PROBLEMATIKA MISSI PENGINJILAN

PENDAHULUAN

Missi pekabaran Injil telah melampaui sejarah panjang hampir setua dengan proses munculnya agama Kristen. Walaupun demikian boleh dikatakan bahwa missi penginjilan secara konseptual bukan merupakan konsep yang telah final sejak terbentuknya ajaran Kristen awal, namun terbentuk melalui konstruk anasir pinjaman dari berbagai konsep lain di luar kekristenan. Beberapa konsep menjelaskan bahwa pengaruh peradabanYunani dan Romawi memegang peranan yang cukup besar dalam penyusunan konseptual Kristen, tentu saja termasuk dalam penyusunan konsep missi itu sendiri.

Tony Lane ketika mengungkapkan tentang Platonisme dan Filsafat Yunani bahkan menyatakan bahwa Bapa-bapa Kristen dan Bapa-bapa gereja purba adalah orang-orang Yunani dan Romawi yang berasal dari bangsa kafir. Pada waktu dihadapkan pada kesulitan membawa iman Kristiani mereka kepada orang-orang sejamannya, mereka terpaksa menghubungkannya dengan pola pikir zaman itu, yaitu filsafat Yunani[1]. Senada dengan Tony Lane, Clayton Sullivan mengungkapkan bahwa orang Kristen awal berusaha melakukan de-Yahudinisasi sekaligus melaksanakan proses helenisasi warta Kristen ketika agama tersebut tersebar ke dunia Yunani-Romawi[2].

Secara sederhana dapat dikatakan jika secara teologis kekristenan awal telah terpengaruh oleh nilai dari peradaban Yunani dan Romawi, maka dengan sendirinya missi penginjilan telah memiliki sebuah problematika. Dalam lingkup lebih kecil, jika materi dan substansi awal ajaran kekristenan sudah disesuaikan dengan pola fikir filsafat Yunani dan nilai-nilai dari peradaban Helenis maka problematika ajaran dalam Kristen yang menjadi substansi materi yang diajarkan dalam missi penginjilan makin mengindikasikan eksistensi prolematika tersebut.

Adapun bagaimana proses pengaruh filsafat Yunani tersebut merasuk ke dalam ajaran kekristenan dijelaskan oleh Windeband (1848-1915) sebagai berikut :

“Filsafat menggunakan teori-teori ilmu Junani untuk membersihkan (memperbaiki) fikiran-fikiran agama dan menertibkannja, serta memberikan kepada perasaaan keagamaan jang gigih suatu idee jang memuaskan bagi dunia. Dengan demikian, filsafat menciptakan suatu sistim (peraturan-peraturan) keagamaan, sejenis methaphysika, jang banjak sedikitnja sesuai untuk agama-agama jang saling berlawanan.”[3]

Dalam salah satu tulisannya Prof. Syech Abu Zahrah bahkan mencatat bahwa filsafat Yunani pada masa perkembangan kekristenan berperan dalam menciptakan kerukunan diantara agama keberhalaan, agama Yahudi, dan agama Masehi[4]. Kerukunan yang dimaksud tentu saja bukan sekedar dalam hubungan yang bersifat sosial kemasyarakatan, namun meliputi konsep pinjam-meminjam dan adopsi antar budaya. Prof. Syech Abu Zahrah menjelaskan contoh hubungan antar peradaban ini dengan mengutarakan bahwa trinitas dalam filsafat Alexandria dan trinitas dalam ajaran Kristen memiliki konsep yang hampir sama[5].

Dalam artikel ini penulis akan mengungkap sejumlah problematika yang dihadapi oleh kalangan evangelis dalam pekabaran injil terkait dengan problem dalam sejarah pembentukan konsep pekabaran Injil, dan problematika teologis missi Kristen, termasuk didalamnya membahas problem dalam kaitannya dengan objek missi sebagai sasaran pekabaran Injil[6]. Dalam kajian problem Injil ditinjau dari konsep sejarah akan dibahas kronologis sejarah perkembangan pekabaran penginjilan dengan mencermati point-point yang bertema identik. Termasuk didalamnya dibahas beberapa ajaran yang baru dirumuskan pasca kekristenan awal. Dalam pembahasan tentang penginjilan secara teologis akan membahas berbagi ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang memiliki keterkaitan dengan missi. Sedangkan pembahasan obyek misi mencakup keberadaan manusia sebagai penerima pekabaran Injil. Pada akhir tulisan ini penulis akan membahas berbagai aspek tentang missi Kristen dalam perspektif strategi dakwah Islam.

 

PROBLEM DALAM SEJARAH PENGINJILAN

Pembahasan secara historis artinya bicara tentang kronologi yang mencakup realitas yang pernah terjadi. Demikian juga dalam pembahasan konsep Pekabaran Injil berarti perlu melibatkan dan mencermati konsep pertumbuhan serta perkembangan missi Kristen dari massa ke massa. Hal ini  harus dilakukan dalam upaya merunut dan mengetahui konsep dasar dan bagaimana konsep tersebut mengalami kematangan secara konseptual dan memiliki landasan secara keilmuan. Namun dengan pertimbangan efektifitas dan efisiensi penulis merasa perlu untuk mengetengahkan point-point secara ringkas sehingga diharapkan pembahasan tidak akan terlampau panjang namun mampu menyentuh sisi-sisi yang menjadi titik tekan dalam konsep pekabaran injil itu sendiri.

Untuk mempermudah pembahasan maka penulis mencoba untuk membatasi pembahasan sejarah dalam lima kategori. Perlu diketahui bahwa upaya kategorikal yang diketengahkan tersebut bukan merupakan hasil proses penggolongan dalam tipologi resmi dan tidak didasarkan sistem kategorikal tertentu. Namun lebih didasarkan pada kemudahan yang diperoleh dalam menjelaskan substansi sejarahnya.

1.      Pengajaran pada masa Yesus

2.      Periode gereja awal

3.      Sidang Gereja

4.      Reformasi Gereja dan Protestanisme Kristen

5.      “Gerakan gereja memasehikan dunia”.

 

1.      Pengajaran Pada Masa Yesus

Penganut Kristen dewasa ini memiliki kecenderungan memandang Yesus melalui kaca mata teologi atau dogma dan bukan didasarkan pada pandangan sejarah[7]. Maka tidak heran jika pandangan terhadap Yesus selalu diarahkan terhadap sosok mistis yang sulit dijangkau oleh akal sehat dan dikaitkan dengan berbagai mitos yang meyelubungi kehidupannya. Oleh karena itu menjadi sebuah kesulitan tersendiri untuk merunut kehidupan Yesus sebagai sosok manusiawi dan duniawi selain menyandarkan pada berita Perjanjian Baru dan pendapat dari para pakar serta sumber-sumber lain yang berkaitan.

