SRANDUL: SENI BERNAFAS ISLAM DARI WONOGIRI

Kelompok Srandul dari Dusun Kedung Balar, Desa Gebang, Nguntoronadi- Wonogiri (Sumber Gambar:Hihmatun Hayu, Pusporini (2012) Nilai Budaya Dalam Kesenian Srandil di Dusun Kedung Balar, Desa Gebang, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri.Skripsi S1, Universitas Negeri Yogyakarta).

Kelompok Srandul Dusun Kedung Balar, Desa Gebang, Nguntoronadi- Wonogiri (Sumber Gambar:Hihmatun Hayu, Pusporini (2012) Nilai Budaya Dalam Kesenian Srandil di Dusun Kedung Balar, Desa Gebang, Kec. Nguntoronadi, Kab. Wonogiri.Skripsi S1, Universitas Negeri Yogyakarta).

Wonogiri adalah sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Sejumlah kesenian rakyat pernah hidup di daerah ini. Diantaranya adalah kesenian Srandul atau juga sering disebut Srandil. Srandul adalah sebuah wujud kesenian drama tari rakyat yang bernafaskan Islam. Apabila ditengok dari syair dan adegan yang di dalamnya menunjukkan adanya upaya dakwah untuk perbaikan pendidikan moral, agama, etika, dan estetika.  Dalam setiap tembangnya secara tersurat menggambarkan tentang tuntunan perjalanan hidup manusia agar selamat dunia dan akhirat sesuai dengan ajaran Islam.

Dari Wonogiri kesenian Srandul ini sempat menyebar ke beberapa daerah di sekitarnya antara lain Ponorogo, Klaten, Karang Anyar, Gunung Kidul, Sleman, Bantul, Temanggung, dan lain-lain. Kesenian Srandul ini juga sempat berkembang di Kota Gede, Yogyakarta. Hal ini diawali dengan pementasan kelompok Srandul dari Gunung Kidul di Kota Gede sekitar tahun 1941. Rombongan ini sempat menginap di kampung Bumen, Kota Gede dan melakukan gladi resik (latihan sebelum pertunjukan). Rakyat setempat  rupanya cukup tertarik dengan kesenian ini dan ikut berlatih. Rakyat Basen, sebuah kampung di Kota Gede lainnya, kemudian membentuk group Srandul sendiri yang dinamakan “Purba Budaya”.

BENTUK PERTUNJUKAN

Drama tari Srandul biasanya dipentaskan dalam acara hajatan seperti khitanan atau perkawinan. Dalam perkembangannya, kesenian ini juga diperkenalkan dalam sejumlah perhelatan seperti penyambutan tamu atau digelar untuk kepentingan pariwisata. Awalnya pertunjukkan ini yang tidak sekedar berdimensi hiburan, namun lebih merupakan pertunjukan yang memiliki muatan tuntunan, baik secara tersurat maupun simbolis.

Srandul adalah kesenian yang terbentuk di Wonogiri sekitar tahun 1920-an. Pertunjukan Srandul biasanya melibatkan adanya seni gamelan, suara, teater, dan tari. Gamelan yang digunakan biasanya berlaras slendro. Juga melibatkan alat musik lainnya seperti kendang, angklung, kenthongan, dan rebana (terbang). Dialog-dialog yang tercipta dalam cerita sebagian mengalir dalam wujud shalawat dan tembang Jawa yang berisi nasihat atau petuah tentang bagaimana menjadi orang Jawa yang baik, yaitu sesuai ajaran Islam. Dalam pentasnya, kadang kesenian ini dilaksanakan bersama pertunjukan “Kethek Ogleng” dan dilanjutkan dengan penampilan pelawak “badutan”. Oleh karena itu tidak heran, sebagian masyarakat ada yang menyebut wujud kesenian ini secara generalis sebagai “badutan”.

Penamaan wujud kesenian ini sebagai “Srandul” barangkali terjadi secara salah kaprah. Istilah Srandul awalnya berasal dari kata ‘pating srendul’ yang mengambarkan terjadinya pencampur adukan cerita drama dalam kesenian Srandul. Kisahnya sebagian mengambil setting jaman dari era Majapahit dan Pajajaran, namun sebagian besar diperkaya dengan inspirasi dari cerita rakyat dan rekaan pada masa selanjutnya. Nama “Srandul” juga dianggap berasal dari kata ‘pating srendul’ yang menggambarkan ketidak-fasihan dalam melafalkan doa-doa sholawat. Kesenian rakyat ini awalnya dibawakan oleh pemain oleh yang kurang fasih dalam melafalkan doa dan shalawat yang umumnya menggunakan Bahasa Arab. Menggunakan “ilat Jawa” (lidah Jawa), demikian ungkapan yang sering digunakan. Meskipun demikian semangatnya untuk menyampaikan tuntunan Islam kepada khalayak melalui kesenian tentu patut diapresiasi posisif. Kadang kala kesenian ini juga di sebut “Srandil” yang mungkin dihubungkan dengan keberadaan Gunung Srandhil yang ada dalam cerita.

Biasanya kesenian ini dimulai dengan memanjatkan doa kepada Gusti Allah dengan permohonan agar diberi ampunan dan pertunjukan bisa berjalan lancar hingga tuntunannya bisa diserap para pemirsanya. Doa ini dipanjatkan bersama iringan para penari yang berkeliling sambil membawa oncor (obor). Kesenian Srandhul yang berkembang di Kota Gede, Yogyakarta juga masih mempertahankan keberadaan oncor ini. Obornya dibuat dengan menggunakan lima sumbu dan diletakkan di tengah pertunjukkan sebagai penerang. Hal ini merupakan simbol bahwa cahaya terang telah datang dan siap menjamah jiwa manusia agar beriman. Selanjutnya obor tersebut digunakan sebagai penerangan selama pertunjukan.

Awalnya dalam setiap pertunjukkannya, kesenian Srandul hanya dimainkan oleh kaum laki-laki. Termasuk ketika dalam cerita terdapat karakter wanita pun, kaum lelaki juga yang membawakannya. Dalam hal ini mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur pada masa lalu. Hanya saja pada masa selanjutnya keterlibatan wanita dalam pertunjukan Srandul mulai mendapatkan tempat.

CERITA

Group Srandul "Dadung Awuk" dari Dusun Nggathak, Bokoharjo, Prambanan, Yogyakarta. (Sumber gambar: hasil penelitian berjudul: Seni Pertunjukan Tradisional Srandul Sebagai Alternatif Pembelajaran Seni di Sekolah Menengah)

Group Srandul “Dadung Awuk” dari Dusun Nggathak, Bokoharjo, Prambanan, Yogyakarta. (Sumber gambar: hasil penelitian berjudul: Seni Pertunjukan Tradisional Srandul Sebagai Alternatif Pembelajaran Seni di Sekolah Menengah)

Cerita yang diangkat dalam pertunjukan Srandul di Wonogiri, menggunakan pakem (cerita pokok) bersetting Majapahit. Meskipun demikian tidak mengacu pada kisah sejarah yang sebenarnya, melainkan hanya menggunakan Majapahit sebagai latar belakang semata. Dikisahkan bahwa Prabu Brawijaya di Majapahit sedang dilanda kegundahan karena putrinya yang bernama Dewi Kenyawati menghilang dari istana. Prajurit istana telah dikerahkan ke berbagai penjuru, namun hasilnya nihil, sang putri tetap tidak diketemukan.

Prabu Brawijaya kemudian memerintahkan putranya sendiri yang bernama Raden Semut Rambut untuk mencari adiknya. Rupanya, putra Majapahit itu pun gagal. Maka kemudian diadakan sayembara di Majapahit, siapa pun yang bisa menemukan Dewi Kenyawati, bila ia seorang lelaki akan dinikahkan dengannya. Apabila perempuan akan diangkat sebagai putri dan menjadi saudara sang Dewi.

Untuk menjadi peserta sayembara setiap calon masih harus menjalani fit and proper test. Tentu saja hanya orang yang memiliki kualifikasi khusus saja yang akan siap hidup di menjadi keluarga di lingkungan kerajaan. Mereka harus bisa mengalahkan Raden Semut Rambut dalam adu laga dan adu kepintaran terlebih dahulu. Perang tanding dalam sayembara itu dilaksanakan di alun-alun Sirrollah (Sirr – Allah) yang ada di pusat kota Majapahit. Ini menjadi pelajaran bagi masyarakat bahwa dalam mencari pasangan hidup harus dipikirkan masak-masak. Bukan hanya karena menuruti rasa suka, namun juga harus mempertimbangkan keberlanjutan masa depan dunia dan akhirat. Dalam sayembara itu ternyata tidak satu pun calon peserta yang mampu mengalahkan kemampuan Raden Semut Rambut.

Syahdan sayembara itu terdengar hingga ke Pajajaran, tempat tinggal Raden Ganyong. Raden Ganyong kemudian memutuskan untuk berangkat ke Majapahit dengan diiringi kedua abdinya yang bernama Joko Klanthung (Kluwung) dan Joko Kliyeng. Di alun-alun Sirrollah, Raden Semut Rambut berhasil dikalahkan oleh Raden Ganyong. Maka dimulailah pengembaraan Raden Ganyong yang lolos sebagai peserta untuk mencari Dewi Kenyawati.

Setelah melalui berbagai rintangan selama perjalanan, maka Raden Ganyong dan kedua abdinya sampailah di tepi hutan Ubramarkata di Gunung Srandil. Hutan itu sangat lebat dan penuh semak belukar. Joko Klanthung kemudian diperintahkan membabat hutan untuk menciptakan jalan setapak. Konon ketika sedang membabat hutan, Joko Klanthung ditemui oleh seorang wanita bernama Rara Gondrah, yang ternyata adalah abdi yang menjaga Dewi Kenyawati yang saat itu sedang bertapa di atas Sela Gilang.

Akhirnya Raden Ganyong dan Dewi Kenyawati bertemu. Dalam pertemuan itu mereka sepakat untuk menyatukan diri dalam ikatan pernikahan. Dewi Kenyawati meminta mahar pernikahan berupa rumah lengkap dengan semua perabotannya. Ini sebagai perlambang bahwa pernikahan juga membutuhkan persiapan secara lahir. Mahar ini disanggupi oleh Raden Ganyong.

Selanjutnya Dewi Kenyawati diboyong ke Pajajaran. Di sana ia diperkenalkan dengan Dewi Pembayun, istri pertama Raden Ganyong. Dewi Kenyawati sangat terkejut, awalnya ia mengira bahwa Raden Ganyong masih jejaka. Oleh karenanya ia meminta untuk hidup terpisah dari istri pertama Raden Ganyong. Raden Ganyong pun menurutinya, ia membuatkan rumah bagi sang putri Majapahit dan selanjutnya menjalani hidup sebagai petani dengan bercocok tanam.

Setelah berumah tangga cukup lama, masing-masing mulai mengenal karakter pasangannya. Demikian juga Raden Ganyong, ia mendapati bahwa putri Majapahit itu rupanya memiliki sifat yang buruk. Raden Ganyong telah gia mencari nafkah dengan bekerja keras, namun sang putri selalu tidak menghargainya. Konflik rumah tangga terjadi. Raden Ganyong merasa sangat sebal dan sebagai puncaknya ia bermaksud kembali ke rumah istri pertamanya, Dewi Pembayun. Akan tetapi Dewi Kenyawati tidak mau ditinggalkan. Ia pun akhirnya mengikuti suaminya menuju rumah Dewi Pembayun.

Dalam perjalanan itu konon mereka harus melewati sebuah jembatan yang disebut Wot Sirathal Mustaqiim  yang sangat sempit dan di bawahnya terdapat jurang yang bernama Endhut Berdapa. Sempitnya jembatan membuat kedua sejoli ini harus berjalan depan dan belakang. Mereka meniti jembatan (Jawa: “wot”atau “uwot”) itu dengan sangat hati-hati. Sang Dewi Kenyawati terjatuh ke dalam jurang tanpa Raden Ganyong mengetahuinya.Begitu sampai di seberang, Raden Ganyong baru sadar istrinya tidak ada. Ia kemudian mendengar isak tangis sang istri yang terjatuh dalam Endhut Berdapa dan sedang disiksa oleh Malaikat Banakirun, dewa dari Selabonang.

Keadaan di atas sebenarnya menggambarkan perjalanan arwah manusia setelah mengalami kematian. Jika ia bisa meniti shirathal mustaqim maka kesuksesan hidup berarti telah dicapainya. Tetapi apabila terjatuh di bawahnya  maka berarti ia memiliki dosa dan sudah tentu harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya dihadapan Allah dengan mendapatkan siksa di neraka.

Penyiksaan berhenti setelah dirasa cukup dan sang Dewi bertaubat atas semua kesalahannya. Di sinilah wujud syiar Islam nampak. Meskipun kalau dalam konsep Islam jika sudah sampai pada tingkatan ini berarti telah terjadi kiamat dan tidak akan ada kesempatan memperbaiki kesalahan. Namun karena hal itu bertujuan agar dijadikan cermin bagi masyarakat, maka dalam cerita tersebut baik Dewi Kenyawati dan Raden Ganyong masih bisa dipertemukan kembali dengan satu persyaratan yaitu Raden Ganyong harus bisa tilik sendhang rong perkara (mengunjungi telaga dua perkara).

Persyaratan itu harus dipenuhi oleh Raden Ganyong dengan melakukan tilik sendhang wanara seta (mengunjungi telaga kera putih) dan tilik sendhang alam barut (mengunjungi telaga alam barut). Dengan melakukan tilik sendhang rong perkara, maka Raden Ganyong bisa bertemu kembali dengan Dewi Kenyawati dan diboyong kembali ke rumahnya. Sang Dewi akhirnya hamil dan nyidam menginginkan makan rujak. Dari kehamilan ini maka lahirlah Dewi Kenyami, yang konon pada masa selanjutnya menjadi penguasa pertama Gunung Srandhil.

Pekerjaan tilik sendhang rong perkoro di atas sebenarnya mengandung pesan bahwa lelaki yang memiliki dua istri hendaknya bisa bersikap adil. Dalam hal ini seperti Raden Ganyong setelah memiliki istri baru, seolah-olah ia lupa dengan istri pertamanya. Ia hanya teringat dengan istri keduanya saja. Ia baru mengingat kebaikan dan kesetiaan istri pertamanya setelah mengalami kepahitan hidup bersama istri kedua. Dengan demikian ia harus menebus kesalahan dengan melaksanakan tilik sendhang rong perkara, bersikap adil terhadap kedua istrinya.

Cerita di atas juga memiliki perlambang bahwa manusia harus menjalani kehidupan di dunia dengan mengikuti jalan kesucian dan keutamaan. Hal ini disifatkan dengan mengaca pada kehidupan sosok mitologis wanara seta (kera putih) yaitu Anoman, yang hidup di dunia sebagai padri yang menutamakan kesucian hidup. Juga harus senantiasa mengingat kehidupan akhirat (tilik sendhang alam barut) agar kehidupan selamat dalam kesejatian.

Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian Srandhul tidak hanya membatasi ceritanya berdasarkan patokan pakem. Sebagai wujud seni teater tradisional, Srandhul juga memperkaya khazanah kisahnya dengan mengadopsi dari sumber sastra Islam seperti Serat Menak, Serat Babad Demak, dan cerita carangan (pengembangan) lainnya. Meski demikian ciri khas Srandhul yang hendak memberikan tutur dan nasihat baik dengan menghibur tanpa menggurui tetap dipertahankan.

Wujud kesenian Srandul saat ini memang banyak dikembangkan di sejumlah wilayah sebagai salah satu aset pariwisata. Harapan yang penting dikemukakan, semoga Srandhul tetap eksis sebagai media dakwah. Meskipun gilasan roda kapitalisme pariwisata berjalan sedemikian rupa, mudah-mudahan seni Srandhul tetap bertahan pada di jalurnya sebagai kesenian rakyat bernafaskan Islam. Bagaimana pun kesenian ini pernah menjadi salah satu media dakwah yang digemari rakyat Kabupaten Wonogiri. [Susiyanto – Putra Wonogiri]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: