SANTISWARA DAN DAKWAH MELALUI SENI

Perburuan yang penulis lakukan dalam mengeksplorasi dan melakukan kajian lapangan terhadap proses dakwah walisongo dan kebatinan Jawa pada akhirnya mengantarkan penulis untuk menyaksikan sebuah pertunjukan Seni Jawa bernuansa Islam dalam rangka tirakatan bulan Sura (Muharram) di Padhepokan Gedhong Putih di Plesungan, wilayah Kabupaten Karang Anyar yang berbatasan dengan Surakarta, pada 17 Muharram 1430 H atau bertepatan 12 Januari 2009 mulai ba’da Shalat Isya.

. Awalnya penulis mengira bahwa acara tersebut adalah prosesi ritual khas kaum kebatinan Jawa. Namun nampaknya penulis salah, sebab acara yang diselenggarakan di padhepokan milik bapak Seno Hadisumarno tersebut lebih merupakan sebuah pertunjukan seni shalawatan jawa yang menghadirkan suasana masa lalu dan bukannya ritual sebuah aliran kebatinan. Dihadiri oleh sejumlah penikmat seni dari berbagai kalangan, termasuk dari warga negara asing.

Perhelatan seni tersebut dimainkan di Pendapa yang terletak di tengah-tengah Padhepokan. Di sisi sebelah timur pendapa terdapat altar pertunjukan dan tempat duduk bagi penontonnya. Sedangkan di belakang pendhapa terdapat sejumlah taman yang menghadirkan suasana khas etnis Bali dan beberapa detail khas gaya Majapahit. Di taman tersebut juga dapat dijumpai sebuah replika stupa dalam wujud mini, tempat dolanan dakon, kamar mandi yang menggambarkan sebuah alam bebas, bambu kuning yang bagi sebagian orang Jawa menyiratkan sebuah simbolisasi tertentu, dan beberapa detail lainnya.

Berbagai perangkat seni dapat dijumpai malam itu. Diantaranya, piranti Santiswara yang terdiri dari kendhang yang dikolaborasikan dengan rebana, wayang berikut kelirnya, dan seperangkat alat musik gesek dari Pasundan. Pementasan pertama dimulai dengan pertunjukan kekidungan Macapat Santiswara yang menampilkan sejumlah shalawatan dalam format Macapatan. Diantaranya menjelaskan tentang hakikat hidup menurut Islam, penjelasan tentang kematian, bagaimana seharusnya muslim menuntut ilmu, pemahaman akan makna tauhid, dan sebagainya. Diantara petuah yang disampaikan antara lain penggambaran kedatangan maut sebagai sebuah hakikat dijelaskan bahwa “digedhongana di kuncenana, yen mati mangsa wurunga” Artinya walaupun berada dalam bangunan yang kokoh terkunci, maka jika ajal telah sampai hal tersebut tidak akan menyurutkan datangnya maut. Dalam melihat proses tansfer keilmuan dan penyampaian nasihat baik maka diterapkan jangan melihat siapa yang menyampaikan namun lihat apa dan bagaimana yang disampaikannya, tidak peduli hal itu berasal dari kalangan sudra papeki. Hal ini juga mengingatkan kalangan penguasa bahwa mereka hendaknya juga mau dan bertanggung jawab untuk mendengarkan suara dari rakyat jelata di akar rumput. Lagu-lagu yang mengandung petuah luhur khas Islam tersebut kemudian dipadukan dengan sejumlah ajaran moral yang berasal dari Serat Wulangreh. Misalnya, salah satu syairnya terangkum dalam satu pupuh tembang Gambuh adalah sebagai berikut:

Sekar Gambuh ping catur

Kang cinatur polah kang kelantur

Tanpa tutur katula-tula katali

Kadalu warsa kapatuh

Katutuh pan dadi Awon

Lagu di atas mengetengahkan tentang tingkah laku manusia yang telanjur berlebih-lebihan dan tanpa mengindahkan tuntunan nasihat luhur. Akhirnya tingkah laku tersebut menjerumuskan pelakunya dalam kehinaan. Menariknya, acara ini juga bisa dinikmati oleh kalangan yang tidak Berbahasa Jawa, sebab pemimpin grup santiswara yang tampil, Ki Waluyo, juga memberikan sejumlah penafsiran atas syair dan gending-gending yang dibawakannya dalam Bahasa Indonesia. Harus dipahami bahwa acara tersebut memang dihadiri oleh sejumlah kalangan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk penikmat budaya dari asing.