Yesus melakukan pengajaran terhadap para muridnya secara langsung dan substansi ajarannya adalah menegakkan kembali ajaran Taurat Musa. Sebagai utusan Tuhan dia mendapatkan bimbingan dari Tuhan dalam pengajarannya. Namun demikian, Yesus tidak dapat menjadi model keteladanan yang sempurna bagi umat manusia dalam segala segi kehidupan[8]. Yesus tidak menikah sehingga tidak bisa menjadi teladan bagi pengikutnya tentang bagaimana menjadi suami dan ayah yang baik. Yesus tidak pernah berperan sebagai seoranmg panglima sehingga tidak bisa member contoh bagaimana seharusnya berperilaku terhadap musuh yang dikalahkan. Dia tidak pernah menjadi penguasa sehingga para pengikutnya akan merasa kesulitan mendapatkan gambaran tentang seorang negarawan yang baik. Bahkan Yesus dalam gambaran Perjanjian Baru digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan sebagian dari ajarannya. Sebagai contoh, Yesus memerintahkan pengikutnya untuk menjual bajunya dan menukarkannya dengan pedang, namun dia tidak mengajarkan bagaimana caranya menggunakan pedang dengan benar[9]. Pada kesempatan lain Yesus dianggap tidak melaksanakan hukum Taurat secara kosekuen dengan tidak merajam seorang pezina[10].

Pengajaran Yesus yang belum tuntas tersebut sudah tentu melahirkan sejumlah kosekuensi logis. Hal yang paling menarik adalah sejumlah penyimpangan dan mentalitas buruk yang dilakukan oleh para murid Yesus, yang merupakan bapa gereja awal. Seorang murid yang tega menyangkali gurunya, seorang murid yang tega menjual gurunya untuk disalib, para murid yang lebih memilih melarikan diri dibandingkan mempertahankan dan membela ajaran gurunya, dan lain-lain merupakan sederetan bukti dari adanya proses pengajaran yang tidak sempurna.

2.      Periode Gereja Awal

Sepeninggal Yesus, murid-murid Yesus mengalami penderitaan dan penyiksaan. Sesudah Tiberius (42 SM-37 M), kaisar semasa Almasih hidup, diganti oleh Gaius (37-41 M) dan Claudius (41-54 M) yang terkenal sangat bengis terhadap murid-murid atau pengikut Yesus dan beberapa diantaranya terbunuh pada masa ini[11]. Prof. Sharl Jenniber, seorang dosen Kristologi dan Kepala Bagian Sejarah Agama-agama di Universitas Paris, Perancis, menyatakan bahwa informasi tentang bentuk-bentuk penindasan ini tidak memiliki sumber lain yang dianggap baik selain pasal-pasal awal dari Kisah Para Rasul. Namun demikian Sharl mengakui bahwa naskah Kisah para Rasul tersebut telah mengalami proses perubahan sehingga diragukan kebenaran informasinya. Dalam kesempatan yang sama Sharl menekankan bahwa beberapa murid yang terbunuh pada massa itu merupakan pengikut senior Yesus antara lain Petrus, Yakobus besar, Yakobus kecil, dan Yohanes[12]. Zaki Zenoda memberikan informasi bahwa Yohanes dihukum mati, Petrus dipenjara, dan para murid lainnya disiksa pada masa Herodes dimana semua peristiwa tersebut terjadi pada tahun 44 Masehi[13]. Matius terbunuh di Ethiopia. Sedangkan Markus mendirikan sekolah teologi di Alexandria dan membangun gereja di Bokalia. Namun dia dibunuh oleh para penyembah berhala (watsaniyun) di sana. Lukas mati di Batras, Yunani. Yakobus, saudara Matius, dibunuh oleh pendeta Yahudi di Yerusalem pada tahun 62 M. Petrus, murid tertua Yesus, mati disalib oleh Kaisar Nero.

Dengan terbunuhnya Para murid tersebut, ajaran Yesus sudah tentu tidak dapat diajarkan hanya dalam waktu yang sangat singkat. Sementara pada masa kehidupan Yesus saja, penguasaan para murid terhadap materi ajaran beliau kurang mendalam dan tidak bisa dikatakan sempurna.

3.      Sidang (konsili) Gereja

Membahas tentang kronologi sidang gereja dengan melihatnya sebagai tahapan dari missi penginjilan merupakan perkara yang urgen. Keputusan yang dihasilkan dari sidang-sidang yang diadakan dalam dunia Kristen menentukan arah missi penginjilan pada massa selanjutnya. Pada dasarnya Yesus tidak membawa sesuatu yang baru dalam ajarannya, namun hanya meneruskan ajaran yang telah ada sebelumnya. Akan tetapi siding-sidang gereja telah membawa Yesus pada posisi yang sedemikian strate4gis dan menganggapnya sebagai sosok yang sangat bepengaruh dalam kekristenan. Setidaknya demikian ungkapan Sharl Jeniber:

“ Kita tidak boleh lupa bahwa Yesus tidak pernah mendirikan apa-apa. Beliau tidak membawa agama baru maupun metode baru dalam ibadah. Beliau dating hanya memberikan renungan-renungan hati nurani untuk mencapai takwa dan masih dalam koridor agama Yahudi (Yesus adalah di antara nabi-nabi keturunan Israel)…”[14]

Sedangkan menurut Arthur Findly, Kristen sebagai sebuah agama bukan merupakan ajaran Yesus namun hasil dari rekayasa Paulus.[15] Maka dengan demikian ajaran Kristen yang disebarkan oleh para missionaries bukan merupakan ajaran Yesus secara utuh dan orisinal  serta mengalami perkembangan dalam setiap tahapan masa. Hasil keputusan sidang gereja juga memberikan kontribusi yang cukup besar dalam membentuk doktrin kekristenan dan memasok materi ajar yang disampaikan oleh missionaris. Adapun Sidang-sidang gereja tersebut adalah sebagai berikut :

a.      Konsili Nikea, tahun 325

Penyebab diadakannya sidang ini adalah guna menyamakan persepsi tentang Yesus. Kalangan Arius berkeyakinan bahwa Yesus adalah seorang nabi sedangkan kalangan Athanasius berkeyakinan bahwa Yesus dan ibunya adalah dua tuhan selain Allah. Keputusan dalam konsili Nikea antara lain sebagi berikut:

1)      Melarang mahzab Arius[16] dan membuang Arius serta memusnahkan buku-bukunya.

2)      Membuat buku pertama dari kanun iman.[17]

3)      Mengucilkan setiap orang yang kekluar dari keyakinan Athanasius.[18]

4)      Membuat 20 aturan yang berisi aturan gereja dan hukum khusus atas orang-orang Aklirus.

b.      Konsili Konstantinopel, tahun 381

Menurut Ibnu Patrick keputusan dari konsili Konstantinopel adalah sebagai berikut :[19]

“Mereka (peserta konsili Konstantinopel) telah memberikan tambahan terhadap amanat jang telah dibuat oleh 318 uskup di Nikea dengan satu iman kepada Roh Kudus, Tuhan pemberi hidup dan jang keluar dari Bapa dan Anak disembah dan diagungkan. Mereka djuga menetapkan bahwa bapa, Anak, dan Rohulkudus merupakan tiga oknum, tiga muka (segi) dan tigha zat, keesaan dalam trinitas, trinitas dalam keesaan, satu hakekat dalam tiga oknum, satu Tuhan, satu djauhar dan satu tabiat.”

c.       Konsili Ephesus I, tahun 431

Keputusan dalam konsili Ephsesus antara lain sebagai berikut:

1)      Mengutuk uskup Bizantium, Nestur[20], dan mengasingkannya ke Mesir.

2)      Maria adalah ibu Tuhan

3)      Yesus memiliki 2 hakekat, yaitu lahut (ketuhanan) dan nasut (keinsanan).

4)      Mengkuduskan Maria. Hal ini termaktub dalam mukaddimah keputusan konsili,” Kami semua mengkuduskan engkau, wahai ibu bagi cahaya yang sebenarnya.

d.      Konsili Ephesus II, tahun 449

Penyebab konsili ini adalah perdebatan antara Autachi dengan penganut mahzab Arius tentang tabiat Ketuhanan Yesus. Autachi berpendapat bahwa kemanusiaan Yesus menyatu dengan sifat ketuhanannya. Konsili tersebut pada akhirnya menghasilkan keputusan yang memihak kepada pendapat Autachi.

e.      Konsili Kaledonia, tahun 451

Konsili ini menetapkan bahwa :

1)      Yesus memiliki dua karakter yang berbeda, bukan satu karakter yang terlebur. Ketuhanan Yesus adalah satu karakter, dan keinsanan Yesus adalah karakter lainnya. Dua karakter ini bertemu dalam diri Yesus.

2)      Konsili Kaledonia tahun 451 mencabut ketetapan Konsili Ephesus II, tahun 449.

3)      Mengasingkan Diskurus[21] ke Palestina.

f.        Konsili Konstantinopel II, tahun 553

Konsili tersebut menetapkan antara lain :

1)      Mendukung mahzab monophisite[22] (satu karakter)

2)      Mengutuk paham reinkarnasi

3)      Menetapkan bahwa Yesus adalah realitas dan bukan dongengan serta mengutuk pihak-pihak yang menyatakan sebaliknya.

g.      Konsili Konstantinopel III, tahun 680

Keputusan pokok dalam konsili tersebut menurut Ibnu Patrick adalah sebagai berikut :

“Kami semua percaya bahwa SATU dari TIGA, -yaitu putra yang tunggal, yang adalah kalimat yang azali dan abadi, yang tinggal bersama-sama tuhan Bapa-adalah satu oknum, satu muka, yang menyadari dengan sempurna akan keinsanannya, dan sempurna ketuhanannya di dalam jauhar-nya (substansi). Dia itulah Yesus Kristus dengan dua karakter, dua perbuatan, dua kehendak dalam satu oknum …”[23]

h.      Konsili Nikea II, tahun 787

Keputusan dalam konsili Nicea II, antara lain sebagi berikut:

1)      Mengagungkan gambar Yesus dan gambar orang-orang saleh (saint)

2)      Memasang gambar orang-orang suci di gereja-gereja, rumah-rumah, dan jalanan umum agar masyarakat merenungkan tokoh-tokoh yang ada dalam gambar tersebut.

i.        Konsili Konstantinopel IV, tahun 869

 Hasil keputusannya adalah sebagai berikut :

1)      Roh Kudus terpancar dari Bapa dan Anak secara bersamaan

2)      Hal-hal yang berkenaan dengan keyakinan Kristen harus merujuk Gereja Roma (Paus)

3)      Orang Kristen hanya boleh taat kepada aturan yang dibuat oleh Paus Roma.

4)      Patriarch Fusius[24] dan para pengikutnya dikutuk dan dikeluarkan dari gereja.

j.        Konsili Konstantinopel V, tahun 879

Konsili ini diadakan oleh Fusius yang menolak keputusan konsili Konstantinopel IV. Adapun keputusan dalam konsili ini adalah sebagai berikut :

1)      Mencabut semua keputusan Konsili Konstantinopel IV

2)      Roh Kudus terpancar dari Allah sendiri

3)      Hanya mengakui 7 (tujuh) konsili (terakhir konsili Nikea II, tahun 787)

4)      Pimpinan pusat gereja-gereja timur berkedudukan di kota Bizantium, Konstantinopel.

Demikianlah sejarah panjang berbagai konsili yang telah membentuk sejumlah doktrin keyakinan dalam kekristenan dengan diwarnai berbagai konflik, pengasingan, kekerasan, dan sejumlah pertikaian. Intinya, bangunan keyakinan dalam kekristenan hari ini tidak ditentukan oleh ajaran otentik Yesus sepenuhnya semasa hidup, namun terjadi dari proses rancang bangun, pinjam meminjam antar peradaban, dan tambal sulam doktrin baru selama masa dan rentang waktu yang panjang.

4.      Reformasi Gereja dan Protestanisme

Pertumbuhan gereja Katholik dan jangkauan wilayahnya tidak lepas dari dua fator. Kedua factor tesebut antara lain adalah sebagai berikut :[25]Pertama, membesarnya kekuasaan kepausan atas lembaga-lembaga dibawahnya. Kedua, membesarnya intervensi orang-orang gereja ke dalam urusan di luar agama (secular). Kedua hal ini menyebabkan munculnya penurunan kualitas keagamaan orang-orang gereja, munculnya uskup-uskup yang menjadi pemburu harta benda, dan lain-lain.

Marthin Luther (1483-1546), seorang pakar hukum Jerman yang sangat relijius, dating ke Roma untuk meminta berkat Paus. Dia membayangkan bahwa Paus adalah sosok yang suci namun gambaran itu segera berubah menjadi kebencian yang mendalam setelah melihat sosok Paus dan perilaku gerejanya yang dianggapnya keluar dari ajaran Yesus. Bahkan dalam salah satu bukunya Luther menulis ungkapan yang menunjukkan kebenciannya dan sekaligus menggambarkan perilaku Paus dalam bukunya yang ditulis tahun 1558 pada halaman 274 dari jilid ke-7 sebagai berikut :

“Saya adalah orang pertama yang memohon kepada Tuhan untuk menampakkan persoalan sesungguhnya yang dijanjikan Paulus kepada kamu sekalian. Saya tahu bahwa firman Tuhan yang suci berjalan lamban, hai Paulus IV yang kerdil. Jagalah dirimu dari kejatuhan, hai keledai. Jagalah dirimu, hai keledai Paulus. Dan janganlah maju, hai keledai kecil niscaya kamu jatuh dan terpeleset karena udara tahun ini sedikit, sehingga banyak salju yang berisi kerikil-kerikil tajam yang menggelincirkan kakimu. Jika kamu tergelincir, maka setan akan mentertawakanmu. Menjauhlah dari saya wahai orang-orang jelek, orang-orang tolol dan dungu. Kamu meramalkan dirimu lebih utama dari seekor keledai yang dungu. Wahai Paulus, sesungguhnya kamu adalah keledai, dan bahkan keledai dungu dan selamanya menjadi keledai.”[26]

Keberadaan praktik jual beli “surat pengampunan dosa” (indulgences)[27] yang dilakukan oleh Gereja dibawah kepemimpinan Paus oleh Luther dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Hal inilah yang kemudian mendorong Martin Luther melakukan  upaya perombakan terhadap sistem gereja dan protes terhadap terhadap Paus.  Pada 31 Oktober 1517, Marthin Luther (1483-1546) membuat petisi terhadap kekuasaan Paus dengan cara menempelkan 95 poin pernyataan (Ninety-five Theses) di pintu gerejanya di Wittenberg, di Jerman.[28] Diantara seruan Luther yang menandai babak awal tumbuhnya kesadaran untuk melakukan gerakan reformasi gereja beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: [29]

1)      “Surat pengampunan dosa” adalah dosa itu sendiri. Gereja-gereja harus mengutuknya.

2)      Copot semua pendeta yang menentang agama

3)      Paus hanya ketua pembinaan, bukan wakil Yesus

4)      Pendeta harus menikah untuk menjaga jiwa mereka

5)      Setiap orang berhak memahami Alkitab, tanpa bimbingan gereja

6)      Ritual agama tidak sah kecuali menggunakan bahasa yang dipahaminya

7)      Bersihkan gereja dari icon

8)      Perjamuan makan hanya untuk mengenang pekerjaan yesus, tidak lebih dari itu.

Tahun 1521, Luther dikucilkan dari Gereja Katolik. Namun, Luther berhasil mendapatkan perlindungan seorang penguasa di wilayah Jerman dan akhirnya mengembangkan geraja dan ajaran tersendiri terlepas dari kekuasaan Paus. [30]

Seruan reformasi tidak dapat dibendung lagi. Setiap Negara melahirkan tokh reformer. Dari Swiss lahir Zwingly (1484-1531), Prancis lahir Calvin (1509-1964). Reformasi yang dilakukan oleh Luther kemudian memunculkan sekte Kristen Protestan. Dengan demikian secara sederhana gerakan missi penginjilan telah menjadi dua kutub yaitu missi penginjilan kalangan Katholik dan kalangan Kristen Protestan. Keduanya memiliki perbedaan secara substansi ajaran atau doktrin missi yang disampaikan. Sebagai contoh sederhana, golongan Protestan mengakui bahwa Perjanjian Lama terdiri dari 39 kitab, sedangkan golongan Roma Katholik menandaskan bahwa Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab.[31]     

5.      “Gerakan Gereja Memasehikan Dunia”

Perang salib telah menciptakan kesan yang mendalam dalam tubuh Kristen. Gagasan mengorganisasi gerakan secara sitematis dan terencana mulai dibangun. Raimond Loll, misionaris dari Spanyol, tercatat sebagai misionaris pertama yang melaksanakan missinya pasca perang salib[32]. Dengan sengaja dia berusaha menguasai Bahasa Arab dan tradisi di beberapa negeri muslim sehingga mempermudah agenda missi yang dilakukannya. Selanjutnya pengalamannya selama didunia muslim telah menginspirasi banyak penginjil sepeninggalnya. Missionaris dan zending pada massa selanjutnta menumpang pada kolonialisme guna menyebarkan agama bagi penduduk Negara jajahan yang belum tersentuh ajaran Kristen[33]. Pasca itu strategi usaha missionarisme diarahkan sebagai ujung tombak dari orientalisme dan globalisasi terutama terhadap kawasan timur.

Ketika para missionaris memdapatkan kesempatan untuk mendirikan pusat-pusat kegiatan di negara Islam (Daulah Khilafah Islamiyyah Utsmaniyyah), mereka mencari kesempatan untuk melakukan agitasi terhadap warga negara. Pada tahun 1841 misalnya, terjadi keributan di pegunungan Libanon antara penduduk penganut Kristen Maronit dan kaum Druze. Perselisihan antara kaum Maronit dan Druze itu diprovokasi oleh penjajah Inggris (yang bersekongkol dengan kaum Druze) dan Perancis (yang bersekongkol dengan kaum Maronit) sehingga pada tahun 1845 terjadi keributan lagi hingga meluas ke gereja dan biara. Terjadi pencurian, perampokan, pembunuhan, dan perampokan. Karena provokasi pendeta Mronit, pada tahun 1857 terjadi revolusi bersenjata dimana para petani Kristen melawan tuan tanah Druze. Perancis dan Inggris di belakangnya. Akibatnya kerusuhan dan keributan merata di seluruh Libanon. Orang-orang Druze pun membantai orang-orang Kristen tanpa pandang bulu, baik pendeta maupun orang biasa. Dalam keributan itu sepuluh ribu orang Kristen terbunuh, lainnya diungsikan. Kerusuhan akhirnya meluas ke seluruh Syam. Di Damaskus disebarkan propaganda kebencian sehingga orang-orang Islam menyerang daerah orang Kristen pada tahun 1860. Keributan tersebut memaksa negara Khilafah Islamiyyah mengakhiri kerusuhan dengan intervensi militer. Sekalipun negara berhasil menenangkan keadaan, negara penjajah Inggris dan Perancis memanfaatkan kerusuhan yang mereka dalangi sendiri di wilayah Siria dan Libanon itu untuk melakukan intervensi ke wilayah daulah Islamiyah Utsmaniyah dengan invasi militer. Pada tahun 1860 Perancis mengirim devisi militer ke Beirut dengan dalih memadamkan revolusi. Setelah itu para penjajah memaksa Khilafah Utsmaniyyah utnuk memecah wilayah Syam menjadi dua propinsi yakni Libanon dan Siria dimana Libanon kekuasaan dipegang oleh orang Kristen dan sejak itulah Libanon menjadi penghubung antara negara asing imperialis dengan negeri-negeri Islam.

Dari sini kita memahami betul bahwa kegiatan missionaris tidak lepas dari aktivitas imperialis negara-negara Barat yang rakus untuk menguasai dunia Islam, memecah belahnya, dan mencegah terjadinya persatuan kembali negeri-negeri Islam.

 

PROBLEMA TEOLOGIS MISSI KRISTEN

Perjanjian Lama yang merupakan materi doktrin utama bagi kalangan Kristen hingga kini masih merupakan misteri. Richard Elliot Friedman menulis bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. (It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, the Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of lamentation ditulis Nabi Jeremiah. Separoh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi. [34]David F. Hinson bahkan mengakui bahwa Perjanjian Lama merupakan kitab yang berisi legenda dan bukan sejarah sehingga sulit digunakan sebagai sumber kronologis sejarah Israel. Pengakuan tersebut adalah sebagai berikut :

“Dalam mempelajari sejarah Israel hendaknya selalu diingat bahwa kita berhadapan dengan legenda dan bukan sejarah. Cerita-cerita itu bukanlah laporan-laporan yang ditulis segera setelah peristiwa-peristiwa yang hendak dilaporkan itu terjadi. Cerita itu baru ditulis beberapa abad kemudian sebagai hasil ingatan ketika diteruskan oleh seorang ayah kepada anak-anaknya dari generasi satu kepada generasi berikutnya. Kita tidak memiliki laporan tertulis yang pertama sekali yang mengandung cerita hasil kenang-kenangan tersebut. Akan tetapi kita akan melihat bahwa cerita tersebut berulang kali ditulis dan disalin sepanjang sejarah. Dengan demikian cerita-cerita itu yang sekarang ada pada kita telah diambil alih dan direvisi. Kita juga tak dapat membuktikan sekarang bentuk asli dari cerita tersebut, sekalipun para ahli berpendapat bahwa perlu untuk mengetahui apa sesungguhnya yang telah terjadi. Kita akan membatasi penyelidikan kita pada bentuk cerita tersebut sebagaimana yang kita miliki sekarang.”[35]

Menyadari betapa banyaknya kontradiksi dalam Alkitab, theolog Kristen lainnya, mencoba untuk berapologi dengan menyatakan bahwa walaupun Alkitab penuh dengan kerancuan namun umat Kristen terdahulu pernah memiliki kitab yang asli. Ada pun usaha pembelaan dirinya adalah sebagai berikut :

“Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Alkitab, kekhilafan-kehilafan tentang angka-angka perhitungan, tahun, dan fakta. Dan perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Alkitab telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata : “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi setelah turunan naskah itu. Isi Alkitab juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia.”[36]    

Tidak berbeda dari Perjanjian Lama, Perjanjian Baru (The New Testament) juga menghadapi banyak problem otentisitas teks. Profesor Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menulis beberapa buku tentang teks Perjanjian Baru. Satu bukunya berjudul “The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration” (Oxford University Press, 1985). Dalam bukunya yang lain, yang berjudul “A Textual Commentaary on the Greek New Testament”, (terbitan United Bible Societies, corrected edition  tahun 1975), Metzger menulis di pembukaan bukunya, ia menjelaskan ada dua kondisi yang selalu dihadapi oleh penafsir Bible, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini, dan (2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, berbeda satu dengan lainnya.     

Permasalahan otentisitas teks dan misteri dalam kitab suci tersebut sudah tentu akan berimbas pada berbagai bentuk keyakinan teologis dalam kekristenan. Tidak terkecuali missi penginjilan mengahadapi berbagai persoalan problematik secara teologis. Bukan hanya problem secara substansi namun menyangkut prilaku ritual yang merupakan turunan dari penjabaran kitab suci. Juga problem tentang otentisitas dan finalitas ajaran Kristen yang disiarkan dalam pekabaran Injil.

 Missi Kristen yang disebarkan melalui berbagai metodologi kepada ummat Islam dan ummat agama lain bukan merupakan konsep yang final dan matang secara teologis. Menilik pada Bible Perjanjian Baru maka akan ditemukan bahwa missi Kristen sesungguhnya merupakan sesuatu yang bermasalah secara konseptual dan memiliki dalil mendasar yang saling berkontradiksi dan debatable di dalamnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Prof. Dr. Isma’il R. Al Faruqi, pakar Islam Universitas Temple, Philadelphia, Amerika Serikat, pada saat melakukan analisa perbandingan antara konsep dakwah dan missi penginjilan, menyatakan bahwa dakwah merupakan inteleksasi rasional yang memperlihatkan bahwa dalam Islam, keyakinan senantiasa dibarengi dengan pengetahuan dan keteguhan hati sedangkan dalam Kristen konsep keyakinan itu sendiri tidak jauh dari apa yang disebut mirip proses penemuan pascal, suatu pertaruhan yang membabi buta[37].

Pekabaran Injil secara umum mendapat inspirasi dari beberapa ayat Perjanjian Baru yaitu sebagai berikut :

a.       Yesus memerintahkan kepada muridnya untuk membaptis semua bangsa. Ayat tersebut sebagai berikut :

Yesus mendekati mereka dan berkata: kepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi karena itu pergilah jadikan semua bangsa muridKu dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus[38].

b.      Yesus akan menjadi saksi bagi seluruh Yudea dan seluruh dunia. Ada pun ayat tersebut adalah sebagai berikut :

tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksiku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.[39]

c.       Yesus diutus hanya kepada bangsa keturunan Israel atau Yahudi saja. Ada pun ayatnya adalah sebagai berikut :

Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”[40]

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.[41]

 

Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”[42]

 

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.[43]

 

bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.[44]

Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.[45]

 

Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus[46]

 

Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya. Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya. Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.[47]

Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya. Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.[48]

 

Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.[49]

 

d.      Yesus adalah Tuhan bagi semua bangsa. Ada pun ayat dalam perjanjian baru menyebutkan sebagai berikut:

 

Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.[50]

 

Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku,[51]

Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;[52]

Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat[53]

 Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia.[54]

            Dengan demikian secara teologis, perintah Penginjilan terhadap umat agama lain atau terhadap bangsa lain diluar Bani Israel merupakan penyimpangan terhadap semangat Injil itu sendiri. Belum lagi ketika harus mempertimbangkan kontroversi perintah yang saling bertentangan dalam Perjanjian Baru.

            Motif Penginjil untuk melakukan missinya umumnya berkutat seputar pewartaan bahwa kerajaan Allah telah dekat. Berdasarkan penyelidikan dapat disimpulkan bahwa pewartaan utama Yesus adalah akan segera datangnya kerajaan Allah ke bumi.[55] Bahkan para teolog telah berupaya dengan berani untuk membuat kerajaan Allah sebagai konsep pusat bagi teologi Kristen.  Namun Calyton Sullivan telah membuktikan bahwa kerajaan yang dimaksud oleh Yesus adalah sesuatu yang bersifat fisikal dan akan muncul pada massa Yesus masih hidup. [56] Bahkan Clayton mensiyalir bahwa Yesus telah keliru tentang warta utamanya, yaitu tentang kerajaan Allah yang sebenarnya tidak pernah ada.[57] Jadi, berdasarkan kesimpulan dari pendapat Cayton tersebut, motif utama penginjilan tentang pemberitaan akan datangnya kerajaan Allah tersebut dengan sendirinya telah terbantahkan.

 

STRATEGI DAKWAH ISLAM

            Gerakan perubahan memiliki beberapa sisis dimensi berupa kekuatan pengubah, kekuatan anti perubahan, medan pergulatan, dan arah perubahan.[58] Dakwah sebagai gerkan yang berusaha mengubah kondisi agar sesui dengan tuntunan hidup Islami[59], juga tidak lepas dari kebutuhan akan adanya gerakan pengubah, lawan berupa gerakan anti perubahan, medan pergulatan sebagai ajang persaingan antara gerakan perubahan dan anti perubahan, dan arah perubahan itu sendiri. Jika dakwah islam diposisikan sebagai gerakan perubahan, maka dalam konteks hubungan antara islam dan Kristen, missi penginjilan adalah gerakan anti perubahan tersebut. Dengan demikian posisi masing-masing menjadi jelas dan dapat dirumuskan bahwa manusia telah menjadi objek sekaligus medan pergulatan bagi tumbuh dan eksisnya paham dari masing-masing agama. Selain itu arah perubahan yang ada dalam dakwah dan dalam missi kekristenan menjadi semakin jelas perbedaannya.

            Untuk mencapai sebuah perubahan yang mendasar maka dakwah hendaknya dilakukan secara terstruktur dan terorganisasi dengan baik. Dengan demikian diharapkan gerakan dakwah akan mampu mewujudkan perubahan yang mendasar mencakup perubahan substansial dan bukan sekedar perubahan yang bersifat reaksional yang hanya menyentuh kulit luar dari sistem yang diubahnya. Oleh karena itu penetapan sebuah ancangan dan tujuan awal menjadi urgent untuk dilakukan.Suatu tujuan diperlukan bagi setiap langkah atau tindakan da’i guna mencapai keberhasilan.[60] Dalam hal ini telah jelas bahwa salah satu tujuan dakwah adalah guna mengeliminasi berbagai paham menyimpang dan kesesatan, termasuk di dalamnnya adalah ajaran Kristen yang mempertuhankan Nabi Isa dan menganggap tuhan adalah lebih dari satu (trinitas).

            Berdasarkan kajian tentang problematika missi penginjilan di atas, maka berbagai kelemahan yang dimiliki oleh pihak lawan merupakan peluang yang memiliki kans besar untuk diserang. Missi penginjilan ditinjau dari sisi sejarah merupakan upaya untuk menanamkan hegemoni dan kekristenan sendiri secara doctrinal telah diwarnai dengan berbagai perbedaan pendapat yang selalu dimenangkan oleh pihak yang secara politis memiliki kedudukan strategis dan bukan sebagai sebuah kebenaran itu sendiri. Kebenaran dalam Kristen nyatanya telah terbentuk dalam kurun waktu sejarah panjang dan bukan murni otentik dan tidak final pada massa Yesus. Sedangkan dari sisi teologis, missi penginjilan tidak memiliki argumentasi yang kuat yang mengakar kepada semangat utama kitab sucinya. Selain itu materi ajar atau doktrin yang harus disampaikan dalam missi penginjilan pada dasarnya juga memiliki problematika yang cukup serius. Kedua kelemahan mendasar dalam missi pekabaran Injil tersebut merupakan peluang bagi dakwah Islam guna membuktikan bahwa Islam mampu mengatasi paham-paham yang tercampur opini manusia di dalamnya.

            Maka upaya dakwah melalui bidang intelektual guna membedah “masa lalu” dan ajaran Kristen perlu dilakukan secara terorganisasi. Syiar-syiar kepada masyarakat muslim perlu digalakkan. Demikian juga kebanggaan masyarakat muslim terhadap keislaman yang dianutnya perlu ditumbuhkan kembali.

            Dengan demikian strategi dakwah Islam perlu diarahkan guna:

1.      Peningkatan kuantitas muslim melalui dakwah kepada penganut agama lain

2.      Peningkatan kaualitas muslim melalui pendidikan, pelatihan, dan upaya-upaya pengembangan

3.      Pewarnaan dunia akademik dan bidang-bidang kehidupan yang strategis dengan pewacanaan Islam secara terstruktur dan terorganisasi.

Selain itu peran serta organisasi–organisasi Islam diharapkan kedepan lebih peduli dengan agenda bersama keumatan dan bukan terkurung dalam strategi golongan atau komunitas yang terbatas. Pola keorganisasian bukan lagi terjebak dengan “organisasi jaringan” yang selalu mementingkan kebutuhan organisasinya, namun mulai menggagas “jaringan organisasi” yang bergerak dinamis memikirkan eksistensi Islam. Dengan demikian penyamaan visi dan missi dakwah akan dapat diwujudkan bersama.

 

KESIMPULAN

            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :

1.      Secara historis, missi penginjilan memiliki permasalahan terutama dalam hal netralitas gerakannya. Gerakan pekabaran Injil selau menumpang pada bentuk-bentuk imperalisme dan kolonialisme. Selain itu secara substansial, materi pekabaran Injil, bukan merupakan ajaran Yesus secara murni, namun merupakan akumulasi berbagai ajaran dan pengaruh budaya asing yang masuk ke dalam kekristenan selama masa yang cukup panjang.

2.      Dari sisi teologis, missi penginjilan tidak ditopang oleh dalil yang kuat dari kitab suci agama Kristen. Kenyataan yang ada justru membuktikan bahwa dalil missi dalam perjanjian baru saling berkontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Demikian juga ajaran Kristen yang lain yang berasal dari perjanjian baru dan Perjanjian Lama mengalami hal yang sama. Bahkan otentisitas petrjanjian Lama dan perjanjian baru masih menjadi misteri hingga hari ini.

3.      Kelemahan missi penginjilan dari sisi historis maupun teologis merupakan peluang bagi dakwah Islam. Salah satu startegi yang dapat digunakan adalah dengan mengungkap fakta sejarah yang ada dan mempertanyakan keabsahan missi penginjilan itu sendiri berdasarkan kajian teologis.  

Wonogiri, 27 Januari 2008

FOOTNOTE

[1] Dalam penjelasan di halaman 5 dari bukunya Runtut Pijar mengutip bahwa Justinus Martir pernah menyatakan Socrates merupakan orang Kristen sebelum Yesus. Socrates (m. 399 SM) adalah guru Plato dan Plato adalah guru Aristoteles (m. 322 SM). Filsafat Plato diperbaharui oleh Ammonius Sakkas dan Plotinus, maka lahirlah filsafat Neo-Platonisme.  Lihat Runtut Pijar.  Sejarah Pemikiran Kristen. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1990). Hal. 4.

[2] Clayton Sullivan. Selamatkan Yesus dari Orang Kristen. (Serambi, Jakarta, 2005). Hal. 73

[3] Pernyataan Windebrand tersebut dikutip oleh Prof. Syech Abuzahrah, yang diera 1960-an menjadi guru besar Fakultas Hukum Universitas Al Azhar, Kairo, dalam bukunya yang berjudul “Muhadlarat fi an-Nasrabiah” yang diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul “Tindjauan Tentang Agama Masehi”. Penulis mengutip dari buku beliau berdasarkan ejaan pada saat buku ini diterbitkan di Indonesia. Huruf “j” pada ejaan lama mewakili karakter huruf “y” pada ejaan baru, sedangkan huruf “j” pada ejaan baru diwakili oleh karakter “dj” dalam ejaan lama. Lihat Prof. Sjech Abu Zahrah. Tindjauan Tentang Agama Masehi. (AB. Siti Sjamsijah, Solo, 1969). Hal. 38

[4] Lihat Prof. Sjech Abu Zahrah. Ibid. Hal. 39

[5] Dalam filsafat Alexandria, pertumbuhan dan pembentukan alam dikembalikan kepada tiga unsur atau trinitas suci, yaitu pencipta pertama, akal (logos) yang keluar dari pencipta pertama sebagaimana keluarnya seorang anak dari ayahnya, dan roh yang berhubungan langsung dengan segala sesuatu yang hidup. Dari roh itulah terdapat kehidupan. Jika Pencipta Pertama disebut “Ayah”, Akal yang keluar darinya disebut “Anak”, dan Roh sama halnya dengan “Roh Kudus” dalam kekristenan.  Lihat Prof. Sjech Abu Zahrah. Tindjauan Tentang Agama Masehi. (AB. Siti Sjamsijah, Solo, 1969). Hal. 40

[6] Kata evangelis merujuk pada kata “eyaggelian” yang dalam Bahasa Yunani merupakan kata biasa, tidak memiliki arti secara khusus, dipakai untuk segala berita yang baik. Misalnya kabar kemenangan dalam pertempuran, kabar kota yang dibebaskan dari kepungan musuh, kabar kelahiran seorang kaisar baru, kabar adanya kaisar yang naik tahta dan sebagainya. Dalam Septuginta (terjemahan Pentateuch, ke dalam bahsa Yunani) kata “eyaggelizaathai” untuk menterjemahkan kata Ibrani “bissar” yang berarti mewartakan (1 Samuel 18 : 6). Dalam terjemahan Bahasa Inggris digunakan kata “gospel” untuk menggambarkan sebuah pewartaan yang memiliki arti religious bahkan pengkultusan terhadap sesuatu. Secara harfiah “eya” artinya “baik” dan aggelion artinya “kabar”. Maka eyaggelion berarti “kabar baik”. Dari kata ini pula disinyalir muncul kata “injil”. Sedangkan kata evangelis memiliki makna penyampai kabar baik yang merujuk pada sebuah substansi materi religious.

[7] Clayton Sullivan,.opcit. hal. 12

[8] Lihat Ulfat Azizus Samad. Islam dan Kristen : Dalam Perspektif Ilmu Perbandingan Agama. (terj.) (Serambi, Jakarta, 2000). Hal. 34

[9]Perjanjian Baru Lukas 22 : 36

[10]Perjanjian Baru …

[11] Prof. Sjech Abu Zahrah., Opcit. hal. 32

[12] Lihat DR. Ra’uf Syalabi. Distorsi Sejarah dan Ajaran Yesus. (Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 2001). Hal. 67

[13] Lihat DR. Ra’uf Syalabi. Ibid. Hal. 78

[14] Dr. Rauf Syalabi. Ibid. Hal. 119

[15] Dr. Rauf Syalabi. Ibid. Hal. 120

[16] Mahzab Arius merupakan mahzab dari gereja Timur yang meyakini bahwa yesus adalah seorang utusan dan Tuhan adalah esa. Yesus adalah ciptaan Allah dan tidak sama substansinya dengan Allah. Secara umum pendapatnya menyatakan bahwa makhluk Tuhan yang pertama dan tertinggi dijadikan Tuhan adalah Yesus. Anak itu tidak kekal, sifat illahi hanya anugrah. Yesus sempurna jika dibandingkan dengan makhluk biasa. (Lihat DR. Ali Anwar, M. Si. Ilmu Perbandingan agama dan Filsafat. (Penerbit pustaka Setia, Bandung, 2005). Hal. 99)

[17]Kanun Iman yang dimaksud dalam versi Kristen Protestan bunyinya adalah sebagai berikut :

“Bapa kami yang ada disurga:

1)      Dipemuliakan nama-Mu

2)      Datanglah kerajaan-Mu

3)      Jadilah kehendak-Mu seperti di surge, demikian juga diatas bumi

4)      Berilah kami pada hari ini makanan yang secukupnya

5)      Dan ampunilah kiranya kepada kamisegala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kami

6)      Janganlah membawa kami kepada percobaan, melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat

7)      Karena Engkau yang mempunyai Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Sedangkan dalam versi Katholik memiliki substansi yang hampir sama. Hanya saja dipoint keempat menyebutkan “Berilah kami rejeki pada hari ini” dan pada point ketujuh menyebutkan “Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.” (Lihat Kolonel Infanteri R. Soegondo. Ilmu bumi Militer Indonesia. (Pembimbing, Jakarta, 1954). Hal. 237)

[18]Mahzab Athanasius (gereja barat) meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan yang dilahirkan dari Tuhan Bapa. Jadi dia sama dalam hal keazalian (kekekalan) dan jauharnya. (Lihat DR. Ali Anwar, M. Si. Ilmu Perbandingan agama dan Filsafat. (Penerbit pustaka Setia, Bandung, 2005). Hal. 99)

[19] Lihat Prof. Sjech Abu Zahrah. Opcit. Hal. 151

[20] Nestur atau Nestorius adalah uskup Bizantium yang mengajarkan bawa karakter ketuhanan (kelahutan) dalam diri Yesus harus dipisahkan dari karakter keinsanannya (nasut). Adapun karakter yang dimaksud oleh Nestur antara lain :

·         Ketuhanan Yesus tidak dilahirkan (oleh Maria), tidak ikut disalib dan tidak menyertai kemanusiaannya

·         Maria bukanlah ibu Tuhan. Beliau adalah ibu bagi Yesus sebagai manusia.

·         Yesus yang tampak (oleh mata) adalah bukan Tuhan, tetapi seorang yang diberkati oleh anugerah Tuhan berupa tanda-tanda mukjizat.

·         Yesus telah menyatu dengan Bapa dan jika dia disebut “Anak Tuhan”, maka sebutan itu bukan pada hakekatnya, tapi pada keanugerahannya.

[21]Diskurus adalah uskup Alexandria yang menolak pendapat bahwa kemanusiaan Yesus menyatu dengan ketuhanan Tuhan.

[22] Mahzab Monophisite merupakan mahzab yang mengikuti pendapat keuskupan Alexandria yang menyatakan bahwa Yesus mempunyai dua karakter yang sudah menyatu dalam diri Yesus dalam sebuah karakter yaitu karakter Yesus. Lihat Dr. Rauf Syalabi. Opcit. Hal. 136

[23] Lihat Dr. Rauf Syalabi. Opcit. Hal. 140

[24] Fusius adalah patriarch dari Konstantinopel  yang berpendapat bahwa Roh Kudus terpancar dari Allah. Pendapat ini ditentang oleh Paus Roma yang menyatakan bahwa Roh Kudus terpancar dari Allah dan Yesus secara bersamaan.

[25]DR. Rauf Syalabi. Opcit. Hal 159

[26]Lihat Syaikh Muhammad Rahmatullah Al Kairanawi. Izharul Haq. (terj.). (penerbit Cendekia, Jakarta, 2003). Hal. 7

[27]Berdasarkan Konsili Roma yang diadakan pada tahun 1215 diputuskan bahwa paus memiliki sifat-sifat khusus seperti sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan. Misalnya Paus berhak memebri ampunan  terhadap kejahatan-kejahatan dan berhak pula memebrikan ampunan terhadap orang yang dikehendaki. Pada tahun 1869 pertemuan lainnya memutuskabn bahwa Paus adalah terhindar dari dosa. Keputusan-keputusan itulah yang kemudian di gunakan sebagai dasar pijakan oleh Paus Paulus IV untuk mengeluarkan surat pengampunan dosa dimana surat tersebut dijualbelikan secara umum. Dengan memebeli piagam tersebut dan mencantumkan namanya disana maka seseorang akan dianggap telah tertebus dosanya. Adapun bunyi teks dari piagam tersebut adalah sebagai berikut :

Tuhan kami Yesus Almasih member amanat kepadamu …… (di sini dituliskan nama pembeli piagam penebusan dosa), Al Masih memberikan dengan hak penderitaannya. Kami demi kekuasaan sebagai utusan yang diberi kekuasaan membebaskan engkau dari hukuman balasan dan hukuman lainnya, hukuman yang dijatuhkan oleh gereja yang engkau harus terima dan kami bebaskan dari kesalahan, dan dosa yang engkau jalankan, baik dosa besar maupun kecil. Kami hapuskan semua dosa-dosamu dansemua tanda-tanda kesalahan atasmu. Kami hapuskan hukuman balasan yang harus enkau derita dalam pensucian. Kami kembalikan engkau kepada kekuasaan dan rahasia gereja. Kami perintahkan engkau masuk dalam golongan wali. Kami kembalikan engkau kepada kesucian dan kebaikan yang pernah engkau miliki waktuditahbiskan agar supaya waktu sakaratul maut dapat tertutuplah siksa dan hukuman, agar pintu yang menyampaikan ke surge terbuka kebahagiaan. Kalau engakau tidak lekas mati dan hidup beberapa tahun lagi maka ini adalah nikmat yang tidak berubah sampai pada saat terakhir hidupmu. Dengan nama Bapa, anak, dan Ruhul Kudus.” (Lihat Prof. Dr. Ahmad Shalaby. Perkembangan Keagamaan dalam Islam dan Masehi. (AB. Sitti Sjamsijah, Surakarta, 1960)). Hal. 22-224

[28] Dr. Ali Anwar, M. Si. Ilmu Perbandingan Agama dan Filsafat. (Penerbit Pustaka Setia, Bandung, 2005). Hal. 108

[29]DR. Rauf Syalabi. opcit. Hal. 160

[30] Lihat, Philip J. Adler, World Civilizations, (Belmont: Wasworth, 2000),  hal. 314-315

[31]Lihat  Djarnawi Hadikusuma. Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. (PT. Percetakan Persatuan, Yogyakarta, tth). Hal. 7

[32]DR. Khalid Na’im. Organisasi islam Menghadapi Kristenisasi. (Gema Insani Press, Jakarta, 1991). Hal. 20

[33] R. Soegondo. Ilmu Bumi militer Indonesia. (Pembimbing, Jakarta,1954). Hal. 227

[34] Richard Elliot Friedman, Who Wrote the Bible, (New York: Perennial Library, 1989), hal. 15-17           

[35] David F. Hinson. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1991). Hal. 36

[36] DR. G. C. Van Niftrik dan D. S. B. J. Boland. Dogmatika Masa Kini. (BPK , Jakarta, 1967). Hal. 298

[37]Lihat Artikel  Prof. DR. Isma’il R. Al Faruqi. Dakwah Islam dan Misi Kristen : Sebuah Dialog Internasional. (Penerbit Risalah, Bandung, 1984). Hal. 41

[38] Matius 28 : 18-19

[39] Kisah Para Rasul 1: 8

[40] Matius 2:6

[41] Matius 10 :5-6

[42] Matius 15:24

[43] Matius 19:28

[44] Lukas 22:30

[45] Kisah Para Rasul 11:19

[46] Kisah Para Rasul 13:22-23

[47] Kisah Para Rasul 16:4-6

[48]Wahyu 14:1-3

[49]Wahyu 21 :12-14

[50] Roma 1:5

[51] Roma 11:13

[52]Galatia 1:15 -16

[53] Galatia 2:7

[54] II Korintus 2:8

[55]Clayton Sullivan. Opcit. Hal. 19

[56] Disebutkan dalam Lukas 9:27yang menyatakan : Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah.”

[57]Lihat Clayton Sullivan. Opcit. Hal. 42-53

[58] Timur Mahardika. Gerakan Massa : Mengupayakan Demokrasi dan Keadilan Secara Damai. Cet. I (Lapera Pustaka Utama, Yogyakarta, 2000). Hal. 130-131

[59] Dakwah secara terminologis menurut HMS. Nasaruddin Latief adalah setiap usaha atau aktivitas lisan ataupun tulisan yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan menaati Allah swt sesuai garis-garis aqidah dan syari’ah serta akhlak Islamiyah. Sedangkan menurut Prof. H.M. Thoha Yahya Omar, dakwah adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemashlahatan dan kebahagiaan akhirat. (Lihat Rafi’udin, S. Ag. Prinsip dan Strategi Dakwah. (Pustaka Setia, Bandung, 1997). Hal. 24-25)

[60] Lihat M. Farid Wajdi, MM. Manajemen Strategi : Perumusan dan Pengembangan. (FE UMS, Surakarta, 1997). Hal. 18

DAFTAR PUSTAKA

……………, 1992. Alkitab. Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta.

Adler, Philip J. 2000. World Civilizations. Belmont, Wasworth

Al Faruqi, Prof. DR. Isma’il R. 1984. Dakwah Islam dan Misi Kristen : Sebuah Dialog Internasional. Penerbit Risalah, Bandung

Al Kairanawi, Syaikh Muhammad Rahmatullah. 2003.  Izharul Haq. (terj.). Penerbit Cendekia, Jakarta

Anwar, DR. Ali , M. Si, dkk. 2005. Ilmu Perbandingan agama dan Filsafat. (Penerbit pustaka Setia, Bandung

Friedman, Richard Elliot. 1989. Who Wrote the Bible. Perennial Library, New York

Hadikusuma, Djarnawi. Tth.  Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. PT. Percetakan Persatuan, Yogyakarta

Hinson, David F. 1991. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab. BPK Gunung Mulia, Jakarta

Mahardika, Timur. 2000.  Gerakan Massa : Mengupayakan Demokrasi dan Keadilan Secara Damai. Cet. I. Lapera Pustaka Utama, Yogyakarta

Na’im, DR. Khalid. 1991. Organisasi islam Menghadapi Kristenisasi.(terj.). Gema Insani Press, Jakarta

Niftrik, DR. G. C. Van dan D. S. B. J. Boland. 1967. Dogmatika Masa Kini. BPK , Jakarta

Pijar, Runtut. 1990.  Sejarah Pemikiran Kristen. BPK Gunung Mulia, Jakarta

Rafi’udin, S. Ag. 1997. Prinsip dan Strategi Dakwah. Pustaka Setia, Bandung

Rafi’udin, S. Ag. 1997. Prinsip dan Strategi Dakwah. Pustaka Setia, Bandung

Samad, Ulfat Azizus. 2000. Islam dan Kristen : Dalam Perspektif Ilmu Perbandingan Agama. (terj.) Serambi, Jakarta

Shalaby, Prof. Dr. Ahmad. 1960.  Perkembangan Keagamaan dalam Islam dan Masehi. Penerbit AB. Sitti Sjamsijah, Surakarta

Soegondo, Kolonel Infanteri R. 1954. Ilmu bumi Militer Indonesia. Pembimbing, Jakarta

Sullivan, Clayton. 2005. Selamatkan Yesus dari Orang Kristen. Serambi, Jakarta

Syalabi, DR. Ra’uf. 2001. Distorsi Sejarah dan Ajaran Yesus. Pustaka Al Kautsar, Jakarta

Wajdi, M. Farid, MM. 1997. Manajemen Strategi : Perumusan dan Pengembangan. FE UMS, Surakarta

Zahrah, Prof. Sjech Abu. 1969.  Tindjauan Tentang Agama Masehi. AB. Siti Sjamsijah, Surakarta

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: