ISLAM DAN KRISTEN DALAM JANGKA JAYABAYA SYEKH BAKIR

PENDAHULUAN

Jangka Jayabaya Syekh Bakir

Serat Jangka Jayabaya Syekh Bakir yang dilatinkan oleh R. Tanoyo. (Koleksi: Susiyanto)

Bagi sebagian penduduk Jawa, Jangka Jayabaya dianggap memiliki kedudukan yang istimewa. Kitab “legendaris” ini diposisikan sebagai “panduan” guna mengetahui masa depan kehidupan yang berkembang di atas daratan Pulau Jawa. Secara mitologis keberadaan kitab ini sering dihubungkan dengan adanya nuansa ramalan dan proyeksi jaman. Namun demikian hanya sedikit orang Jawa yang pernah membaca buku ini secara langsung. Bahkan lebih sedikit lagi yang mengetahui bahwa karya sastra ini memiliki banyak versi. Baca selebihnya »

My Blog 2011 in Review

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 31.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 11 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

KRISTENISASI DAN KOLONIALISME DI BATAK

PENDAHULUAN

Relasi antara kristenisasi dan kolonialisme Belanda telah lama bergulir menjadi perbincangan serius di kalangan peminat sejarah pekabaran Injil di Indonesia.  Kenyataan ini membuat pihak Kristen, termasuk Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), hari ini merasa bahwa hal tersebut merupakan beban sejarah.[1] Di satu sisi banyak penulis yang berusaha mengungkapkan kaitan keduanya sebagai semacam simbiosis mutualisme, sementara di pihak lain berupaya menegasikannya. Baca selebihnya »

KH. BAHAUDIN MUDHARY: KRISTOLOG MULTIBAHASA

Sosok almarhum K.H. Bahaudin Mudhary (1920-1979) tentu tidak asing bagi peminat studi Perbandingan Agama di Indonesia. Namanya mencuat seiring terbitnya buku berjudul Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, hasil dialognya dengan Antonius Widuri, penganut Kristen Katolik Roma. Dialog seputar masalah ketuhanan Yesus itu direkam dan disaksikan oleh sejumlah pengurus Yayasan Pesantren Sumenep. Dialog itu pun mengantarkan Antonius pada cahaya Islam. Baca selebihnya »

JANGAN FITNAH MBAH PETRUK: MENGUNGKAP JATIDIRI “PAMOMONG” MERAPI

Sultan Hamengkubuwono: “ Itu kan kata mereka. Kalau aku bilang itu Bagong, bagaimana? Atau itu Pinokio, karena hidungnya panjang”.

Nama “Mbah Petruk” mendadak menjadi terkenal ke seantero negeri pasca letusan Merapi yang mewarnai November 2010 bak selebritis baru yang sedang menanjak karirnya . Apalagi setelah salah seorang warga bernama Suswanto, 43 tahun, berhasil memotret asap solvatara gunung Merapi yang menyerupai kepala Petruk. Selama ini mitos Mbah Petruk sering dikaitkan dengan pemuka jin ini bertugas memberi wangsit mengenai waktu meletusnya Gunung Merapi, termasuk juga memberi kiat-kiat tertentu kepada penduduk agar terhindar dari ancaman bahaya lahar panas Merapi. Dipundak jin inilah, menurut isu yang sempat beredar, keselamatan penduduk tergantung. Baca selebihnya »

RAKYAT MISKIN DAN TRAGEDI KEPURA-PURAAN

BERISLAM DI ANTARA KEMISKINAN

Kemiskinan adalah tanggung jawab kita, bukan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan politik tertentu atau bahkan dilecehkan

Selama ini isu kemiskinan masih merupakan komoditas politis yang  memiliki nilai jual dalam setiap percaturan suksesi kepemimpinan. Kemelaratan rakyat menjadi salah satu item yang paling banyak diangkat dalam kampanye-kampanye dan perebutan kekuasaan di Indonesia. Sekaligus menjadi agenda yang paling jarang mendapat perhatian serius pasca “drama” suksesi “kepemimpinan” berakhir. Layar telah dibuka dengan hingar-bingar janji dan sumpah meyakinkan yang tidak jarang diiringi “suap” politik dan lantas ditutup dengan penyelesaian yang tidak jelas juntrungnya, dimana semua omongan bisa saja menguap bersama panasnya belahan bumi tropis. Baca selebihnya »

DARI THEOSOFI MENUJU PLURALISME AGAMA

[Makalah ini ditulis bersama oleh Susiyanto dan Fathurrahman Kamal. Susiyanto adalah penggiat Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI). Fathurrahman Kamal adalah dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan anggota Divisi Dakwah Pelajar-Mahasiswa Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP Muhammadiyah. Makalah ini dimuat dalam buku M. Amin Rais, M. Syukriyanto, dkk. “1 Abad Muhammadiyah: Istiqomah Membendung Kristenisasi dan Liberalisasi” yang diterbitkan secara resmi oleh Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam rangka Muktamar 1 Abad Muhammadiyah 3-8 Juli 2010 di Yogyakarta] Baca selebihnya »

SPEKULASI MENUJU KITAB YANG “TERPELIHARA”

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan”. (Qs. Al Baqarah, 2: 79)

PENDAHULUAN

Buku berisi penyesatan ini disebarkan di kalangan masyarakat Muslim

Tidak hanya satu atau dua karya Kristen yang digunakan sebagai alat untuk mendiskreditkan kitab suci Al Quran. Karya tersebut tidak jarang pula merupakan perpanjangan tangan dari kepentingan Kristenisasi. Penyebarannya meliputi kalangan umat Islam yang masih memiliki kondisi pemahaman terhadap Islam secara terbatas. Misalnya, Gilchrist menyebutkan bahwa pada era khalifah Utsman bin Affan, Ibnu Mas’ud menolak naskah Hafsah, sedangkan Ibnu Mas’ud sendiri dikatakan memiliki naskah lain yang berbeda.[1] Kisah besutan ini seolah mencoba mengesankan hadirnya ”fakta” bahwa Al Quran memiliki ragam variasi. Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.