Pertunjukan kedua dilanjutkan dengan petikan alat musik petik khas Pasundan yang dimainkan oleh Bapak Yahya, seniman Sunda dan diiringi tembang oleh saudari Melani. Sedangkan pertunjukan ketiga diisi dengan pagelaran wayang rajakaya (baca : ‘rojokoyo’). Kata rajakaya artinya adalah binatang ternak. Jadi sudah dapat ditebak bahwa tontonan satu ini menyuguhkan wayang yang peraganya terdiri dari sejumlah hewan-hewan. Bapak Seno sempat memperkenalkan bahwa wayang rajakaya tersebut sempat pentas di Jerman dan cukup diminati di sana.

Perlu diketahui wayang dengan tokoh peraga berupa hewan bukan merupakan hal yang baru di Jawa. dahulu orang Jawa pernah mengenal bentuk wayang kancil dimana yang dilakonkan adalah cerita tentang binatang dan menghadirkan ajaran moral yang secara normatif seharusnya dilakukan manusia. Sebuah sindiran khas dimana manusia justru diajari oleh sekumpulan binatang dalam menjalankan nilai-nilai keluhuran. Wayang kancil diciptakan oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem dan pembuat wayangnya yang terkenal bernama Lie Too Hien pada tahun 1925. Beda antara wayang rajakaya yang termasuk kreasi baru dengan wayang kancil terletak pada bentuk wayangnya. Dalam wayang rajakaya, bentuk wayangnya telah dipersonifikasikan dalam wujud manusia berkepala hewan. Sedangkan wayang kancil menampilkan wujud hewan wantah atau dalam arti dan bentuk yang sewajarnya.

Cerita malam itu membawakan lakon “Sapi Nyusu Bodhone” yang artinya ‘sapi menyusu kepada kebodohannya’. Terma lakon ini mirip dengan paribasan (peribahasa) Jawa “ Kebo Nusu Gudel” (Kerbau menyusu kepada anaknya) yang bermakna bahwa orang-orang yang telah tua justru berguru kepada orang yang lebih muda. Jadi mungkin saja bahwa maksud dari lakon “Sapi Nyusu Bodhone” adalah seekor sapi saja ternyata mau belajar dari kesalahan dan kebodohannya, maka seharusnya manusia mampu melakukan lebih dari itu. Bukan sebaliknya, justru bertindak mengulangi kebodohan yang sama.

Adapun jalannya cerita, dikisahkan bahwa ada seekor sapi yang hidup disebuah tanah pertanian dimana kebutuhan hidupnya selalu terjamin. Tanah pertanian itu juga memiliki pengamanan berupa pagar listrik sehingga sang sapi senantiasa merasa aman dan nyaman tanpa gangguan hidupnya. Akibatnya sapi menjadi bodoh dan bahkan sombong terhadap hewan hutan yang berada di luar pagar listrik. Sampai suatu ketika terjadi bencana besar yang meluluh lantakkan bumi. Sang sapi selamat, namun tidak tersisa satu rumput pun di tanah pertanian tersebut. Tersebutlah, seekor badak tua yang menasehati sapi tersebut bahwa di sebuah bukit ada sebuah padang rumput impian, satu-satunya tempat yang tidak ikut tersapu bencana. Sang sapi kemudian berusaha untuk terus memperjuangkan dan melanjutkan hidupnya. Inti moral yang ingin disampaikan dalam cerita tersebut sebenarnya merupakan ungkapan satiris terhadap kemandirian bangsa Indonesia. Di masa lalu bangsa Indonesia telah terbiasa hidup enak dalam bumi yang makmur gemah ripah loh jinawi sehingga melupakan sejumlah nilai kehidupan yang seharusnya digenggamnya. Namun karena kemandirian yang seharusnya menopang kehidupan telah lenyap pula oleh arus kenikmatan yang diterimanya, maka manusia Indonesia lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang tak terduga. Akibatnya ketika bangsa Indonesia telah mengalami ‘bencana’, rakyatnya telah terjerumus menjadi ‘kurang mandiri’, senang menyalahkan sesamanya, tinggi angan-angan, mengharapkan keadilan namun mengimpikan hidup enak dengan mendzalimi yang lain, dan terlalu banyak menuntut sementara kemalasan meraja lela.

Pasca pertunjukan wayang rajakaya, pengunjung dipersilakan untuk menikmati hidangan secara prasmanan. Hidangannya tentu saja khas perayaan syura. Di antaranya bubur Sura, nasi liwet, ayam kukus, kacang polong, keripik kacang, dan telur sisir sedangkan minumannya teh manis. Pasca itu, acara kemudian dilanjutkan dengan mengetengahkan kembali gendhing santiswara seterusnya. Acara tersebut memang tidak dibatasi waktu berakhirnya. Bahkan dalam undangan yang kebetulan diperlihatkan Pak Rudiyanto disebutkan bahwa selesainya acara adalah ‘sekuatnya’ menahan kantuk.

Penulis melihat bahwa dakwah yang dilakukan melalui pertunjukan seni sebagaimana dipentaskan di Padhepokan Gedhong Putih ternyata memiliki komunitas garap tersendiri. Artinya ada sejumlah pihak tertentu yang bisa disentuh oleh nilai-nilai Islam melalui pengolahan cita rasa ‘kejawaanya’. Tentu saja bagi kalangan muslim yang lain hal ini bersifat problematik dan memantik kontroversi. Anehnya, sringkali pihak yang sinis terhadap model dakwah ini, hanya terkungkung dalam kata pedas dibalik perlindungan “jubah kesucian diri” dan tidak mau beranjak dari komunitasnya. Tidak ada upaya konkret, selain mengandalkan daya cela dan keterampilan mencaci semata tanpa tergerak berdakwah mengubah keadaan. Agaknya, perlu dipahami bahwa jika bukan nilai Islam yang mengisi mereka maka paham lain yang akan menggantikannya. Maka sejumlah argumentasi menunjukkan bahwa pengislaman melalui budaya tidak boleh ditinggalkan.

DOKUMENTASI


UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada sejumlah pihak sebagai berikut:

  1. Bapak Seno Hadisumarno, penyelenggara dan tuan rumah yang menerima saya dengan baik dalam status penulis sebagai ‘tamu tak diundang’(tapi bukan maling) serta memberikan keleluasan kepada penulis untuk mendokumentasikan jalannya perhelatan seni.
  2. Bapak Rudiyanto, elit manajemen sebuah Rumah Sakit Islam di Surakarta, yang memberikan informasi tentang acara-acara kejawen sekaligus memberikan fasilitas penjemputan. Hal ini sangat membantu dalam pengumpulan sejumlah data yang penulis perlukan.
  3. Bapak Arif Wibowo, pengamat dakwah dan pengurus Dewan Dakwah Cabang Jawa Tengah, yang bersedia menemani dan menjadi partner dalam mendiskusikan sejumlah persoalan budaya.

Wallahu a’lam.

Tambahan : Penelitian saya ini menggunakan teknik grounded research, jadi sangat wajar jika kemudian dihadapkan dengan sejumlah fakta yang seringkali tidak terlihat berhubungan dengan tema sentralnya. Namun keunggulan metode ini adalah mampu menghasilkan lebih dari satu tema tulisan sekaligus dalam satu waktu penelitian. Perlu diketahui bahwa apa yang saya tampilkan di blog biasanya memang bukan keseluruhan hasil penelitian, namun meliputi garis besarnya saja.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: