FITNAH TERHADAP ISLAM</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2009/04/26/senja-kala-majapahit-dan-fitnah-terhadap-islam/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2009/04/26/senja-kala-majapahit-dan-fitnah-terhadap-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 02:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[Demak]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Keruntuhan Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Kesultanan Demak]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Menegok kembali ke dalam beberapa materi ajar sejarah yang diberikan kepada generasi muda Indonesia, dari pendidikan Dasar hingga bangku perkuliahan, barangkali akan membuat kita terhenyak dan terheran-heran. Sejumlah fakta atau bahkan opini terkadang hanya ditampilkan sekilas, sehingga tidak jarang membentuk persepsi yang salah terhadap substansinya. Pemaparan fakta yang bersifat demikian sudah tentu akan membuka ruang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=121&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Menegok kembali ke dalam beberapa materi ajar sejarah yang diberikan kepada generasi muda Indonesia, dari pendidikan Dasar hingga bangku perkuliahan, barangkali akan membuat kita terhenyak dan terheran-heran. Sejumlah fakta atau bahkan opini terkadang hanya ditampilkan sekilas, sehingga tidak jarang membentuk persepsi yang salah terhadap substansinya. Pemaparan fakta yang bersifat demikian sudah tentu akan membuka ruang bagi kesalahan penafsiran. Sejarah, bisa jadi, memang berasal dari fakta tunggal yang kemudian ditafsirkan dengan menggunakan berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan berbagai penafsiran berbeda. Namun memaparkan fakta secara sekilas dan memberi ruang bagi kesalahan penafsiran juga merupakan hal yang musti dihindari.<span id="more-121"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sebut saja, misalnya, informasi bahwa keruntuhan Majapahit disebabkan oleh serangan dari kadipaten Demak di bawah pimpinan Adipati Jimbun Patah pada tahun 1478 M atau 1400 saka. Dari mulai pelajaran Pendidikan Dasar hingga lanjutan Atas bahkan di bangku perkuliahan, selalu dikemukakan dalam sejumlah buku teks pelajaran sejarah bahwa faktor penyebab keruntuhan Majapahit salah satunya adalah akibat serangan Demak. Biasanya pernyataan ini tidak diikuti dengan pembahasan dan keterangan lain secara jelas, terkait misalnya, mengapa Demak harus menyerang dan lain sebagainya. Pernyataan ini seolah-olah memang memperlihatkan superioritas dan keunggulan Demak di atas Majapahit. Namun jika ditilik lebih mendalam, sebenarnya merupakan upaya untuk mengaburkan pandangan bahwa Islam di Tanah Jawa telah disebarkan melalui praktik kekerasan bersenjata dan pertumpahan darah. Tidak jarang juga dimanfaatkan untuk menyerang pribadi Raden Patah, sebagai raja Islam pertama di Tanah Jawa, sebagai ‘anak durhaka’ yang telah menyerang ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya V. Seringkali juga digunakan untuk menyerang pribadi para ulama tanah Jawa, dalam majlis dakwah Walisanga, yang menjadi pendukung bagi Kesultanan Demak. Oleh karena itu pemaparan sejarah yangt bersifat demikian hendaknya segera dibenahi sebab dimuati sejumlah kepentingan dan motif tersembunyi, terutama dalam mendiskreditkan dan memarginalkan peran Islam di Tanah Jawa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">MAJAPAHIT, DEMAK, DAN KERUKUNAN AGAMA </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Berdasarkan kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke Indonesia pada tanggal 17 sampai 20 Maret 1963 di Medan, Islam telah masuk ke wilayah nusantara sejak Abad pertama hijriyah.</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> Bahkan upaya e</span><span lang="IN">kspedisi ke Nusantara telah dilakukan pada masa Abu Bakar Ash Shidiq dan dilanjutkan oleh khalifah-khalifah setelahnya.</span><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Berdasarkan literature China menjelang seperempat Abad VII telah berdiri perkampungan Arab muslim dipesisir Sumatra. Sedangkan di Jawa Penguasa Kalingga yang bernama Ratu Shima telah mengadakan korespondensi dengan Muawiyah Bin Abu Sufyan,</span><a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> salah seorang shahabat Nabi dan pendiri dinasti Umayyah.</span><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Akan tetapi karena terpaut jarak yang jauh, maka dakwah di pulau Jawa berjalan secara lamban. Namun demikian secara jelas Islam telah disebarkan di Pulau Jawa jauh sebelum berdirinya kerajaan Majapahit. Dengan demikian anggapan penulis Darmagandul, bahwa Islam berkembang di tanah Jawa adalah semata-mata karena ‘kebaikan’ Prabu Brawijaya,</span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> adalah tidak benar.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Dalam era kerajaan Majapahit beberapa pelabuhan telah ramai dikunjungi oleh saudagar-saudagar asing. Guna kepentingan komunikasi dengan saudagar asing maka pemerintah kerajaan Majapahit mengangkat sejumlah pegawai muslim sebagai sebagai pegawai pelabuhan atau syahbandar.</span><a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Alasannya, pegawai beragama Islam pada masa itu kebanyakan telah menguasai Bahasa asing terutama Bahasa Arab sehingga mampu berkomunikasi dan memberikan pelayanan kepada saudagar-saudagar asing yang kebanyakan beragama Islam.</span><a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Bahkan, jika menilik salah satu kompleks pemakaman Majapahit dapat digambarkan bahwa telah banyak bangsawan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam dan tetap mengabdi kepada pemerintahan. Ditengarai kerukunan agama juga nampak di sana.<span> </span>Denys Lombard mengungkapkan bahwa di Jawa Timur terdapat salah satu prasasti Arab tertua, yaitu parasasti Leran dari abad ke-11, ditambah pula adanya prasasti pada makam Malik Ibrahim, yang mungkin sekali adalah pedagang dari Gujarat. Prasasti itu berangka tahun 1419 dan terletak di Gresik, dekat Surabaya. Tetapi justru di situs ibu kota lama Majapahit sendiri-lah, di dekat kota Mojokerto sekarang, di pekuburan-pekuburan lama Trowulan dan terutama di Tralaya, L.-Ch. Damais telah menemukan makam-makam Islam yang paling menarik. Ada beberapa yang memuat teks suci pendek dalam Bahasa Arab, akan tetapi nama orang yang dikubur tidak pernah disebut (kecuali satu kali). Kalau disebut,perhitungannya menurut tarikh saka, kecuali satu kali menrut tarikh hijriah. Ada 3 makam dri abad ke-14 (1368, 1376, dan 1380 M) dan delapan dari Abad ke-15 (antara 1407 dan 1475), tetapi mungkin saja ada prasasti bertahun lain yang lolos dari penelitian di salah satu pekuburan di Jawa Timur. Di Trowulan terdapat makam yang pantas disebut secara khusus, karena menurut tradisi dianggap sebagai makam seorang Puteri Cempa, dan berangka tahun 1370 Saka, atau 1448/9 M.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dakwah Islam bukan hanya berkembang dikalangan rakyat jelata namun telah merambah kepada kalangan bangsawan Istana Majapahit. Sementara itu kerukunan antar agama terjadi pada masa itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Sementara itu dakwah Islam telah menjangkau masuk ke dalam lingkungan istana Majapahit dan berpengaruh terhadap para bangsawan. Para bangsawan yang telah menganut agama Islam, sebagaiannya pindah<span> </span>keluar istana menuju daerah pantai yang dikuasai oleh para bupati yang telah beragama Islam.</span><a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Alasannya adalah demi toleransi dan mendapatkan kemerdekaan beragama. Dengan semakin berkurangnya sejumlah bangsawan dilingkungan kerajaan dan didiringi dengan semakin banyaknya rakyat Majapahit yang memilih Islam maka bisa dipastikan kerajaan tersebut menjadi semakin lemah.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span lang="IN">SENJA KALA TAHTA MAJAPAHIT</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Jaman keemasan Majapahit digambarkan oleh banyak sejarawan terjadi pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk yang didampingi Patih Gajah Mada. Namun sepeninggal Patih Gajah Mada, Majapahit mengalami krisis kepemimpinan. Kaderisasi yang mengarah kepada penyiapan kepemimpinan generasi selanjutnya tidak berjalan dengan baik. Salah satu penyebabnya adalah kepemimpinan yang didasarkan kepada keturunan, bukan kepada keahlian. Kewibawan politik yang dihasilkan dari kekuatan pasukan perang merupakan<span> </span>faktor penentu masa kejayaan dan keemasan Majapahit. Pasca Gajah Mada, kekuatan wibawa kerajaan tersebut mulai melemah akibat berbagai perebutan kekuasaan dan intrik-intrik politik di dalamnya, sehingga menyebabkan melemahnya negara, dimana basis militer merupakan salah satu penopangnya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Pada masa Patih<span> </span>Gajah Mada hidup, kerajaan Hindhu Jawa ini diklaim hampir berhasil menguasai seluruh wilayah kepulauan Nusantara. Kerajaan Sriwijaya pada masa sebelumnya pun dianggap belum dapat melakukan proses penguasaan wilayah seluas itu.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Kejayaan Majapahit tersebut dibangun melalui peperangan dan penakhlukan atas wilayah yang melampaui pulau Jawa. Proses pencapaian kejayaan yang bersifat demikian sudah tentu memiliki sejumlah konsekuensi turunan. Kerajaan-kerajaan yang berada di wilayah Nusantara pada masa itu kebanyakan merupakan pemerintahan yang bersifat mandiri. Hal ini berarti kerajaan-kerajaan tersebut tidak pernah memposisikan dirinya sebagai negara jajahan, sebab hakikatnya masing-masing kerajaan adalah sebuah wujud dari negara yang merdeka. Pasca penaklukan yang dilakukan oleh Majapahit atas wilayahnya, maka posisi ‘merdeka’ ini telah berubah. Kerajaan-kerajaan lain tersebut pada akhirnya harus ‘rela’ menjadi negara takhlukan dari imperium Majapahit. Dengan kata lain, negara-negara taklukan tersebut yang menganggap Majapahit sebagai penjajah. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><em><span lang="IN">Babad Soengenep</span></em><span lang="IN">, misalnya, buku yang menceritakan tentang asal mula wilayah Sumenep di Madura ini, dengan jelas memaparkan kebencian masyarakat Soengenep terhadap kerajaan Majapahit. Buku ini menceritakan bagaimana proses penaklukan Majapahit atas <em>Soengenep</em> yang berdarah-darah dan bangkitnya pahlawan setempat yang bernama Kudapanole dalam melawan agresi militer Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Walaupun buku tersebut kemungkinan disusun pada era belakangan, namun semangat dari buku tersebut bukannya tidak memiliki akar yang kuat. Spirit yang digambarkan oleh babad tersebut adalah jiwa perlawanan yang kuat terhadap penjajahan dari negara lain. Sifat khas dari bangsa yang ingin memiliki kemerdekaannya sendiri. <span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Demikian juga cerita-cerita tentang penyerangan Gajah Mada ke beberapa wilayah di Sumatra yang menimbulkan kekejaman-kekejaman, berupa pembunuhan, penjarahan, dan pembakaran umumya hanya ditanggapi sebagai dongeng belaka.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Termasuk kisah tentang pemusnahan Kerajaan Silo di Simalungun oleh Tentara Majapahit.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Juga cerita yang mendasari Perang Bubat umumnya hanya dikomentari secara “biasa saja” oleh sejarawan. Perang Bubat ini merupakan sebuah kesalahan besar dalam diplomasi Majapahit. Dimana terjadi kesepakatan antara Maharaja Pajajaran untuk menikahkan putrinya dengan sang Prabu Hayamwuruk. Sang Maharaja Pajajaran kemudian mengantarkan putrinya hingga ke sebuah gelanggang yang bernama Bubat. Sesuai kebiasaan kuno, raja Sunda tersebut hendak menantikan kedatangan sang menantu untuk menjemput mempelainya.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Namun yang terjadi selanjutnya merupakan hal menyedihkan. Sejak awal Gajah Mada menganggap bahwa Pajajaran akan menjadi negeri taklukan Majapahit, sehingga proses pernikahan tidak terjadi namun justru berakhir dengan peperangan dengan kematian sang Maharaja Pajajaran. Sikap Gajah Mada yang berlaku demikian umumnya hanya disikapi secara ‘dingin’ oleh para sejarawan.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">H. J. Van Den Berg, Dr. H. Kroeskamp, dan I. P. Simandjoentak mencatat penyebab lain dari keruntuhan Majapahit adalah tidak loyalnya para pelaku ekonomi terhadap pemerintahan Majapahit. Dikatakan bahwa mata pencaharian utama rakyat Majapahit adalah bertani. Kaum petani ini umumnya memiliki loyaliyas yang tinggi terhadap Majapahit. Namun demikian golongan ini tidak memiliki akses untuk mempengaruhi kebijakan bahkan tidak mengetahui seluk beluk pemerintahan Majapahit. Golongan lain di luar kaum petani adalah orang-orang kaya dan kaum saudagar. Golongan tersebut umumnya memiliki pengaruh terhadap kehidupan perekonomian, namun justru merasa bahwa dirinya merdeka dari Majapahit. Sejak awal mereka telah merasa tidak tunduk terhadap pemerintahan Majapahit. Perceraian kedua golongan inilah, yaitu petani dan kaum saudagar atau orang kaya, yang dinilai sebagai salah satu penyebab kerutuhan Majapahit pada masa selanjutnya.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dukungan terhadap pemerintahan Kerajaan hanya ditopang oleh kesetiaan kaum petani. Loyalitas masyarakat petani inipun umumnya bukan didasarkan atas pengetahuan yang mendalam tentang hakikat pemerintahan kerajaan. Sedangkan kaum pedagang dan orang-orang kaya yang banyak mempengaruhi perekonomian justru berada pada pihak yang tidak loyal. Apalagi pasca rakyat kecil yang terdiri dari para petani ini, pada masa selanjutnya justru banyak diantara mereka yang menganut agama Islam, maka kekuatan pendukung Majapahit tersebut semakin berkurang dan wibawa kerajaan semakin menurun drastis.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Dr. W. B. Sidjabat memiliki<span> </span>analisa lain terkait penyebab keruntuhan Majapahit. Faktor penyebab tersebut antara lain adalah sering terjadinya banjir besar di sungai Berantas, salah satu sungai yang memiliki posisi strategis bagi pelayaran dan ekonomi Majapahit. Hal ini mengakibatkan perniagaan-perniagaan di Sungai Berantas terus berkurang. Lebih-lebih pasca meletusnya Gunung Kelud, Sungai Berantas menjadi dangkal akibat aliran lahar dan muaranya maju ke laut sehingga mengakibatkan pelayaran di Canggu berhenti sama sekali. Belum lagi perebutan mahkota Kerajaan turut memperlemah semua potensi Majapahit.<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Pada dasarnya Majapahit saat itu memang telah lemah secara politis akibat <em>Perang Paregreg</em> yang cukup lama dan menghabiskan banyak sumber daya. Perang tersebut merupakan perebutan tahta antara Suhita (putri dari Wikramawardana) dan Wirabumi (putra Hayam Wuruk). Pada tahun 1478 ini Dyah Kusuma Wardhani dan suaminya, Wikramawardhana, mengundurkan diri dari tahta Majapahit. Kemudian mereka digantikan oleh Suhita. Pada tahun 1479, Wirabumi, anak dari Hayam Wuruk, berusaha untuk menggulingkan kekuasaan sehingga pecah Perang Paregreg (1479-1484). Pemberontakan Wirabumi dapat dipadamkan namun karena hal itulah Majapahit menjadi lemah dan daerah-daerah kekuasaannya berusaha untuk memisahkan diri. Dengan demikian penyebab utama kemunduran Majapahit tersebut ditengarai disebabkan berbagai pemberontakan pasca pemerintahan Hayam Wuruk, melemahnya perekonomian, dan pengganti yang kurang cakap serta wibawa politik yang memudar.</span><a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling menyerang satu sama lain dan berebut mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Sehingga dengan demikian keruntuhan Majapahit pada masa itu dapat dikatakan tinggal menunggu waktu sebab sistem dan pondasi kerajaan telah mengalami pengeroposan dari dalam.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="IN">Dengan demikian faktor penyebab melemahnya Majapahit juga disebabkan makin pudarnya popularitas kerajaan Hindhu tersebut di mata rakyat. Keberadaan Majapahit telah tertutupi dengan munculnya kerajaan Demak yang dianggap membawa angin dan perubahan baru. Selain itu Demak juga semakin menguat setelah bersekutu dengan Surapringga (Surabaya), Tuban, dan Madura,</span><a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> dimana wilayah-wilayah tersebut sebelumnya merupakan daerah kekuasaan Majapahit. Dengan demikian tuduhan bahwa keruntuhan Majapahit akibat ‘digerogoti’ oleh ulama muslim dari dalam</span><a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> dan semata-mata karena penyerangan kerajaan Demak terbukti tidak benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Lantas mengapa sejarah negeri ini belum berpihak kepada umat Islam ? Terkait dengan keruntuhan Majapahit buku-buku pelajaran sejarah seringkali mengulang-ulang bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah serangan dari Kesultanan Islam Demak. Informasi tersebut biasanya hanya dikemukakan begitu saja tanpa memberikan informasi secara jelas mengapa Demak harus menyerang Majapahit. Sehingga pada akhirnya berdirinya Demak dianggap sebagai sebuah produk ekspansi dalam penebaran ajaran Islam di Tanah Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">SERANGAN GIRINDRAWARDHANA, FAKTOR UTAMA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Prof. Dr. N. J. Krom dalam buku “<em>Javaansche Geschiedenis</em>” menolak anggapan bahwa pihak yang telah menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V (Kertabhumi) adalah Demak. Tetapi, menurut Prof. Krom serangan yang dianggap menewaskan Prabu Brawijaya V tersebut dilakukan oleh Prabu Girindrawardhana. Demikian juga Prof. Moh. Yamin dalam buku “<em>Gajah Mada</em>” menjelaskan bahwa raja Kertabhumi atau Brawijaya V tewas dalam keraton yang diserang oleh Prabu Rana Wijaya dari Keling atau Kediri.<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Prabu Rana Wijaya yang dimaksud adalah nama lain dari Prabu Girindrawardhana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Teori penyerangan Prabu Girindrawardhana terhadap Majapahit ini ditolak oleh Prof. Dr. Slamet Muljana. Menurut Muljana, nama Girindrawardhana ditemukan pada prasasti Jiyu 1408 tahun Saka atau 1486 M, delapan tahun setelah tahun yang dianggap sebagai masa keruntuhan Majapahit akibat serangan Demak. Muljana lantas menghubungkannya dengan kronik Cina yang berasal dari kuil Sam Po Kong di Semarang. Muljana menyatakan bahwa seorang menantu Kertabhumi menjadi bawahan Demak dan harus membayar upeti. Tarikh tahun yang digunakan adalah 1488. Tokoh yang dimaksud dalam kronik Tionghoa disebutkan dengan nama Pa Bu Ta La. Slamet Muljana berspekulasi bahwa Pa Bu Ta La yang dimaksud adalah Girindrawardhana, sebab menurutnya kata “Ta La” adalah transkripsi dari <em>dra</em> sebagai unsur nama Girindrawardhana.<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dari analisa ini maka ditarik kesimpulan bahwa Girindrawardhana tidak mungkin menyerang kepada Majapahit sebab justru Girindrawardhana justru tunduk kepada Demak. Menurut Muljana, Demaklah yang menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Bagaimana pun analisa Prof. Dr. Slamet Muljana tersebut membingungkan dan terlalu spekulatif. Seolah hal tersebut tidak membuka kemungkinan lain terhadap pemaknaan sejarah. <strong>Pertama</strong>, Muljana, menggunakan angka tahun 1486 sebagai tahun yang dianggap sebagai keberadaan Girindrawardhana pasca runtuhnya Majapahit. Padahal tahun 1468 M tersebut lebih merupakan tahun dari prasasti Jiyu, bukannya manifestasi keberadaan Girindrawardhana. Sudah tentu penulisan tentang Girindrawardhana bisa saja ditulis pada masa-masa selanjutnya. <strong>Kedua</strong>, menghubungkan antara kata “Ta La” dengan <em>dra</em> sebagai unsur nama Girindrawardhana adalah bentuk spekulasi yang berlebihan. Metode <em>otak-atik gathuk</em> seperti ini rasanya terlalu riskan digunakan sebagai cara pemaknaan terhadap sejarah. Justru dengan membuka diri terhadap kemungkinan lain maka akan ditemukan jawaban yang lebih rasional. Misalnya dengan menghubungkan nama “ Pa Bu Ta La ” dengan Prabu Udara (Brawijaya VII) maka justru menghasilkan analisa yang lebih baik. Coba perhatikan bahwa kata “Ta La” lebih sesuai dengan kata “dara” sebagai unsur nama “Prabu Udara”. Demikian juga kata “Pa Bu” adalah unsur yang mewakili kata <em>Prabu</em>. Cara kedua ini diakui juga bersifat spekulatif, namun jelas lebih rasional dibandingkan cara yang sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Lantas siapakah Prabu Udara yang dimaksud ? Pasca serangan Girindrawardhana atas Majapahit pada tahun 1478 M, Girindrawardhana kemudian mengangkat dirinya menjadi raja Majapahit bergelar Prabu Girindrawardhana atau Brawijaya VI. Raden Patah mencoba menuntut haknya atas tahta Majapahit. Namun upaya tersebut nampaknya kurang berhasil. Justru kemudian Girindrawardhana terbunuh oleh patihnya sendiri yang bernama Patih Udara. Patih Udara sendiri kemudian menggantikan Girindrawardhana menjadi raja Majapahit dengan nama Prabu Udara atau Brawijaya VII.<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dengan demikian serangan Demak atas Majapahit bukan terjadi pada masa Prabu Kertabhumi atau Brawijaya V, ayah Raden Patah. Namun terjadi pada masa Prabu Brawijaya VI atau Girindrawardhana dan Brawijaya VII atau Prabu Udara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Pasca perebutan kekuasaan di Majapahit antara Patih Udara dan Girindrawardhana dengan hasil akhir kemenangan atas Patih Udara tersebut. Patih Udara yang kemudian menggunakan gelar Prabu Udara atau Brawijaya VII tersebut justru merasa was-was terancam kekuasaannya disebabkan Kesultanan Demak yang semakin menguat. Beberapa catatan menyebutkan bahwa Raden Patah sendiri membiarkan saja Majapahit berdiri di bawah pimpinan Prabu Udara. Catatan lain menyebutkan bahwa Prabu Udara telah tunduk kepada Kesultanan Demak. Namun yang terjadi kemudian, kekhawatiran Prabu Udara akan kehilangan kekuasaan telah memuncak dan kemudian meminta bantuan kepada Portugis di Malaka. Sejarah mencatat bahwa Prabu Udara atau Brawijaya VII mengirim utusan kepada Alfonso d’Albuquerque dengan membawa hadiah berupa 20 buah genta, sepotong kain panjang tenunan Kambayat, 13 buah lembing, dan sebagainya. Melihat gelagat yang kurang baik inilah maka kemudian tentara Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Adipati Yunus (Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor) menyerang Portugis di Malaka dan sekaligus Majapahit di bawah kepemimpinan Prabu Udara untuk membubarkan persepakatan gelap yang terjadi.<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Seandainya saja Majapahit tidak diserang pada masa Prabu Udara tersebut maka dapat dipastikan bahwa Portugis akan menjajah tanah Jawa lebih cepat dari masa agresi Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Terlebih lagi, Prof. Dr. Slamet Muljana menyebutkan bahwa penyerangan Demak atas Prabu Girindrawardhana di Majapahit terjadi pada tahun 1517 M.<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hal ini semakin menunjukkan bahwa analisa yang digunakan oleh Muljana adalah lemah. Sebab masa pemerintahan Prabu Girindrawardhana hanya berlangsung antara tahun 1478 sampai 1489 M.<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Tahun 1489 M tersebut merupakan tahun terbunuhnya Girindrawarhana oleh Patih Udara yang kemudian menggantikannya sebagai raja Majapahit dengan gelar Prabu Udara. Dengan demikian serangan Demak atas Girindrawardhana di Majapahit, sebagaimana dikemukakan oleh Slamet Muljana, dapat dipastikan hanya merupakan kesalahan analisa semata. Sebab pada tahun 1517 tersebut Girindrawardhana telah mati jauh-jauh hari sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Ada pun yang lebih masuk akal adalah serangan Demak itu terjadi pada masa Pemerintahan Prabu Udara yang berkuasa antara tahun 1489 sampai 1518.<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Motifnya, jelas upaya untuk mempertahankan kehormatan Islam dan mengambil kembali tahta Majapahit yang merupakan hak sepenuhnya dari sultan Demak. Hal ini juga menguatkan bahwa Pa Bu Ta La dalam kronik Tionghoa di kuil Sam Po Kong bukanlah transkripsi dari nama Girindrawardhana melainkan lebih sesuai sebagai nama dari Prabu Udara atau Brawijaya VII. Oleh karena itu analisa Samet Muljana sebagai penyebab keruntuhan Majapahit pada masa Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) <span> </span>adalah tidak terbukti. Dengan demikian, jika sejarah menulis bahwa penyebab keruntuhan Majapahit adalah karena serangan dari Demak dan tanpa dierangkan lebih lanjut tentang faktor-faktor penyebabnya yang melatarbelakanginya maka hal ini jelas merupakan paparan yang tidak netral dan berusaha menyembunyikan fakta yang urgen. Dengan kata lain jelas memiliki sejumlah motif dan kepentingan tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Awalnya, informasi bahwa keruntuhan Majapahit disebabkan oleh serangan Demak, dapat ditelusur, hanya merupakan akibat kesalahpahaman semata. De Graf, mencatat bahwa nama Girindrawardhana yang menyerang Majapahit dan merebut kekuasaan Prabu Brawijaya V, seringkali disalah pahami merupakan sosok yang sama dengan tokoh Sunan Giri, seorang ulama muslim anggota Walisanga.<a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Muhammad Yamin, seorang tokoh Indonesia yang dikenal sebagai <em>Majapahit-sentris</em>. Muhammad Yamin menyatakan bahwa nama “Giri” dalam beberapa <em>babad</em> yang menceritakan tentang keruntuhan Majapahit merupakan nama seorang penganut Hindhu, yang tidak lain adalah Girindrawardhana. Pengarang babad, dalam pernyataan Mohammad Yamin, umumnya telah mencampuradukkan antara nama Girindrawardhana dan Sunan Giri.<a name="_ftnref28" href="#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[28]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Padahal kedua nama tersebut adalah tokoh yang berbeda. Dari sinilah maka kesalahpahaman tersebut berlanjut, bahwa Majapahit runtuh akibat serangan Demak. Bahkan terkesan bahwa ada upaya untuk memelihara kesalahpahaman tersebut tanpa memberikan koreksi terhadap pelajaran Sejarah di Indonesia terutama di tingkat Sekolah Menengah ke bawah. Hal ini jelas merupakan indikasi kuat bahwa sebuah kepentingan sedang bermain untuk pencitraan negatif terhadap Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">PENUTUP</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Dengan demikian dapat diketahui bahwa awalnya, cerita tentang penyerangan yang dilakukan oleh Demak terhadap Majapahit, awalnya terjadi karena kesalahan pandangan dari para penulis cerita babad. Kesalahan ini terjadi akibat menganggap sama dua tokoh yang sebetulnya berbeda, yaitu Girindrawardhana dan Sunan Giri. Tidak jarang, sejarawan memanfaatkan cerita babad ini sebagai bahan pendukung analisa sejarah. Terkait bahwa cerita dari babad tidak memiliki akurasi yang tinggi dalam penggambaran sejarah, telah banyak diketahui. Oleh karena itu usaha memelihara “sejarah” dari hasil pandangan yang kurang benar, jelas merupakan upaya yang sarat kepentingan untuk mendiskreditkan Islam.</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--><br />
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"><span> </span>Panitia Seminar. <em>Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia</em>. (Panitia Seminar, Medan, 1963). Hal. 265</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"><span> </span>Herry Nurdi. <em>Risalah Islam Nusantara</em>. (Sabili Edisi Khusus : <em>Sejarah Emas Muslim Indonesia</em>, No. 9 Th. X, 2003). Hal. 9</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"><span> </span>Prof. DR. Hamka. <em>Sejarah Umat Islam</em>. Cetakan V. (Pustaka Nasional Pte Ltd, Singapore, 2005).Hal. 671-672</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"><span> </span>A. Latif Osman. <em>Ringkasan Sejarah Islam.</em> Cetakan XXIX. (Penerbit Widjaya, Jakarta, 1992). Hal. 77</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IT"><span> </span>Noname. <em>Darmagandul</em>. Penerbit Sadoe Budi &#8230; <em>Opcit</em>. Hal. 48</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IT"><span> </span>Prof. Dr. Abubakar Aceh. <em>Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawwuf</em>. Cetakan IV. (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 370</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IT"><span> </span>Prof. Dr. Abubakar Aceh. <em>Sejarah Al Quran</em>. Cetakan VI. (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 325</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span><span lang="IN">Denys Lombard. <em>Nusa Jawa : Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu</em>. Bagian II : <em>Jaringan Asia</em>. Cetakan III. (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005). Hal. 34</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"><span> </span>Drs. Sentot D. Tj. <em>Sejarah Nasional dan Dunia</em>. (Prima Offset, Wonogiri, tth). Hal. 57</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Alwi Shihab. <em>Membendung Arus : Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia</em>. (Penerbit Mizan, Jakarta, 1998). Hal. 22</p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Es Danar Pangeran. <em>Menggali Sejarah Madura Lewat Babad Soengenep (8) : Kudapanole Menaklukkan Blambangan</em>. Tabloid POSMO Edisi 44 Tahun I/ 2000. Hal. 15</p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span lang="IN">Lihat misalnya tulisan Prof. Dr. Slamet Muljana. <em>Runtuhnya Kerajaan Hindu – Jawa dan Timbulnya Negara – negara Islam di Nusantara</em>. Cetakan VI. PT LKiS Pelangi Aksara, Yogyakarta, 2008). Hal. 139 -140 </span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Prof. Dr. Slamet Muljana. <em>Ibid</em>. Hal. 14 dan 19</span></span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Terkait dengan perang Bubat lihat H. J. Van Den Berg, Dr. H. Kroeskamp, I. P. Simandjoentak. <em>Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia</em>. Jilid I : <em>India, Tiongkok, dan Djepang, Indonesia</em>. Cetakan II. (J. B. Wolters, Jakarta – Groningen, 1952). Hal. 367-368</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">H. J. Van Den Berg, et. all. <em>Dari Panggung&#8230;.Ibid</em>. Hal. 365-366</span></span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Lihat artikel Dr. W. B. Sidjabat.<span> </span><em>Latar Belakang Sosial dan Kultural dari Geredja-geredja Kristen di Indonesia</em>. Dalam Dr. W. B. Sidjabat (ed.). et. all. <em>Panggilan Kita di Indonesia Dewasa ini</em>. (Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1964). Hal. 20 &#8211; 21</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> H. Soekama Karya., et all. <em>Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam</em>. (Logos, Jakarta, 1996). Hal. 364</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Prof. Abu Bakar Aceh. <em>Sejarah Al Quran</em>. (Ramadhani, Surakarta, 1989). </span><span lang="SV">Hal. 234-235.</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"><span> </span>Buku Darmagandul menggambarkan bahwa para ulama adalah seperti tikus yang merusak dari dalam. </span><span lang="FI">Mereka meminta jabatan kepada raja Majapahit dan pasca itu kemudian merusak kerajaan dari dalam. Lihat Noname. <em>Darmagandul</em>. Penerbit Sadoe Budi &#8230; <em><span> </span>Opcit</em>. Hal. 46-47</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="FI"> Umar Hasyim. <em>Sunan Giri dan Pemerintahan Ulama di Giri Kedaton</em>. (Penerbit Menara, Kudus, 1979). Hal. 88 &#8211; 89 </span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="FI"> Prof. Dr. Slamet Muljana. <em>Runtuhnya &#8230; Opcit</em>. Hal. 107 </span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="FI"> Sholichin Salam. Sekitar Walisanga. (Menara Kudus, Kudus, 1960). Hal. 13</span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span><span lang="IN">MB. Rahimsyah. <em>Legenda dan Sejarah Lengkap Walisongo</em>. (Amanah, Surabaya, tth). Hal. 50. Tulisan lain mencatat bahwa alasan penyerangan Demak (dipimpin Adipati Yunus) ke Majapahit (masa Girindrawardhana) adalah sebagai serangan balasan terhadap Girindrawardhana yang telah mengalahkan kakek Adipati Yunus, yaitu Bhre Kertabumi (Prabu Brawijaya V). Lihat Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. <em>Sejarah Nasional Indonesia</em>. Jilid II. Cetakan V. (PN. Balai Pustaka, Jakarta, 1984). Hal. 451 </span></p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Prof. Dr. Slamet Muljana. <em>Runtuhnya &#8230; Opcit</em>. Hal. 108</span></span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Sholichin Salam. <em>Sekitar … Opcit</em>. Hal. 13</span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Sholichin Salam. <em>Sekitar &#8230; Ibid</em>. Hal. 13. Berita dari Duarte Barbarosa yang berasal dari tahun 1518, menyebutkan bahwa Jawa masih dikuasai kerajaan kafir yang dipimpin Patih Udra. Lihat Marwati Djoenoed Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto. <em>Sejarah Nasional Indonesia</em>. Jilid II. &#8230; Hal. 449 </span></span></p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">De Graf dalam kutipan Prof. Dr. Rasjidi. <em>Faham Tentang Islam &#8230;Opcit</em>. Hal. 15</span></span></p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[28]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"> Lihat Muhammad Yamin. <em>Gajah Mada : Pahlawa</em></span><em><span lang="FI">n Persatuan Nusantara</span></em><span lang="FI">. Cetakan IX. (PN. Balai Pustaka, Jakarta, 1977). Hal. 89</span></p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=121&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2009/04/26/senja-kala-majapahit-dan-fitnah-terhadap-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROF. DR. H. M. RASJIDI, GARDA DEPAN MUSLIM INDONESIA</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2009/03/17/prof-dr-h-m-rasjidi-garda-depan-muslim-indonesia/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2009/03/17/prof-dr-h-m-rasjidi-garda-depan-muslim-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 02:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Kebatinan]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Kristenisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Agama]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[PROFIL PROF. DR. H. M. RASJIDI

Prof. DR. Rasjidi (baca : Rasyidi, ejaan lama) merupakan salah satu tokoh Islam yang memiliki kepedulian dengan urusan kehidupan umat Islam terutama akibat  pendangkalan iman akibat pengaruh aliran kebatinan maupun usaha kristenisasi. Prof. Rasjidi, selanjutnya disebut demikian, lahir di Kotagede, Yogyakarta, pada 20 Mei 1915 atau 4 Rajab 1333 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=112&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify"><strong>PROFIL PROF. DR. H. M. RASJIDI</strong></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 97px"><img title="Prof. Dr. H. M. Rasjidi" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/e/e5/Rasjidi.jpg" alt="Prof. Dr. H. M. Rasjidi" width="87" height="116" /><p class="wp-caption-text">Prof. Dr. H. M. Rasjidi</p></div>
<p>Prof. DR. Rasjidi (baca : Rasyidi, <span lang="id-ID"><em>ejaan lama</em></span><span lang="id-ID">) merupakan salah satu tokoh Islam yang memiliki kepedulian dengan urusan kehidupan umat Islam terutama akibat  pendangkalan iman akibat pengaruh aliran kebatinan maupun usaha kristenisasi. Prof. Rasjidi, selanjutnya disebut demikian, lahir di Kotagede, Yogyakarta, pada 20 Mei 1915 atau 4 Rajab 1333 H. Wafat 30 Januari 2001. Nama kecilnya adalah Saridi namun setelah menjadi murid Ahmad Syurkati, pimpinan Al-Irsyad, sebelum lulus dari pelajarannya Saridi diberi nama baru oleh Ahmad Syurkati sebagai “Muhammad Rasjidi”. Namun nama baru tersebut secara resmi baru dipakai oleh  Saridi pasca menunaikan ibadah haji, beberapa tahun kemudian.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> <span id="more-112"></span>Beliau lahir dalam sebuah lingkungan Jawa yang kental dengan nuansa keislaman. Namun demikian praktik-praktik kebatinan masih nampak dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya di masa kecil. Bahkan pada masa selanjutnya beliau mengakui bahwa dirinya berasal dari latar belakang “keluarga abangan” yaitu penganut agama Islam namun tidak melakukan ibadah Islam dalam kesehariannya sebagaimana mestinya.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> Keluarganya bernaung di rumah Joglo tempat beliau dibesarkan yang pada hari-hari tertentu tidak melewatkan adanya pemasangan sesaji.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></span></sup></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Tidak jauh dari rumah Prof. Rasjidi kecil, hanya berjarak beberapa ratus meter, terdapat masjid dan makam Panembahan Senopati dan Ki Ageng Pemanahan serta beberapa sumber air pemandian yang jarang sepi dari praktik-praktik mistik kejawen. Banyak ditemukan rakyat jelata yang mempersembahkan sesaji kepada penunggu tempat-tempat tersebut seraya mengharapkan berkah tertentu seperti kekayaan, keberuntungan, lekas mendapat jodoh, dan lain sebagainya.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> Meskipun hidup dalam lingkungan yang demikian namun pada akhirnya Rasjidi menyadari bahwa dirinya membutuhkan asupan rohani yang bersifat keagamaan. Kesadarannya akan Islam kemudian terbentuk menjadi pandangan hidupnya.</span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Umumnya, masyarakat Indonesia mengenal sosok Rasjidi sebagai Menteri Agama pertama di Indonesia. Akan tetapi sebenarnya, Rasjdi sebelumnya pernah menjabat sebagai menteri negara yang mengurusi permasalahan umat Islam pada kabinet Syahrir I (14 Nopember 1945 – 12 Maret 1946). Ia diangkat menggantikan Wahid Hasjim sebagai menteri agama pada kabinet seblumnya, yaitu Kabinet Presidensil I yang berusia cukup singkat (2 September 1945 – 14 Nopember 1945) di bawah pemerintahan Presiden Soekarno.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> Rasjid pernah diangkat menjadi sekretaris misi Diplomatik RI yang dipimpin oleh KH. Agus Salim ke beberapa negara Arab dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan memperoleh pengakuan dari negara lain sebagai negara merdeka dan berdaulat. Adapun jabatan yang penah diduduki Rasjidi lainnya adalah sebagai berikut :</span></p>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Guru pada Islamitische 	Middelbaare School (Pesantren Luhur),  Surakarta (1939-1941) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Pegawai Departemen P &amp; K di 	zaman Jepang</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Pegawai RRI Jakarta, siaran luar 	negeri ; Menteri Agama Kabinet Sjahrir (1946)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Sekretaris, kemudian ketua 	delegasi diplomatik RI ke negara- negara Arab (1947-1949)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Dubes RI di Mesir dan Arab 	(1950-1951)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Dubes RI di Pakistan (1956-1958)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Associate Professor pada Institut 	Studi Islam, Universitas McGill, Kanada (1959)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Direktur Islamic Center, 	Washington, AS</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Guru Besar Fakultas Hukum 	Universitas Indonesia</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Direktur kantor Rabitah Alam 	Islami, Jakarta</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Anggota PP Muhammadiyah</p>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Anggota Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat</li>
</ul>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID"><strong>ISTIQOMAH</strong></span><span lang="id-ID"><strong> DALAM IDEALISME</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID"> Sikap istiqomah yang ditunjukkan Rasjidi terhadap Islam antara lain juga terkait dengan permasalahan Kristenisasi yang terjadi di wilayah Nusantara. Salah satunya dibuktikan dengan laporannya dalam dialog dakwah Islam dan missi Kristen Internasional  yang disebut konferensi Chambesy pada 1976. Rasjidi mengungkapkan, pada era antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II, penjajahan kolonial Barat atas negeri-negeri Islam biasanya diringi dengan pengenalan agama Kristen, baik secara terbuka maupun tersembunyi dengan pola tenaga kolonial. Bahkan, menurut Rasjidi, dengan cara mengganggu dan memaksa. Salah satu peraturan VOC yang menggariskan tujuan perusahaan menyebutkan bahwa penyebaran agama Kristen merupakan agenda yang harus dijalankan. Perintah perusahaan dagang Belanda itu salah satunya menyebutkan bahwa Gubernur Jenderal Jean Pieterzon Coen harus mensuplay perlengkapan yang dibutuhkan bagi penyebaran agama Kristen.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> Promosi tentang Kristen merupakan salah satu upaya kolonial dalam menggalang kekuatan dan dukungan yang berasal dari pribumi nusantara, namun tujuan utamanya tidak beranjak dari kepentingan ekspolitasi ekonomi dan politik.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID"> Prof. Dr. H. M. Rasjidi juga menjelaskan situasi Indonesia dalam Konferensi Chambesy tersebut. Makalahnya menjelaskan kondisi sesungguhnya tentang penyalahgunaan pelayanan dan kelembagaan Kristen dalam menjalankan missinya. Hal ini perlu disampaikan oleh Rasjidi agar mendapatkan pemecahan dalam konferensi Internasional yang menghadirkan tokoh-tokoh dari agama Islam dan Kristen tersebut. Rasjidi menyebutkan fenomena pembangunan gereja sampai pelosok pedesaan dimana mayoritas penduduknya adalah muslim, pelayanan sosial yang pada akhirnya mengarah pada usaha mengkristenkan warga muslim, sistem orang tua angkat (</span><span lang="id-ID"><em>Foster Parents</em></span><span lang="id-ID">) bagi anak-anak muslim yang kemudian disalahgunakan sebagai pintu penyebaran agama, pengangkapan guru-guru agama muslim oleh petugas Kristen, praktik pelarangan beribadah shalat terhadap siswa-siswa muslim di sekolah-sekolah Kristen, pemanfaatan agenda transmigrasi untuk penginjilan, dan lain sebagainya.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> Mengingat posisi Rasjidi pada masa itu merupakan mantan Menteri Agama RI, yang biasanya pada beberapa politikus lainnya selalu menjaga sifat </span><span lang="id-ID"><em>low profile</em></span><span lang="id-ID">, maka apa yang disampaikan oleh Rasjidi dalam Konferensi Chambesy tersebut menunjukkan bahwa semangat pembelaannya terhadap Islam adalah tinggi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID"> Sebagaimana telah diungkapkan di awal, Prof. Dr. H. M. Rasjidi pada masa kecilnya hidup dlam nuansa masyarakat yang ental dengan kebatinan Jawa. Namun perjalanan kehidupan telah membawa dirinya mampu memahami Islam dan bagaimana seharusnya bersikap proporsional dalam memandang kebatinan. Maka tidak mengherankan jika kemudian, sikap Prof. Dr. Rasjidi terhadap kebatinan cukup tegas.  Sikap ini dibuktikan oleh Prof. Dr. Rasjidi, salah dalam menyikapi Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1973. Beliau menganggap dicantumkannya aliran kepercayaan dalam GBHN tersebut merupakan sebuah kesalahan besar. Rasjidi menganggap Menteri Agama yang menjabat pada waktu itu yaitu Prof. Dr. Mukti Ali adalah orang yang paling bertanggung jawab atas lolosnya isu aliran kebatinan masuk ke dalam GBHN dan Penghayatan Pancasila. Bahkan Mukti Ali telah dianggap memelintir sejumlah memelintir sejumlah tulisan Rasjidi dalam memperkuat argumentasi agar aliran kebatinan lolos masuk dalam GBHN. Pernyataan Rasjidi tersebut terdapat dalam tulisannya berjudul “Islam dan Kebatinan” yang antara lain menyebutkan bahwa timbulnya aliran kepercayaan itu adalah karena penganutnya tidak mendapatkan kepuasan rohani dari muballigh Islam. Penganut kepercayaan yang sebagaian besar mengaku beragama Islam itu kemudian mencari kepuasan sendiri lewat aliran kepercayaan itu.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></span></sup></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID"> Berdasarkan berita Suara Karya edisi Senin 14 Nopember 1977, Prof. Dr. Mukti Ali melihat “ketidakrelaan” umat Islam atas penerimaan aliran kebatinan masuk dalam GBHN dan Penghayatan Pancasila, kemudian menyatakan pendapatnya secara diplomatis bahwa jika umat Islam memiliki rasa dengki terhadap suatu kelompok maka mustahil kelompok tersebut akan bersimpati. Lebih baik, menurut Mukti Ali, adalah mengajak aliran kebatinan tersebut kembali ke agama adalah dengan cara simpatik dan penuh hikmah kebijaksanaan. Sifat kebencian tidak akan menolong.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">Membaca pembelan diri yang dilakukan oleh Mukti Ali tersebut, Prof. Dr. Rasjidi merasa dipermainkan. Sebab apa yang dimaksudkan oleh Rasjidi dalam tulisannya tidak sebagaimana penafsiran yang dilakukan oleh Mukti Ali yang dianggapnya sarat kepentingan. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Dr. Rasjidi sebagai berikut :</p>
<p style="margin-left:1.27cm;margin-right:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="margin-left:1.27cm;margin-right:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">“ <span lang="id-ID">Saya merasa dipermainkan, karena ia mengutip hal yang tidak relevant dari karangan saya. Kalau ia membaca seluruh buku “ Islam dan Kebatinan “ serta buku “ Di Sekitar Kebatinan “ niscaya ia tidak menganggap mudah untuk menyebut nama saya dalam pernyataannya. Ibarat menteri agama dalam menyebut nama saya dan buku Islam dan Kebatinan adalah seperti orang yang mengatakan : Allah melarang sembahyang karena dalam Al Quran disebutkan : “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sembahyang “, sedang bagian ayat yang seterusnya tidak disebutkan yaitu : “ ketika kamu sedang mabuk “ dan seterusnya.“</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"><sup>10</sup></a></span></sup></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify"><strong> </strong></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">Lantas, mengapa sikap Prof. Dr. H. M. Rasjidi sedemikian tegas terhadap eksistensi kebatinan ? Umumnya kaum kebatinan Jawa, meskipun mereka belum menjalankan syariat atau bahkan memusuhinya namun hakikatnya mereka adalah penganut Islam pula. Seringkali posisi dan identitas mereka disalahpahami sebagai bukan muslim oleh umat agama lain. Penganut agama lain sering menganggap bahwa yang dimaksud dengan umat Islam adalah manusia yang menjalankan syariat Islam secara menyeluruh. Sementara umat Islam yang awam termasuk di dalamnya apa yang disebut kaum ‘abangan’ adalah wilayah di luar Islam yang dapat diperebutkan. Dari sinilah seringkali pembenaran terhadap upaya-upaya penyebaran agama lain kepada kaum muslimin berlangsung.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Dalam sebuah pertemuan periodik ormas-ormas kebatinan, kejiwaan, dan kerohanian yang dikoordinatori oleh PAKEM (Pengawas Aliran-aliran Kepercayaan Masyarakat) pada 19 Januari 1967 bertempat di gedung Lembaga Administrasi Negara di Jakarta, Prof. Dr. H. M. Rasjidi diundang oleh Kejaksaan Tinggi Jakarta Raya untuk memberikan ceramahnya. Makalah ceramah Rasjidi tentang “</span><span lang="id-ID"><em>Mencari Pegangan Hidup untuk Individu dan Masyarakat</em></span><span lang="id-ID">” tersebut dianggap bernilai tinggi oleh Penerbit Bulan Bintang dan dibukukan pertama kali dengan judul “Islam dan Kebatinan” pada tahun 1967 itu juga.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a></span></sup></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Sikap tegas dalam pembelaan terhadap Islam juga ditunjukkan Rasjidi ketika menjawab pemikiran Harun Nasution dalam buku “</span><span lang="id-ID"><em>Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya</em></span><span lang="id-ID">” yang dinilai sangat liberal. Rasjidi kemudian mengeluarkan bantahannya pula dalam bukunya yang secara khusus menjawab pemikiran Harun Nasution, yaitu buku bertitle </span><span lang="id-ID"><em>Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution tentang “Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya”</em></span><span lang="id-ID">. Demikian juga kritiknya terhadap konsep sekulerisasi Nurcholis Madjid dalam bukunya </span><span lang="id-ID"><em>Koreksi terhadap Drs. Nurcholis(h) Madjid tentang Sekularisasi</em></span><span lang="id-ID">. Sikap kritis Rasjidi ternyata bukan hanya ditujukan bagi cendekiawan muslim yang dianggapnya ‘melenceng’, namun juga terhadap pemikiran tokoh agama lain. Dalam diskursus RUU Peradilan Agama (RUUPA) misalnya, beberapa tokoh Katholik menyuarakan isu-isu miring seputar pembahasan rancangan Undang-undang tersebut, diantaranya adalah tokoh Serikat Jesuit, Franz Magnis Suseno SJ. Franz Magnis Suseno mengungkapkan bahwa jika RUUPA tersebut disahkan maka sebagian dari Materi peradilan dalam masyarakat Indonesia akan diserahkan dari tangan negara kepada badan-badan non negara. Sebenarnya pemikiran Franz Magnis Suseno ini lebih banyak didasarkan pada sikap antipati-nya terhadap ajaran Islam yang diduganya terdapat dalam RUUPA. Rasjidi, membantah wacana yang dilontarakan oleh Franz Magnis Suseno tersebut. Menurut UU No. 14 tahun 1970 yaitu undang-undang tentang pokok kekuasaan kehakiman, Indonesia memiliki empat lingkungan peradilan yaitu peradilan umum yang dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri, dan tiga peradilan khusus yaitu peradilan militer, peradilan tata usaha, dan peradilan agama. Dengan demikian pengesahan RUUPA menjadi UUPA memiliki landasan hukum yang kuat. Rasjidi menilai pemikiran Franz Magnis Suseno sebagai </span><span lang="id-ID"><em>sophist,</em></span><sup><span lang="id-ID"><em><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote12anc" href="#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a></em></span></sup><span lang="id-ID"> artinya hanya mengandalkan argumentasi buatan yang tidak memliki dasar kebenaran. Bahkan, menurut Rasjidi, sikap dan pemikiran Magnis dalam tulisannya di Harian Kompas Jumat 16 Juni 1989, dinilai  terlalu alergik dengan kata ‘agama’, sebagaimana sikap umum yang biasa ditunjukkan oleh penganut paham marxis, hanya demi mempertahankan argumentasinya.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"><sup>13</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Hanya saja, Prof. Dr. Rasjidi juga memiliki sikap yang dinilai kontroversial oleh kalangan muslim Indonesia terkait pembelaannya terhadap eksistensi Snouck Hurgronje. Dalam pandangan Rasjidi, sosok Snouck</span><span lang="id-ID"> adalah teman kaum muslimin Indonesia dalam memberikan sumbangan terhadap kemajuan Islam. Sikap yang dibangun Rasjidi ini bukan tanpa dasar. Hal ini berawal dari tulisan Snouck Hurgrinje yang menyatakan bahwa meskipun Kristianitas telah memiliki sejarah panjang di Eropa, masih banyak orang Eropa yang menyembah patung. Lebih jauh mereka tidak pernah membaca Injil, bodoh, dan percaya takhayul. Konsekuensinya mereka tidak layak mengajak orang lain masuk ke dalam agama mereka. Hal inilah, yang menurut Rasjidi, dapat dikatakan bahwa Snouck adalah pembela Islam dari missionaris yang terus menerus memurtadkan penganut Islam.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote14anc" href="#sdfootnote14sym"><sup>14</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> Jelas sikap ini terbangun dari ketidakpahaman Rasjidi terhadap sejarah yang terkait dengan Snouck Hurgronje. Snouck sendiri merupakan tokoh yang merestui Kristenisasi  di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Bahkan dari hasil pemikiran Snouck inilah, pemerintah kolonial Belanda membentuk badan khusus yang mengurusi umat Islam dimana salah satu programnya adalah Kristensisasi.</span><sup><span lang="id-ID"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote15anc" href="#sdfootnote15sym"><sup>15</sup></a></span></sup><span lang="id-ID"> Namun demikian sikap Rasjidi yang demikian dapat dinilai wajar mengingat kelihaian Snouck Hurgronje sendiri. Jangankan Rasjidi, keluarga Snouck Hurgronje sendiri pernah mengalami kebingungan pada saat Snouck meninggal dunia yaitu apakah Snouck Hurgronje akan dimakamkan secara Islami atau menurut adat Kristen. Kebingungan tersebut nampaknya cukup kuat dalam menilai Snouck antara sebagai penganut Islam atau penagnut Kristianitas, walaupun akhirnya keluarga memutuskan untuk memilih prosesi pemakaman Snouck Hurgronje dilakukan secara Kristani.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID"><strong> </strong></span><span lang="id-ID">Seorang juru dakwah adalah tetap pada tugasnya sebagai seorang penyeru meskipun telah memiliki amanah yang lain. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Prof. Dr. Rasjidi kepada generasi muda muslim sepeninggalnya. Walaupun dia adalah mantan menteri agama, mantan pejabat penting, dan sekaligus seorang akademisi namun sikapnya tetap tidak berubah terhadap perjuangan Islam. Dia tetap tegar dan tidak merasa segan mempertahankan sikapnya dalam pembelaan terhadap Islam termasuk melawan pemurtadan. Tidak ada sikap menjaga ‘image semu ’ sebagaimana sering ditunjukkan tokoh-tokoh muslim yang mendapatkan posisi strategis pada hari – hari belakangan ini. Umat Islam Indonesia membutuhkan ‘Rasjidi-Rasjidi baru’ yang berani bersikap, teguh pendirian, dan memiliki wawasan ke depan dalam kerangka keumatan. Sekali da’i maka sampai menghadap Allah adalah da’i.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID"><strong>FOOTNOTE</strong><br />
</span></p>
<div id="sdfootnote1">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a><span lang="id-ID"> Dr. Azyumardi Azra (ed.). </span><span lang="id-ID"><em>Menteri – 	Menteri Agama RI : Biografi Sosial – Politik</em></span><span lang="id-ID">. 	(Indonesian-Netherlands Cooperations In Islamic Studies (INIS) dan 	Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Badan Litbang Agama 	Departemen Agama RI, Jakarta, 1998). Hal. 11-12</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a><span lang="id-ID"> Dr. Azyumardi Azra (ed.). </span><span lang="id-ID"><em>Ibid</em></span><span lang="id-ID">. 	Hal. 1 </span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc">3</a><span lang="id-ID"> Dr. H. M. Rasjidi. </span><span lang="id-ID"><em>Islam dan Kebatinan</em></span><span lang="id-ID">. 	(Yayasan Islam Studi Club Indonesia, Jakarta, 1967). Hal. 5</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc">4</a><span lang="it-IT"> Prof. </span><span lang="id-ID">Dr. H. M. Rasjidi. </span><span lang="id-ID"><em>Islam 	dan Kebatinan</em></span><span lang="id-ID">. (Yayasan &#8230; </span><span lang="id-ID"><em>Ibid).</em></span><span lang="id-ID"> Hal. 5-6</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc">5</a><span lang="id-ID"> Dr. Azyumardi Azra (ed.). </span><span lang="id-ID"><em>Opcit</em></span><span lang="id-ID">. 	Hal. 4</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc">6</a><span lang="id-ID"> Ahmad von Denffer dan Emilio Castro (ed.). </span><span lang="id-ID"><em>Christian 	Mission and Islamic Da’wah</em></span><span lang="id-ID">. (The 	Islami</span>c Foundation, Leicester, 1982). Edisi Indonesia : 	<em>Dakwah Islam dan Misi Kristen : Sebuah Dakwah Internasional</em>.  	Terjemah oleh Ir. Ahmad Noer Z. (Penerbit Risalah, Bandung, 1984). 	Hal. 104-105</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc">7</a><span lang="it-IT"> </span><span lang="id-ID">Ahmad Von Denffer dan Emilio Castro (ed.). 	Ibid. Hal. 109 &#8211; 114 </span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc">8</a><span lang="id-ID"> Prof. Dr. H. M. Rasjidi. </span><span lang="id-ID"><em>Sekali Lagi 	Ummat Islam Indonesia Menghadapi Persimpangan Jalan</em></span><span lang="id-ID">. 	 (PT. Sinar Hudaya, Jakarta, tth). Hal. 10</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc">9</a><span lang="sv-SE"> </span><span lang="id-ID">Prof. Dr. H. M. Rasjidi. </span><span lang="id-ID"><em>Sekali 	Lagi &#8230; Ibid</em></span><span lang="id-ID">. Hal. 10 &#8211; 11</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc">10</a><span lang="it-IT"> </span><span lang="id-ID">Prof. Dr. H. M. Rasjidi. </span><span lang="id-ID"><em>Sekali 	Lagi &#8230; Ibid</em></span><span lang="id-ID">. Hal. 11</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc">11</a><span lang="id-ID"> Drs. Muh. Syamsuddin, M. Si. </span><span lang="id-ID"><em>Prof. Dr. 	H. M. Rasjidi : Pemikiran dan Perjuangannya</em></span><span lang="id-ID">. 	(Penerbit Aziziah, Yogyakarta, 2004). Hal. 58</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc">12</a><span lang="id-ID"> Kelompok </span><span lang="id-ID"><em>sophist</em></span><span lang="id-ID"> didasarkan pada perkumpulan kalangan profesional di Athena pada abad 	V yaitu kelompok yang mengajarkan cara mendiskusikan masalah-masalah 	umum dengan argumentasi yang teratur dan penyajian yang tepat 	sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Plato menentang sikap kaum 	sophist ini karena mereka biasanya memberikan argumen yang 	paradoksal dan berbahaya. Sehingga kalau perlu mereka dapat 	memenangkan argumentasi yang lemah terhadap yang kuat, memenangkan 	kejahatan dari kebenaran.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc">13</a><span lang="id-ID"> Selengkapnya lihat Prof. Dr. Rasjidi. </span><span lang="id-ID"><em>Tanggapan 	Terhadap Tulisan Franz Magnis Suseno SJ</em></span><span lang="id-ID">. 	Majalah Al Muslimun No. 233 Th. XX/ 1989. Hal. 51 &#8211; 59</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc">14</a><span lang="it-IT"> </span><span lang="id-ID">Azyumardi Azra (ed.). </span><span lang="id-ID"><em>Opcit</em></span><span lang="id-ID">. 	Hal. 23</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote15sym" href="#sdfootnote15anc">15</a><span lang="id-ID"> Selengkapnya baca H. Aqib Suminto. </span><span lang="id-ID"><em>Politik 	Islam Hindia Belanda : Het Kantoor voor Inlandsche zaken</em></span><span lang="id-ID">. 	Cetakan III. (PT. Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta, 1996).</span></p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=112&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2009/03/17/prof-dr-h-m-rasjidi-garda-depan-muslim-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/e/e5/Rasjidi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Prof. Dr. H. M. Rasjidi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“KETUHANAN” MARYAM : MISKONSEPSI TRINITAS DALAM AL QURAN ?</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/16/%e2%80%9cketuhanan%e2%80%9d-maryam-miskonsepsi-trinitas-dalam-al-quran/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/16/%e2%80%9cketuhanan%e2%80%9d-maryam-miskonsepsi-trinitas-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 07:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[maria]]></category>
		<category><![CDATA[maryam]]></category>
		<category><![CDATA[trinitas]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/16/%e2%80%9cketuhanan%e2%80%9d-maryam-miskonsepsi-trinitas-dalam-al-quran/</guid>
		<description><![CDATA[


PENDAHULUAN
 Di antara keunggulan Islam adalah apabila berada pada posisi dicerca, dihina, dan dimarginalkan maka yang terjadi justru sebaliknya. Semakin Islam disudutkan maka semakin terlihat kebenaran ajaran dan kesesuaiannya dengan fithrah manusia. Agama ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan menurut kadar akalnya masing-masing. Mungkin inilah rahasia mengapa Islam selalu berhasil menundukkan peradaban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=106&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Times; 	panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536902279 -2147483648 8 0 511 0;} @font-face 	{font-family:DejaVuSans; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:none; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Times; 	mso-fareast-font-family:DejaVuSans; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-font-kerning:.5pt; 	mso-fareast-language:#00FF;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:none; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:10.0pt; 	font-family:Times; 	mso-fareast-font-family:DejaVuSans; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-font-kerning:.5pt; 	mso-fareast-language:#00FF;} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/AKU/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/AKU/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/AKU/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/AKU/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:2.0cm 2.0cm 2.0cm 2.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1; 	mso-footnote-position:beneath-text;} --></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Di antara keunggulan Islam adalah apabila berada pada posisi dicerca, dihina, dan dimarginalkan maka yang terjadi justru sebaliknya. Semakin Islam disudutkan maka semakin terlihat kebenaran ajaran dan kesesuaiannya dengan fithrah manusia. Agama ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan menurut kadar akalnya masing-masing. Mungkin inilah rahasia mengapa Islam selalu berhasil menundukkan peradaban yang memusuhinya. Terbukti di sejumlah negara seperti Amerika, Inggris, Belanda, dan negara Barat lainnya yang mengalami kondisi kekosongan spiritual, mulai menunjukkan geliat sebagian penduduknya menuju Islam. Munculnya kartun berisi penghinaan terhadap nabi di surat kabar Jylland Posten atau beredarnya film Fitna yang menghujat Islam hanya merupakan percikan kecil di antara kekhawatiran akan menguatnya syariat Islam di belahan dunia Barat.<span id="more-106"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Barat juga telah memunculkan sejumlah karya tulis yang menunjukkan kecemasan yang sama. Di antaranya adalah karya Robert Morey bertitle “ <em>Islamic Invasion : Confronting the World’s Fastest Growing Religion</em>”. Dari judulnya saja telah nampak sebuah wajah “ketakutan”. Hatta buku tersebut dikemas dengan “bergaya” sebagai karya tulis ilmiah, namun senyatanya isinya tidak seilmiah kemasannya. Motif kebencian dan islamophobia sedemikian menyeruak dan nampak berpengaruh terhadap obyektifitas kajian, tentu saja jika Barat masih mau berfikir tentang subyektif, obyektif, atau pun netralitas. Tidak mengherankan jika sejumlah kalangan muslim meminta buku tersebut dibredel dari peredaran. Namun menurut hemat penulis tindakan demikian kurang bijaksana. Justru buku tersebut merupakan sebuah simbol, asset, dan bukti monumental “kebencian” Barat yang katanya humanis. Fungsinya sebagai salah satu pijakan untuk melihat salah satu struktur dan pola pikir Barat dalam melihat Islam. Pada giliran selajutnya membalikkan keadaan dan akan semakin nampak keunggulan konsep Islam di antara yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Dalam salah satu tulisannya, Morey mempermasalahkan posisi Maryam dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 73-75 dan 116. Al Quran, dalam pandangan Morey, mengandung kesalahan kosep dalam mengungkapkan doktrin trinitas Kristen. Muhammad, tulis Morey, secara keliru menganggap bahwa umat Nashrani menyembah 3 (tiga) tuhan yaitu : Bapa, Ibu (Maryam), dan Anak (Isa).<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Guna memperkuat argumentasinya, Morey juga mengutip pendapat Richard Bell dan Encyclopaedia Britanica yang menegaskan bahwa Al Quran memiliki<span> </span>kesalahan konsep tentang trinitas dan Muhammad sebagai penulis Al Quran kurang memahami hal tersebut.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Morey menambahkan bahwa umat Kristiani tidak pernah mengimani tiga Tuhan dan Maria bukan merupakan salah satu oknum dalam ketuhanan Trinitas sebagaimana konsep dalam Al Quran. Morey sendiri nampaknya telah menjadi sedemikian yakin dengan argumentasinya yang didukung oleh sejumlah ‘kebingungan’ penulis dari kalangan Islam tentang tafsir ayat tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Lantas, benarkah Al Quran telah salah ketika menyebutkan bahwa Maryam pernah disembah sebagai tuhan ?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>FAKTA YANG DILUPAKAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Ayat al Quran yang dipermasalahkan oleh Robert Morey adalah Surat Al Maidah ayat 73 sampai 75 sebagai berikut :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 35.1pt .0001pt 36pt;"><em><span lang="IT">73.<span> </span>Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: &#8220;Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga&#8221;, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 30.6pt .0001pt 36pt;"><em><span lang="SV">74.<span> </span>Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.55pt;margin:0 30.6pt .0001pt 36pt;"><em><span lang="SV">75.<span> </span>Al masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang Sesungguhnya Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="IT">Juga ayat dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 116 sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 30.6pt .0001pt 36pt;"><em><span lang="SV">116.<span> </span>Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: &#8220;Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: &#8220;Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?&#8221;. Isa menjawab: &#8220;Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV">Permasalahan pertama yang akan penulis bahas terkit dengan konsep penyembahan terhadap Maryam dalam dunia Kristen. Robert Morey secara tegas telah menolak posisi Maryam sebagai salah Tuhan dan satu satu oknum ketuhanan trinitas. Nampak bahwa Morey telah mempersulit dirinya sendiri pada tahap awal dengan menempatkan realsi antara penuhanan Maryam dengan keanggotaannya sebagi salah satu oknum trinitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV">Senada dengan Morey, Geoffrey Parrinder menyatakan bahwa ayat Al Quran Surat Al Maidah ayat 116 adalah sulit dipahami dalam kekristenan. Menurut Parrinder pada abad V, Nestorius, seorang bangsawan Konstantinopel, telah memprotes penggunaan gelar ”ibu Tuhan” (<em>theotokos</em>, <em>god-bearer</em>) yang berkembang dan diterapkan kepada Maryam. Nestorius menyatakan, seharusnya digunakan kata ’ibu manusia’ Yesus (<em>anthropotokos</em>); ibu Kristus (<em>cristo-tokos</em>). Nestorius juga tidak bersedia mengakui penggunaan frase seperti itu yang berarti bahwa ”Tuhan telah dilahirkan” dan ”Tuhan telah mengalami penderitaan” sebagaimana banyak digunakan pada hari ini. Nestorius mengajarkan bahwa Yesus adalah organ bejana dan kuil bagi anak Tuhan. Karena pemahaman inilah maka gereja Nestorian akhirnya terpisah.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;" lang="SV">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV">Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria, nampaknya juga memberikan pengakuan bahwa bentuk pseudotrinity yang terdiri dari Allah, Isa, dan Maryam adalah sebuah realitas yang pernah terjadi. Namun Noorsena membatasi bahwa reaksi Al Quran yang kerap kali krisi terhadap sejumlah keyakinan Kristen, tidak semua didasarkan atas kekristenan yang orthodoks. Penilaian Islam tentang Kristen, menurut Noorsena, tidak ditujukan pada kekristenan yang lurus dan benar, namun lebih ditujukan kepada praktik-praktik sekte-sekte Kristen yang sesat dan menyimpang (<em>heterodoks</em>).<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;" lang="SV">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hakikatnya, Noorsena mengakui bahwa praktik penuhanan terhadap pribadi Maryam bukanlah sebuah omong kosong, namun merupakan fakta historis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV">Sebagai sebuah realitas historis, sisa-sisa penyembahan terhadap Maryam masih dapat ditemukan hingga hari ini. Di sejumlah wilayah Eropa, termasuk Polandia, bahkan Inggris Raya dan Perancis Selatan, menurut survey yang dilakukan oleh Ean Begg pada tahun 1985, masih ditemukan patung bunda Maria yang berwarna hitam yang dikenal dengan sebutan <em>black virgin</em> atau <em>Black Madonna</em>.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;" lang="SV">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Patung tersebut sengaja dibuat untuk dipuja atau disembah sebagai tuhan. Bahkan patun-patung tersebut selalu diasosiasikan dengan sejumlah situs pemujaan kaum pagan dari masa yang jauh lebih kuno.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;" lang="SV">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ditengarai bahwa penyembahan terhadap pribadi Maria merupakan hasil proses adopsi dan perkembangan dari pemujaan terhadap sejumlah dewi pagan yang memiliki kisah kehidupan sama persis dengan kisah Yesus dan Ibunya, Maria.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV"><span> </span>Dalam kebudayaan paganisme dikenal Bacchus (Dionysius) yaitu dewa matahari Yunani yang lahir dari kandungan seorang perawan bernama Demeter yang mengandung dari benih Dewa Jupiter tanpa hubungan badan. Bacchus lahir pada tanggal 25 Desember dan terbunuh untuk menebus dosa manusia. Dikisahkan pula bahwa Bacchus kemudian bangkit kembali dari kematiannya.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;" lang="SV">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV">Bangsa Mesir juga mengenal Osiris, dewa matahari yang lahir pada 25 Desember dari kandungan seorang perawan yang disebut ’Perawan Dunia’. Osiris memiliki 12 orang murid. Salah satu muridnya yang bernama Typhone berkhianat hingga menyebabkan kematian Osiris. Setelah bersemayam selama tiga hari dalam kuburnya, Osiris bangkit kembali dari kematiannya. Ia diyakini sebagai inkarnasi Tuhan dan merupakan salah satu dari oknum trinitas 3 Dewa di Mesir.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;" lang="SV">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV">Demikian juga dalam cerita mithologi yang lain tersebutlah Mithra yang lahir pada tanggal 25 Desember. Memiliki pemujaan yang dilakukan setiap hari Minggu. Mithra adalah seorang juru selamat yang menebus dosa manusia. Dia tidak disalib namun mengurbankan lembu suci yang darahnya mensucikan dan menebus dosa manusia. Lembu itu tidak lain adalah inkarnasi dari sang Mithra sendiri. Perayaan Mithra biasanya ditandai dengan keberadaan pohon terang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV">Penyembahan terhadap sosok ibu Tuhan umumnya terjadi dalam kepercayaan pagan yang dsebutkan di atas. Masing-masing wilayah penyembah paganisme memiliki Tuhan Ibu dan Anak. Di Jerman, Hertha disembah sebagai ibu suci dengan anak dipangkuannya. </span><span lang="IT">Di Scandinavia, Disa disembah sebagai tuhan ibu dengan anak dipangkuannya juga. Sedangkan di Romawi purba, Venus atau Fortuna juga dipuja sebagi tuhan Ibu bersama Jupiter anaknya.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;" lang="IT">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="IT">Ralph Edward Woodrow dalam buku <em>Babylon Mysteri Religion</em> mengutip buku Frazer, <em>The Golden Bought</em> Volume 1 Halaman 356 menjelaskan fakta bahwa penyembahan terhadap Tuhan Ibu dan Tuhan Anak telah menyebar dan merasuk kepada masyarakat kerjaan Romawi dan sekitarnya. </span>Hal tersebut iungkapkan oleh Woodrow sebagi berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;">“<em>The Worship of Great Mother &#8230; very popular under the Roman Empire, unscriptions prove that the two (the mother and the child) receive divine honors, … not only in Italy and especially at Rome, but also in the provinces, particularly in Arican, Spain, Portugal, France, Germany, and Bulgaria</em>”.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;">Akibatnya bisa dipastikan, penyembahan Tuhan Ibu dalam Kristen tidak dapat dihindari setelah para penyembah berhala dari Romawi, Yunani, Babilonia, dan Mesir memeluk ajaran Kristen. Dalam agama barunya tersebut para mantan penyembah berhala tidak mendapatkan penylurn yang sesuai dengan semangat penyembahan Tuhan Ibu. Padahal mereka belum dapat sepenuhnnya meninggalkan ajaran paganisme. Woodrow menulis bahwa kompromi pun terjadi, pihak gereja mencarikn padnan terhadap figure ibu yang disembah oleh kaum mantan kaum pagan dalam khazanah kekristenan. Tuhan Ibu yang dimaksud tidak lain adalah Maria, Ibu Yesus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;">“<em>One of the best example of such a carry over from paganism may be seen in the way the worship o the great mother continued – only in a slightly different form and with a new name. You see many pagans had been drawn to Christianity, but so strong was their adoration for the mother goddess, they did not want to forsake her. Compromising church leaders saw that if they could find some similarity in Christianity with the worship of the mother goddess, they could greatly increase their numbers … but who could replace the great mother of paganism ? Mary, of course was the most logical person for them to choose … little by little, the worship that had been associated with the pagan mother was transferred to Marry</em>”.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;">Maka tidak mengherankan pasca munculnya kritik Nestorius yang menolak istilah “bunda Tuhan”, gereja justru mengukuhkan posisi Maria sebagai <em>Theotokos</em> atau Ibu Tuhan dalam Konsili Efesus tahun 431 M. Salah satu butir yang dihasilkan dalam konsili tersebut adalah sebagai berikut : “<em>Menurut pengertian bahwa kesatuan ini tidak mencampur adukkan, kami mengaku bahwa anak dara kudus adalah theotokos (bunda Allah), karena Allah Firman menjelma menjadi manusia dan sejak pembuahan-Nya menyatukan pada diri-Nya bait yang diambil daripadanya (Maria)</em>”.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;">Berdasarkan informasi Ibnu Patrick, seorang sejarawan dan padri Kristen, menjelang Konsili Nicea 325 M dari jumlah peserta keseluruhan 2.048 orang terdapat sebagian peserta dari mahzab Mariamites dan Remitim yang berpendapat bahwa Yesus dan Ibunya adalah 2 (dua) Tuhan selain Bapa.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Times;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Selain itu terdapat aliran Ebionit yang secara jelas juga memuja Maria sebagai Tuhan Ibu. <span lang="SV">Penganut aliran Ebionit dikenal sebagai aliran yang para penganutnya menggunakan bulu domba sebagai pakaian. Bulu domba tersebut dikenakan agar mereka dapat hidup dalam kesederhanaan. Dalam hal ini tradisi mereka mengenakan kulit domba sebagai pakaian mirip dengan tradisi kaum sufi generasi awal dalam Islam yang menutamakan kezuhudan. Gambaran tentang cara berpakain kaum Ebionit ini dapat kita lihat kemiripannya dengan kisah Perjanjian Baru dalam Ibrani 11: 37.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV">Tentang apakah penyembahan terhadap Maria adalah bentuk Kekristenan heterodoks yang menyimpang maka biar waktu yang akan menentukan. Sebab sejumlah pertarungan keyakinan yang medasar dalam dunia Kristen bahkan belum selesai hingga hari ini. Sebut saja pertarungan antara kaum <em>Trinitarian</em> dan <em>Unitarian</em>. Satu pihak mengakui trinitas dengan sejumlah argumentasinya dan dipihak lain menolaknya dan menganggap bahwa Yesus hanya seorang nabi dan bukan Tuhan. Sedangkan bagi seorang penganut Kristen, terkait masalah penyembahan dan Ketuhanan Maria tentu akan lebih menguntungkan jika hal ini terhapus saja dari ingatan sejarah. Masalah trinitas yang diakui mayoritas dunia Kristen hari ini juga bukan tanpa cacat sejarah. Konsili Nicea pada 325 Masehi, menurut informasi Ibnu Patrick, dihadiri oleh 2.048 orang peserta yang terdiri diri para uskup. 318 (tiga ratus delapan belas) orang diketahui sebagai pendukung konsep ketuhanan Yesus. Sedangkan 700 (tujuh ratus) orang uskup merupakan pendukung Arius yang menolak hakikat ketuhanan Yesus, dan sisanya memiliki sejumlah kepercayaan yang berbeda termasuk yang mempercayai Ketuhanan Maria. Namun, anehnya berkat prakarsa Kaisar Konstantin, hanya pendapat 318 orang (pendukung ketuhanan Yesus) tersebut yang kemudian dimenangkan. Jelas kaisar Konstantin telah emerankan agnda politik pribainya dengan sukses.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span lang="SV">Lantas dimana letak kesalahan atau miskonsepsi Al Quran tentang trinitas Kristen ? Al Quran jelas dalam ayat tersebut tidak membahas tentang trinitas. Hal tersebut hanya merupakan bagian dari upaya Robert Morey dalam menyudutkan Islam. Namun jawaban atas pertanyaan ”apakah Al Quran telah salah ?” jawabannya adalah ”Tidak !”. Justru kehebatan Al Quran adalah mampu memberikan isyarat bagi pengungkapan kebenaran sejarah, dimana dunia pun telah berusaha secara maksimal untuk melupakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">PENUTUP</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span><strong><span> </span></strong>Tuduhan Robert Morey bahwa Al Quran memiliki kesalahan konsepsi tentang trinitas terbukti tidak benar. Konsep Trinitas dalam dunia Kristen sendiri mengalami perkembangan dari masa ke masa termasuk bersentuhan dengan sejumlah peradaban dan kepercayaan lainnya. Kebenaran lain yang terungkap justru teletak pada ketidakbenaran pemahaman Morey terhadap sejarah agamanya sendiri. Sehingga bukunya ”Islamic Invasion” sering diwarnai dengan pemahaman yang tidak berdasar. Sebuah pemikiran yang hanya lahir didasarkan pada kebencian fanatis yang menutup semua bentuk akal waras.</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Robert Morey. <em>Islamic Invasion : Confronting the World’s Fastest Growing Religion.</em><span> (Christian Scholar Press, Las Vegas, 1992). Hal 185</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Robert Morey. <em>Ibid</em>. Hal. 186</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span lang="IN">Geoffrey Parrinder. <em>Yesus dalam Quran</em>. (Terj. oleh Ali Masrur, ett. all). (Bintang Cemerlang, Yogyakarta, 2002). Hal. 88</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span><span lang="IN">Bambang Noorsena.<em> Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam</em>. Cetakan IX. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2001). Hal. 6-7</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Burton L. Mack. <em>The Lost Gospel: The Book of Q and Christian Origins</em>. (Element Books, Shaftesbury, 1994). Hal. 51 dalam Lynn Picknet and Clive Prince. <em>The Templar Revelation : Secret Guardians of The True Identity of Christ</em>. <span lang="IT">Edisi Indonesia : <em>The Templar Revelation : Para Pelindung Sejati Identitas Kristus</em>. (Bantam Press, 1997). Terjemah oleh FX Dono Suhadi. Cetakan II. (Serambi, Jakarta, 2006). Hal. 121</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lynn Picknett dan Clive Prince. <em>Ibid</em>. Hal. 33</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> <span lang="IN">Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang <em>Attis</em> dalam Dr. Hamid Qadri. <em>Kristen dan Agama Berhala</em>. (Modus Vol. 1 No. 9 Th. II/2004). Hal. 46</span></span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang Attis dalam Dr. Hamid Qadri. <em>Ibid.</em> Hal. 46</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span><span lang="IN">Tim Redaksi. <em>Tuhan Ibu dan Ibu Tuhan</em>. (Modus Vol. 1 No. 5/Th. II/ 2004). Hal. 25</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Tim Redaksi. <em>Ibid</em>. Hal. 26</p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span lang="IN">Tim Redaksi. <em>Ibid</em>. Hal. 28</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Tony Lane. <em>The Lion Concise Book of Christian Thought</em>. (Lion Publishing, England, 1984). Edisi Indonesia : <em>Runtut Pijar Pemikiran Kristiani</em>. Terjemah oleh Conny Corputy. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1990). Hal. 47</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Times;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="IN"><span> </span>Prof. Sjech Abuzahrah. <em>Muhadlarat fi an Nasrabiyah</em>. Edisi Indonesia: <em>Tindjauan Tentang Agama Masehi</em>. (AB. Sitti Sjamsijah, Surakarta, 1969). Hal. 140. Juga DR. Rauf Syalabi. <em>Ya ahl al Kitab Ta’alaw ila kalimat sawa’</em>. Edisi Indonesia: <em>Distorsi Sejarah dan Ajaran Yesus</em>. (Pustaka Alkautsar, Jakarta, 2001). Hal. 127 </span></p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=106&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/16/%e2%80%9cketuhanan%e2%80%9d-maryam-miskonsepsi-trinitas-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KASIH SAYANG GENERASI KERBAU DALAM VALENTINE’S DAY</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/12/kasih-sayang-generasi-kerbau-dalam-valentine%e2%80%99s-day/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/12/kasih-sayang-generasi-kerbau-dalam-valentine%e2%80%99s-day/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 10:23:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sambung Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[Barat]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[valentine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[
Tanggal 14 Februari, bukan lagi hari yang asing bagi remaja di Indonesia. Sebuah ‘hari raya’ khas remaja dalam lingkup hura-hura dan histeria masa muda. Hari Valentine, demikian kaum belia menyebutnya, dirayakan sebagai hari kasih sayang dengan menyerahkan coklat sebagai ungkapan cinta kepada orang yang disayangi untuk menyimbolkan pernyataan ketulusan hati. Orang yang disayangi tersebut jelas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=97&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><span lang="IN"><img class="alignleft" title="valentine" src="http://i373.photobucket.com/albums/oo172/susiyanto/valentine2.jpg" alt="malam syahdu" width="230" height="172" /></p>
<p>Tanggal 14 Februari, bukan lagi hari yang asing bagi remaja di Indonesia. Sebuah ‘hari raya’ khas remaja dalam lingkup hura-hura dan histeria masa muda. Hari Valentine, demikian kaum belia menyebutnya, dirayakan sebagai hari kasih sayang dengan menyerahkan coklat sebagai ungkapan cinta kepada orang yang disayangi untuk menyimbolkan pernyataan ketulusan hati. Orang yang disayangi tersebut jelas bukan ayah, ibu, suami, adik, atau familinya. Namun orang yang dianggap sebagai pasangannya. Media massa turut serta menayangkan aneka rupa tontonan sekaligus menjadi kampanye gratis penyebarannya. Hampir semua media mengangkat tema tentang cinta dalam suasana merah jambu.<span id="more-97"></span></p>
<p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Bagi remaja, Hari Valentine tak luput pula menghadirkan nuansa mendebarkan. Dapat dibayangkan, sebagian besar remaja mencari pasangan kencannya untuk menghabiskan malam valentine bersama. Lantas bagi mereka yang belum memiliki kekasih, hari Valentine dapat dipastikan akan menjadi hari yang panjang dan tidak jarang memunculkan keputus asaan. Hari penuh resah dan gelisah menunggu siapa yang akan memberinya coklat tanda bahwa dirinya ‘diminati’. Belum lagi jika harus berdiam diri di rumah karena tidak ‘kebagian’ pasangan, jelas mereka akan merasa malu menyandang predikat<span> </span><em>kuper</em>, <em>nggak gaul</em>, ketinggalan jaman, dan sebagainya. Sementara udara di luar semakin dingin dan hari kasih sayang telah berubah menjadi hari penuh nafsu. Seks bebas, berpelukan di depan umum, dan peredaran narkotika adalah pemandangan umum ‘hari kasih sayang’, hari ‘surgawi’ bagi para pemuja syahwat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Awal mula Valentine’s Day merupakan perayaan dari peradaban Barat untuk mengenang terbunuhnya seorang pendeta Kristen bernama Valentine. Dikisahkan bahwa seorang raja yang demi menjaga stabilitas dan kepentingan nasional negaranya terpaksa memberlakukan wajib militer terhadap kaum muda. Namun para pemuda negeri itu rupanya enggan untuk melakukan bela negara. Sang raja kemudian menitahkan sabdanya bahwa para pemuda belum akan mendapatkan pengesahan pernikahan sebelum mereka mengikuti wajib militer. Maka tersebutlah sepasang muda-mudi yang sudah sangat <em>ngebet</em> <span> </span>kawin. Padahal sang pemuda belum menjalankan wajib militer. Jelas tidak ada pendeta yang berani mengkhianati kepentingan negara dengan menikahkan keduanya. Maka tampillah Pendeta Valentine, bak pahlawan kesiangan, dia menikahkan kedua pasangan tersebut. Valentine kemudian diputuskan bersalah dan dihukum gantung atas perilaku khianatnya. Matilah Valentine sebagai pengkhianat kepentingan nasional namun pahlawan bagi kepentingan individual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Versi lain cerita tentang Valentine menyebutkan bahwa pada masa Kaisar Claudius berkuasa, terdapat seorang pendeta Katholik bernama Valentinus. Sang pendeta dijebloskan ke penjara sambil menanti prosesi hukuman mati karena suatu kesalahan. Secara tak terduga sang pendeta ternyata menjalin hubungan asmara dengan puteri sipir penjara. Menjelang dieksekusi pada 14 Februari 269 M, sang pendeta sempat menulis sebuah surat cinta bertuliskan “<em>From Your Valentine</em>”. Surat itu akhirnya menjadi tanda mata terakhir dari Valentinus dan kisahnya berkembang menjadi kisah cinta yang melegenda. Namun umumnya orang akan menghubungkannya dengan kisah romantis semacam Romeo-Juliet. Dari sini, bukankah aneh jika kemudian kisah-kisah demikian dirayakan sebagai hari kasih sayang ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sedangkan bentuk perayaan Valentine’s Day sendiri sebenarnya mengadopsi konsep hari raya kaum penyembah berhala yaitu Perayaan <em>Lupercal</em> yang bertujuan menghormati <em>Faunus</em>, dewa kesuburan bangsa Romawi. Perayaan ini dilakukan oleh kaum muda-mudi dengan memilih pasangannya, saling memberi hadiah, dan puncak acaranya adalah ritual seks bebas termasuk upaya melepaskan keperawanan sebagai lambang dan permohonan kesuburan yang melimpah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Lantas, mengapa masyarakat terutama remaja banyak yang memuja Valentine ? Tata nilai masyarakat bisa saja bergeser. Masyarakat hari ini boleh dikatakan bukan lagi sekumpulan rakyat patriotis. Mereka cenderung meninggalkan nilai ketimuran karena telah silau dengan gebyar dari Barat. Valentine’s day sebagai hari kasih sayang sebenarnya hanya berhenti sebagai jargon belaka. Perayaan ini di Barat tidak lebih sebagai moment hura-hura, event untuk melampiaskan nafsu syahwat, dan sekaligus mengakhiri keperawanan atau ‘keperjakaan’ dalam makna yang sesungguhnya. Anehnya budaya ini pun mulai diadopsi oleh dunia timur hingga dalam tingkatan substansi. Maraknya pelacuran remaja, pergaulan bebas, penggunaan narkotika, dan sebagainya tidak lepas dari budaya-budaya tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Valentine’s day sendiri dimasyarakatkan bukan sebagai wahana menghubungkan manusia dalam ikatan kasih secara murni. Juga miskin dari nilai perayaan agama. Sebab Valentine’s day justru merupakan sebuah bukti kematian agama Kristen di Barat akibat berkuasanya kapitalisme. Agama telah tunduk pada kemauan pasar. Produknya dipilih dan dipilah berdasarkan selera publik. Secara substansial agama itu pun hanya diberlakukan sebagai ceremonial dan prakteknya tidak lebih sekadar hura-hura belaka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Bagi kapitalis, remaja adalah sasaran potensial pemasaran produk. Masyarakat muda yang belum mandiri secara pemikiran dan berada pada masa pencarian jati diri sehingga paling mudah dikendalikan. Untuk dapat menjual produk kepada tingkatan usia ini, maka calon konsumen tersebut musti dikondisikan terlebih dahulu. Maka diciptakanlah sebuah <em>mind-set </em>bahwa remaja musti gaul, cool, kreatif, smart, dan sebagainya. Sifat-sifat yang ingin dibentuk itu pun memiliki nilai khas ala kapitalis, bukan lagi karakter netral. Namun ditentukan oleh tangan-tangan setan (<em>invisible hand</em>), sebutan ilmu ekonomi kapitalis untuk menggambarkan mekanisme pasar. Sifat gaul tidak akan dimiliki jika remaja tidak mengikuti trend. Mereka yang tidak merayakan valentine’s day dianggap tidak gaul. Predikat kreatif pun telah disusupi makna baru. Seorang remaja disebut kreatif jika mampu mengikuti kemauan pasar. Mereka yang pandai bermain music, menciptakan sarana hura-hura, membuat produk yang bisa menjadi trend remaja itulah yang disebut kreatif. Ujungnya, keratif adalah sebutan bagi mereka yang mampu menciptakan budaya konsumenisme sekaligus menjadi penikmatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Lihat saja misalnya, untuk ukuran seorang remaja yang terlibat pacaran. Untuk berangkat kencan mereka butuh baju-baju bagus dari butik pilihan, terus harus disetrika dengan semprotan pengharum khusus. Belum lagi butuh parfum sebagai pewangi yang lain. Kalau mau nge-<em>kiss</em> pacar tentu mulut tidak boleh berbau maka diiklankan sejumlah produk untuk pengharum mulut mulai dari pasta gigi, sikat gigi, mouth spray, permen wangi, sampai obat kumur. Terus kalau mau dicium, terus wajah belentong-belentong karena jerawatan, maka tentu remaja akan merasa <em>tengsin, </em>maka muncul produk penghalus muka, anti acne, pemutih, scrab, vitamin kulit, dan sebagainya. Jelas rambut pun tidak boleh kusam, maka perlu shampo khusus, creambath, rebonding, vitamin rambut, dan sebagainya. Belum lagi kalau rambutnya penuh ketombe maka semakin ribet kebutuhannya. Bahkan secara sengaja iklan-iklan yang mengarah kepada pergaulan bebas juga dimunculkan sebagai pengenalan dan pemasaran produk sekaligus kampanye. Misalnya remaja musti tahu tentang kesehatan reproduksi yang ujung-ujungnya diarahkan kepada pemahaman seks yang aman atau pencegahan AIDS. Penjualan produk alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan paling berkepentingan dalam hal ini. Semua itu adalah realita kehidupan dalam kapitalisme. Semua hal memiliki potensi untuk menjadi komoditas. Tidak terkecuali perayaan Valentine’s Day.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Remaja dianggap gaul jika mampu mengikuti mode dan trend tertentu. Trend mark dan brand image yang mereka kejar untuk mendapat ‘gelar’ gaul, cool, modern, smart, tidak ketinggalan jaman, dan jargon-jargon tersebut harus mereka bayar dengan harga tidak sedikit. Sebuah pencarian jati diri yang tergadai dalam kepura-puraan mengejar angan dan harapan semu. Membuat semakin sulit bagi remaja untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab secara kejiwaan dan sistemik, kehidupan mereka sendiri telah terbelenggu oleh peraturan tidak tertulis yang diciptakan oleh tangan-tangan kapitalis dengan memanfaatkan mekanisme pasar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sungguh, apakah sedemikian bodohnya kaum remaja masa kini. Sehingga masih sanggup tertawa, gembira, dan berhura-hura ketika dibodohi dengan predikat dan mekanisme yang tidak sepenuhnya netral atau berpihak kepada mereka. Tertawa lebar tanpa sadar menertawakan keterjajahannya. Tersenyum simpul dalam kematian nalar warasnya. Jawaban mereka atas nasihat ini pun akan terlalu simple karena lahir dari kemampuan berfikir yang sederhana “<em> ah seperti tidak pernah muda saja”</em>. Remaja model demikian pun akhirnya menjadi generasi<strong> kerbau yang dicocok hidungnya</strong>, pasrah dan menurut saja kehendak ‘sang tuan’. Dan pastinya, akan semakin sulit bangsa ini dilanjutkan oleh generasi pilihan, jika remaja kita kadung terjerembab dalam budaya sarat nilai negatif dari Barat, termasuk Valentine’s Day.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">TAMBAHAN:</span></strong><span lang="IN"> Tidak ada yang perlu disalahkan. Hanya saja akar dari semua itu berupa sekularisme yang melahirkan kapitalisme, liberalisme, individualisme, materialisme, dan berbagai paham negatif Barat lainnya hendaknya segera dikikis.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=97&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/12/kasih-sayang-generasi-kerbau-dalam-valentine%e2%80%99s-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i373.photobucket.com/albums/oo172/susiyanto/valentine2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">valentine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ISLAM DALAM RAMALAN JAYABAYA</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/05/islam-dalam-ramalan-jayabaya/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/05/islam-dalam-ramalan-jayabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 04:26:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Telaah Perkamen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[(Telaah Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya) 

PENDAHULUAN
Bagi sebagian kalangan muslim memunculkan kajian terhadap ‘keberterimaan’terhadap ramalan sudah tentu akan memantik sebuah polemik. Betapa tidak, konsep Islam dalam memandang ramalan pada dimensi supranatural telah tegas dan jelas. Umat Islam dikenai larangan atas sejumlah pengharapan spekulatif, seperti mengundi suatu pilihan dengan anak panah, berjudi, dan termasuk di dalamnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=90&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong>(Telaah Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya) </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Bagi sebagian kalangan muslim memunculkan kajian terhadap ‘keberterimaan’terhadap ramalan sudah tentu akan memantik sebuah polemik. Betapa tidak, konsep Islam dalam memandang ramalan pada dimensi supranatural telah tegas dan jelas. Umat Islam dikenai larangan atas sejumlah pengharapan spekulatif, seperti mengundi suatu pilihan dengan anak panah, berjudi, dan termasuk di dalamnya dengan jalan mempercayai ramalan. Apa yang penulis maksudkan dengan ramalan ini sudah tentu bukan merupakan sebuah upaya perkiraan masa depan dengan sejumlah metode ilmiah semacam metode <em>forecasting</em> penilaian kelayakan bisnis dalam perekonomian atau sejenisnya. Namun lebih kepada ramalan yang berorientasi pada klenik dan atau mengarah praktek kebatinan. Efek ramalan sendiri biasanya berlainan pada tiap-tiap individu yang berbeda. Akan tetapi umumnya, ramalan akan membuat manusia terjebak oleh angan-angan, bahkan secara negatif menjerumuskan pada kemusyrikan.<span id="more-90"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Namun harus menjadi sebuah kesadaran bahwa realitas yang lain tentang berkembangnya ramalan, akhir-akhir ini, justru semakin marak menyeruak. Semakin canggih piranti teknologi, kemudahan menikmati hidup, dan terbuka lebarnya akses informasi bukannya mengikis kepercayaan manusia modern terhadap model klenik yang satu ini. Ramalan justru seperti memanfaatkan kondisi dengan berperan mengisi kekosongan jiwa “manusia modern” dari kemiskinan spiritualitas. Ramalan bukan lagi identik dengan asap kemenyan pedupaan, spekulasi kartu tarot, bola kristal, pendulum, atau benda-benda yang dianggap memiliki tuah magis lainnya. Akan tetapi berkembang dengan menyelusup melalui layanan jasa komunikasi yang bisa diakses melalui piranti elektronik dengan biaya relatif terjangkau oleh masyarakat luas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Di kelas menegah ke bawah, kebangkitan ramalan ditandai dengan menguatnya isu-isu lawas tentang pentahapan jaman. Kondisi perubahan sosial kemasyarakatan yang terus didera oleh berbagai kesulitan hidup, krisis kemanusiaan berkepanjangan, dan dekadensi moral telah menumbuhkan angan-angan dan penantian akan kemunculan sosok ‘ratu adil’. Tidak terkecuali, ramalan seringkali menjadi pelarian atas kehidupan yang dianggap semakin tidak pasti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Bagi masyarakat Jawa khususnya, ramalan <em>Jayabaya</em> (baca: Joyoboyo) merupakan ramalan yang dianggap memiliki akurasi tinggi dalam menerangkan berbagai pertanda perubahan jaman. Ramalan ini sering diagung-agungkan sebagai memiliki gambaran tentang masa depan secara jelas dan meyakinkan. Anehnya, masyarakat yang mempercayai “kebesaran” ramalan Jayabaya, umumnya tidak memiliki pengenalan mendalam tentang keyakinannya berdasarkan sumber ‘resmi’ ramalan Jayabaya. Sikap <em>taken for granted</em> yang mereka tunjukkan umumnya terbentuk hanya melalui proses oral dengan sumber informasi yang tidak jarang sukar dipertanggungjawabkan. Tidak jarang mereka hanya berpatokan kepada ‘kata orang’. Demikian juga sejumlah pihak yang memposisikan diri sebagi penolak ramalan Jayabaya, umumnya juga tidak membangun sikapnya berdasarkan pengetahuan ataupun proses kajian yang jelas. Bahkan kadangkala hanya didasarkan atas sikap mula-mula yang sudah antipati terhadap istilah ‘ramalan’, maka menjadi justifikasi bahwa ramalan Jayabaya pun memiliki kadar ‘negatif’ sebagaimana penilaian awalnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Hadirnya tulisan terkait ramalan Jayabaya ini bukan merupakan usaha untuk melegalkan praktek ramalan. Namun lebih merupakan upaya informatif bagi para pembaca guna bersama memahami hakikat ramalan Jayabaya. Sehingga kejelasan sikap dan tindakan pembaca, terutama sebagai seorang muslim, akan terbangun berlandaskan sebuah pemahaman yang nyata. Sekaligus dalam hal ini penulis berharap, akan tumbuh sikap bahwa baik dalam posisi menerima maupun menolak terhadap hakikat sesuatu hendaknya didasarkan pada sebuah pengetahuan dan bukan hanya berdasarkan penilaian awal yang belum tentu benar apalagi sekedar ‘kata orang’.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PENULIS RAMALAN JAYABAYA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Perlu diketahui, Ramalan Jayabaya merupakan kumpulan ramalan yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa. Ramalan yang sering disebut dengan istilah <strong><em>Jangka Jayabaya</em></strong> (baca: jongko joyoboyo) tersebut dinilai oleh banyak kalangan sebagai hasil karya pujangga yang memiliki akurasi tinggi dalam menggambarkan jaman dan kondisi masa depan yang diprediksi. Dengan kata lain sejumlah ‘orang Jawa’ sangat mempercayai ketepatan dan kesesuaian Jangka Jayabaya dalam menggambarkan masa depan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Jangka Jayabaya memiliki banyak versi, minimal ada 9 (sembilan) macam versi. Umumnya kitab-kitab tentang ramalan Jayabaya tersebut merupakan hasil karya abad XVII atau XIX Masehi. Dari beragam versi Jangka Jayabaya tersebut, secara substansial kebanyakan memiliki kesamaan ide dan gagasan. Kemungkinan besar hal ini disebabkan beragam versi tersebut sebenarnya mengambil dari sebuah sumber induk yang sama yaitu kitab yang disebut <em>Musarar</em> atau <em>Asrar</em>. Oleh karena itulah maka penulis memutuskan untuk membatasi kajian ini berdasarkan <em>Serat Pranitiwakya Jangka Jayabaya</em> saja. Kitab diyakini merupakan karya Raden Ngabehi Ranggawarsita (baca: Ronggowarsito).<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Serat Pranitiwakya ini dapat dikatakan mewakili ramalan Jayabaya dalam wujud yang bersifat lebih ringkas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>TOKOH JAYABAYA MENURUT SERAT PRANITI WAKYA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Jayabaya yang dimaksud dalam Jangka Jayabaya tidak lain adalah Prabu Jayabaya, raja Kediri, yang dianggap memiliki kemampuan luar biasa dalam meramal masa depan. Nama Prabu Jayabaya sendiri bagi masyarakat Jawa sering menjadi inspirasi dalam menciptakan gambaran tentang ratu adil. Keberadaannya kerap kali dikaitkan sebagi penitisan Dewa Wisnu yang terakhir di tanah Jawa.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hal yang terakhir ini menjelaskan bahwa Prabu Jayabaya hidup pada atmosfer jaman Hindhuisme dimana seorang raja besar yang pernah hidup digambarkan memiliki hubungan dengan dunia mistik, sebagi wujud inkarnasi Dewa dalam rangka menjaga kelangsungan kehidupan di mayapada (bumi).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Akan tetapi pesan utama yang hendak disampaikan ramalan Jayabaya tentang sosok prabu Jayabaya, hakekatnya justru tidak mengkaitkan sang raja dengan Hindhuisme. Dalam Serat Praniti Wakya, Prabu Jayabaya digambarkan sebagai seorang yang telah menganut agama Islam. Bahkan dalam versi Serat Jayabaya yang lain digambarkan bahwa keislaman yang paling mendekati praktek Nabi adalah keislaman Prabu Jayabaya pada masa itu. “<em>Yen Islama kadi Nabi, Ri Sang Jayabaya</em>&#8230;” (Jika ingin melihat keislaman yang yang mendekati ajaran Nabi (Muhammad saw), orang demikian adalah Sang Jayabaya).<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Gambaran keislaman yang dianggap terbaik demikian, jika memang benar terjadi, pembandingnya tentu adalah praktek keagamaan pada jaman Hindhuisme yang mendominasi tersebut. Parbu Jayabaya dianggap sebagai tokoh Muslim dengan parktek keislaman terbaik mendekati parktek Nabi dibandingkan banyak manusia pada masa itu yang masih mempraktekkan ajaran Hindhu. <a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"></span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Terkait dengan ‘keislaman’ Prabu Jayabaya, Serat Praniti Wakya menjelaskan bahwa raja Kediri tersebut telah berguru kepada Maulana Ngali Syamsujen yang berasal dari negeri Rum. Yang dimaksud dengan tokoh tersebut tentu adalah Maulana ‘Ali Syamsu Zein, seorang sufi yang kemungkinan besar berasal dari Damaskus.<span> </span>Pabu Jayabaya, digambarkan dalam Praniti Wakya sebagai sangat patuh menjalankan ajaran gurunya yang beragama Islam tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Lantas, apakah ‘keislaman’ Prabu Jayabaya yang hidup dalam atmosfer jaman kehindhuan ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai informasi yang shahih ? Hal ini merupakan persoalan yang sulit diverifikasi kebenarannya. Sebab tidak terlalu banyak bahan yang dapat digunakan untuk merekonstruksi kehidupan keagamaan pada masa hidup Prabu Jayabaya. Bahkan tidak sedikit yang menggambarkan bahwa sosok Prabu Jayabaya tidak lain hanya sekedar tokoh fiktif belaka. Penulisan beragam versi Jangka Jayabaya pun, umumnya berasal dari masa belakangan, dimana Islam telah berkembang sebagai ajaran masyarakat. <span> </span>Namun hal ini penting dimengerti, terutama bagi para da’i yang berdakwah kepada kaum kebatinan dan kejawen, bahwa klaim mereka tentang Jangka Jayabaya merupakan kitab milik kaum kebatinan dan kejawen adalah salah. Sebab kitab ini sesungguhnya kitab ini dihasilkan berdasarkan pengaruh ajaran Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Terkait keberadaan penganut agama Islam pada masa yang diyakini sebagai ‘Jaman’ Jayabaya, bukan merupakan persoalan yang mustahil. Prabu Jayabaya diyakini hidup pada abad XII, pada masa antara tahun 1135 dan 1157 M.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sedangkan pada masa sebelumnya, yaitu era pemerintahan Erlangga, abad XI, di Leran, sekitar 8 (delapan) kilometer dari Gresik, telah ditemukan batu nisan dari makam seorang bernama <strong>Fathimah binti Maimun bin Hibatullah</strong> yang memberikan informasi bahwa wanita yang diyakini beragama Islam tersebut meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H atau tahun 1082 M.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Bahkan menurut Prof. Dr. Hamka jauh-jauh hari sebelumnya, dalam catatan China,<span> </span>disebutkan bahwa raja Arab telah mengirimkan duta untuk menyelidiki seorang ratu dari Holing (Kalingga) yang bernama Ratu Shi Ma yang diyakini telah melaksanakan hukuman had. Ratu tersebut ditahbiskan antara tahun 674-675 M. Prof. Dr. Hamka menyimpulkan bahwa raja Arab yang dimaksud adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang hidup pada masa itu dan wafat pada 680 M.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Demikan juga hasil kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke Indonesia menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali adalah abad I H atau abad VII-VIII M.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Karya sastra yang ditulis pada masa yang diperkirakan sebagai era Jayabaya, juga memiliki kecenderungan terpengaruh oleh keberadaan ajaran Islam. Disertasi Dr. Sucipta Wiryosuparto menyebutkan bahwa <em>Kakawin Gatutkacasraya</em> karya Mpu Panuluh, banyak menggunakan kata-kata dari Bahasa Arab.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Penggunaan kosa kata Arab yang serupa juga dapat ditemukan dalam Serat Baratayuddha, karya bersama Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Tulisan pujangga yang demikian tentu tidak mungkin terjadi kecuali telah terjadi interaksi dengan penganut agama Islam. Hal ini membuktikan bahwa telah ada komunitas umat Islam di Tanah Jawa pada masa yang diyakini sebagai era Jayabaya. Dengan demikian dakwah kepada penguasa, termasuk kepada Prabu Jayabaya pun bukan merupakan perihal yang mustahil. Demikian juga tentang keislaman sang raja Jayabaya merupakan persoalan yang sangat mungkin terjadi. Apalagi Jangka Jayabaya seringkali disebut-sebut diturunkan dari sejumlah karya yang lebih tua.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>SUBSTANSI JANGKA JAYABAYA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Boleh dikatakan bahwa hampir sebagian besar isi Serat Praniti Wakya berbicara tentang “masa depan” Pulau Jawa dalam visi Jayabaya. Namun bila dicermati lebih mendalam, akan nampak bahwa Serat Praniti Wakya banyak mengambil isnpirasi penulisan dari sumber-sumber Islam berupa Al Quran dan Hadits. Berita-berita tentang akhir jaman dari kedua pusaka umat Islam tersebut kemudian diolah dalam redaksi pengarang Serat Praniti Wakya (dalam hal ini diyakini sebagai karya R. Ng. Ranggawarsita). Sehingga sifat universal dari ajaran Islam tentang berita akhir jaman kemudian diterangkan dan diterapkan dalam lingkup Jawa. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar ajaaran islam dalam Serat tersebut telah mengalami proses yang disebut ‘jawanisasi’. Namun demikian, substansi Islam itu sendiri masih nampak bersifat tetap dan tidak hilang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Simak misalnya, penuturan Jayabaya tentang kiamat. Sang Prabu menyatakan bahwa kiamat adalah “<em>kukuting djagad lan wiji kang gumelar iki, iku tekane djajal laknat &#8230;</em>”.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sorotan lain Serat Praniti Wakya juga membahas tentang pandangan Prabu Haji Jayabaya tentang akan datangnya Yakjuja wa Makjuja<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> (Ya’juj dan Ma’juj), kiamat kubra<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> (kiamat besar), lochil ma’pule<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> (<em>lauh al mahfudz</em>), dan lain sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Konsep-konsep yang termuat dalam Serat Paraniti Wakya tersebut di atas jelas tidak dapat diingkari berasal dari ajaran Islam. Deskripsi beberapa terminologi Islam dalam Praniti Wakya sebagian memang tidak bersifat lugas dan jelas. Pembabakan Jaman menjadi 3 bagian seperti jaman kaliswara, kaliyoga, dan kalisengara jelas bukan merupakan visi ajaran Islam. Demikian juga beberapa ramalan tentang ‘akan’ munculnya sejumlah kerajaan di Jawa seperti Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Kartasura, dan Surakarta. Namun hal tersebut bukan tidak dapat dijelaskan. Penjelasan pertama, sangat mungkin sang pengarang Praniti Wakya, yaitu R. Ng. Ranggawarsita bermaksud menggambarkan pemahaman sang tokoh Prabu Jayabaya secara apa adanya, yaitu seorang muslim yang masih hidup dalam atmosfer Hindhuisme. Namun dengan penjelasan kedua, hal tersebut bisa saja timbul dari pemikiran pengarang sendiri. Saat menulis sejumlah versi ramalan Jayabaya, jelas Ranggawarsita telah hidup pada masa dimana dia bisa mengikuti sejumlah perkembangan terkait jatuh bangunnya sejumlah kerajaan pada masa lampau, seperti Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan seterusnya. <span> </span>Penjelasan awal tersebut memiliki konsekuensi memungkinkan terjadinya pembenaran bahwa Ramalan Jayabaya memang seolah terbukti akurat. Namun mengingat bahwa tidak ada catatan pasti yang menyatakan bahwa Prabu Jayabaya merupakan sosok yang memang ‘pintar’ meramal masa depan, maka penjelasan kedua ini lebih dapat digunakan sebagai argumentasi. Sedang terkait banyaknya konsep Islam dalam ramalan Jayabaya yang kadang terlihat ‘kurang’ islami lagi, mungkin hal ini disebabkan pemahaman R. Ng. Ranggawarsita yang kurang tuntas dalam memahami Syariat Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Ranggawarsita pernah belajar di Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, dibawah asuhan Kyai Hasan Bashori atau sering disebut Kyai Kasan Besari dalam lidah Jawa. Sebelum berangkat ke pondok, sebenarnya Ranggawarsita telah pandai membaca Al Quran. Oleh karena pengajaran awal di pondok Pesantren Tegalsari, adalah pelajaran tentang kajian Al Quran dan Fiqih maka Ranggawarsita menjadi jengkel. Bahkan untuk melampiaskan kekesalannya, dia sering keluar dari lingkungan pondok untuk berjudi mengadu ayam. Kyai Kasan Besari akhirnya mengetahui kekesalan Ranggawarsita, maka kepada sang Ranggawarsita kemudian diajarkan ilmu tassawuf.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Agaknya hal ini sangat berpengaruh terhadap pemahaman syariat Ranggawarsita pada masa selanjutnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Sedangkan ‘ramalan’ bersifat futuristik yang seolah memiiliki kesesuaian dengan jaman yang diramalkan, hal tersebut bukannya tidak dapat dijelaskan. Misalnya ungkapan bahwa “&#8230; <em>Nusa Jawa bakal kinalungan wesi</em>” (Pulau Jawa akan dikalungi besi). Sebagian penafsir memaknai ungkapan tersebut berkaitan bahwa di Jawa akan timbul industrialisasi. Ada pula yang memaknai bahwa kalung besi yang dimaksud adalah penggambaran bentuk rel kereta api.<span> </span>Jika penafsiran ini benar, maka perlu diketahui bahwa Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda, dimana pengaruh Belanda dalam lingkungan Keraton telah merasuk sedemikian kuatnya. Sedangkan di bumi Eropa sendiri, dimulai dari Perancis dan menyebar ke seluruh Eropa termasuk Belanda, telah mengalami Revolusi industri sehingga industrialisasi maupun transportasi darat menggunakan kereta api sudah umum keberadaannya. Cerita-cerita demikian tentu dapat didengar di wilayah Keraton yang secara intens terlibat dalam pergaulan bangsa Belanda. Sudah tentu dalam pandangan Ranggawarsita, jika Jawa berada dalam genggaman Belanda, maka tidak urung ‘kalung besi’ akan mengitari Jawa. Hal itu bisa berupa industrialisasi maupun wujud rel kereta api.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Menariknya, serat Praniti Wakya sebagai buah karya R. Ng. Ranggawarsita, mediskripsikan pandangan Prabu Jayabaya terhadap tradisi kepemimpinan pendeta. Telah banyak diketahui bahwa para pendeta dalam sistem kasta Hindhu memiliki strata kedudukan paling tinggi secara sosial. Lebih tinggi dari kasta para raja dan bangsawan yang masuk ke strata kedua, yaitu kasta Ksatria. Diceritakan bahwa setelah selesai belajar kepada Maulana ‘Ali Syamsu Zain, Prabu Jayabaya bersama putranya yang bernama Prabu Anom Jayamijaya berniat mengantar kepulangan sang guru ke negeri Rum hingga ke pelabuhan. Sepulang dari pelabuhan, Prabu Jayabaya dan putranya menyempatkan diri singgah dipertapaan seorang pendeta bernama Ajar Subrata, saudara seperguruan sang Prabu namun masih menganut ajaran Hindhu. Sang pendeta bermaksud mencobai Prabu Jayabaya yang dikenal sebagi titisan Bathara Wisnu dengan memberi suguhan berupa 7 (tujuh) jenis yaitu kunyit satu rimpang, jadah (makanan dari beras ketan ditumbuk) darah, kejar sawit, bawang putih, bunga melati, dan bunga seruni masing-masing satu takir (wadah yang dibuat dari daun pisang, biasanya untuk meletakkan sesaji).<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Suguhan tersebut bagi Prabu Jayabaya, memiliki makna tersandi atau arti tersembunyi yang berada disebalik suguhan tersebut. Apalagi Prabu Jayabaya dan Ajar Subrata pernah menjadi saudara seperguruan sehingga dimungkinkan mereka memiliki pengetahuan yang kurang lebih sama.<span> </span>Suguhan tersebut membuat sang Prabu sangat marah dan akhirnya membunuh sang pendeta sekaligus putrinya yang menjadi istri dari Prabu Anom Jayamijaya, putranya. Pasca peristiwa tersebut Jayabaya menerangkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan untuk menghukum kekurangajaran sang pendeta yang secara tersandi berniat mengakhiri kekuasaan raja-raja di Jawa. Suguhan tersebut memiliki makna bahwa jika Prabu Jayabaya memakannya maka kekuasaan akan tetap berada ditangan pendeta dan jaman baru, termasuk di dalamnya berkembangnya ajaran Islam, tidak akan pernah terjadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Demikianlah pandangan Serat Praniti Wakya, bahwa Prabu Jayabaya adalah titisan Wisnu yang hanya tinggal dua kali akan turun ke Marcapada. Pasca Prabu Jayabaya, dikisahkan bahwa Wisnu akan menitis di Jenggala dan setelah itu tidak akan pernah menitis kembali serta tidak memiliki tanggung jawab lagi terhadap kemakmuran ataupun kerusakan bumi maupun alam ghaib.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">“&#8230; <em>Ingsun iki pandjenenganing Wisjnu Murti<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[16]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a>, kebubuhan agawe rahardjaning bumi, dene panitahingsun mung kari pindo, katelu ingsun iki, ing sapungkuringsun saka Kediri nuli tumitah ana ing Djenggala, wus ora tumitah maneh, karana wus dudu bubuhan ingsun, gemah rusaking djagad, lawan kahananing wus ginaib, ingsun wus ora kena melu-melu, tunggal ana sadjroning kakarahe guruningsun, ..</em>.”<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Pernyataan di atas menggambarkan bahwa ajaran kedewaan dalam Hindhuisme tidak akan berlaku lagi pasca penitisan wisnu di Jenggala. Hal ini diperkuat pula bahwa pasca penitisan di Jenggala, Wisnu tidak akan memiliki tanggung jawab lagi terhadap keutuhan dunia nyata maupun dunia maya alam ghaib, termasuk alam kedewaan sekalipun. Dapat kita lihat pula bahwa pasca itu, Majapahit yang dianggap sebagai kerajaan tersohor di nusantara sekalipun ternyata sudah tidak melaksanakan ajaran Hindhu secara murni, namun menjalankan sinkertisme antara ajaran Syiwa dan Budha. Selanjutnya, jaman akan berubah menuju jaman Islam yang diisyaratkan bahwa semua keadaan akan menjadisatu dengan tongkat atau pegangan guru Jayabaya yang bernama Maulana ‘Ali Syamsu Zein. Bahkan secara tersirat Serat Praniti Wakya sebenarnya mencoba mengungkapkan bahwa Bathara Wisnu, Dewa yang masuk dalam <em>Trimurti<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[18]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em> dan memiliki tanggung jawab memelihara alam semesta, ternyata telah pula menerima ajaran Islam sebagai agamanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Demikian sekilas gambaran tentang Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya. Kitab tersebut pada dasarnya merupakan buku yang mencoba untuk memberikan apresiasi terhadap keberadaan Islam di Pulau Jawa. Hatta, di dalamnya mengandung banyak hal-hal yang musykil dan seolah tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun dengan memandang kitab tersebut sebagai bagian dari proses dakwah di Pulau Jawa, maka perlu pula kaum muslimin mengkaji dan mengapresiasi serat tersebut. Sebab telah banyak kitab Jawa yang sebenarnya memiliki nafas Islam secara kental, namun diklaim sebagi kitab Hindhu maupun kebatinan. Hal ini sudah tentu disebabkan kepedulian umat Islam yang masih minim dan sekaligus kurangnya pengetahuan terhadap naskah-naskah lama karya pujangga. Juga mengindikasikan bahwa kajian keilmuan dikalangan umat Islam, saat ini, masih belum membudaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya, karya seorang pujangga R. Ng. Ranggawarsita, seolah merupakan bentuk sinkretis perpaduan antara Islam dan kejawen. Akan tetapi nampak bahwa ajaran Islam lebih dominan sebagai substansi. Sedangkan ‘kejawen’ sendiri terposisikan sebagai kulit luar dari bentuk pemikiran Jawa yang telah terisi dengan ruh Islam.</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Selanjutnya, jika pembaca termasuk ke dalam kelompok kalangan yang mempercayai ramalan Jayabaya sebagai ramalan yang memiliki akurasi tinggi, maka bersegeralah kembali kepada Islam dan sumber-sumbernya berupa Al Quran dan Ash Shunnah. Sebab, hakikatnya “ramalan” Jayabaya merupakan bagian dari upaya memahami Islam melalui proses pencarian panjang yang belum selesai. Sedangkan bagi kalangan yang menolak sebelum mengkaji hal ini sebelumnya, maka hendaknya akan dapat mengubah sikap terhadap pemahaman hakikat segala sesuatu. Bahwa sahnya sebuah amalan adalah pasca terbitnya sebuah kepahaman mendalam.</span></p>
<div><strong>FOOTNOTE</strong></div>
<div>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Moh. Hari Soewarno. <em>Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon</em>. (PT. Yudha Gama Corp, Jakarta, 1982). Hal.</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Noname. Serat Praniti Wakja Djangka Djojobojo. (Penerbit Keluarga Soebarno, Surakarta, tth). Hal. 5</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Moh. Hari Soewarno. <em>Ramalan Jayabaya</em> &#8230;. <em>Opcit.</em> Hal. 20</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Noname. <em>Serat Praniti Wakja</em> &#8230;<em> Opcit</em>. Hal. 5. Artinya : <em>Sedang yang menjadi pembuka cerita adalah beliau Prabu Haji Jayabaya, raja yang seperti Dewa, yang disebut ratu adil, populer di dunia sebagai titisan Dewa Wisnu.</em></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Moh. Hari Soewarno. <em>Ramalan Jayabaya</em> &#8230; <em>Opcit</em>. Hal. 16</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Moh. Hari Soewarno. <em>Ramalan Jayabaya</em> &#8230; <em>Opcit</em>. Hal15-16. Juga M. C. Ricklefs. <em>A History of Modern Indonesia</em>. (Macmillan Education Ltd, London and Hampshire, 1981. Edisi Indonesia :<em>Sejarah Indonesia Modern</em>. Terjemah oleh Drs. Dharmono Hardjowidjono. Cetakan II. (Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1992). Hal. 3-4</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Prof. Dr. Hamka. <em>Sejarah Umat Islam</em>. Edisi Baru. Cetakan V. (Pustaka Nasional Ltd, Singapura, 2005). Hal. 671-673</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Panitia Seminar Masuknya Islam ke Indonesia. <em>Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia: Kumpulan Pidato dan Pendapat Para Pemimpin, Pemrasaran, dan Pembanding dalam Seminar tanggal 17 Sampai 20 Maret 1963 di Medan</em>. (Panitia Seminar Masuknya Islam ke Indonesia, Medan, 1963). Hal. 265</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Selengkapnya tentang kata-kata Bahasa Arab dalam Kakawain Gathutkacasraya lihat Prof. Dr. Sucipta Wiryosuparto. <em>Kakawin Gatutkaca Craya</em>. (Disertasi Universitas Indonesia, Jakarta, 1960).</p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Noname. <em>Serat Praniti Wakja &#8230;Opcit</em>. Hal. 28. Artinya: <em>Kiamat adalah hancurnya dunia dan benih (kehidupan) yang terhampar ini, itu (ditandai) dengan datangnya Dajjal laknat &#8230;</em></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Noname. <em>Serat Praniti Wakja &#8230;Opcit</em>. Hal. 29</p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Noname. <em>Serat Praniti Wakja &#8230;Opcit</em>. Hal. 30</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Noname. <em>Serat Praniti Wakja &#8230;Opcit</em>. Hal. 31</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Moh. Hari Soewarno. <em>Serat Darmogandul dan Suluk Gatoloco Tentang Islam</em>. (PT. Antar Surya Jaya, Surabaya, 1985). Hal. 16-17. Buku ini menurut penulis banyak memiliki kelemahan dari sisi data, analisa, dan metodologi terutama dalam membahas tentang Serat Darmagandul dan Suluk Gatoloco.</p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Noname. <em>Serat Praniti Wakja &#8230;Opcit</em>. Hal. 19-20</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Istilah Wisnu Murti menunjukkan salah satu nama penitisan Dewa Wisnu dalam tiap-tiap masa dalam pandangan masyarakat Jawa pra-Islam. Dalam dunia pewayangan Jawa, terutama kisah<span> </span>Ramayana, penitisan Wisnu menjelma menjadi Ramawijaya dan Laksmana. Pada ramawijaya menitis Wisnu Purba (baca : purbo yang “artinya memiliki wewenang”). Sedangkan pada diri Laksmana menitis Wisnu Sejati. Sedangkan pada era Mahabarata Wisnu Murti pernah menitis pada tokoh Kresna dan Arjuna. Sedangkan dalam Lakon wayang <em>Wahyu Purba Sejati, </em>digambarakan bahwa setelah meninggalnya Ramawijaya dan Laksmana, tokoh dari era Ramayana. Kemudian Wisnu Purba menitis pada tokoh Kresna dan Wisnu Sejati menitis pada Arjuna di era Mahabarata. Namun kisah lain menyebutkan bahwa Wisnu Sejati kemudian merasa tidak betah berada dalam tubuh Arjuna, sebab sebelumnya tokoh Laksmana terkenal sebagai karakter wayang yang menjalani hidup wadat (selibat=tidak menikah). Sedangkan Arjuna memiliki istri banyak. Dengan demikian Kresna, Raja Dwarawati atau Dwaraka, mendapat dua penitisan sekaligus yaitu Wisnu Murti dan Purba. Sedangkan Arjuna hanya merupakan penjelmaan Wisnu Murti.</p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Noname. <em>Serat Praniti Wakja &#8230;Opcit</em>. Hal. 21-22. Artinya: “&#8230;<em>aku ini adalah Wisynu Murti, berkewajiban membuat<span> </span>kesejahteraan di bumi, dan penitisanku dibumi tinggal tersisa dua kali, penitisan ketiga adalah diriku ini, sedangkan selanjutnya di Jenggala, pasca itu aku sudah tidak menitis sebagi manusia lagi, sebab hal itu bukan tanggungjawabku lagi, makmur atau rusaknya dunia serta keadaan alam ghaib, aku sudah tidak boleh campur tangan, semuanya sudah menjadi tanggung jawab sesuai tongkat yang dimiliki guruku </em>.”</p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Trimurti merupakan ajaran Hindhu yang menyebutkan bahwa terdapat tiga unsur ketuhanan yaitu Brahma, Wisnu, Syiwa, dan Wisnu. Brahma berperan sebagai pencipta alam raya, sedang Wisnu menjadi pemelihara, dan syiwa adalah anasir kekuatan perusak alam semesta.</p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=90&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2009/02/05/islam-dalam-ramalan-jayabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SANTISWARA DAN DAKWAH MELALUI SENI</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2009/01/15/santiswara-dan-dakwah-melalui-seni/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2009/01/15/santiswara-dan-dakwah-melalui-seni/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 09:25:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Perburuan yang penulis lakukan dalam mengeksplorasi dan melakukan kajian lapangan terhadap proses dakwah walisongo dan kebatinan Jawa pada akhirnya mengantarkan penulis untuk menyaksikan sebuah pertunjukan Seni Jawa bernuansa Islam dalam rangka tirakatan bulan Sura (Muharram) di Padhepokan Gedhong Putih di Plesungan, wilayah Kabupaten Karang Anyar yang berbatasan dengan Surakarta, pada 17 Muharram 1430 H atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=85&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;-->Perburuan yang penulis lakukan dalam mengeksplorasi dan melakukan kajian lapangan terhadap proses dakwah walisongo dan kebatinan Jawa pada akhirnya mengantarkan penulis untuk menyaksikan sebuah pertunjukan Seni Jawa bernuansa Islam dalam rangka tirakatan bulan Sura (Muharram) di Padhepokan Gedhong Putih di Plesungan, wilayah Kabupaten Karang Anyar yang berbatasan dengan Surakarta, pada 17 Muharram 1430 H atau bertepatan 12 Januari 2009 mulai ba’da Shalat Isya.<span id="more-85"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">. <span> </span>Awalnya penulis mengira bahwa acara tersebut adalah prosesi ritual khas kaum kebatinan Jawa. Namun nampaknya penulis salah, sebab acara yang diselenggarakan di padhepokan milik bapak Seno Hadisumarno tersebut lebih merupakan sebuah pertunjukan seni shalawatan jawa yang menghadirkan suasana masa lalu dan bukannya ritual sebuah aliran kebatinan. Dihadiri oleh sejumlah penikmat seni dari berbagai kalangan, termasuk dari warga negara asing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Perhelatan seni tersebut dimainkan di Pendapa yang terletak di tengah-tengah Padhepokan. Di sisi sebelah timur pendapa terdapat altar pertunjukan dan tempat duduk bagi penontonnya. Sedangkan di belakang pendhapa terdapat sejumlah taman yang menghadirkan suasana khas etnis Bali dan beberapa detail khas gaya Majapahit. Di taman tersebut juga dapat dijumpai sebuah replika stupa dalam wujud mini, tempat dolanan dakon, kamar mandi yang menggambarkan sebuah alam bebas, bambu kuning yang bagi sebagian orang Jawa menyiratkan sebuah simbolisasi tertentu, dan beberapa detail lainnya.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Berbagai perangkat seni dapat dijumpai malam itu. Diantaranya, piranti Santiswara yang terdiri dari kendhang yang dikolaborasikan dengan rebana, wayang berikut kelirnya, dan seperangkat alat musik gesek dari Pasundan. Pementasan pertama dimulai dengan pertunjukan kekidungan Macapat Santiswara yang menampilkan sejumlah shalawatan dalam format Macapatan. Diantaranya menjelaskan tentang hakikat hidup menurut Islam, penjelasan tentang kematian, bagaimana seharusnya muslim menuntut ilmu, pemahaman akan makna tauhid, dan sebagainya. Diantara petuah yang disampaikan antara lain penggambaran kedatangan maut sebagai sebuah hakikat dijelaskan bahwa “<em>digedhongana di kuncenana, yen mati mangsa wurunga</em>” Artinya walaupun berada dalam bangunan yang kokoh terkunci, maka jika ajal telah sampai hal tersebut tidak akan menyurutkan datangnya maut. Dalam melihat proses tansfer keilmuan dan penyampaian nasihat baik maka diterapkan jangan melihat siapa yang menyampaikan namun lihat apa dan bagaimana yang disampaikannya, tidak peduli hal itu berasal dari kalangan <em>sudra papeki</em>. Hal ini juga mengingatkan kalangan penguasa bahwa mereka hendaknya juga mau dan bertanggung jawab untuk mendengarkan suara dari rakyat jelata di akar rumput. Lagu-lagu yang mengandung petuah luhur khas Islam tersebut kemudian dipadukan dengan sejumlah ajaran moral yang berasal dari Serat Wulangreh. Misalnya, salah satu syairnya terangkum dalam satu pupuh tembang Gambuh adalah sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em>Sekar Gambuh ping catur</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em>Kang cinatur polah kang kelantur</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em>Tanpa tutur katula-tula katali</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em>Kadalu warsa kapatuh</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em>Katutuh pan dadi Awon</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Lagu di atas mengetengahkan tentang tingkah laku manusia yang telanjur berlebih-lebihan dan tanpa mengindahkan tuntunan nasihat luhur. Akhirnya tingkah laku tersebut menjerumuskan pelakunya dalam kehinaan. Menariknya, acara ini juga bisa dinikmati oleh kalangan yang tidak Berbahasa Jawa, sebab pemimpin grup santiswara yang tampil, Ki Waluyo, juga memberikan sejumlah penafsiran atas syair dan gending-gending yang dibawakannya dalam Bahasa Indonesia. Harus dipahami bahwa acara tersebut memang dihadiri oleh sejumlah kalangan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk penikmat budaya dari asing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Pertunjukan kedua dilanjutkan dengan petikan alat musik petik khas <em>Pasundan</em> yang dimainkan oleh Bapak Yahya, seniman Sunda dan diiringi tembang oleh saudari Melani. Sedangkan pertunjukan ketiga diisi dengan pagelaran <em>wayang</em> <em>rajakaya</em> (baca : ‘rojokoyo’). Kata rajakaya artinya adalah binatang ternak. Jadi sudah dapat ditebak bahwa tontonan satu ini menyuguhkan wayang yang peraganya terdiri dari sejumlah hewan-hewan. Bapak Seno sempat memperkenalkan bahwa wayang rajakaya tersebut sempat pentas di Jerman dan cukup diminati di sana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Perlu diketahui wayang dengan tokoh peraga berupa hewan bukan merupakan hal yang baru di Jawa. dahulu orang Jawa pernah mengenal bentuk <em>wayang kancil</em> dimana yang dilakonkan adalah cerita tentang binatang dan menghadirkan ajaran moral yang secara normatif seharusnya dilakukan manusia. Sebuah sindiran khas dimana manusia justru diajari oleh sekumpulan binatang dalam menjalankan nilai-nilai keluhuran. Wayang kancil diciptakan oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem dan pembuat wayangnya yang terkenal bernama Lie Too Hien pada tahun 1925. Beda antara wayang rajakaya yang termasuk kreasi baru dengan wayang kancil terletak pada bentuk wayangnya. Dalam wayang rajakaya, bentuk wayangnya telah dipersonifikasikan dalam wujud manusia berkepala hewan. Sedangkan wayang kancil menampilkan wujud hewan <em>wantah</em> atau dalam arti dan bentuk yang sewajarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Cerita malam itu membawakan lakon “<em>Sapi Nyusu Bodhone</em>” yang artinya ‘sapi menyusu kepada kebodohannya’. Terma lakon ini mirip dengan <em>paribasan</em> (peribahasa) Jawa “ <em>Kebo Nusu Gudel</em>” (Kerbau menyusu kepada anaknya) yang bermakna bahwa orang-orang yang telah tua justru berguru kepada orang yang lebih muda. Jadi mungkin saja bahwa maksud dari lakon “<em>Sapi Nyusu Bodhone</em>” adalah seekor sapi saja ternyata mau belajar dari kesalahan dan kebodohannya, maka seharusnya manusia mampu melakukan lebih dari itu. Bukan sebaliknya, justru bertindak mengulangi kebodohan yang sama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Adapun jalannya cerita, dikisahkan bahwa ada seekor sapi yang hidup disebuah tanah pertanian dimana kebutuhan hidupnya selalu terjamin. Tanah pertanian itu juga memiliki pengamanan berupa pagar listrik sehingga sang sapi senantiasa merasa aman dan nyaman tanpa gangguan hidupnya. Akibatnya sapi menjadi bodoh dan bahkan sombong terhadap hewan hutan yang berada di luar pagar listrik. Sampai suatu ketika terjadi bencana besar yang meluluh lantakkan bumi. Sang sapi selamat, namun tidak tersisa satu rumput pun di tanah pertanian tersebut. Tersebutlah, seekor badak tua yang menasehati sapi tersebut bahwa di sebuah bukit ada sebuah padang rumput impian, satu-satunya tempat yang tidak ikut tersapu bencana. Sang sapi kemudian berusaha untuk terus memperjuangkan dan melanjutkan hidupnya. Inti moral yang ingin disampaikan dalam cerita tersebut sebenarnya merupakan ungkapan <em>satiris</em> terhadap kemandirian bangsa Indonesia. Di masa lalu bangsa Indonesia telah terbiasa hidup enak dalam bumi yang makmur <em>gemah ripah loh jinawi</em> sehingga melupakan sejumlah nilai kehidupan yang seharusnya digenggamnya. Namun karena kemandirian yang seharusnya menopang kehidupan telah lenyap pula oleh arus kenikmatan yang diterimanya, maka manusia Indonesia lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang tak terduga. Akibatnya ketika bangsa Indonesia telah mengalami ‘bencana’, rakyatnya telah terjerumus menjadi ‘kurang mandiri’, senang menyalahkan sesamanya, tinggi angan-angan, mengharapkan keadilan namun mengimpikan hidup enak dengan mendzalimi yang lain, dan terlalu banyak menuntut sementara kemalasan meraja lela.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Pasca pertunjukan wayang rajakaya, pengunjung dipersilakan untuk menikmati hidangan secara prasmanan. Hidangannya tentu saja khas perayaan syura. Di antaranya bubur Sura, nasi liwet, ayam kukus, kacang polong, keripik kacang, dan telur sisir sedangkan minumannya teh manis. Pasca itu, acara kemudian dilanjutkan dengan mengetengahkan kembali gendhing santiswara seterusnya. Acara tersebut memang tidak dibatasi waktu berakhirnya. Bahkan dalam undangan yang kebetulan diperlihatkan Pak Rudiyanto disebutkan bahwa selesainya acara adalah ‘sekuatnya’ menahan kantuk.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Penulis melihat bahwa dakwah yang dilakukan melalui pertunjukan seni sebagaimana dipentaskan di Padhepokan Gedhong Putih ternyata memiliki komunitas garap tersendiri.<span> </span>Artinya ada sejumlah pihak tertentu yang bisa disentuh oleh nilai-nilai Islam melalui pengolahan cita rasa ‘kejawaanya’. Tentu saja bagi kalangan muslim yang lain hal ini bersifat problematik dan memantik kontroversi. Anehnya, sringkali pihak yang sinis terhadap model dakwah ini, hanya terkungkung dalam kata pedas dibalik perlindungan “jubah kesucian diri” dan tidak mau beranjak dari komunitasnya. Tidak ada upaya konkret, selain mengandalkan daya cela dan keterampilan mencaci semata tanpa tergerak berdakwah mengubah keadaan. Agaknya, perlu dipahami bahwa jika bukan nilai Islam yang mengisi mereka maka paham lain yang akan menggantikannya. Maka sejumlah argumentasi menunjukkan bahwa pengislaman melalui budaya tidak boleh ditinggalkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>DOKUMENTASI</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://susiyanto.wordpress.com/2009/01/15/santiswara-dan-dakwah-melalui-seni/"><img src="http://img.youtube.com/vi/UKiuumgN8tA/2.jpg" alt="" /></a></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://susiyanto.wordpress.com/2009/01/15/santiswara-dan-dakwah-melalui-seni/"><img src="http://img.youtube.com/vi/RE52UIYLPTM/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://susiyanto.wordpress.com/2009/01/15/santiswara-dan-dakwah-melalui-seni/"><img src="http://img.youtube.com/vi/5s75WTPBT0M/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>UCAPAN TERIMA KASIH</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada sejumlah pihak sebagai berikut:</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Bapak Seno Hadisumarno, penyelenggara dan tuan      rumah yang menerima saya dengan baik dalam status penulis sebagai ‘tamu      tak diundang’(tapi bukan maling) serta memberikan keleluasan kepada      penulis untuk mendokumentasikan jalannya perhelatan seni.</li>
<li class="MsoNormal">Bapak Rudiyanto, elit manajemen sebuah Rumah Sakit      Islam di Surakarta, yang memberikan informasi tentang acara-acara kejawen      sekaligus memberikan fasilitas penjemputan. Hal ini sangat membantu dalam      pengumpulan sejumlah data yang penulis perlukan.</li>
<li class="MsoNormal">Bapak Arif Wibowo, pengamat dakwah dan pengurus      Dewan Dakwah Cabang Jawa Tengah, yang bersedia menemani dan menjadi      partner dalam mendiskusikan sejumlah persoalan budaya.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tambahan</strong> : Penelitian saya ini menggunakan teknik <em>grounded research,</em> jadi sangat wajar jika kemudian dihadapkan dengan sejumlah fakta yang seringkali tidak terlihat berhubungan dengan tema sentralnya. Namun keunggulan metode ini adalah mampu menghasilkan lebih dari satu tema tulisan sekaligus dalam satu waktu penelitian. Perlu diketahui bahwa apa yang saya tampilkan di blog biasanya memang bukan keseluruhan hasil penelitian, namun meliputi garis besarnya saja.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=85&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2009/01/15/santiswara-dan-dakwah-melalui-seni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/UKiuumgN8tA/2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/RE52UIYLPTM/2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/5s75WTPBT0M/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SALAM SEJAHTERA ATAS KELAHIRAN ISA AL MASIH DALAM AL QURAN</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2008/12/18/salam-sejahtera-atas-kelahiran-isa-al-masih-dalam-al-quran/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2008/12/18/salam-sejahtera-atas-kelahiran-isa-al-masih-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 02:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Pada era 1980-an umat Islam dianjurkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengikuti perayaan Natal bersama dengan dalih mengidupkan toleransi dan kerukunan umat beragama. Anjuran tersebut tentu saja meresahkan kalangan umat Islam.1 Kenyataannya anjuran itu bukannya melahirkan sebuah toleransi terhadap umat agama lain namun justru memicu ketegangan dan disharmoni di kalangan internal umat Islam kala itu. Tata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=80&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Pada era 1980-an umat Islam dianjurkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengikuti perayaan Natal bersama dengan dalih mengidupkan toleransi dan kerukunan umat beragama. Anjuran tersebut tentu saja meresahkan kalangan umat Islam.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup> Kenyataannya anjuran itu bukannya melahirkan sebuah toleransi terhadap umat agama lain namun justru memicu ketegangan dan disharmoni di kalangan internal umat Islam kala itu. Tata cara dan aturan peribadatan dalam Islam merupakan konsep yang otentik dan telah final sejak masa Rasulullah saw, termasuk menyangkut pola hubungan umat Islam dengan umat agama lain. Dalam dimensi peribadatan Islam, sebagaimana telah diajarkan oleh  Rasulullah, juga mencakup konsep <em>al-wala&#8217;</em> dan <em>al-bara&#8217;</em>, dimana kaum muslimin dituntut untuk dapat menempatkan diri secara tepat dalam kerangka sebuah loyalitas dan anti-loyalitas. Dari segi loyalitas, seorang muslim yang taat tidak dimungkinkan untuk menghadiri ibadah umat beragama lain.<span id="more-80"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai representasi umat Islam kala itu, segera mengambil tindakan untuk mengatasi keruwetan yang terjadi dengan melahirkan fatwa terkait dengan peristiwa tersebut. Tepatnya, pada 1 Jumadil Awal 1401 H atau 7 Maret 1981, secara resmi MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya mengikuti perayaan Natal bersama. Hal ini dilakukan oleh Majelis Ulama sebagai upaya agar umat Islam tidak terjebak dalam perkara yang <em>syubhat</em> (meragukan) dan terjerumus  ke dalam larangan Allah. Natal bersama telah banyak disalah mengerti oleh umat Islam seperti merayakan maulid nabi Muhammad, sehingga tidak sedikit kalangan muslim yang mengikutinya. Padahal perayaan natal bagi umat Kristen merupakan ibadah ritual.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup> Muslim bukanlah umat tanpa toleransi, justru Islam-lah, satu-satunya ajaran yang telah mengajarkan toleransi dari teori sampai prakteknya. Permasalahannya apakah menghadiri perayaan Natal bersama merupakan satu-satunya manifestasi dan bukti kerukunan antar umat beragama, dalam hal ini Islam dan Kristen ?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Menteri Agama pada waktu itu Letjen (Purn.) A. Alamsyah Prawiranegara, menyatakan keberatan atas fatwa yang dikeluarkan MUI dan memintanya untuk dicabut. Alasannya, tidak jauh berbeda, fatwa tersebut dianggap berpotensi sebagai pemantik konflik yang pada giliran selanjutnya akan merusak kerukunan umat beragama. Keruwetan tersebut pada akhirnya berujung pada pengunduran diri Prof. Dr. (Buya) HAMKA sebagai ketua MUI.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup> Beliau lebih memilih meletakkan jabatan dari MUI ketimbang mencabut fatwa yang bertujuan menjamin kemaslahatan keyakinan umat Islam tersebut.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Beberapa tahun silam, dengan menghasung slogan toleransi dan kerukunan umat beragama yang sama, kaum liberal di Indonesia menyerukan umat Islam mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristen yang merayakannya. Agaknya seruan ini juga merupakan tindak lanjut dari upaya-upaya “membina” kaum muslimin, yang sebelumnya yang dianggap kurang berhasil. Seruan tersebut terekam dalam sebuah buku &#8216;khusus&#8217; bernama  “Fiqh Lintas Agama”. Buku tersebut menyatakan bahwa dengan tujuan kemashlahatan dan tentu saja tanpa mengorbankan akidah, mengucapkan “selamat Natal” adalah diperbolehkan.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></sup> Pendapat tersebut diperkuat dengan argumentasi teologis bahwa umat Islam hendaknya mengenang dan menghayati ucapan selamat natal yang diucapkan oleh Nabi Isa dalam Al Quran sebagai berikut : “<em>Salam sejahtera untukku pada hari kelahiranku, wafatku, dan kebangkitanku kelak</em>”. (QS. 19:33).<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></sup></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Fakta-fakta di atas merupakan gejolak yang berkembang di kalangan kaum muslimin sendiri. Kebanyakan disuarakan oleh intelektual muslim yang telah terpengaruh oleh pemikiran barat sekuler. Namun upaya menarik umat Islam ke dalam ketegangan antar umat beragama tersebut nampaknya bukan hanya bersal dari kalangan Islam. Berdasarkan observasi yang telah penulis lakukan dan serangkaian pengamatan terhadap media massa dan fakta di lapangan, sejumlah gereja juga melakukan upaya yang kurang lebih sama. Beberapa gereja turut terlibat mengundang kaum muslimin yang awam untuk mengikuti kebaktian dalam perayaan Natal. Bahkan tidak jarang dengan iming-iming imbalan yang bersifat materi. Bahkan beberapa waktu lampau sebagian umat Islam juga telah mendapatkan buku tulisan dari Pendeta Poernomo Winangoen yang berjudul “Selamat Natal dalam Al Quran&#8221;. Isinya tidak terlalu jauh dari apa yang telah ditulis kaum liberalis di Indonesia. Sebuah peragaan penafsiran Al Quran yang gegabah dan sarat muatan kepentingan. Fakta-fakta lapangan yang demikian jelas bukan lagi merupakan wilayah netral atas nama toleransi dan kerukunan umat beragama. Namun telah menjurus ke dalam hegemoni atau lebih tepatnya tirani salah satu agama atas umat agama yang lain.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah penolakan MUI terkait keikutsertaan menghadiri undangan prosesi Natal bersama dan pemberian ucapan Selamat natal, lantas mendudukkan kaum muslimin sebagai intoleran ? Sebaliknya, apakah dengan melakukan kedua hal tersebut, lantas kaum muslimin akan mendapatkan persdikat sebagi umat yang toleran ? Tentu saja jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut adalah tidak. Secara normatif, alasan keberatan umat islam mengikuti ritual natal dan penolakan mereka untuk memberikan ucapan selamat natal juga harus diakomodasi dan mendapat porsi pencermatan lebih mendalam. Dengan demikian tidak terjadi penyudutan secara sepihak terhadap umat Islam sebagai pihak anti-toleransi dan kontra terhadap kerukunan antar umat beragama. Apalagi jika alasan sebenarnya justru terletak pada keyakinan yang mendasar terhadap ajaran agamanya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Terkait dengan kehadiran dalam perayaan Natal bersama, umat Islam telah memperoleh status hukum agama yang tegas melalui fatwa ulama MUI bahwa hukum menghadiri acara tersebut adalah haram. Fatwa tersebut belum dicabut hingga hari ini, sehingga konsekuensi hukumnya bagi seorang muslim tetap berlaku. Akan tetapi terkait dengan pengucapan selamat Natal memang belum mendapatkan penegasan berupa fatwa sebagimana perayaan natal bersama. Namun demikian bukan berati bahwa hukumnya tidak ada atau tidak dapat dijelaskan. Maka, kehadiran tulisan ini dimaksudkan sebagai sebuah usaha untuk memaparkan kesulitan umat Islam yang menyebabkan mereka terlarang untuk mengucapkan selamat Natal kepada penganut agama Kristen. Diharapkan tulisan ini bukan hanya akan memberikan pemahaman terhadap kalangan muslim yang masih awam terhadap hal tersebut sekaligus memberikan pengertian terhadap umat Nashrani bahwa sikap muslim yang menolak memberi ucapan selamat Natal semata-mata merupakan bentuk konsekuensi logis umat Islam atas keimanannya terhadap sumber hukum Islam, yaitu Al Quran. Sekali lagi, bukan karena umat islam berusaha memposisikan diri sebagai umat yang anti toleransi dan anti kerukunan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>KELAHIRAN NABI ISA DALAM AL QURAN</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong> </strong>Para penulis buku “Fiqih Lintas Agama” memiliki masalah terkait dengan kecermatan mereka dalam mengetengahkan Al Quran Surat Maryam ayat  33 sebagai pijakan teologis bahwa mengucapkan selamat Natal terhadap penganut Kristen adalah diperbolehkan bagi umat Islam. Ayat yang dimaksud adalah sebagi berikut:</p>
<p style="margin-left:1.25cm;margin-right:.84cm;margin-bottom:0;" align="justify"><em>Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali</em>&#8220;.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></sup></p>
<p style="margin-right:.09cm;margin-bottom:0;" align="justify">Ayat tersebut hanya diambil sebagai sebuah penggalan dengan melupakan hubungan ayat tersebut dengan ayat-ayat sebelumnya. Padahal melihat hubungan antar ayat dalam Al Quran guna menghasilkan sebuah penafsiran adalah pendekatan yang mutlak harus dilakukan. Melepaskan hubungan antar ayat, sebagaimana dilakukan oleh para penggagas “Fiqih Lintas Agama” tersebut, akan menghasilkan tafsiran yang kurang komprehensif atau bahkan sangat dimungkinkan akan menghasilkan tafsir menyesatkan. Terbukti penafsiran yang dilakukan oleh kalngan liberal tersebut menghasilkan pemahaman yang fragmentatif karena tidak mempertimbangkan <em>sibaq</em> (pra), <em>lihaq</em> (pasca), dan <em>siyaq</em> (suasana). Adapun keterkaitan antar ayat tersebut akan ditampilkan sebagi berikut:</p>
<p style="margin-left:1.25cm;margin-right:.84cm;margin-bottom:0;" align="justify"><strong>(30).</strong> <em>Berkata Isa: &#8220;Sesungguhnya Aku Ini hamba Allah, dia memberiku Al Kitab (Injil) dan dia menjadikan Aku seorang nabi</em>, <strong>(31).</strong> <em>Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup</em>; <strong>(32)</strong>. <em>Dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan Aku seorang yang sombong lagi celaka.</em> <strong>(33).</strong> <em>Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali&#8221;.</em><sup><em><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></em></sup></p>
<p style="margin-right:.09cm;text-indent:1.25cm;margin-bottom:0;" align="justify">Ayat ke-30 tersebut menjelaskan kedudukan Nabi Isa sebagai seorang hamba dan Nabi yang menerima kitab dari Allah. Dalam konsep Islam, nabi dan rasul, termasuk Nabi Isa, adalah manusia biasa yang menjadi hamba dan utusan Allah, bukannya sebagai Tuhan. Sementara itu umat Kristen menyakini bahwa Yesus adalah salah satu oknum dari ketuhanan trinitas atau dengan kata lain Yesus adalah Tuhan itu sendiri. Bagi pemeluk agama Kristen, Yesus adalah manusia dan dia juga seorang nabi, namun dia juga merupakan Firman Tuhan yang pada hakikatnya Yesus adalah satu dengan Tuhan.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></sup> Dari sini telah jelas perbedaan konsep antara kedua agama tersebut. Maka pertanyaan besar yang seharusnya mengemuka adalah : “Apakah umat Kristen akan bersedia menerima jika diberi ucapan selamat natal bagi Yesus yang dilahirkan hanya sebagi manusia biasa, bukannya Tuhan ?”. Demikian juga sebaliknya, “Apakah umat Islam akan bersedia memberikan ucapan selamat Natal dengan konsekuensi menganggap Yesus sebagai Tuhan ?</p>
<p style="margin-right:.09cm;text-indent:1.25cm;margin-bottom:0;" align="justify">Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat 33 Surat Maryam tersebut merupakan sebagian dari ketetapan Nabi Isa atas dirinya sebagai hamba Allah dan dia hanya merupakan makhluk, sebagimana makhluk Allah lainnya. Beliau mengalami hidup, mati, dan dibangkitkan kembali sebagaimana makhluk lainnya pula.<a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a> Prof. DR. (Buya) Hamka menyoroti bahwa maksud ayat tersebut pada dasarnya merupakan sebuah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Isa agar diberikan keselamatan dan kesejahteraan mulai dalam kehidupan di dunia yang ditandai dengan sejak kelahirannya, ketika telah mati yaitu saat berada di alam kubur, dan pada hari kiamat pada masa kebangkitan.<a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"><sup>10</sup></a> Tengku Hasbi Ash Shiddieqy memaknai bahwa ayat ke 33 Surah Maryam tersebut maksudnya adalah penekanan pada pembelaan Nabi Isa yang ibunya, Maryam, telah dituduh sebagai wanita pezina oleh kalangan Yahudi. Masyarakat Yahudi tidak dapat menerima bahwa Isa adalah seorang utusan bagi mereka.<a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a> Senada dengan Buya Hamka, M. Quraish Shihab menafsirkan bahwa ayat tersebut merupakan doa Nabi Isa bahwa salam yakni keselamatan besar dan kesejahteraan sempurna tercurah atas diri beliau serta terhindarkan dari aib dan bencana serta kekurangan pada hari kelahiran, pada hari meninggal dunia, dan pada hari kebangkitan kelak di padang Mahsyar. Lebih lanjut Quraish Shihab menegaskan bahwa ayat tersebut sama sekali tidak terkait dengan ucapan “Selamat Natal”. Pengucapan “Selamat Natal” tersebut terkait dengan Ketuhanan Yesus Kristus, sebagimana diyakini kaum Kristen, jelas bertentangan dengan keimanan  karena mengaburkan keyakinan azasi Islam.<a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote12anc" href="#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a> Quraish Shihab nampaknya masih memberikan kelonggaran berupa batasan bahwa ucapan “Selamat Natal” tersebut masih sesuai dengan semangat Al Quran maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Mengenai hal ini maka akan penulis bahas lebih lanjut.<a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"><sup>13</sup></a></p>
<p style="margin-right:.09cm;text-indent:1.25cm;margin-bottom:0;" align="justify">Dari pembahasan di atas memang telah tegas bahwa kedua agama tersebut memiliki konsep yang berbeda terhadap sosok yang kurang lebih adalah sama. Dengan kata lain dapat ditegaskan pula bahwa semua agama tidak sama dan konsekuensinya tidak semua agama benar. Namun perbedaan tersebut tidak harus dimunculkan sebagai potensi konflik. Justru perbedaan konsep teologis antara kedua agama tersebut hendaknya dipahami secara mendalam. Jika permasalahanya terkait hubungan antar umat beragama, maka persoalannya bukan terletak pada ucapan selamat hari raya antar agama. Kerukunan tersebut seharusnya lebih merupakan kesadaran setiap umat beragama sebagai sesama ras manusia. Islam disatu sisi telah memiliki sumber-sumber teologis yang cukup untuk menyusun sebuah kerangka kerukunan antar umat beragama. Piagam Madinah, misalnya, merupakan <em>material source</em> yang telah cukup mamadai guna menghasilkan konsep tersebut. Apalagi ketentuan Rasulullah SAW dalam Piagam Madinah tersebut telah secara meyakinkan mampu dibuktikan untuk mengatur pemerintahan Madinah yang multi etnis dan multi-agama. Di lain pihak perbedaan tidak selalu menjadi sumber konflik jika sikap saling pengertian telah terbina sejak awal. Dalam banyak kejadian, upaya menghilangkan sejumlah perbedaan antar agama dengan mengaburkan nilai-nilai agama yang bersangkutan justru merupakan sumber rentan pemicu konflik.</p>
<p style="margin-right:.09cm;text-indent:1.25cm;margin-bottom:0;" align="justify">Nabi Isa dalam pandangan Islam merupakan salah satu Nabi yang diyakini diantara nabi-nabi Allah lainnya. Beliau juga merupakan salah satu Nabi dalam <em>‘ulul azmi</em>. Terkait dengan proses kelahiran Nabi Isa, Al Quran memiliki informasi tersendiri secara mandiri yang secara diametral sangat berbeda dengan keterangan dari Perjanjian Baru, kitab suci umat Kristen. Proses kelahiran yang tidak sama ini, harus disadari sejak awal, juga akan melahirkan konsepsi yang berbeda pula.</p>
<p style="margin-right:.09cm;text-indent:1.25cm;margin-bottom:0;" align="justify">Al Quran memberikan informasi bahwa Isa <em>alaihi as salam</em> dilahirkan oleh ibundanya, Maryam, dibawah pohon Kurma yang sedang masak buahnya. Informasi ini akan dapat digunakan untuk merekonstruksi waktu kelahiran berdasarkan versi Islam. Adapun Ayat Al Quran tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p style="margin-left:1.25cm;margin-right:.84cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><strong>(23)</strong></span><span style="font-size:x-small;"><em>.  Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: &#8220;Aduhai, alangkah baiknya Aku mati sebelum ini, dan Aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan&#8221;. </em></span><span style="font-size:x-small;"><strong>(24)</strong></span><span style="font-size:x-small;"><em>. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: &#8220;Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu Telah menjadikan anak sungai di bawahmu. </em></span><span style="font-size:x-small;">(</span><span style="font-size:x-small;"><strong>25)</strong></span><span style="font-size:x-small;"><em>. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,</em></span></p>
<p style="margin-right:.09cm;text-indent:1.25cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;">Dengan asumsi bahwa Nabi Isa lahir di wilayah Betlehem, Palestina, maka kelahiran tersebut telah terjadi pada musim kurma sedang masak. Pohon kurma termasuk pohon musiman dan kematangan buah kurma biasanya memang tidak bisa serentak pada waktu yang sama. Walaupun tidak masak bersamaan kurma di palestina, secara umum, telah mengalami puncak kematangan pada musim panas. Keterangan yang lebih jelas adalah kurma tidak mungkin masak pada musim dingin atau penghujan. Berdasarkan hal ini maka telah jelas, Al Quran mengisyaratkan bahwa kelahiran Isa terjadi pada musim panas. Waktu tepat untuk kematangan kurma itu sendiri adalah antara bulan </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><strong>Maret</strong></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> sampai </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><strong>Juni</strong></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. Jadi dalam interval kedua bulan itulah Nabi Isa telah dilahirkan oleh Maryam ke dunia. Penggunaan interval waktu dalam kedua bulan tersebut telah mempertimbangkan kematangan kurma yang tidak serempak. Namun masih berada dalam satu musim panas.</span></p>
<p style="margin-right:.09cm;text-indent:1.25cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;">Sementara umat Kristen telah meyakini bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember dimana setiap tahunnya hari tersebut diperingati sebagi hari Natal. Pada bulan Desember tersebut, matahari berada pada titik balik musim dingin. Dengan kata lain Betlehem sedang mengalami musim dingin. Sedangkan kurma tidak mungkin masak pada musim dingin tersebut. Dengan demikian, semakin jelas sudah bahwa konsep kelahiran Nabi Isa dalam Al Quran dan keyakinan umat Kristiani tentang hari Natal adalah dua hal yang berbeda dan sukar dikompromikan.</span></p>
<p style="margin-right:.09cm;text-indent:1.25cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;">Bagi umat Islam, mengucapkan selamat natal kepada penganut agama Kristen sama artinya dengan mengingkari informasi yang diberikan oleh kitab sucinya sendiri. Di lain sisi, pada saat yang sama umat Islam dilarang untuk bermental hipokrit (munafik). Maka, dengan alasan bahwa ucapan selamat Natal tersebut hanya sekedar untuk menjaga hubungan erat dan tidak perlu menjadi keyakinan  pun, misalnya sekedar sebagi basa basi, tetap harus dihindari.  Sebab konsekuensinya berhubungan dengan keyakinan paling mendasar yaitu terhadap kebenaran informasi dari Allah dalam Al Quran.</span></p>
<p style="margin-right:.09cm;text-indent:1.25cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;">Menurut hemat penulis, dengan penjelasan yang demikian, kalangan Kristen sekali pun akan menghargai dan menghormati keyakinan umat Islam dalam menjalankan ajaran agama yang berasal dari kitab sucinya. Hal inilah tindakan bijaksana yang harus dilakukan apabila isu toleransi dan kerukunan umat bergama memang bukan sekadar retorika atau penghias bibir belaka atau bahkan kamuflase kepentingan yang dibungkus dengan memanfaatkan isu tersebut. Sekali lagi, menganjurkan umat Islam untuk mengucapkan selamat Natal dengan mengabaikan keyakinannya, justru merupakan tindakan anti-toleransi dan merusak kerukunan antar umat beragama.</span></p>
<p style="margin-right:.09cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> Secara mengejutkan, temuan penulis tentang kelahiran Yesus dalam Perjanjian Baru sangat berbeda dengan keyakinan Kristen yang mempercayai 25 Desember sebagi hari Natal. Keterangan Perjanjian Baru tentang lahirnya Yesus, senada dengan informasi yang diberikan oleh Al Quran, ditengarai terjadi pada musim panas. Dengan demikian bukan terjadi pada bulan Desember dimana terjadi musim dingin. Perjanjian Baru dalam Lukas 2 : 8-11 menceritakan suasan kelahiran tersebut sebagi berikut:</span></p>
<p style="margin-left:1.25cm;margin-right:.84cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><strong>(8)</strong></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><strong>(9).</strong></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Tiba-tiba berdirilah malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><strong>(10)</strong></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><strong>(11)</strong></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.</em></span><sup><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote14anc" href="#sdfootnote14sym"><sup>14</sup></a></span></sup></p>
<p style="margin-right:.09cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> Berdasarkan keterangan Lukas 2 : 8-11, Yesus lahir pada saat para penggembala ternak berada di padang Yudea untuk menjaga kawanan ternak yang mereka gembalakan pada suatu malam. Kejadian tersebut tidak mungkin terjadi pada bulan Desember. Sebab wilayah Yudea, setiap bulan Desember memasuki musim penghujan dan hawa malam harinya sangat dingin. Faktanya, paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak yang digembalakan di padang Yudea sudah harus berada di kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menusuk tulang.</span><sup><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote15anc" href="#sdfootnote15sym"><sup>15</sup></a></span></sup></p>
<p style="margin-right:.09cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> Perjanjian Lama dalam Ezra 10 : 9 dan 13 secara tersendiri telah menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, hawa yang ditimbulkan sampai membuat tubuh menggigil dan tidak memungkinkan orang, termasuk penggembala dan ternaknya, berada di udara terbuka, apalagi pada waktu malam. Adapun kedua ayat Perjanjian Lama tersebut adalah sebagai berikut:</span></p>
<p style="margin-left:1.25cm;margin-right:.84cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Lalu berhimpunlah semua orang laki-laki Yehuda  dan Benyamin dari Yerusalem dalam tiga hari itu, yakni dalam bulan kesembilan pada tanggal dua puluh bulan itu. Seluruh rakyat duduk di halaman rumah Allah sambil menggigil karena perkara itu dan karena hujan</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">.</span><sup><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote16anc" href="#sdfootnote16sym"><sup>16</sup></a></span></sup></p>
<p style="margin-left:1.25cm;margin-right:.84cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Tetapi orang-orang ini besar besar jumlahnya dan sekarang musin hujan sehingga orang-orang tidak sanggup berdiri di luar. Lagipula pekerjaan itu bukan perkara sehari dua hari, karena dalam hal itu kami telah melakukan pelanggaran</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">.</span><sup><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote17anc" href="#sdfootnote17sym"><sup>17</sup></a></span></sup></p>
<p style="margin-right:.09cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> Dengan demikian walaupun umat Kristiani meyakini bahwa tanggal 25 Desember adalah hari dimana Yesus telah dilahirkan, namun keyakinan ini justru secara diametral justru bertentangan dengan informasi kitab suci mereka sendiri. Lantas, mengapa hari Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember ?. Edward Gibbon, seorang sejarawan, mengungkapkan bahwa perayaan tersebut diadopsi dari perayaan kelahiran Sol yang diselenggarakan oleh penganut paganisme di Romawi, sebagi berikut: “</span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>The Roman Christians, Ignorant of his (Christ’s) birth, fixed the solemn festival to 25 December, the Brumalia or winter solstice when the pagans annually the birth of Sol</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> ”</span><sup><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote18anc" href="#sdfootnote18sym"><sup>18</sup></a></span></sup><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> .(Orang Kristen Romawi yang tidak mengetahui kelahirannya (Kristus), menentukan perayaan Natal pada 25 Desember, saat Brumalia atau titik balik matahari di musim dingin, ketika kaum pagan setiap tahun merayakan kelahiran Sol).</span></p>
<p style="margin-right:.09cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"> </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Beberapa waktu lampau seorang astronom Australia, David Reneke memprediksi kelahiran Yesus Kristus bukan jatuh pada tanggal 25 Desember, seperti yang dirayakan umat Kristiani sedunia seperti sekarang ini. Sebagimana dilansir </span></span><em><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Telegraph</span></span></em><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">, Reneke mengungkapkan jika ditilik dari peristiwa &#8216;bintang terang natal&#8217; di Betlehem 2000 tahun silam, seharusnya Natal jatuh pada tanggal 17 Juni. Bintang terang natal itulah yang dikisahkan dalam Perjanjian Baru menuntun tiga orang majus pada bayi Yesus untuk mempersembahkan, mur emas, dan kemenyan. Penelitian yang dilakukan oleh astronom mengasumsikan, bintang terang tersebut merupakan kombinasi planet Venus dan Jupiter. Ketika itu, kedua planet berada pada posisi terdekat dan menjadikannya lebih bersinar terang dari biasanya.<a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote19anc" href="#sdfootnote19sym"><sup>19</sup></a> </span></span></p>
<p style="margin-right:.09cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> Hatta demikian telah diketahui bersama bahwa tidak ada tanggal paling pasti tentang kelahiran Nabi Isa. Perayaan Natal per 25 Desember hanya merupakan tradisi Kristen selama berabad-abad yang diadopsi dari perayaan kaum penyembah berhala. Sendainya saja Nabi Isa menginginkan hari lahirnya dirayakan maka tentu salah satu ajaran yang disampaikannya adalah tentang fakta hari kelahirannya terkait waktu yang tepat. Kenyataannya hal itu tidak disampaikannya dan hal ini menjelaskan hakikat bahwa perayaan kelahiran Nabi Isa memang tidak berasal dari ajarannya. Namun merupakan produk dari perkembangan budaya selama berabad-abad dalam kekristenan. Pada bagian terakhir ini, sekaligus perlu ditegaskan bahwa terkait dengan masalah hubungan Islam dengan agama-agama lain beserta klaim-klaim kebenarannya, secara teologis, sudah selesai, </span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><em>settled</em></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">, dan final. Allah sendiri yang telah menuntaskannnya sejak awal melalui Al Quran. Islam memandang perbedaan dan keragaman agama sebagai hakikat ontologis dan sunatullah dan oleh karenanya genuine.<a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote20anc" href="#sdfootnote20sym"><sup>20</sup></a> Oleh karenanyalah maka kaum muslimin hendaknya hanya berpegang kepada kitabullah dan sunah Nabi yang menjadi sumber-sumber hukum Islam.</span></span></p>
<p align="justify">
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><strong>PENUTUP</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">Berdasarkan kajian di atas, sikap penolakan kaum muslimin untuk mengucapkan selamat natal bukan disebabkan oleh faktor antipati apalagi anti-toleransi. Namun lebih karena berpijak pada konsep agamanya sendiri tentang kelahiran Nabi Isa. Berdasarkan kajian terhadap ayat-ayat Al Quran,  Nabi Isa tidak mungkin lahir pada bulan Desember. Konsekuensinya, berdasarkan kajian tersebut maka mengucapkan “Selamat Natal” adalah sebuah wujud penyangkalan terhadap kebenaran Al Quran. Tidak layak bagi seorang muslim untuk melakukan penyangkalan yang demikian halnya. Keyakinan ini, tentu tidak bisa dipaksa untuk berubah hanya karena argumentasi menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama. Apalagi telah terbukti bahwa argumentasi tersebut bukannya berakibat positif namun justru memicu konflik baru di kalangan kaum muslimin. Oleh karena itu kurang bijaksan juga apabila umat Islam dibujuk atau bahkan dipaksa untuk mengikuti ritual agama lain dan memberikan ucapan selamat hari raya dimana umat Islam sendiri telah memiliki konsepnya secara mandiri yang berbeda dengan konsep agama tersebut. Umat Kristiani yang bijaksana, menurut hemat penulis, tentu akan menghormati keyakinan umat Islam yang demikian dalam kerangka toleransi dan kerukunan antar umat beragama.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><strong>MAROJI&#8217;</strong><br />
</span></p>
<div id="sdfootnote1">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a>KH. 	Abdullah Wasi&#8217;an. <em>Al Quran Mengucapkan Selamat Natal</em>. Majalah 	Modus Edisi 3/ Th. II/2004. Hal. 5</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a>Tim 	Fakta. <em>Propaganda Natal</em>. Majalah Sabili No. 12 Th. XI/ 2004. 	Hal. 86-87</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc">3</a>KH. 	Abdullah Wasi&#8217;an. <em>Opcit</em>. Hal. 5</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc">4</a>Mun&#8217;im 	A. Sirry (editor). <em>Fiqih Lintas Agama: membangun Masyarakat 	Inklusif-Pluralis</em>. Cetakan VII. (Paramadina, Jakarta, 2005). 	Hal. 84</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc">5</a>Mun&#8217;im 	A. Sirry. <em>Ibid</em>. Hal. 82</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc">6</a> QS. Al Maryam : 33</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc">7</a> <span style="font-family:Times New Roman,serif;">QS. Maryam : 30-33</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc">8</a> <span style="font-family:Times New Roman,serif;">I. Suharyo, Pr. </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Membaca 	Kitab Suci Mengenal Tulisan-tulisan Perjanjian Lama</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. 	Cetakan VI. (Lembaga Biblika Indonesia Penerbit Kanisius, 	Yogyakarta, 1995). Hal. 108-109</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc">9</a>Muhammad 	Nasib Ar Rifa&#8217;i. <em>Taisiru al Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir 	Ibnu Katsir III</em>. (Ma&#8217;tabah Ma&#8217;arif, Riyadh, 1989). Terjemah Drs. 	Syihabuddin. <em>Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir 	III</em>. (Gema Insani Press, Jakarta, 2000). Hal. 192</p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc">10</a>Prof. 	DR. Hamka. <em>Tafsir Al Azhar Juz XVI</em>. (Pustaka Panjimas, 	Jakarta, 1988). Hal. 29</p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc">11</a>Teungku 	Muh. Hasbi Ash Shiddieqy. <em>Tafsir Al Quranul Majid 3</em>. (Pustaka 	Rizki Putra, Semarang, 2000). Hal. 2475</p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc">12</a>M. 	Quraish Shihab. <em>Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian 	Al Qur&#8217;an</em>. Vol. 8. (Lentera Hati, Jakarta, 2002). Hal. 180-184</p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc">13</a>M. 	Quraish Shihab. <em>Ibid</em>. Hal. 183</p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc">14</a> Lukas 2: 8-11. <em>Alkitab</em><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. 	(Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 2002) </span></p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote15sym" href="#sdfootnote15anc">15</a> <span style="font-family:Times New Roman,serif;">Pendeta Herbert W. Armstrong. </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Plain Truth About 	Christmass</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. Terjemah 	oleh Masyhud SM. </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Merayakan 	Natal Melestarikan Ritual Penyembah Berhala</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. 	Modus Vol. II No. 6 Th. II/ 2005. Hal. 28</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote16sym" href="#sdfootnote16anc">16</a> <span style="font-family:Times New Roman,serif;">Ezra 10 : 9. </span><em>Alkitab</em><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. 	(Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 2002)</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote17sym" href="#sdfootnote17anc">17</a> <span style="font-family:Times New Roman,serif;">Ezra 10 : 13. </span><em>Alkitab</em><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. 	(Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 2002)</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote18sym" href="#sdfootnote18anc">18</a> <span style="font-family:Times New Roman,serif;">Edward Gibbon. </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Decline 	and Fall of Roman Empire</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. 	Vol. II. Hal 383 dalam Wahyudi. </span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><em>Sex 	in the Bible</em></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;">. (Bina 	Ilmu, Surabaya, 2004). Hal. 34</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote19">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote19sym" href="#sdfootnote19anc">19</a>Lihat 	situs 	<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=8147:astronom-yesus-lahir-bulan-juni&amp;catid=103:iptek&amp;Itemid=56"><span style="font-family:Times New Roman,serif;">http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=8147:astronom-yesus-lahir-bulan-juni&amp;catid=103:iptek&amp;Itemid=56</span></a>. 	Diakses pada tanggal 18 Desember 2008 pukul 9.34 WIB.</p>
</div>
<div id="sdfootnote20">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote20sym" href="#sdfootnote20anc">20</a>DR. 	Anis Malik Thoha. <em>Inklusivisme Lahir dari Rahim Kristen</em>. 	Majalah Tabligh Vol. 02/ No. 9. (Jakarta, 2004). Hal. 18</p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=80&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2008/12/18/salam-sejahtera-atas-kelahiran-isa-al-masih-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SANG NABI PEMBELAH BULAN</title>
		<link>http://susiyanto.wordpress.com/2008/10/30/sang-nabi-pembelah-bulan/</link>
		<comments>http://susiyanto.wordpress.com/2008/10/30/sang-nabi-pembelah-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 08:12:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[(Deskripsi Atas Mu’jizat Nabi Muhammad)

“ Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan ”. (QS. Al Qamar : 1)

“ Entah aku orang kafir atau beriman – hanya Allah sajalah yang tahu  siapa aku ! Tetapi aku yakin, aku adalah hamba Nabi, yang menjadi penguasa Madinah ”. (Sir Kishan Prasad Shad , Pernah menjabat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=67&subd=susiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="center"><strong><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">(Deskripsi Atas Mu’jizat Nabi</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"> Muhammad)</span></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="center">“ <span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em><span>Telah dekat (datangnya) saat itu dan</span></em></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em> telah terbelah bulan</em></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> ”. (</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">QS. Al Qamar : 1</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>)</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="center">“ <span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em><span>Entah aku orang kafir atau beriman – hanya Allah sajalah yang tahu  siapa aku ! Tetapi aku yakin, aku adalah hamba Nabi, yang menjadi penguasa Madinah</span></em></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> ”. (</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Sir Kishan Prasad Shad , </span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Pernah menjabat sebagai</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"> </span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Perdana Menteri Hindhu dari Negara Bagian Hyderabad, Wafat 1943).<span id="more-67"></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="center">
<p><strong><span style="font-size:small;">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Beberapa bukti telah mengemuka bahwa studi terhadap Islam dikalangan orientalis maupun sejumlah ilmuwan Barat seringkali di</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>warnai dengan pandangan sisnis penuh kecurigaan dan prasangka penuh kebencian. Dalam sejumlah kasus, penelitian dan kajian terhadap Islam tidak dimaksudkan untuk memahami hakekat Islam itu sendiri, justru beberapa diantaranya tidak bebas dari motif untuk mengkaburkan nilai kebenaran ajaran Islam dan bahkan menjatuhkannya dengan sejumlah fakta buatan, dugaan yang dijustifikasi sebagai kebenaran, dan fitnah belaka. Bahkan tidak jarang merupakan ekshibisi sikap kaum </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em><span>sophist</span></em></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>. </span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Kajian orientalis tidak hanya berhenti kepada doktrin pokok keislaman. Namun merambah kepada renik-r</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>enik ajaran Islam. Tidak terkecuali mu’jizat nabi yang terdokumentasi dalam sejumlah kitab hadits dipersoalkan. Tentu saja kajian tersebut bukan dalam rangka peningkatan keimanan dan pencarian hikmah dalam kehidupan. Lebih jauh, motif kajian tersebut adalah dalam upaya menemukan kelemahan Islam, kalaupun ada. Faktanya kelemahan Islam yang dimaksud hanya hidup dalam pandangan mereka, bukan dalam realitas sebenarnya. </span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Salah satu b</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>erita hadits yang dianggap bermasalah oleh kalangan orientalis terkait  mu’jizat Nabi Muhammad dalam peristiwa pembelahan bulan. Moment tersebut dianggap tidak masuk akal dan karenanya mereka merasa mendapatkan justifikasi bahwa Islam merupakan agama yang tidak rasional. Secara mendalam, kaum orientalis juga hendak berbicara bahwa hadits tidak selalu dapat dijadikan rujukan karena tidak lepas dari kemustahilan. Demikianlah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, menurut mereka.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Berdasarkan hal inilah, maka penulis berusaha untuk mengangkat</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> kembali persoalan tersebut dan menyajikannya kembali dalam bentuk tulisan. Tulisan dengan tema sejenis, tentu sudah banyak dipublikasikan oleh penulis lain. Penulis sendiri mendapatkan inspirasi untuk menulis kisah ini, tidak lain pasca terlibat dialog intens dengan seorang family yang beragama Kristen. Mudah-mudahan tulisan ini tetap akan memberikan manfaat, setidaknya bagi kalangan muslim awam maupun faqih yang membutuhkan jawaban atas pertanyaan mengenai: </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em><span>Bagaimana hakikat nash tentang pembelahan bulan ?</span></em></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> dan </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em><span>bagaimana kenyataan tentang terbelahnya bulan itu sendiri ?</span></em></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><strong><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">NASH ATAS </span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">MU’JIZAT</span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></span></span></sup></strong><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong> DAN KAJIAN BARAT</strong> </span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="font-size:small;">Mu’jizat adalah suatu perkara luar biasa yang tidak dapat ditafsirkan oleh hukum alam (hukum kausalitas). Terbelahnya rembulan adalah mukjizat yang terjadi untuk Rasulullah saw, dan menjadi bukti kenabian dan kerasulannya. Mu’jizat ini terjadi untuk menjawab tantangan orang-orang yang meragukan kenabian dan menegaskan bahwa risalah yang disampaikannya berasal dari Allah. Dalam pandangan Islam, mu’jizat hanya terjadi atas kehendak dan ijin Allah. Dengan cara inilah Allah menguatkan nabi-Nya. Secara khusus Al Quran dan Hadits telah menerangkan tentang peristiwa terbelahnya bulan. Dalam al Quran Surah Al Qamar Allah menerangkan sebagai berikut :</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="font-size:small;"><em>Telah dekat datangnya saat itu dan Telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: &#8220;(Ini adalah) sihir yang terus menerus&#8221;. Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan Telah ada ketetapannya</em><sup><em><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></em></sup></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Beberapa mufasir muslim menafsirkan </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em><span>ansyaqqa al qamaru</span></em></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> (telah terbelah bulan) dalam Surah Al Qomar ayat 1 merupakan peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, yaitu hari kiamat. Pendapat ini didukung oleh az Zamakhsyari dan al Baidhawi. Hal ini didasrkan pada argumentasi bahwa kata </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em><span>ansyaqqa</span></em></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> (telah terbelah) adalah bentuk lampau yang mengandung makna ‘akan terbelah’ secara majaz. Makna majaz tidak akan terjadi jika makna hakiki memungkinkan (tidak mustahil), sedangkan makna hakiki dari lafadz di atas bukannya tidak memungkinkan tetapi wajib. Al Baidhawi juga melakukan kekeliruan karena tidak menterjemahkan makna </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em><span>ansyaqqa</span></em></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> dengan ‘akan terbelah’ tetapi beliau menterjemahkan dalam bentuk lain. Namun kedua musfasir tersebut juga mengakui bahwa peristiwa tersebut merupakan mu’jizat Nabi Muhammad dan terjadi ketika beliau masih hidup. Dengan demikian kedua penafsir tersebut membahas tentang dua peristiwa yang berlainan yaitu bahwa bulan telah terbelah pada masa kehidupan Nabi sebagai sebuah mu’jizat atas ijin Allah dan akan terbelah lagi pada hari kiamat.</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"> </span></span></sup></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="font-size:small;">Sedangkan dalam hadits diterangkan bahwa lima tahun sebelum Nabi saw berhijrah dari Makkah ke Madinah, ada sekelompok orang Quraisy yang datang menemui beliau dan mengatakan: “Hai Muhammad, jika engkau benar-benar seorang nabi dan rasul maka datangkanlah bukti yang menunjukkan bahwa engkau memang benar-benar seorang nabi dan rasul.” Maka Nabi bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian inginkan?” Mereka berkata dengan tujuan melemahkan dan menantang: “Belahlah untuk kami rembulan itu!” Nabi saw lantas berdiri beberapa saat. Beliau berdoa kepada Allah swt agar memberikan pertolongan untuknya dalam situasi seperti ini. Allah swt lantas memberikan ilham kepada beliau untuk berisyarat dengan menggunakan jari tangan beliau ke arah rembulan. Tiba-tiba rembulan tersebut terbelah menjadi dua bagian. Satu bagian menjauh dari bagian yang lain selama beberapa waktu yang tidak dijelaskan kemudian menyatu kembali.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="font-size:small;">Maka orang kafir berkomentar: “Muhammad telah menyihir kita.” Akan tetapi orang-orang yang cerdas diantara mereka mengatakan: Sesungguhnya sihir itu terkadang dapat mempengaruhi orang-orang yang menyaksikannya dan tidak dapat mempengaruhi seluruh manusia. Maka tunggulah rombongan yang datang dari perjalanan.” Maka orang-orang kafir bergegas keluar menuju pintu-pintu kota Makkah untuk menunggu orang-orang yang datang dari perjalanan. Ketika rombongan pertama datang, orang kafir menanyakan kepada mereka: “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh terjadi pada rembulan itu? ” Mereka menjawab: “Ya, benar. Pada malam anu kami melihat rembulan itu telah terbelah menjadi dua dan saling berjauhan satu dari yang lain kemudian kembali menyatu.” Maka berimanlah sebagian dari mereka dan kafirlah orang-orang yang tetap kafir.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Peristiwa tentang terbela</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>hnya bulan diceritakan dalam hadits melalui banyak jalur periwayatan dengan periwayat yang terpercaya. Harus dikatakan bahwa Peristiwa terbelahnya bulan merupakan berita yang bersumber dari hadits mutawattir atau masyhur menurut pendapat yang lain.</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> Peristiwa tersebut merupakan kejadian yang disaksikan oleh banyak orang yang menjadi saksi mata, baik dari kalangan mukmin maupun kafir, termasuk dari berbagai tempat yang berlainan. Moment ini bukan hanya disaksikan oleh orang kafir yang hadir pada saat terbelahnya bulan. Namun juga oleh warga Arab di sekitar Makkah lainnya. Sedangkan keterangan lain bahwa bulan turun, lalu memasuki lengan baju Rasulullah SAW adalah berasal dari hadits lemah. Dengan demikian tidak dapat diterima.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Ketika orang kafir menyaksikan peristiwa tersebut (sebagai saksi utama di tempat kejadian) mereka berkata kepada kaum mereka “Kamu telah disihir oleh Muhammad”. Bahkan Abu Jahal, tokoh musyrik yang nyata permusuhannya terhadap Islam, berkata: Ini adalah sihir, kalau demikian untuk membuktikan kebenarannya, sebarkanlah beberapa orang ke segala penjuru, lalu tanyakanlah apakah mereka melihat bulan terbelah”. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh orang-orang suruhan Abu Jahal, ditemukan kenyataan bahwa penduduk sekitar Makkah melihat bulan yang terbelah. Banyak penduduk makkah yang pada malam hari melakukan perjalanan dan pada siang harinya berdiam atau berteduh di rumah. Mereka inilah yang juga turut menguatkan bahwa bulan memang terbelah. Mendengar hal ini maka Abu Jahal berkomentar : “Jika demikian, ini adalah sihir yang meliputi jangkauan yang luas ”.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Dewasa ini mu’jizat</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> nabi telah mulai dipersoalkan oleh sejumlah kalangan orientalis Barat. Beberapa penulis Kristen menuduh bahwa mu’jizat-mu’jizat Muhammad tidak lain hanyalah ciptaan dan rekaan pengikut-pengikutnya belaka yang terkagum-kagum setelah mereka mendengar tentang mu’jizat Yesus dalam Perjanjian Baru. Berdasarkan hal inilah maka pengikut Muhammad menciptakan cerita-cerita bohong untuk menunjukkan kehebatan nabinya.</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> Tuduhan ini jelas tidak beralasan dan kurang pada tempatnya. Dilihat dari sisi manapun, sumber-sumber berita dalam Islam memiliki sistem validasi kesahihan sebuah khabar. Ada penilaian terhadap keshahihan hadits melalui analisa rawi dan sanad. Sedangkan Perjanjian Baru adalah kitab yang tidak diketahui profil penulis, kapasitasnya, reputasinya, dan kapan masa kepenulisan. Perjanjian Baru bahkan tidak dapat disejajarkan mutunya sebanding dengan hadits dhaif (hadits lemah) atau hadits palsu sekalipun. Dalam hadits dhaif, sanad dan rawi kadang masih dapat ditelusur, namun tidak demikian dengan kisah yang termaktub dalam Perjanjian Baru, termasuk berita tentang perbuatan Yesus.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Secara khusus, salah satu orientalis Kristen yang mempertanyakan </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>mu’jizat Nabi tentang pembelahan bulan adalah Robert Morey. Dalam tulisannya, Morey berusaha menjatuhkan mu’jizat nabi ini dengan menambahkan pendapat-pendapat pribadinya dan digambarkan seolah-olah merupakan bagian dari riwayat hadits. Sebagai contoh misalnya Morey menceritakan bahwa “ kemukjizatan ini terjadi di kala pedang Muhammad jadi sangat luar biasa besarnya atau bulan yang dipotong itu menjadi sangat kecil ukurannya.</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> Morey berusaha untuk menggiring bahwa Muhammad telah membelah bulan dengan pedangnya dalam arti yang sesungguhnya. Bagi Morey arti ‘pedang Muhammad’ memang memiliki makna khusus. Dengan frase yang sama, Morey berusaha mendiskripsikan Nabi Muhammad sebagai perampok, penjarah, dan penjahat perang. Dapat dirunut bahwa sejak awal, Morey memang telah memiliki sentiment negatif dan phobia terhadap Islam dan nabinya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Bahkan Morey mempertanyakan bahwa jika Muhammad memiliki kemu’jizatan membelah bulan menjadi dua, Muhammad tentu tidak perlu menaklukkan musuhnya dengan kekuatan militer, melainkan mereka sudah ketakutan dan beramai-ramai masuk Islam. Terkait hal ini, rupanya Morey kurang teliti membaca redaksi hadits, namun Morey terlalu bersemangat mencercanya. Kenyataannya, manusia tetap saja bisa tidak mempercayai apa yang telah disaksikannya. Hal ini adalah wajar, jika kaum kafir telah tertutup mata hatinya maka sulit baginya menerima kebenaran. Seharusnya Morey melihat sendiri ke dalam kitab yang diyakininya, yaitu Bible. Sejumlah “mu’jizat-mu’jizat besar” Yesus, yang dari pandangan rasional adalah mustahil, telah disaksikan oleh banyak manusia, namun sampai akhir misinya terbukti Yesus tidak banyak memiliki pengikut bahkan didustakan oleh kaum Yahudi. Demikian juga “mu’jizat-mu’jizat” lainnya dalam Bible.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Justru redaksi hadits telah memberi informasi bahwa peristiwa itu menimbulkan berbagai reaksi berbeda dalam kalangan masyarakat Arab. Orang-orang kafir yang menantang nabi untuk menunjukkan mu’jizat bukannya tersadar dan beriman mengikuti ajaran nabi. Justru mereka melontarkan tuduhan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang penyihir yang telah menipu mata mereka dengan sihirnya. Sementara kalangan mukmin bertambah imannya. Tidak sedikit pula golongan yang semula ragu akan kebenaran ajaran Muhammad berbalik arah menjadi seorang muslim.</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></strong></span></span></sup></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><strong><span style="font-size:small;">KENYATAAN TENTANG TERBELAHNYA BULAN</span></strong></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Sejumlah pertanyaan seringkali mengemuka terkait pembelahan bulan</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>. Salah satunya adalah mengapa tidak ada bangsa-bangsa di luar Arab yang melihat kejadian tersebut</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> dan mengabadikannya ke dalam sebuah bentuk dokumen tertulis atau sejenis bangunan untuk memperingatinya. Perlu dimengerti sejak awal bahwa moment terbelahnya bulan terjadi pada malam hari, pada saat kebanyakan manusia telah lengah dan tertidur. Sehingga mereka yang berada dalam keadaan demikian tentu tidak dapat menjadi saksi atas peristiwa yang terjadi. Namun wajar bila masyarakat Arab banyak yang menyaksikan mu’jizat tersebut, sebab sebagian besar kebiasaan yang mereka miliki adalah berdiam di rumah pada siang hari dan berjalan pada malam hari. Harus dipahami pula bahwa peristiwa terbelahnya bulan bukan merupakan moment yang bisa ditunggu dan diprediksi sejak awal waktunya, sebagaimana gerhana bulan atau datangnya Muharam. Kesulitan lainnya yang perlu diungkap adalah terkait cuaca yang tidak sama pada wilayah geografis berbeda. Pada saat di Arab langit cerah, misalnya, bisa saja langit di wilayah lain mendung. Selain itu munculnya bulan tidak sama pada seluruh posisi di bumi. Ada kalanya jika di sebagian tempat terjadi gerhana bulan, namun hal yang sama tidak berlaku di tempat yang lain. Maka sejumlah pernyataan yang mempertanyakan mengapa tidak ada peristiwa tersebut tidak menjadi cerita popular bagi sejumlah bangsa non Arab dapat dijelaskan. Harus dipahami pula bahwa peristiwa-peristiwa yang dianggap aneh, terutama yang diceritakan oleh orang awam, seringkali tidak diakui oleh sejarawan. Salah satunya penyebabnya terkait dengan permasalahan ‘rasionalitas’. Para sejarawan sering mengungkapkan sejumlah peristiwa alam, namun jarang sekali mereka mengungkapkan kenampakan-kenampakan langit, kecuali para sejarawan klasik yang memiliki orientasi terhadap kepercayaan tertentu. Peristiwa terbelahnya bulan, ghalibnya adalah wujud pertarungan antara ajaran hak dan bathil. Dalam hal ini terdapat pihak yang tidak suka jika sebuah kebenaran tersebar meluas. Maka tidak heran jika ada pihak-pihak yang berusaha menutup akses terhadap hakikat peristiwa tersebut. Hal-hal yang telah dipaparkan di atas adalah jawaban secara akal bagi mereka yang meragukan kejadian terbelahnya rembulan. Selain hal di atas, masih ada sejumlah testimoni yang menguatkan bahwa terbelahnya bulan adalah peristiwa historis.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="font-size:small;">Dengan mencermati riwayat hadits saja telah dapat dipahami bahwa kejadian terbelahnya bulan merupakan moment yang disaksikan oleh banyak mata. Para saksi itupun tidak terbatas kaum muslimin dan musyrikin yang hadir pada saat Nabi menunjukkan mu’jizatnya atas ijin Allah. Namun juga saksi yang melihat bulan terbelah di sekitar wilayah Makkah. Dengan demikian tidak mungkin masyarakat Arab pada saat itu, yang terdiri dari muslim dan non muslim, bersepakat untuk melakukan kebohongan secara kolektif. Namun demikian kesaksian yang berasal dari luar jazirah Arabia agaknya tetap diperlukan guna memperkuat bukti yang sebenarnya telah kuat dan menjawab keraguan orang yang masih ragu.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Pada bab ke-11 dalam </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Tarikh Farasytih disebutkan bahwa penduduk Malabar juga menyaksikan peristiwa terbelahnya bulan. Tidak lama kemudian setelah mendapat penjelasan yang memadai tentang penyebab terbelahnya bulan, mereka masuk Islam.</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> Kejadian di Malabar ini membuktikan bahwa peristiwa besar tersebut bukan tipuan ilusi atau pun halusinasi. </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Syakrawati Farmad</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>, seorang raja di India Selatan, telah melihat bahwa bulan benar-benar terbelah. Setelah mendapatkan kabar dari para saksi yang dapat dipercayainya tentang apa yang telah terjadi di Mekah, bahwa Nabi dari Arab-lah yang telah memperlihatkan mu’jizat dengan terbelahnya rembulan, maka beliau kemudian memutuskan untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itulah pemukiman pertama Muslim di India dianggap sebagai akibat mu’jizat tersebut.</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> Kenyataan ini mengungkapkan kepada khalayak bahwa peristiwa terbelahnya bulan adalah peristiwa nyata dalam arti sebenarnya. Bukan cerita bohong atau tipuan mata akibat halusinasi atau pengaruh sihir dan ilusi. Peristiwa terbelahnya bulan dapat diamati bukan hanya dari negeri Arab namun juga dari wilayah geografis yang berbeda, yaitu India. </span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>K</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>isah tentang terbelahnya bulan tersebut sedemikian popular. Peristiwa ini bahkan masih bertahan sampai pertengahan abad IX melalui tradisi oral. Abad ini, juga ditandai dengan dibuatnya sebuah miniature di istana Rajput (Hindhu) di Kotah, yang menunjukkan pembelahan bulan dengan seluruh perinciannya.</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"><sup>10</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa bulan terbelah bukan hanya dapat dilihat dari satu tempat saja di India.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Hal yang cukup menarik lainnya terkait dengan sebuah perdebatan antara pendeta missionaries bernama </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Dr. Karl Gottlieb Pfander</span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> dan Pendeta </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Frank</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> dengan Syaikh</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"> Muhammad Rahmatullah al Kairanawi</span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote12anc" href="#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> di India. Dialog antara kedua tokoh tersebut berkisar antara wacana kebenaran dalam Islam dan Kristen. Dalam satu kesempatan Syaikh Muhammad Rahmatullah al Kairanawi membuktikan bahwa peristiwa pembelahan bulan bukanlah omong kosong. Pembelahan bulan tersebut bukanlah sihir dan juga bukan tipuan mata. Bulan yang saat itu sedang terbelah dapat disaksikan bukan hanya di negeri Arab namun juga di India. Syaikh Al Kairanawi melalui bukunya yang berjudul “Izhar al Haq” menyatakan bahwa kaum Majusi di India telah menyaksikan terbelahnya bulan tersebut, lantas mereka mendirikan sebuah bangunan yang tertulis padanya “Malam Terbelahnya Bulan”.</span></span></span><sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"><sup>13</sup></a></strong></span></span></sup><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> Dalam pada itu, melihat cukup dinamisnya perdebatan, Pendeta Pfander dan Frank tidak menyangkal bukti-bukti yang diungkapkan Syaikh al Kairanawi tentang mu’jizat Nabi Muhammad. Justru dalam salah satu perdebatan mereka di Akbarabad yang dihadiri oleh kurang lebih 1000 (seribu) pengunjung pada bulan Rajab 1270 H/ April 1854 M, kedua pendeta tersebut mengakui bahwa </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Bible</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> memiliki distorsi di 7 (tujuh) tempat dan 40.000 (empat puluh ribu) kontradiksi ungkapan.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>M</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>asing-masing saksi atas terbelahnya bulan memiliki latar belakang yang berbeda. Kesaksian penduduk Malabar, raja dari kalangan Hindhu yang kemudian menjadi muslim karena mu’jizat tersebut, kalangan Hindhu yang tetap dalam kepercayaannya, dan kaum Majusi yang tidak meninggalkan keyakinannya. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa terbelahnya rembulan dapat dilihat oleh sekelompok masyarakat di berbagai tempat berbeda. Mereka juga bukan saksi yang berasal dari kaum muslimin saja. Hal ini justru menguatkan bahwa kejadian luar biasa tersebut berlaku universal dan dapat dilihat oleh semua orang.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Namun, </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>orientalis tidak jarang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap sebuah fakta yang bahkan tidak mengindahkan fakta itu sendiri. Jika melihat persamaan kabar yang ada dalam Islam dengan kabar di luar Islam, seringkali kaum orientalis membuat kesimpulan yang berat sebelah. Secara sepihak, orientalis menempatkan Islam sebagai pihak yang harus dikalahkan, sebuah presumsi yang seharusnya terlarang dalam kajian ilmiah. Islam diklaim telah meminjam cerita-cerita tersebut dari kebudayaan lain dan merekonstruksi bangunan ajarannya dari konsep-konsep yang dipinjamnya. Dalam kasus terbelahnya bulan ini, rasanya taktik menjatuhkan Islam dengan teori pinjam-meminjam tersebut tidak akan dapat dijalankan. Masuk Islamnya penduduk Malabar dan raja Syakrawati Farmad adalah bukti kuat yang tidak dapat disangkal yang menunjukkan bahwa meskipun mereka menyaksikan sendiri moment terbelahnya bulan namun mereka baru mengetahui hakikatnya sebagai mu’jizat Nabi Muhammad dari informannya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="font-size:small;"><strong> </strong><a href="http://susiyanto.files.wordpress.com/2008/10/sabuk-bulan.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-68" title="sabuk-bulan" src="http://susiyanto.files.wordpress.com/2008/10/sabuk-bulan.gif?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Dewasa ini, para ilmuwan antariksa Amerika telah menemukan bahwa bulan memiliki sebuah sabuk dari bebatuan yang membelah rembulan dari permukaan hingga ke bagian dalamnya. Dengan bantuan para pakar ilmu tanah dan geologi, akhirnya mereka menyimpulkan bahwa keberadaan sabuk bulan tersebut tidak mungkin terjadi kecuali jika rembulan pernah terbelah kemudian menyatu lagi.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote14anc" href="#sdfootnote14sym"><sup>14</sup></a></sup> </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="font-size:small;">Lantas, mengapa Barat secara serius tidak berusaha mengkampanyekan penemuan tersebut ? Sejumlah motif dan tujuan terselubung ditengarai berperan dalam upaya menyembunyikan kebenaran Islam. Upaya penyembunyian kebenaran juga pernah terjadi dalam kasus penemuan fosil Bahtera Nuh. Sejumlah ilmuwan Amerika yang dipimpin oleh David Fasold (atheis) dan ilmuwan Turki (muslim) telah menemukan fosil kapal berusia lebih 100.000 tahun yang diyakini sebagai bahtera Nuh dalam penggalian di bukit Judi.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote15anc" href="#sdfootnote15sym"><sup>15</sup></a></sup> Fakta ini sesuai dengan informasi Al Quran<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote16anc" href="#sdfootnote16sym"><sup>16</sup></a></sup> yang menyatakan bahwa bahtera Nabi Nuh telah berlabuh di bukit Judi selepas bencana banjir yang menimpa kaumnya. Namun fakta ini membuat para ilmuwan Kristen geram. Kegeraman pertama diakibatkan mengapa bukan mereka yang menemukan lebih dahulu fosil tersebut sehingga dapat menutup informasi tersebut kepada publik. Sedangkan kegelisahan mereka lebih lanjut, disebabkan Al Quran menunjukkan tempat berlabuhnya bahtera Nuh lebih akurat dibandingkan informasi Bible dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama Kejadian 8 : 4 dinyatakan bahwa bahtera Nuh telah berlabuh di atas Gunung Ararat,<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote17anc" href="#sdfootnote17sym"><sup>17</sup></a></sup> tempat yang terletak 32 km dari Gunung Judi. Selanjutnya kaum Kristen tetap mengkampanyekan bahwa bahtera Nuh telah kandas di Gunung Ararat. Sebagai bukti, sebuah citra satelit yang menunjukkan tonjolan karang berbentuk mirip bagian depan kapal dinyatakan sebagai perahu Nuh. Namun, bukti ini masih spekulatif dan perlu dibuktikan. Sebab, kenyataannya, belum pernah ada ilmuwan yang berhasil meneliti Gunung Ararat yang sepanjang tahun tertutup es. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="font-size:small;">Sungguh Allah akan memelihara kebenaran dalam Islam dan mengajukan bukti-bukti kepada kaum yang tidak percaya. Sebagaimana pernyataan Allah sebagi berikut: “<em>Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai</em>.”<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote18anc" href="#sdfootnote18sym"><sup>18</sup></a></sup></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify"><strong><span style="font-size:small;">PENUTUP</span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> Peristiwa terbelahnya bulan telah terlepas dari persoalan </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>dalam perdebatan antara masuk akal dan tidak masuk akal. Hal ini juga bukan lagi masuk ke dalam wilayah pilihan antara percaya atau tidak percaya. Kisah ini adalah sebuah hakikat ditinjau dari bukti kemutawatiran hadits, kesaksian di sejumlah wilayah non Arabia, dan fakta ilmiah mutakhir. Dari pembahasan di atas maka dapat diperoleh sejumlah alur sebagai berikut :</span></span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Peristiwa 	terbelahnya bulan dikisahkan dalam hadits secara mutawatir. Hal ini 	menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan hanya dilihat oleh 	sejumlah kecil manusia. Namun oleh sejumlah saksi yang banyak 	sehingga</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> tidak memungkinkan apabila banyak orang bersepakat untuk 	menceritakan sebuah kebohongan. Selain itu rijjal hadits yang 	meriwayatkan kisah tersebut memiliki reputasi terpercaya. Sistem 	penelaahan keshahihan kebenaran khabar ini merupakan salah satu 	keunggulan sistem keilmuan Islam yang tidak dimiliki oleh ajaran 	lain dan dewasa ini telah diadopsi oleh system keimuan modern 	sebagai referensi berupa footnote, innote, dan daftar pustaka.</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Terbelahnya 	bulan bukan merupakan halusinasi akibat pengaruh sihir</span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span> dan bukan pula karena tipuan mata akibat ilusi. Hal ini dibuktikan, 	dengan kesaksian bangsa lain atas terbelahnya bulan dari wilayah 	geografis yang berbeda. Saksi atas peristiwa tersebut tidak terbatas 	berasal dari kaum muslimin, namun dari penganut agama Hindhu dan 	Majusi.</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Secara 	ilmiah, keilmuan modern telah menghasilkan kesimpulan bahwa bulan 	memiliki </span></span></span><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>apa 	yang disebut sebagai ‘sabuk bulan’. Sabuk yang mengelilingi 	bulan tersebut merupakan bukti bahwa bulan pernah terbelah dan 	dengan cara yang belum diketahui mengalami proses penyatuan kembali. 	Hal ini tentu menjadi tugas baru bagi kalangan ilmuwan muslim untuk 	mengungkap fakta ilmiah lebih lanjut.</span></span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span>Maka, bagi mukmin tidaklah layak mempertanyakan kembali sebuah hakikat setelah datangnya sejumlah bukti. Bagi kalangan yang tidak percaya, mereka memang telah mengikuti jejak pendahulu mereka, kaum kafirin Makkah. Namun walaupun mereka berteguh untuk kafir terhadap kenabian Muhammad, mereka tidak akan mengingkari bahwa bulan pernah terbelah. Dan Al Quran Surah Al Qamar ayat 1 sampai 3 telah menginformasikannya sejak 14 abad silam. Sungguh selalu tersedia bukti dari Allah untuk kebenaran Islam.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><span><strong>FOOTNOTE</strong><br />
</span></span></span></p>
<div id="sdfootnote1">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Sebagian 	besar rujukan tentang nash dalam tulisan ini menggunakan software 	kitab dalam CD seperti Kutub ‘al Sittah, Maktabah Syamilah, dan 	lain-lain.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>QS. 	Al Qamar : 1-3</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc">3</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Lihat 	Bey Arifin. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Maria, 	Yesus, dan Muhammad</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	(Bina Ilmu, Surabaya, 1974). Hal 204. Juga dalam Munawar Cholil. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Mu’jizat: 	Aqwal wa Af’aal Nabi Muhammad</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	(An Nur, Surakarta, 1994). Hal. 51-52. Perbedaan penilaian terhadap 	hadits antara mutawattir disebabkan adanya perbedaan standar minimal 	jumlah periwayat yang berbeda antar ahlul hadits. Umumnya para ahlul 	hadits menilai peristiwa pembelahan bulan adalah berasal dari hadits 	mutawattir.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc">4</a><span style="font-size:x-small;"><span> </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Lebih 	lengkap misalnya baca Robert Morey. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Islamic 	Invasion: Confronting the World’s Fastest Growing Religion</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	(Christian Scholars Press, Las Vegas, 1992). Hal. 216-225</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc">5</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Robert 	Morey. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Ibid</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	Hal. 219</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc">6</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Martin 	Lings. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Muhammad: 	His  Life Based on the Earliest Sources</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	Cetakan IV. (The Islamic Texts Society, Cambridge, 1991). Edisi 	Indonesia </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Muhammad 	: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	Cetakan III. Terjemahan oleh Qamaruddin SF. (Serambi Ilmu Semesta, 	Jakarta, 2004).  Hal. 104</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc">7</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Dalam 	Sa’id Hawwa. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Ar 	Rasul shalallahu ‘alaihi wa Salamu</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	(Maktabah Wahbah, Kairo). Edisi Indonesia </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Ar 	Rasul Muhammad SAW</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	Perterjemah : Jasiman, LC, et. All. (Media Insani, Surakarta, 2002). 	Hal. 403</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc">8</a><span style="font-size:x-small;"><span> </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Muhammad 	al Astarabadi. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Tarikh 	Farsyatih. </span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>1018 	H. Dalam Syaikh Muhammad Rahmatullah al Kairanawi.</span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span> Izhar al Haq</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	(Maktabah Ats Tasqafiyah ad Diniyah, tth). Edisi Indonesia </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Izhar 	al Haq :Menelusuri Jejak Kitab Suci Lewat Debat Fenomenal</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	(Cendekia, Jakarta, 2003). Hal. 664</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc">9</a><span style="font-size:x-small;"> </span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Annemarie 	Schimmel. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>And 	Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic 	Piety</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	(The University of North Carolina Press, Chapel Hill and London, 	1985). Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Dan 	Muhammad Adalah Utusan Allah</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	Terjemahan oleh Rahmani Astuti dan Ilyas Hasan. (Mizan, Jakarta, 	1991). Hal. 102-103</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc">10</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Jagdish 	dan Kamala Mittal Museum Hyderabad dalam Schimmel. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Und 	Muhammad ist Sein Prophet</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>, 	gambar IV. Dalam Anemarie Schimmel. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Ibid</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	Hal. 103</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc">11</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Dr. 	Karl Gottlieb Pfander adalah orientalis Amerika beragama Kristen 	Katholik. Dia berpindah menjadi Kristen Protestan karena mengejar 	materi duniawi. Temannya sendiri, yaitu Pendeta Frank, mengungkapkan 	bahwa perpindahan kepercayaan yang dilakukan oleh Pfander itu salah 	satunya karena ingin menyenangkan istrinya yang menganut agama 	Protestan. Pfander mendapatkan mandate dari gereja Inggris sebagi 	kepala missionaries di India. Di antara gerakannya adalah melakukan 	ceramah missi Kristen di perkumpulan-perkumpulan umum, peringatan 	hari besar Islam, bahkan memaksa berpidato di mimbar Masjid Raya 	Delhi pada waktu shalat Ashar dan Maghrib untuk menyebarkan 	kekristenannya. Pemaksaan itu dilakukannya dengan memanfaatkan 	pasukan penjajah Inggris untuk memaksa public mendengar orasinya. 	Lihat Syaikh Muhammad Rahmatullah al Kairanawi. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Opcit.</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	Hal. XXV.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc">12</a><span style="font-size:x-small;"><span> </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Syaikh 	Muhammad Rahmatullah al Kairanawi  memiliki nama lenbgkap Muhammad 	Rahmatullah bin Khalil ar Rahman al Kairanawi al ‘Utsmani . Beliau 	lahir di desa Kairana, propinsi Muzhafar Najar dekat New Delhi pada 	awal Jumadil Awwal 1233H atau 9 Maret 1818 M. Nasab beliau sampai 	kepada khalifah Utsman bin Affan. Telah hafal Al Quran pada usia 12 	tahun. Beliau telah memenangkan perdebatan besar yang dihadiri 1000 	orang dengan pendeta Karl Gottlieb Pfander dan Frank sehingga 	keduanya mengakui Bible memiliki distorsi di 7 tempat dan 	kontradiksi sebanyak 40.000 ungkapan. Beliu juga termasuk ulama yang 	aktif menentang penjajahan Inggris di India. Sampai akhirnya beliau 	terpaksa pindah ke Mekkah pada tahun 1278 H/1862 M. Di Mekkah beliau 	diangkat sebagi guru di Masji al Haram secara resmi oleh pihak 	kerajaan. Beliu juga mendirikan lembaga pendidikan bernama Madrasah 	Ash Shulatiyah (mengambil dari nama seorang perempuan dermawan 	bernama Shulah). Beliu tetap menjadi guru dan direktur sekolah yang 	didirikannya sampai beliau wafat pada 22 Ramadhan 1308 H/ 1 Mei 1891 	dan dikuburkan di Mekkah. Karya monumental beliau adalah </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Izhar 	al Haq</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>, 	sebuah buku kajian Kristologi yang sangat monumental. Konon, Ahmed 	Deedat, yang dikenal oleh para penganut Kristen sebagai “Sang 	Pendebat” banyak terinspirasi oleh buku ini.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc">13</a><span style="font-size:x-small;"><span> </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Syaikh 	Muhammad Rahmatullah al Kairanawi.</span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span> Opcit</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	Hal. 665 </span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc">14</a> <span lang="en-US"> </span><span lang="en-US"><span>Lihat 	 http://boemi-islam.com/?q=node/258 diakses pada tanggal 10 Oktober 	2008 Jam 16.00. Juga dalam </span></span><span style="color:#0000ff;"><a href="http://www.dakwatuna.com/2008/bulan-pernah-terbelah/"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;"><strong>http://www.dakwatuna.com/2008/bulan-pernah-terbelah/</strong></span></span></a></span><span lang="en-US"><span> diakses pada hari yang sama.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote15sym" href="#sdfootnote15anc">15</a><span style="font-size:x-small;"><span> </span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Investigasi 	telah dilakukan oleh ilmuwan gabngan dari Amerika dan Turki di 	Gunung Judi selama enam tahun. Awalnya terdapat corak bangunan tanah 	yang menarik bagi para ahli purbakala. Setelah dilakukan penggalian 	maka ditemukanlah sebuah fosil kapal pada ketinggian 2300 M. Benda 	tersebut memiliki panjang 170 m dan lebar 45 m. Shalih Bayraktutan, 	kepala geologi Universitas Attaturk Turki memerkirakan umur kapal 	tersebut lebih dari 100.000 tahun. Sementara David Fasold,seorang 	atheis pakar spesialis kerusakan kapal dari Amerika yang memimpin 	investigasi ini telah menyatakan bahwa radar bisa menggambarkan 	sekitar 25 m ke bawah dari buritan kapal, sehingga sangat jelas 	dapat dihitung jumlah papan lantai di antara dinding-dindingnya. 	Penemuan bahtera ini kemudian menimbulkan reaksi dan resistensi dari 	kalngan Kristen yang berkeyakinan bahwa bahtera Nuh hanya akan 	ditemukan di Gunung Ararat, sesuai informasi Bible. Wujud reaksi  	tersebut adalah sejumlah propaganda tentang temuan kapal Nuh di 	Gunung Ararat sebagai ‘tandingan’ hasil temuan di Gunung Judi. 	Faktanya penemuan kapal Nuh di Gunung Ararat tidak pernah dapat 	dibuktikan. Selengkapnya lihat Majalah Assalam Edisi VI – 	Dzulqa’dah 1423 H/ Januari 2003. Hal. 13-14</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote16sym" href="#sdfootnote16anc">16</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Lihat 	Al quran Surat Hud ayat 44 sebagai berikut: “</span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Dan 	dikatakan: &#8220;Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) 	berhentilah,&#8221; dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan 	dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: 	&#8220;Binasalah orang-orang yang zalim</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>.&#8221;</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote17sym" href="#sdfootnote17anc">17</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>Kejadian 	8 : 4 adalah sebagai berikut : “</span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Dalam 	bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, 	terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>”. 	- Lembaga Alkitab Indonesia. </span></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><em><span>Alkitab 	Terjemahan Baru</span></em></span></span><span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>. 	1974</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p class="sdfootnote" style="line-height:100%;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote18sym" href="#sdfootnote18anc">18</a> <span style="font-size:x-small;"><span lang="en-US"><span>QS. 	Attaubah : 32</span></span></span></p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto.wordpress.com&blog=2602542&post=67&subd=susiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto.wordpress.com/2008/10/30/sang-nabi-pembelah-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://susiyanto.files.wordpress.com/2008/10/sabuk-bulan.gif" medium="image">
			<media:title type="html">sabuk-bulan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>